Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 76. Hancur


__ADS_3

"Pelangi, pelangi... Alangkah indahmu... Merah kuning hijau..."


Rani berjalan mendekati kamarnya, ketika mendengar suara lagu anak-anak itu. Senyumnya mengembang, saat melihat seorang bocah kecil dengan dress merah dan rambut dikepang dua sedang bernyanyi riang.


"Di pucuk pohon cemara... Burung kutilang berbunyi..."


Tangan mungilnya memegang crayon berwarna merah dan hitam. Suara merdunya terus bersenandung riang, tak menyadari kehadiran Rani di belakangnya.


"Nada? Kamu kok main sendirian?" Rani mengusap rambut putrinya dengan lembut.


"Mama... Mama bisa melihatku?"


Gadis cilik itu memutar kepalanya menghadap ke arah Rani. Perempuan tiga puluh tujuh tahun itu terlonjak kaget, melihat mata putih semua dan barisan gigi yang runcing milik bocah itu. Pada lehernya terdapat luka sayatan, seperti hampir putus.


"Mama..."


Sosok itu berjalan mendekati Rani yang terus beringsut mundur. Kepala bocah itu memang menghadap ke belakang, tetapi tubuhnya menghadap ke depan. Dengan kata lain, bocah itu berjalan mundur.


"Kamu bukan Nada. Anakku sudah mati!" Rani baru teringat, jika putri kecilnya sudah dimakamkan dua hari yang lalu.


"Mama... Mama nggak sayang padaku lagi?" Dengan cepat tubuh bocah itu berputar, sedangkan posisi kepalanya tetap. Sekarang dia sudah berhadapan dengan Rani.


"Pergi! Jangan ikuti aku! Kamu bukan anakku!"


"Ini aku, Ma. Mama sudah lupa?" bocah itu mengulurkan tangannya. Kuku-kukunya menghitam, dengan kulit biru pucat. "Mama... Huhuhuhu..."


Sosok gadis cilik itu meneteskan air mata darah. Mulutnya menyeringai lebar dengan barisan gigi yang dipenuhi tanah lumpur. Di belakang gadis itu berdiri sesosok kuntilanak dengan rambut yang menjuntai panjang ke lantai. Kedua tangannya memeluk tubuh mungil di depannya.


"Mama mau ke mana? Mama jangan tinggalkan aku. Huhuhuhu..."


Kedua tangan bocah itu menjulur panjang ke depan bagaikan boneka karet. Rani semakin bergidik melihatnya. Mulutnya terkunci, tak sanggup lagi untuk berteriak.


Bruaak! Rani membanting pintu, tepat saat tangan Nada yang terjulur panjang itu hampir menyentuhnya. Rani berlari ke arah ruang tamu.


"Mama..."


"Pergi kamu!"


"Ini aku Najla, Ma." Seorang gadis manis menangis melihat sikap sang ibu yang berubah total, sejak kepergian sang adik.


Melihat gadis belia itu masih berdiri di hadapannya, Rani berteriak histeris, "Hahahaha.. Kamu sekarang nggak sendirian, Nada. Mama sudah membunuh papamu, supaya bisa menemanimu di sana." Rani berbicara sambil menangis.


"Mama..." Najla terisak melihat sikap sang ibu.


"Nak, sabar ya. Mama kamu sedang terpukul karena merindukan adik dan papamu. Kita doakan mama segera membaik, ya."

__ADS_1


Dewi memeluk putri sulung Aksa dari istri pertamanya itu dengan air mata berlinang. Air matanya perih, melihat keluarga suaminya itu menjadi porak poranda. Apalagi Rani menjadi depresi seperti ini.


Namun, Dewi tak bisa melihat apa yang dilihat oleh Najla. Sosok jin qorin yang menyerupai wujud adiknya, dan sesosok perempuan berseragam SMA. Keduanya tampak mengerikan dengan wajah hitam legam dan bercak darah di seluruh tubuhnya.


"Tante, kapan papa bangun? Apa papa bakal meninggal juga?" tanya Najla dengan pilu.


"Nanti kita jenguk papa, ya. Kita doakan papa biar cepat sembuh, ya. Najla harus banyak sholat, mengaji dan berdoa untuk mama dan papa," ucap Dewi dengan suara tercekat. Hatinya benar-benar pilu. Dia juga ingin suaminya segera pulih.


"Assalamualaikum, Bu Dewi."


Beberapa tim medis mendatangi rumah Aksa dan Rani di desa. Mereka memang sengaja diminta Dewi datang ke rumah, untuk menjemput dan merawat Rani di bawah spesialis kejiwaan.


...***...


"Haish! Arga ke mana sih? Dari tadi nggak angkat telelon. Genta yang merasa gusar, beberapa kali mencoba menghubungi Arga. Namun dia selalu dihubungkan dengan operator telepon. Tidak ada kabar berita dari rekannya itu sejak kemarin malam.


"Jangan-jangan Arga kabur ke luar Jawa atau bahkan ke luar negeri? Aksa sudah dalam keadaan koma. Kalau Arga juga nggak bisa dihubungi, aku harus apa? Masa aku minta tolong sama Wira si miskin itu?


Polisi itu semakin merasa panik, takut sesuatu terjadi pada dia dan keluarganya. Apalagi belakangan ini dia semakin sering melihat penampakan aneh di rumahnya.


