Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 42. Tamu Gaib di Tahlilan (1)


__ADS_3

Angin dari ventilasi menyapa anak rambut Satya yang mulai panjang. Udara dingin sekali, sepertinya angin dari gunung sedang turun.


Tok! Tok! Tok! Tetdengar suara orang memanggil dari luar, diikuti dengan suara ketukan pintu.


Suara derit kursi yang terbuat dari kayu meranti terdengar cukup memekakkan telinga. Pak Darya segera beranjak dari tempat duduknya untuk berjalan menuju pintu depan. Satya terus memperhatikan ayahnya karena rasa penasaran.


"Siapa yang datang?"


Suara pintu berdecit ketika dibuka. Bersamaan dengan masuknya udara luar ke dalam ruangan membawa aroma kembang kembang, yang biasa ditebar saat ada orang meninggal.


Laksmi terlihat tak peduli dengan siapa yang datang. Dia sibuk merapikan meja makan bersama Tari.


"Ada apa, Gus?" ujar Pak Darya, mempersilahkan Agus untuk masuk.


"Di sini aja, Pak. Ada kejadian heboh di rumah Mbak Kamila. Katanya dia habis lihat Mbak Kunkun. Terus kesurupan," lapor Agus dengan nafas terengah-engah. "Jadi katanya warga disuruh hati-hati," lanjutnya setelah mengambil nafas.


"Mbak Kun-kun kuwi sopo, to?" Pak Darya tak mengerti ucapan Agus. -Mbak kun-kun itu siapa, sih?-


"Itu loh, Pak. A-anu..."


"Minum dulu, Gus. Abis itu baru lanjutin ceritanya." Bu Kesha meletakkan segelas air putih di depan Agus.


Tanpa diminta dua kali, Agus meneguknya hingga habis. Tampaknya dia benar-benar haus.


"Mbak Kun itu kayak Mbak Suzanna, Pak," ungkap Agus setelah tenggorokannya kembali basah.


"Mbak Suzanna? Artis?" Pak Darya semakin tak mengerti.


"Maksudnya kuntilanak, Pak. Setan," Satya membantu menjelaskan.


"Nah itu maksudku, Pak. Mbak Kamila lihat penampakan kuntilanak," kata Agus.


"Astagfirullah! Sejak kapan desa kita ada teror seperti itu?" ujar Pak Darya.


"Nggak tau juga, Pak. Tadi katanya Mbak Aruna nampak di belakang rumah waktu abis magrib. Beberapa warga juga sering melihat makhluk berbaju putih, waktu lagi ngeronda," kata Agus lagi.


Entah kenapa Satya tiba-tiba teringat pada istrinya yang izin ke kamar mandi, selepas magrib tadi.

__ADS_1


Selain diminta hati-hati, Pak Kades juga minta bapak-bapak ngumpul di rumah Bu Tuti. Baca Yasinan sama-sama untuk mengusir Mbak Kun-kun," ujar Agus menyampaikan pesan selanjutnya.


"Ya sudah, nanti setelah isya aku dan Satya akan pergi ke rumah Bu Tuti," ucap Pak Darya.


"Kalau gitu aku bareng Bapak sama Satya aja. Aku nggak berani pulang lagi," ujar Agus sambil cengengesan.


"Haaah, yo wes kalau gitu," balas Bapak sambil menahan tawa, melihat tingkah Agus.


"Aku jangan ditinggal to, Pak. Aku kan juga takut. Ndaru masih nganter barang ke desa sebelah," protes Bu Kesha.


"Loh, Ibu kan nggak sendirian di rumah. Ada Tari dan Laksmi juga. Lagian yasinan kan nggak lama. Paling sebelum jam sepuluh udah bubaran," balas Pak Darya.


Ah, mendengar nama Laskmi, Agus kembali teringat pertemuan pertamanya dengan istri dari Satya itu. Sosok perempuan yang dilihat Agus saat itu juga seperti kuntilanak, hingga membuat Agus ketakutan.


Mata Agus pun melirik ke arah Laksmi yang kini duduk di depan TV bersama Tari. Tak ada yang aneh. Rambut panjangnya digelung ke atas nengenakan jepit bunga. Perempuan itu duduk membelakangi ruang tamu, sehingga Agus hanya dapat melihat punggung wanita itu.


Baru saja bernapas lega, tiba-tiba Laksmi memutar lehernya tiga ratus enam puluh derajat, sembari tertawa lebar menatap Agus.


"Astaghfirullah! Setan!" teriak Agus sambil menunjuk ke arah ruang TV.


