Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 65. Biadab!


__ADS_3

"Gimana kabarmu? Jadi masalah soal Laksmi sudah terpecahkan?" tanya Hadyan.


"Ya begitulah. Laksmi yang asli rupanya ada di Jakarta," kata Satya sambil menyandarkan punggungny ke kursi.


"Hah? Laksmi yang asli? Maksudnya? Terus yang sekarang ini siapa?" Hadyan semakin bingung dengan permasalahan temannya.


"Dia ku.. Ah, Entahlah, aku juga bingung." Satya memutus ucapannya di tengah. Bukan karena tak mau bercerita dengan Hadyan. Tapi karena dia sadar, saat ini lagi berada di kantor.


"Aku harus ketemu dengan dia dan Pak Dukun, untuk menyelesaikan masalah ini," gumam Satya dengan lirih. Matanya menatap kosong ke depan. Ini masih pagi, tetapi Satya sudah kehilangan sebagian besar energinya.


"Ah, iya. Bukannya kita hari ini harus ke kantor desaku, untuk mengambil data-data kawasan hutan adat?" ucap Satya kemudian.


Hadyan menggeleng, "Pekerjaan itu ditunda, sampai Pak Kades pulih dari kecelakaan. Kita kan butuh tanda tangan beliau untuk beberapa berkas," ucapnya.


"Siapa yang kecelakaan?" Satya tak yakin dengan pendengarannya tadi.


"Pak Kades, Pak Aksa Sakuntala. Kemarin beliau kecelakaan, dan luka-luka. Katanya sampai sekarang masih dirawat di rumah sakit," jelas Hadyan. Lelaki itu memang tak tinggal satu desa dengan Satya. Dia tinggal bersama abang dan kakak iparnya di kota kecamatan.


"Ah, aku baru dengar kabar itu," balas Satya.


"Ha? Masa? Bukannya berita itu udah tersebar di desamu. Pak Kades kecelakaan karena diganggu kuntilanak. Bahkan waktu operasi dia masih mengigau soal kuntilanak itu," ungkap Hadyan.


"Kuntilanak?" Tengkuk Satya langsung meremang saat mendengarnya. "Maksudnya bukan istriku, kan?"


...***...


Sore hari, di tahun 2003.


"Tolong! Tolong aku!"


"Hei, Aruna! Kau ngapain di sana?"


"Aksa! Tolong aku..."


Blup... Blup... Blup... Kinanti semakin menghilang dari permukaan. Perempuan itu tidak dapat berenang, membuatnya semakin banyak meminum air danau.


Byur! Aksa terjun ke dalam danau, lalu menarik tubuh Kinanti yang basah kuyup ke daratan. Arga dan Genta dengan cepat menarik sepatu dan tas milik remaja cantik itu.


Hueeek!" Kinanti menumpahkan air yang sempat ditelannya, ketika Aksa menekan perutnya. "Terima kasih, Aksa," ucap Kinanti dengan lemah.


"Heh! Kamu pikir urusan kita udah selesai?" Aksa tersenyum nakal.


"A-apa maksudmu?" tanya Kinanti tak mengerti.

__ADS_1


"Kau harus bertanggung jawab atas ucapanmu kemarin." Jemari Aksa menyentuh deretan kancing baju Kinanti.


"Aksa! Apa maksudmu?" tegur Kinanti seraya menepis tangan cowok itu.


"Jangan ngelunjak, ya. Kami udah menyelamatkanmu. Jadi kau harus ikutin keinginan kami."


Arga angkat bicara. Dia lalu melempar tas milik Kinanti ke dalam semak belukar, diikuti dengan Genta yang membuang sepatu gadis itu ke arah yang berbeda.


"Jangan! Kalian mau ngapain! Kembalikan tas dan sepatuku!" Dengan kekuatan yang masih belum terkumpul, Kinanti berusaha berdiri. Namun dengan cepat Aksa mendorongnya hingga jatuh.


"Heh! Jangan melawan! Kau bisa dapatkan tas itu, kalau sudah mengikuti semua keinginan kami."


Aksa menekan tubuh Kinanti dengan brutal. Satu per satu kancing baju Aksa terlepas. Netranya menatap Kinanti dengan tatapan tajam.


"Arrrghhh!" Aksa mendesis kesakitan, saat Kinanti mencakar punggungnya dengan bantuan tanaman berduri yang tumbuh di situ.


"Oh, jadi kau mau melawan?"


Aksa menyeringai lebar. Dengan cepat dia dan ketiga temannya menarik Kinanti semakin masuk ke dalam hutan. Tak peduli wanita itu menangis dan merintih kesakitan, mereka tetap menggilirnya tanpa ampun.


"Sa, k-kok dia nggak gerak?" tanya Genta yang terakhir kali menyentuh Kinanti.


"Hah? Masa?" Aksa ikut panik.


"Kin? Kinan?" Aksa dan Wira mengguncang tubuh wanita itu. Tapi Kinanti tetap kaku tak merespon.


