Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 78. Kata Maaf


__ADS_3

"Katanya Arga sekarang ini kritis di rumah sakit."


"Hah?"


Wira dan Ndaru kompak mengusap tengkuk mereka yang meremang. Kinanti beraksi lagi. Mereka harus cepat-cepat menghentikan aksi balas dendamnya, sebelum semuanya terlambat.


Sementara Wira menelepon temannya itu, dan memeriksa kebenaran kabarnya, "Kita harus pergi menemui Arga. Siapa tahu kita bisa menolongnya," kata Wira mendadak. Dia sudah tahu di mana teman lamanya itu dirawat.


"Ya udah, kita pinjam mobil pickup Pak Bos. Terus anak-anak dititip di rumah kami saja," usul Ndaru. Satya dan Wira mengangguk setuju.


Satu jam kemudian, Satya, Endaru dan Wira telah berada di sebuah rumah sakit besar. Mereka langsung memasuki gedung, dan menuju ke ruang UGD.


"Loh, Farras. Kamu di sini juga? Siapa yang sakit?"


Satya terkejut ketika melihat teman sekolah Tari ada di sini. Padahal dia nggak mendengar kabar Bu Tuti sakit. Di sebelah bocah itu ada Pak Diman yang menemani Farras.


"Iya, Mas. Aku ke sini mau menjenguk ayahku. Untuk pertama kalinya aku mau bertemu dengannya," kata Farras dengan senyum getir.


Satya tercekat mendengar ucapan remaja itu, "Oh, syukurlah kamu bisa bertemu dengan ayahmu. Dia dirawat di kamar berapa?"


"Ruang nomor 7 di UGD, Mas," jawab Farras.


"Loh, itu kan tempat Arga dirawat!" kata Satya dan Wira terkejut.


"Bukannya ayah kandungmu blasteran?" sambung Wira. Dia takut bahwa Farras salah mengenali orang.


"Iya, ayah kandungku memang bernama Eka Argani," bisik Farras dengan bahu terguncang. Dia tak mampu membendung lagi air matanya. Hatinya sangat pilu, menerima kenyataan pedih ini.


"Ya Allah." Ketiga lelaki itu menggumam bersamaan, tak disangka banyak sekali tabir rahasia di balik hidup Aruna dan Arga.


"Ya sudah, kita ke sana bersama-sama, ya." Satya merangkul dan mengusap kepala Farras, yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Kalian sendiri ke sini mau ngapain? Menjenguk Arga juga?" Pak Diman yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. Yang dia tahu, selama ini Arga tak dekat dengan Wira maupun Satya.


"Iya, Pak. Jadi Arga itu salah satu pem..." Wira buru-buru menutup mulutnya, setelah dicolek oleh Ndaru dan Satya. "Hampir aja aku keceplosan," bisik Wira dalam hati.


"Hmm?" Pak Diman mengerutkan keningnya, merasa bahwa mereka menyembunyikan sesuatu.


Wira menarik napas dalam-dalam. Dia lalu mengajak Pak Diman untuk bicara berdua saja di sudut ruang tunggu itu. Raut wajah Pak Diman mendadak berubah. Awalnya terkejut, lalu rahangnya tampak mengeras seperti marah. Sudut matanya yang keriput, meneteskan air mata, sesekali dia mengusapnya dengan jari.

__ADS_1


Wira masih terus menceritakan semua yang dia ingat. Pria itu tampak bersimpuh di hadapan Pak Diman, orang tua dari Kinanti. Sepuluh menit berlalu, Pak Diman memanggil Satya.


"Apa benar begitu ceritanya?" tanya Pak Diman dengan suara serak.


Satya pun mengangguk, "Seluruh keluarga kami menjadi saksinya, Pak. Kinanti datang untuk menuntut balasan," ucap Satya.


"Ya Allah," guman Pak Diman lirih." Satya, apa Kinanti sekarang ada di sini? Bapak rindu," bisik Pak Diman. Menurutnya, bertemu jin qorin Kinanti pun tak masalah, asal bisa melihat wajah anaknya lagi.


"Saya nggak tahu, Pak. Aku hanya bisa melihatnya, kalau dia sengaja menampakkan diri," balas Satya dengan perasaan sedih.


"Tadi siapa yang mau menjenguk pasien di ruang tujuh?" tanya salah seorang perawat berseragam putih.


"Kami, Mbak," jawab Wira.


"Siapa yang keluarganya? Cuma boleh dua orang, ya," ujar perawat tersebut.


"Ya udah, kalau gitu Farras dan Wira aja yang masuk," ujar Pak Diman.


"Di dalam sebisa mungkin jangan nangis, ya. Supaya pasien nggak semakin drop," pesan perawat sebelum mereka masuk.


Farras berusaha menahan tangisnya, saat melihat seorang pria tengah berbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dengan beragam peralatan medis di sekujur tubuhnya. Wajahnya babak belur, penuh luka lebam. Demikian juga dengan tangan dan kakinya yang penuh jahitan.


"Dia Farras, anak Aruna," jelas Wira.


