Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 26. Orang Pintar


__ADS_3

Sudah dua menit berlalu, Satya masih terpaku menatap foto yang dikirimkan adik bungsunya. Mau tidak percaya, tetapi itu benar-benar kamarnya. Sayangnya chat Satya kepada Tari tidak dibaca hingga sekarang, membuat Satya semakin penasaran.


"Kalau cuma bunga, aku nggak bakalan terlalu bertanya-tanya. Mungkin saja cuma pewangi ruangan. Tapi ada paku, jarum pentul dan pisau silet juga, itu untuk apa?" pikir Satya bingung.


Jemarinya lalu mengetik sebuah nama, kemudian menghubunginya. Tapi sudah percobaan yang ke-lima kalinya, nomor itu tetap tidak bisa.dihubungi.


"Bapak ke mana, sih? Apa di Dusun Wingit nggak ada sinyal lagi?"


Satya rupanya mencoba menghubungi ayah mertuanya. Dia ingin melontarkan sejuta pertanyaan tentang Laksmi yang begitu banyak kejanggalan.


Jemari Satya kembali mengetik sebuah nama lain dan meneleponnya. Kali ini langsung tersambung. Dia melangkah keluar ruangan, agar percakapannya tidak didengar oleh sang adik.


"Halo, Mas Bro. Udah kelar honeymoonnya?" terdengar suara pria dengan nada sedikit mengejek dan tertawa kecil.


"Honeymoon opo? Aku di desa aja, kok," balas Satya dengan tawa pula.


"Terus ngapain nelpon aku? Cutimu kan masih dua hari lagi?"


"Enek sing arep tak takon karo kowe, Dyan," ujar Satya langsung ke intinya. -Ada yang mau aku tanyain ke kamu-


"Soal opo?" balas Hadyan singkat.


"Kamu ada kenalan orang pinter, nggak?" ucap Satya sambil merendahkan suaranya.


"Orang pinter? Maksudnya profesor opo dukun?" Hadyan balik bertanya sembari terkekeh.


"Ck, ojo guyon. Aku serius iki. Ada kenalan orang yang paham supranatural opo ora?" ucap Satya memperjelas pertanyaannya. -Apa nggak?-


"Hmm... Nggak ada, sih. Ini pasti untuk Laksmi, ya?" tebak Hadyan.


"Lah, kamu kok tahu?" seru Satya terkejut.


"Aku kan udah bilang dari dulu, sejak pertama ketemu di hutan cewek itu kelihatan aneh," jawab Hadyan.


"Iya, sih. Aku ingat," gumam Satya lirih. "Tapi di mataku dia hanya gadis desa biasa," sambung Satya di dalam hatinya.


"Aku bukan jelek-jelekin istrimu, ya. Tapi entah kenapa setiap lihat dia kayak merinding gitu. Kamu juga, udah diingetin berkali-kali tetap aja ngotot mau nikahin dia. Udah kayak kena pelet," sambung Hadyan.


"Ah, jadi karena itu kamu nggak mau lama-lama di acara pernikahan aku?" ujar Satya.


"Ya memangnya ada alasan lain?" kata Hadyan pula.


Satya pun terdiam. Sejauh ini pernikahannya dengan Laksmi gak menemui masalah besar. Wanita itu melayani semua kebutuhannya dengan baik, terkecuali urusan ranjang. Tutur katanya juga santun. Jadi Satya nggak pernah menaruh curiga Laksmi yang kini resmi menjadi istrinya.


"Coba cek foto-foto pernikahanmu. Barangkali kamu menemukan keanehan di sana," usul Hadyan.

__ADS_1


"Uwes. Tapi aku nggak nemuin apa-apa disana. Fotonya gak ada yang aneh," balas Satya.


Tapi tingkah aneh dan foto yang dikirim Tari tadi? Ah, entahlah. Pikiran Satya semakin carut marut.


"Ya sudah, nanti tolong kabari aku kalau ada info orang pinter, ya. Aku tutup dulu teleponnya."


Setelah menelepon Hadyan, Satya kembali memasuki kamar rawat. Endaru tampak masih tertidur pulas. Wajahnya masih sangat pucat dan kurus. Satya pun teringat, adiknya ini yang paling banyak memakan masakan Laksmi. Apa karena itu pula sakitnya lebih parah?


"Kenapa merengut gitu, Mas?" tanya Ndaru dengan lemah.


"Loh, wis tangi kowe?" -Udah bangun kamu?


Satya buru-buru menyimpan HP-nya ke dalam saku. Dia tak menyadari kapan sang adik terbangun, karena sibuk memikirkan banyak hal di kepalanya.


Ndaru hanya mengangguk lemah, lalu kembali bertanya, "Apa ada masalah di kantor?"


"Oh, ndak ada, kok. Gimana keadaanmu? Apa kata dokter?" Satya dengan cepat mengalihkan ceritanya.


"Aku malnutrisi, Mas. Kata dokter hampir empat hari yang aku makan cuma sampah dan daging busuk. Aneh, kan?" kata Ndaru dengan wajah sayunya.


"Iya, ini benar-benar aneh. Aku harus cari tahu semuanya," gumam Satya seolah bicara pada dirinya sendiri.


...***...


