Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 33. Sosok di Belakangmu


__ADS_3

"Haaah, kenapa sih mereka harus datang siang hari sampai sore, sih? Kenapa nggak besok aja?"


Rani terus menerus mengomel sambil memandang Aksa dengan sinis. Aksa tak memberi balasan. Dia hanya mengembuskan napas perlahan sambil terus mengemudi.


"Mas!" desak Rani butuh pelarian amarahnya.


"Ya namanya mereka lagi butuh, Dek. Kita ini kan perangkat desa, tugasnya mengayomi dan meladeni masyarakat. Jadi harap maklum aja," balas Aksa kemudian.


"Ya kita jadi berangkat kemaleman, kan?" rajuk Rani.


"Mau gimana lagi? Kan kamu sendiri yang memaksa pulang ke kota malam ini juga," ucap Aksa dengan lembut.


"Terus, aku yang salah gitu? Harusnya orang itu, lah," sanggah Rani dengan suara agak tinggi.


Aksa tak membalas kalimat sang istri. Tangan kirinya menggenggam tangan wanita itu dengan erat. Bibir mungil wanita itu terus menerus mengumpat kesal. Dalam kegelapan, seseorang yang duduk di belakang, menyungginggkan senyuman kecil.


Mereka melewati hamparan sawah yang luas dan gelap di desa sebelah. Siluet-siluet pepohonan yang tumbuh berjejer di pinggir jalan, menambah kesan horor yang menjadi pemandangan sepanjang jalan mereka. Suasana sangat sunyi. Hanya mereka yang melalui jalan itu.


Dahan pepohonan bergoyang-goyang, mengikuti gerakan angin yang berembus cukup kuat. Langit sangat kelam. Tak ada bulan, apalagi bintang. Awan gelap menaungi angkasa, seperti hendak menumpahkan isi perutnya ke permukaan bumi.


Rani semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Aksa. Sesekali genggaman tangan mereka harus terlepas, saat Aksa mengganti gigi.


Setengah jam berlalu, mereka telah berhasil melalui area persawahan yang sepi. Satu per satu perumahan penduduk pun mulai mereka jumpai. Perasaan Rani pun sedikit lega.


Dorrr! Mendadak mobil yang mereka kendarai oleng. Ternyata ban belakang mobil mereka pecah.


Sambil mengumpat, Aksa pun turun dari mobil untuk mengganti ban. Untungnya mereka membawa ban serep. Rani dan kedua anaknya terpaksa turun. Mereka menunggu di bawah pohon rindang, di halaman sebuah rumah.


Baru saja Aksa mendongkrak mobil, hujan pun turun. Kilat menyambar-nyambar di langit bagaikan lidah api raksasa. Mau tak mau mereka harus berteduh di bawah rumah tersebut.


Rumah papan tersebut tampak gelap gulita. Sepertinya tidak berpenghuni. Namun mereka tak punya pilihan lain. Guyuran hujan yang sangat lebat, memaksa mereka harus menunda pekerjaan untuk sementara.


"Ma, takut," bisik Nada yang berada dalam gendongan Rani.


"Nggak apa-apa, Nak. Ini cuma hujan, kok. Baca doa ya, biar hujannya cepat reda." Rani berusaha menenangkan putri bungsunya.


Aksa membuka jaketnya, lalu membalut tubuh putri bungsunya dengan jaket itu. Tangannya lalu merogoh HP dari dalam kantong, dan menghidupkan lampu flash.


Najla yang semula berdiri di belakang sang ayah, mendadak beringsut ke depan. Baju yang dipakainya pun mulai basah terkena tempias hujan.


"Mundur, Nak. Berlindung di belakang Papa," bisik Aksa. Namun Najla menolak. Dia tetap bersikukuh untuk berdiri paling depan. Kedua tangannya meremas ujung baju sang ayah dengan erat.


Merasa curiga, Aksa pun menyorot dinding belakangnya. Ternyata jendela itu tak memiliki penutup. Hanya ada sebuah kaca bening untuk membatasinya dari luar. Lalu ada sebuah tirai putih kusam yang menghalangi pandangan mereka ke dalam.

__ADS_1


"Pasti tirai jendela ini udah lama nggak dicuci. Sampai warnanya bulukan gitu," Rani menggumam dalam hati.


Kening Rani tampak berkerut. Makin ke atas, kain itu semakin terlihat aneh. Sepertinya Aksa juga menyadari keanehan yang dilihat sang istri.


Kain itu tidak seperti kain tirai yang digantung. Merasa penasaran, Aksa pun menyoroti lembaran itu hingga bagian atas. Ternyata benar dugaan mereka, kain itu adalah sosok manusia berbalut kain putih kusam, yang duduk di atas lemari samping jendela.


Pluk!


HP Aksa terjatuh ke tanah yang agak becek, dengan lampu flash menghadap ke atas. Sorotan lampu itu tak sengaja menerangi sosok yang duduk santai di atas sana.