Seketika bibir Arga merapat. Kelopak matanya tertutup sebentar dan meneteskan air mata.


"Bapak, ini aku. Bapak harus sembuh, ya. Aku nggak marah dan menuntut Bapak, kok," bisik Farras lirih.


Arga kembali meneteskan air matanya. Tangannya ingin menyentuh tangan Farras tetapi tak bisa. Luka di tubuhnya terlalu parah, membuatnya kesulitan bergerak. Farras pun bergerak mendekati tempat tidur, lalu menggenggam tangan pria itu.


"Nak, kau sudah besar," bisik Arga sangat lirih. Bibirnya yang pucat bergerak perlahan. Farras hanya tersenyum sambil membendung air matanya agar tak tumpah.


"Arga, kau sudah bertemu Kinanti, kan?" tanya Wira.


Arga mengangguk pelan. Manik matanya yang kecoklatan menatap ke arah langit-langit yang kosong. Namun, Arga melihat seorang perempuan berseragam SMA melayang di sana. Wajahnya cantik, tetapi kakinya dipenuhi lumuran darah.


"Di luar ada Pak Diman. Dia sudah tahu semuanya. Kita harus meminta maaf padanya," ujar Wira.


Dada Arga bergemuruh. Dia sadar, sudah melakukan banyak sekali dosa besar. Tetapi Arga masih tak punya nyali untuk bertemu dengan ayah Kinanti tersebut. Lalu seandainya dia sembuh nanti, apa akan mendekam di penjara?

__ADS_1


Sosok perempuan cantik yang melayang di atas Farras melayang turun. Ia kini berdiri di samping putra Aruna dan Arga. Wajah cantiknya berubah menjadi hitam legam, dengan mata memutih. Dia menggeram kesal, ketika mengetahui isi hati Arga tersebut


"Bapak nggak perlu takut. Mbah Diman nggak akan menuntut siapa pun. Beliau cuma ingin mendengar kata-kata maaf untuk Kinanti saja," bisik Farras membujuk sang ayah. Dia tak mau hal yang sama seperti Aruna terjadi lagi.


"Akui kesalahanmu, Arga," bisik sosok di samping Farras itu. Kukunya yang panjang, mencengkeram leher Arga hingga tak bisa bernapas.


Farras dan Wira memang tak bisa melihat dan mendengarnya, walau begitu semua terlihat jelas dari bibir Arga yang terbuka lebar hingga lehernya menegang. Tulang-tulang sekitar leher menonjol mungkin karena menahan sakit teramat sangat.


Wira buru-buru menekan tombol darurat di atas kepala Arga. Tim medis pun segera datang. Mereka segera membuat tindakan untuk menyelamatkan pria itu. Setelah Pak Diman masuk, Wira pun menunggu di luar bersama Satya dan Endaru.


Mulut Arga terbuka lebar seperti hendak mengucapkan sesuatu. Matanya mendelik ke atas, menampakkan bagian putihnya. Tim Medis masih berusaha untuk menyelamatkan nyawa lelaki itu.


Wira berlari keluar, memanggil Pak Diman. Menurutnya, ini kesempatan Arga untuk bertemu langsung dengan ayah dari Kinanti itu.


"Akhh... Akh... Akh..."


Mulut Arga semakin terbuka melihat kedatangan Pak Diman. Dia ingin berbicara, tapi lidahnya kelu. Napasnya sesak. Kinanti melepaskan cengkeraman tangannya dari leher lelaki yang sedang sakaratul maut itu.


"Ma-af," bisik Arga sambil meneteskan air mata.


Hati Pak Diman bergemuruh, melihat salah satu pelaku yang telah merenggut kesucian dan membunuh putri satu-satunya itu. Siapa yang tak sakit mengingatnya. Namun Pak Diman ingat, Allah saja Maha Pemaaf. Apalagi hanya makhluk-Nya yang hina ini.


"Bapak sudah memaafkanmu, Nak. Semoga Kinanti tenang di alam sana," bisik Pak Diman dengan suara tercekat di tenggorokan.


Pelupuk mata Arga semakin basah setelah mendengar ucapan Pak Diman. Tubuhnya mengejang sejadi-jadinya. Tim medis semakin kewalahan.


"Allah... Allah... Allah..."


Farras membisikkan kalimat tayyibah itu di telinga Arga. Lelaki itu tampak membuka mulutnya dan mengikuti ucapan Farras tanpa suara.


Kemudian ia lemas tak sadarkan diri. Bibirnya tertutup rapat. Farras melepaskan sentuhan pada kaki ayahnya dengan air mata bercucuran. Eka Argani telah pergi untuk selamanya.


"Gimana?" tanya Satya, Ndaru dan Wira, ketika Pak Diman keluar dari ruangan.


Pak Diman menggeleng lemah. Wajahnya yang mendung, sudah memberikan jawaban yang jelas. Apalagi salah satu per satu tim medis keluar dari ruangan itu, menyisakan dokter dan Farras saja.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," ucap mereka bertiga dengan tubuh merinding.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2