"Kinan? Bangun Kinan?" Aksa masih terus mengguncang tubuh Kinanti.


Bruk! Tangan Kinanti terkulai ke tanah. Dadanya tak bergerak lagi. Tak terdengar detak jantugnya di sana.


"I-ini gimana?" tanya Aksa panik.


"Ya dikuburlah. Masa mau kita bawa pulang. Kalau divisum masuk penjara kita," kata Arga masih dengan wajah paniknya.


"Dikubur di mana? Kita nggak punya cangkul dan sekop," kata Genta dengan kaki gemetaran.


Mata Wira menyapu sekeliling tempat itu. "Di dalam lubang sana," ucap Wira sambil menunjuk ke arah tanah yang sedikit berlubang. Sepertinya itu sarang babi liar.


Ketiga temannya setuju. Mereka lantas menarik jasad Kinanti di sana dan menutupinya dengan ranting-ranting dan dedaunan kering.


Malam harinya, setelah dilakukan pencarian cukup panjang.


"Pak, kami menemukan tas dan sepatu. Ini milik Kinanti, kan?"

__ADS_1


Seorang warga menemukan sebuah tas dan sepasang sepatu di dalam semak tepi Danau Cemani. Kedua benda itu sudah basah kuyup dan penuh lumpur.


"Iya, itu punya anakku." Jerit Bu Nastiti dengan histeris. Harapannya untuk menemukan Kinanti kembali muncul.


"Kalau begitu lanjutkan pencarian di sekitar danau. Bisa jadi Kinanti tenggelam dan berada di dalam air," teriak ketua kelompok TIM SAR.


"Tapi ini hujan badai, Pak. Angin bertiup kencang dan air danau membentuk gelombang cukup tinggi. Bisa-bisa kita yang terseret arus," kata seorang pria.


"Benar, Pak. Lagian cuaca semakin gelap. Kita bakalan susah mencarinya," kata yang lain.


"Kalau begitu aku akan menyisir danau. Mencari anakku," kata Pak Diman tiba-tiba.


"Jangan, Pak!" Semua orang di sana melarang dia untuk pergi.


Guntur semakin menyambar-nyambar permukaan bumi. Tidak ada tanda-tanda hujan badai ini akan berhenti. Semuanya yang ikut dalam pencarian, justru terjebak di tengah kebun perbatasan desa.


"Pergilah ke lab. Bawa tas dan sepatu itu untuk diperiksa. Mana tahu ada bukti yang bisa menjadi petunjuk di sana," ujar salah seorang polisi menyuruh anak buahnya.


Aksa, Genta, Arga dan Wira yang turut dalam pencarian itu pun pucat. Mereka berempat takut, jika sidik jari mereka tertinggal di benda-benda tersebut. Mereka pelan-pelan beringsut ke belakang kerumunan, untuk kabur dari sana.


"Tenang aja, Aksa. Kalian nggak akan diperiksa. Papaku sudah membayar para polisi ini untuk menghentikan pencarian besok pagi," bisik Rani yang mendadak muncul di lokasi.


"Tapi gimana kalau ada seseorang yang menemukan jasadnya? Bukannya tadi kita sudah mendekati lokasinya?" bisik Wira ketakutan.


"Papaku sudah membatasi lokasi pencarian. Jadi kita nggak akan ke lokasi itu lagi. Yah, setidaknya dua tiga minggu lagi nggak akan ada yang ke sana. Sampai dia membusuk."


Suara hujan yang riuh meredam ucapan Rani. Bahkan wajah licik gadis remaja itu pun tersamarkan oleh cuaca yang semakin kelam.


"Tapi gimana kalau tas dan sepatu itu benar-benar diperiksa? Apa sidik jari kami masih tertinggal di sana, walaupun udah terendam air?" tanya Aksa gelisah.


"Tenanglah, semua sudah di bawah kendali papaku. Kalian nggak akan dihukum. Palingan besok cuma pura-pura diambil keterangan saja di kantor polisi, untuk melengkapi laporan. Asalkan kalian tutup mulut, kalau aku terlibat dalam masalah ini," kata Rani sambil tertawa kecil.


"Nggak! Bukan ini yang aku inginkan! Aku hanya mau memberi pelajaran pada Kinanti. Bukan menodai dan membunuhnya."


Aksa mengalami perdebatan sengit di dalam hati. Dia tidak tahu, jika Rani menggunakan bangsa lain yang tak dapat dilihat, untuk mempengaruhi Aksa dan teman-temannya.


"Haah... Haaah... Haah..." Aksa mencoba mengatur napasnya yang sesak. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali. "Kenapa aku teringat kejadian dulu? Rasanya nyata banget," pikir Aksa dengan jantung berdetak kencang.


"Mas udah bangun?"


Aksa melirik ke arah sumber suara itu. "Argh!" Aksa berteriak, saat pandangannya beradu dengan seorang perempuan berwajah pucat, yang sudut matanya meneteskan air mata darah.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2