
"Jadi gimana, Pak? Apa kami harus mencari sisa jasadnya? Nggak ada cara lain?" tanya Aksa pada Pak Sigit.
"Ya mau gimana lagi? Di suruh pakai boneka santet gagal. Di suruh ngasih umpan untuk menemukan tempat jasadnya juga gagal. Kalian harus turun tangan sendiri kalau mau masalah ini selesai," ujar lelaki bertubuh gempal yang menghisap cerutu itu.
"Bukan gagal, Pak. Tetapi belum berhasil. Aku masih belum bisa membujuk Aruna untuk membawa bineka santet itu," kata Aksa.
"Ya gagal lah itu namanya. Si Wira yang kalian bilang itu juga pulang dengan selamat, nggak masuk ke dalam jebakanku," kata Pak Sigit mencibir remeh.
"Memangnya Bapak yakin sudah memasang jebakannya dengan benar?" tanya Genta sedikit meragukan dukun itu.
"Ooo, ya jelas lah. Aku sudah menyebar beberapa peliharaanku di dekat danau sore itu. Seharusnya dia akan tersesat di sana dan berhenti di tempat kalian membuang jasad Kinanti," kata Pak Sigit dengan gaya angkuhnya.
"Tetapi dia malah berhenti saat melihat seorang wanita mandi. Aku yakin wanita itu bukan orang sembarangan," lanjut Pak Sigit dalam hati.
"Lalu apa yang terjadi setelah itu? Bapak nggak jadi mengirim videonya pada kami, kan? Mana bisa kami percaya begitu saja," desak Genta lagi.
"Jaraknya cukup jauh dan banyak pepohonan. Jadi aku nggak bisa merekamnya," kilah Pak Sigit.
"Sudahlah, jangan berdebat. Nggak ada gunanya," sela Aksa sambil memijat kepalanya yang pusing. Sudah beberapa hari ini dia tak bisa tidur nyenyak, karena kedua istrinya takut ditinggal sendirian.
"Memangnya Bapak nggak bisa mengusirnya saja? Aku akan bayar berapa pun asal Bapak bisa melenyapkannya," kata Aksa lagi.
"Apa aku boleh tahu, kenapa kalian dulu membunuhnya?" Pak Sigit justru balik bertanya.
Aksa dan Genta hanya saling berpandangan. Mulut mereka terbungkam. Tak berani menceritakan aib mereka yang sebenarnya.
"Memangnya apa hubungannya dengan masalah ini, Pak?" tanya Aksa penasaran.
"Aku merasa nggak akan cukup satu nyawa untuk melenyapkannya. Apalagi kalau dia memilih mangsanya sendiri. Sosok itu memiliki dendam yang sangat besar," kata Pak Sigit.
"Maksudnya, dia minta tumbal?" tanya Aksa dengan tubuh merinding.
"Iya."
Rrrr... Rrrr... Suara dering telepon dari HP Genta, menghentikan pembicaraan sementara.
"Heh, Sa. Lihat ini. Aku tebak dia pasti sudah ditemui perempuan itu," cibir Genta saat melihat nama yang muncul di layar.
"Coba saja angkat," kata Aksa.
"Halo? Genta. Apa kalian masih mau mencari sisa jasad perempuan itu?" tanya Arga melalui telepon.
"Huh! Kenapa kau mau tahu? Apa arwah perempuan itu sudah menerormu?" ucap Genta sembari tertawa mengejek.
__ADS_1
"Ya, ternyata kalian nggak bohong. Dia mendatangiku tadi malam. Parahnya lagi, dia menyerupai pacarku, Vera," cerita Arga.
"Oh..." balas Genta dengan nada datar. "Kau sudah percaya sekarang? Jadi apa maumu?" tanya Genta.
"Kita harus menyelesaikannya masalah ini, apa pun caranya. Aku tak mau dia datang lagi dan menanyakan di mana jasadnya," ucap Arga dengan suara bergetar.
"Kalau gitu, kau mau mencarikan tumbal?" tanya Genta tiba-tiba.
"Tumbal?"
...*** ...
"Mas, kamu di mana sih? Janjinya mau jemput anak-anak di rumah ibuku? Aku sibuk baru pulang arisan ini," Rani menelepon suaminya sambil berbicara dengan nada kesal.
"Iya, sayang. Ini aku udah dekat rumah ibu, kok. Sabar, dong. Tadi aku ada keperluan sama Genta," balas Aksa dengan nada lembut.
"Genta? Kok tumben akhir-akhir ini kamu sering banget ketemuan sama Genta? Beneran sama Genta, kan?" selidik Rani yang mulai curiga pada suaminya.
"Ya beneran Genta, lah. Memangnya kamu pikir siapa? Ada banyak urusan yang kami bicarakan. Nanti aku ceritakan," kata Aksa dengan tenang.
Di belakang suara Aksa, terdengar seruan anak-anak yang memanggil papanya. Ah, ternyata Aksa nggak bohong. Dia memang baru sampai di rumah ibu mertuanya.
"Huh? Ya udah kalau gitu. Aku tutup dulu ya teleponnya," ucap Rani setelah mendengar suara kedua anaknya.