"Mas, aku mau minta cerai!"


"Hah? Jangan bercanda, Riana! Ada apa kok tiba-tiba minta cerai?" kata Genta. Saking terkejutnya, HP yang sedang dia pegang hampir terjatuh ke lantai.


"Aku nggak bercanda, Mas. Aku capek dihantui sama perempuan itu terus, gara-gara ulahmu dulu," balas Riana.


"Lagian jangan munafik lah. Dulu ayahmu juga terlibat dalam masalah ini. Uang sogokan dari Ayahnya Rani untuk menutup kasus ini juga kamu makan, kan?"


"Heh! Jangan bawa-bawa ayahku, Mas. Kalau bukan karena dia, kamu nggak akan jadi polisi!"


Ariana si anak polisi yang dulu menangani kasus Kinanti, tak terima dengan ucapan Genta. Menurutnya, sikap yang dilakukan ayahnya itu wajar. Menolong kepala desa yang ingin melindungi anak perempuan satu-satunya.


"Cih! Padahal semua hasil tes-ku itu murni. Bukan karena ayahmu. Kesalahanku cuma satu, yaitu menikahimu."


"Oooh, jadi kamu menyesal udah nikah denganku? Iya? Kalau gitu ayo kita cerai!"


"Nggak semudah itu, Riana! Kau nggak memikirkan anak kita?" balas Genta.


"Zivanna biar aku bawa. Kau bisa menikah lagi kalau kau mau!" balas Riana dengan nada suara yang lebih tinggi dari suaminya.


"Nggak! Kau mau masalah ini selesai, kan? Kalau gitu kau diam saja. Biar aku cari jalan keluar, supaya hantu itu berhenti mengganggu kita."


"Aku nggak yakin. Lihatlah, Aruna sudah mati. Terus Aksa dalam keadaan koma. Aku nggak mau namaku nanti tercoreng, gara-gara kau seperti mereka juga!"


"Jadi kau mau meninggalkan aku, di saat aku kesusahan begini? Dasar brengsek!"

__ADS_1


Brak!


Tanpa sadar, Genta mendorong tubuh Ariana hingga terpental ke belakang. Kepalanya membentur sudut meja yang terbuat dari kaca. Darah segar pun merembes dari kepala dan telinga perempuan itu.


"Astaga! Riana! Riana!"


"Ya ampun, Pak Genta! Bu Riana kenapa?" Salah seorang perempuan paruh baya berlari, karena mendengar keributan dari dalam kamar.


"Mbok di rumah saja, ya. Jagain Zivanna! Aku mau mengantar Riana ke rumah sakit," kata Genta seraya membopong tubuh istrinya yang terkulai lemas.


"I-iya, Pak." Pembantu rumah tangga itu mematuhi perintah majikannya.


...***...


"Duh, bertahanlah Riana. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit."


Genta menekan pedal gas-nya dalam-dalam. Dinginnya udara subuh dari pegunungan tak dia hiraukan. Ada rasa bersalah terbesit di dalam hatinya. Tetapi pikiran busuknya juga berharap agar Riana mati saja, supaya tidak bisa bersaksi atas kesalahannya barusan.


Cekiiiit! Genta mendadak menekan rem, ketika mobilnya hampir saja menabrak seorang perempuan yang sedang menyeberang.


Bukannya menepi, perempuan itu malah memanjat mobil Genta. Wajahnya yang penuh luka sayatan, menghadap tepat di depan Gentala.


"Kau! Hantu sialan! Pergi kau dari sana!" Genta kembali menekan gas-nya, ketika mengetahui siapa yang mengganggunya.


"Kau mau selamat, kan?" Kata perempuan berambut panjang yang duduk di depan kaca mobil Genta tersebut.


"Minggir kau dari sana, cewek j*l*ng!" Perintah Genta dengan suara bergetar. Sesungguhnya dia takut, tapi nggak punya pilihan lain, selain menghadapinya saat ini.


"Hei, aku akan membiarkanmu hidup. Asalkan kau mau meminta maaf pada kedua orang tuaku. Kau akui semua kesalahanmu."


Kuntilanak itu memandang Genta dengan bola matanya yang hampir copot. Suaranya yang serak, terdengar jelas, meskipun Genta terus menaikkan kecepatan mobilnya.


"Aku nggak bersalah! Aku cuma mengikuti perintah Rani! Aku juga melakukannya supaya nggak direndahkan oleh Arga. Kau cewek j*l*ang pantas nenerima itu," kata Genta tak mau mengakui kesalahannya.


"Sekali lagi aku kasih kesempatan. Akui kesalahanmu, Genta!"


"Aku nggak salah! Biarkan aku pergi, setan biadab!"


Genta mengumpat kesal, lalu memutar setirnya dengan kecepatan tinggi. Dengan begitu, dia berharap makhluk itu akan segera pergi.


Bruaakkkk! Aaaaaaarrrhhh!


Tanpa disadari Genta, dari arah berlawanan muncul sebuah mobil tronton. Mobil kecilnya pun remuk terlindas oleh kendaraan raksasa itu.


"Hahahaha... Aku sudah memperingatkanmu, Genta. Kau sendiri yang memilih jalan ini." Sosok berbaju putih melayang pergi dari mobil ringsek di bawah tronton tersebut.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2