"Hah? Setan? Mana?" Bu Kesha yang sudah ketakutan sejak mendengar cerita Agus tadi, langsung melompat mendekati Pak Darya.


Agus kembali menunjuk ke arah Laksmi, yang kini memiringkan lehernya sembilan puluh derajat, sembari terkikik. Tapi semua orang di ruangan itu, tak melihat apa yang dilihat oleh Agus.


"Jangan nakut-nakutin, Gus. Istighfar. Baca doa. Kamu kayaknya masih halusinasi," ucap Pak Darya menengahi.


Agus pun berkomat kamit membaca doa dan ayat kursi. Matanya kembali memandang ke arah Laksmi dengan jantung berdetak kencang.


Semua kembali normal. Tak ada pemandangan aneh di depan TV. Hanya Tari yang melipir ke ruang tamu. Sepertinya dia tahu, siapa yang ditunjuk oleh Agus.


...***...


Rrrrr... "Halo?"


"Halo, Genta. Ini gawat."


"Opo maneh, Sa?" balas Genta di seberang sana. Suaranya terdengar serak, seperti orang yang baru bangun tidur. Padahal ini baru jam delapan malam. -Ada apa lagi?-

__ADS_1


"Aruna rupanya juga diganggu sama arwah Kinanti," ucap Satya setengah berbisik.


"Apa? Jadi bukan cuma kita bertiga?" suara Genta tiba-tiba terdengar bersemangat.


"Iya. Kali ini gangguannya lebih parah. Aruna dilihatin dengan jelas. Bahkan beberapa warga juga melihat kuntilanak itu kabur. Walaupun ada juga yang gak percaya," cerita Satya.


"Astaga! Mau apa coba dia datang lagi? Harusnya dia udah tenang di alam sana." Nada suara Genta terdengar agak tinggi dan berapi-api.


"Hmm, aku nggak yakin dia bisa tenang di sana. Malah aku berpikir kalau dia datang lagi untuk membalaskan dendamnya," ujar Aksa dengan lirih. Hati kecilnya merasa bersalah pada teman SMA-nya itu.


"Ya tapi kenapa dia baru datang sekarang? Setelah dua puluh tahun berlalu? Apakah pelaku lain juga dihantui? Atau hanya kita aja?" sanggah Genta penuh rasa penasaran.


"Ya soal itu aku nggak tahu soal itu. Yang jelas kita harus menghentikan semua ini," balas Aksa lagi.


"Kamu betul. Ini gak bisa dibiarkan. Kita harus cepat-cepat cari orang pintar dan mengusirnya. Sebelum orang-orang tahu, kalau kita juga didatangin Kinanti," balas Genta melalui telepon.


"Nah, itu juga maksudku. Kita harus menutup rapat-rapat aib kita. Bisa hancur karir kita nanti, kalau orang-orang tahu hubungan kita dengan hilangnya Kinanti dulu," ujar Aksa.


"Permisi, Pak Kades. Wirid yasinnya sudah mau dimulai." Seorang pemuda mendatangi Aksa untuk memulai acara.


"Oke. Tunggu sebentar," ujar Aksa. "Ta, aku tutup dulu ya. Besok kita bahas lagi," ujarnya kemudian menutup telepon.


...***...


Angin menderu ketika surat yasin dibacakan bersama-sama oleh warga desa. Langit malam yang semula cerah dengan bulan sabit, kini tampak gelap gulita seakan-akan badai akan datang.


Hujan mulai turun rintik-rintik ketika ayat suci Al-quran itu hampir setengah dibaca. Beberapa lelaki yang duduk di tepi jendela dan pintu mendadak menutup hidungnya. Perut mereka terasa campur aduk hingga akhirnya mengeluarkan isi perut mereka tanpa bisa ditahan. Tak hanya satu orang, tetapi empat orang muntah secara bersamaan.


"Kenapa, Pak?" seru warga lainnya.


Pembacaan surat yasin pun dihentikan, meski belum selesai. Para warga sibuk membantu orang-orang yang mendadak muntah. Satu per satu dari mereka pun merasakan mual, karena bau anyir darah yang menguar ke seantero ruangan.


Dari arah halaman rumah yang berhadapan langsung dengan jalan, mereka melihat seseorang berjalan beriringan mendekati rumah Aruna. Hampir semua mata memandang ke arah yang sama.


"Kayak ada yang aneh? Tapi apa, ya?" kata Satya memandang ke arah tamu yang baru datang itu. Orang itu tidak terlihat melangkahkan kaki layaknya orang biasa. Tubuhnya pun terlihat kaku.


"I-itu kan... Pocong...!" Jerit orang-orang di dalam rumah Aruna.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2