"Rani Juwita..."
"Rani?" Suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat dan jelas.
Menyadari ada sesuatu yang aneh, perempuan itu langsung tercekat. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Lalu, sekelebat kain putih melayang di sampingnya.
"Ki... Ki... Kinan...?"
Tepat. Dengan wajah pucatnya yang memperlihatkan sebagian tengkoraknya, Kinanti menyeringai lebar. Membuat perempuan itu buru-buru keluar dari mobilnya dan lari tunggang langgang.
Saking takutnya, kunci mobil yang dia pegang pun terjatuh. Ketika hendak berbalik dan mengambilnya, makhluk itu berdiri tepat di belakangnya. Memutar kepalanya tiga ratus enam puluh derajat sambil terkikik nyaring. Hihihihi...
Wanita itu lari tunggang langgang. Takut jika Kinanti mengejar dan menyerangnya. Walau pun dia merasa tak memiliki salah pada Kinanti, tetap saja hantu itu terus meneror siapa saja tanpa pandang bulu.
Dia terus berlari sambil terkencing-kencing di celana. Setibanya di rumah, dia langsung menutup pintu rapat-rapat. Napasnya tersengal.
"Kok pintunya dikunci? Hihihihi..."
Ternyata Kinanti telah lebih dulu masuk ke dalam rumah, tanpa diketahui oleh Rani.
__ADS_1
"Ampun, Kinan. A-aku kan nggak bersalah padamu. To-tolong jangan ganggu aku," ucap Rani sambil meringis ketakutan.
"Tapi kau ada di foto itu. Dan kau menikahi Aksa," kata sosok itu dengan suara serak dan menggema ke seluruh ruangan.
"Foto apa? Maaf karena aku menikahi Aksa. Aku tak tahu kamu menyukainya. Maaf, tapi dunia kita sudah berbeda, Kinan."
"Aku tak mempercayai siapa pun. Kamu ada di foto itu. Berarti kamu juga kelompok mereka."
"Ke-kelompok apa? Aku tak tahu apa yang kamu permasalahkan, tapi kita berteman baik dulu."
"Aku tak percaya. Kamu harus mati. Hihihihi..."
Kuku panjang sosok itu mencengkeram leher Rani. Dada perempuan malang itu kembang kempis mengatur napasnya yang sesak. Saturasi oksigen di dalam otaknya kian menurun. Rani hanya bisa meronta sambil mengucap doa, untuk tetap berjuang hidup demi kedua anaknya.
"Ki-kinan, katakan yang kamu mau. Aku akan menolongmu. Tapi jangan ganggu aku lagi," bisik Rani di tengah-tengah napas sesaknya.
"Sudah kubilang aku tak percaya kalian semua! Aku akan selesaikan sendiri. Hihihi..."
"Assalamualaikum, Mama."
Terdengar suara lantang dua bocah kecil dari luar. Sepertinya Nada dan Najla telah kembali dari rumah sang nenek. Mereka juga mengetuk pintu beberapa kali sambil mengucap salam.
"Kinan, tolong... Berikan aku kesempatan hidup demi kedua anakku..." bisik Rani dengan napas tersengal.
Sorot mata Rani yang begitu rapuh, mengingatkan Kinanti pada sorot mata kedua orang tuanya yang meredup sejak dia pergi. Cengkeraman tangan Kinanti perlahan-lahan merenggang. Wujudnya kian samar, hingga lama-lama menghilang.
"Sayang? Kamu kenapa? Lama kali buka pintunya? Itu kenapa mobilnya dibiarkan di tengah jalan?" Aksa menyerbu Rani dengan pertanyaan, ketika pintu terbuka.
"Mas, sebenarnya ada apa dengan Kinanti? Kenapa datang terus menggangguku." Rani yang sudah menahan rasa takut sejak tadi, akhirnya menangis sesenggukan di hadapan sang suami.
"Mama jangan nangis. Nanti kalau Mama nangis, kami ikut sedih." Nada dengan polosnya mengusap punggung sang ibunda sambil menatap sedih.
"Nanti kita bicarakan di kamar, ya. Nggak enak di depan anak-anak," bisik Aksa sambil mengusap rambut indah istrinya.
"Jadi, sebenarnya ada apa, Mas?" Desak Rani ketika mereka telah berada di kamar.
"Aku juga nggak tahu, sayang. Tiba-tiba saja belakangan ini dia selalu datang. Aku nggak tahu, itu beneran arwahnya atau hanya hantu jahat yang menyerupainya," kata Aksa. Kedua tangannya melingkar di tubuh Rani.
"Haaah, apa ada orang yang lagi isengin kita? Kok setelah puluhan tahun dia baru muncul lagi?" kata Rani seraya menghela napas panjang.
"Entahlah, tapi aku dan Genta sudah mencari orang pintar untuk menyelesaikan masalah ini," kata Genta.
"Jadi karena itu Mas sering ketemuan sama Genta?" tanya Rani. Aksa menganggukkan kepalanya. "Apa ini ada kaitannya dengan hubungan kalian dulu?"
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana soal itu?" Aksa membesarkan bola matanya, dan menatap Rani dengan tajam.
(Bersambung)