"Kenapa kamu tanyain itu, Pul? Bersihkan aja mobilku dengan cepat, sampai jejak darahnya hilang semua. Saya udah terlambat rapat bareng Pak Camat ini," perintah Aksa dengan nada agak tinggi.


Entah kenapa hari ini dia sangat apes. Udahlah tadi pagi lihat makhluk aneh dan mobilnya nyungsep. Pak Camat mendadak inspeksi ke kantor desanya pula.


"Nah, itu maksudku, Pak. Ini bukan darah, tetapi cuma cairan kutek yang tumpah."


Saiful mengangkat sebuah botol kaca berisi cairan merah, yang tutupnya telah terbuka. Warna cairan itu persis sekali dengan tetesan darah yang dilihat Aksa tadi.


"Hah, masa sih?" Aksa merebut botol tersebut dan mencium aromanya. "Iya juga. Gak ada bau amis darahnya. Kalau dipikir-pikir, tadi di mobil juga nggak ada bau anyir darah, kan?" ujar Aksa mengingat-ingat.


"Eh, tunggu dulu! Gimana bisa noda kutek ini berserakan di dalam mobil, bahkan ada segumpal rambut yang penuh darah?" kata Aksa mematahkan argumen Saiful.


"Lah, itu pelakunya, Pak."


Saiful menunjuk gumpalan bulu berwarna abu-abu gelap, yang sedang asyik bermain dengan sebuah ikat rambut penuh rambut rontok. Keempat telapak kakinya memiliki bercak berwarna merah pekat yang sama dengan kutek tersebut.


"Cimoy!" bentak pria itu kesal. Gara-gara kucing itu, dia pun mangkir dari inspeksi dadakan Pak Camat.


Saiful yang sedang mengelap kursi mobil Pak Kades dengan cairan khusus itu hanya menggelengkan kepalanya. "Seberat itu ya jadi kepala desa? Sampai berhalusinasi gini?" ujar Saiful pada dirinya sendiri.


"Udah beres ni, Pak. Ada yang bisa dibantu lagi?" tanya Saiful dengan senyum lebar.

__ADS_1


Aksa mengecek mobilnya dengan seksama lalu tersenyum puas. "Nggak ada. Ini upahmu. Ambil aja kembaliannya."


Aksa buru-buru memasuki mobil dan langsung tancap gas. Dia takut kena tegur Pak Camat, karena tak datang ke kantor sejak pagi.


Akan tetapi belum begitu jauh mobilnya berjalan, mata Satya kembali terbelalak. Kepalanya memutar untuk melihat bayangan putih di kursi belakang. Seluruh tubuhnya lemas bagai tak bertulang.


"Ki-ki-ki ..." Lidah Aksa kelu, tak dapat bicara.


"Anterin aku pulang, dong. Masa udah diajakin main ditinggal gitu aja? Hihihihihi ..."


...***...


Tari terbangun karena bau minyak kayu putih yang pekat. Sosok pertama yang dia lihat adalah Laksmi, kakak iparnya. Dadanya bergemuruh dan lidahnya kelu. Dia masih ingat betul sosok mengerikan yang dia lihat tadi. Persis dengan apa yang dia lihat malam itu.


"Ini minum dulu teh angetnya, Nduk." Bu Kesha memasuki kamar sambil membawa segelas teh hangat. Dia lalu membantu Tari untuk duduk dan minum teh.


"Kamu itu, ya. Makanya suka makan ikan. Masa gara-gara lagi datang bulan aja bisa pingsan." Suara Bu Kesha yang tadinya lemah lembut, berubah menggelegar bagaikan toa masjid.


"Buk..."


"Tahu nggak tadi Bu Bidan bilang apa? Kamu tu kekurangan vitamin dan mineral, terutama kalsium. Jadi badanmu lemes gini." Bu Kesha masih menyambung omelannya.


"Buk, tadi aku..."


"Ibuk udah masakin pepes ikan. Nanti dihabiskan, ya," omel Bu Kesha lagi.


"Duh, iya Bu. Iya. Nanti aku makan semua. Tapi dengerin aku dulu, dong." Sela Tari yang gak sabar untuk angkat bicara. "Tadi itu aku pingsan karena ..."


Tari buru-buru menutup mulutnya, saat Laksmi yang berada di belakang Bu Kesha tersenyum tipis padanya. Padahal wajahnya begitu ayu, tapi entah kenapa membuat nyali Tari luntur.


"Kenapa? Kok malah diam?" tanya Bu Kesha nggak sabaran.


"Ka-karena a-aku lihat ..."


"Hah? Lihat opo? Ngomongnya yang jelas."


"A-aku li-lihat ku ... ku ..."


"Maksudnya Tari lihat tikus, Bu. Jadi dia kaget terus pingsan. Iya kan, Tari?"


Adik bungsu Satya itu hanya bisa mengangguk pelan, karena bibirnya tiba-tiba kaku tak bisa mengucapkan kata-kata. Bu Kesha justru semakin tidak percaya.


"Sejak kapan Tari pingsan cuma gara-gara lihat tikus? Dia bahkan bisa menangkap tikus hanya dengan satu tangan," pikir Bu Kesha memandang Tari dan Laksmi dengan curiga.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2