Kini tampak jelas wajah dari sosok itu. Sebagian kulit wajahnya terkelupas dan berbelatung. Matanya yang hitam legam, seperti menatap mereka di bawah.


"Kyaaaaa!"


Rani menjerit sekuat-kuatnya, membuat kedua anaknya juga menangis ketakutan. Aksa mundur perlahan hingga kakinya memijak tanah becek. Dia lalu memeluk istri dan kedua anaknya, yang meringkuk di bawah guyuran hujan. Bersamaan dengan itu, cahaya kuning terang yang sangat menyilaukan mendadak mendekati mereka.


"Loh, Pak, Bu. Ngapain di sini?" Teriak kedua pria, yang diduga adalah warga desa sini.


"Ban mobil saya pecah, Pak. Te-terus ..."


Aksa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Belum tentu kedua orang itu percaya pada omongannya.


"Maksudnya ngapain duduk di atas kuburan? Kalau berteduh di sana saja," seru mereka sambil menunjukk ke suatu tempat yang terlihat seperti saung.


"Hah? Kuburan?"


Bruk! Rani pun tergeletak pingsan di atas tanah berlumpur.


...***...


Drrrttt! Ddrrrttt!


"Hah?"


Rani terperanjat ketika membuka matanya. Tubuhnya bergidik ngeri. Bayangan mencekam kejadian semalam masih membekas di kepalanya. Terutama saat sosok yang menyerupai Aksa mengganggunya.


"Mas, kok kita balik ke sini lagi?" protesnya, saat melihat Aksa yang duduk di samping tempat tidur.


"Maaf, sayang. Tadi malam keadaannya nggak memungkinkan untuk lanjutin perjalanan. Anak-anak udah pada ketakutan dan kedinginan. Kamu juga pingsan," jelas Aksa.


Rani memutar kepalanya, menghindari pandangan Aksa. Dengus napasnya terdengar kasar.


"Aku kan udah bilang, aku nggak mau di sini."

__ADS_1


"Sabar sayang. Nanti siang aku antar kamu pulang, ya," bisik lelaki tampan itu. Hidungnya yang mancung mengecup kening sang istri dengan lembut.


"Janji, ya," ucap Rani mendengus kesal.


"Iya, sayangku."


Drrrttt! Ddrrrttt!


"Ngomong-ngomong itu telepon dari siapa, sih? Dari tadi bunyi mulu. Kenapa nggak diangkat?"


Aksa pun mengambil HP tersebut dari atas meja. Dia memasang wajah datar saat menatap nama yang tertera di layar. "Oh, itu pegawaiku. Biarin aja. Nanti aku telepon balik," ucap Aksa sambil melempar senyum termanisnya.


"Angkat sekarang! Memangnya apa yang kamu sembunyikan, Mas?"


Malas mendengar omelan istrinya, dia pun mengangkat telepon itu. "Halo, Mat. Aku sek sibuk iki. Nanti ku telepon lagi," ucap Aksa masih dengan wajah datarnya. Tak lama kemudian telepon itu pun terputus. -Aku lagi sibuk ini.-


"Udah, kan? Masih curiga sama aku?" tanya Aksa sambil meletakkan HP-nya kembali ke atas meja. Rani menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Hmm, pantas saja dia bolak balik menelepon. Ini kan sudah jadwalnya aku mengunjungi dia," batin Aksa.


"Ah, tunggu dulu. Masih ada satu lagi yang kamu sembunyikan," kata Rani tiba-tiba.


"So-soal apa?" Wajah datar Aksa mendadak tegang dan panik. "Apa jangan-jangan dia sudah tahu soal telepon tadi?" pikirnya resah.


"Soal wanita yang kemarin kamu bilang merubah hidupmu. Siapa dia?" desak Rani.


"Hah? Kapan aku ngomong gitu?" kilah Aksa. Dia mengingat-ingat kapan dia melontatkan kalimat itu pada istrinya.


"Ada. Katamu semua gangguan itu muncul, setelah kamu bertemu dengannya," jelas Rani dengan bibir manyun.


"Ah, soal itu," ucap Aksa bernapas lega. "Yang kumaksud itu istrinya Satya. Setiap bertemu dengannya, aku selalu mengalami kejadian gaib," ungkap Aksa.


"Satya? Si anak kehutanan itu?"


Aksa mengangguk.


"Dia udah nikah? Kok nggak ada kabarnya?"


"Ya, dia nikah mendadak. Tapi kayaknya bukan karena 'kecelakaan' kayak kita, sih," ujar Aksa.


"Ck, bukan itu maksudku." Rani menyenggol tangan suaminya. "Jangan-jangan si cewek itu pakai susuk atau pelet yang butuh tumbal," ujar Rani. Wajahnya mendadak pucat.


"Apa, sih? Ngarang kamu. Terus apa hubungannya sama kedatangan Kinanti coba?" ujar Aksa.

__ADS_1


"Ke-kenapa nggak langsung tanya sama dia aja?" ucap Rani dengan suara bergetar, sambil menunjuk wanita yang melayang di belakang Aksa.


(Bersambung)


__ADS_2