
"Ki... Tu-tungguin. Kakiku berat iki..."
Suara Ipung semakin parau, saat sosok berbalut kain putih di seluruh tubuhnya dan dua bola kapas menyumpal hidungnya itu semakin mendekatinya. Aroma bangkai yang menyengat pun menusuk ke hidung.
Bruk! Pemuda itu pun akhirnya tumbang.
"Masih zamannya cari makan dari nakut-nakutin orang? Hihihihi..."
Sosok berambut panjang itu, mendekati jasad berbalut kafan yang melayang mendekati pemuda tadi.
"Heh, Kunti? Ngapain ke sini?" ujar Cokro Pamungkas alias pocong.
"Ya cari makanlah. Di rumah aku kelaparan terus. Nggak ada sesajen baru, ya?" seru Kunti sambil melayang dari pohon ke pohon. Sayangnya dia tidak menemukan apa pun yang bisa mengisi energinya.
"Kamu juga ngapain kamu cari makan di sini? Bukannya rumah baru kamu lumbung makanan?"
Sosok berbaju putih kusam dan berambut panjang lainnya, mendekati Kuntilanak yang kelaparan itu. Puluhan belatung berjatuhan dari punggungnya yang tinggal tulang itu. Sementara tangan kirinya menggendong anak bayi yang telah terkulai lemas.
"Ah, Yu' Sundari. Aku salah menduga. Satya dan keluarganya itu terlalu baik. Taat agama. Setiap hari bersama mereka hampir membuat jiwaku lenyap. Kemarin aku sudah memakan satu bayi yang dibuang ibunya ke kali, tapi itu nggak cukup.
"Rupanya yang dibilang Pak Dukun itu bener, ya. Dia bukan target yang kamu cari," timpal Cokro dengan mulut penuh darah. Entah bagaimana nasib pemuda si anak mama tadi.
Sebuah pohon asam tua bergoyang hebat, bersamaan dengan munculnya sosok hitam besar berbulu bagai gorilla. Taringnya menonjol keluar di ujung bibirnya.
"Lah, jadi sia-sia dong waktu itu aku merasuki Pak Dukun, biar menyetujui pernikahan kalian."
"Nggak juga, Pak De Mit. Aku berhasil menemukan orang-orang yang membunuhku. Tapi aku perlu bantuan kalian." Raut wajah makhluk itu terlihat beringas, dengan mata melotot dan hampir keluar.
"Hihihihi... Memangnya makhluk seperti kita saling tolong menolong? Hihihihi..." Sosok sundel bolong di samping Kuntilanak itu kembali membuka mulutnya.
"Nanti kucarikan tumbal untuk kalian, deh. Tiga ekor kerbau putih cukup dari peternakan Pak Rahmat cukup, kan?" tawar Kinanti Laksmi Nayaka alias sang kuntilanak.
Sundel bolong dan Genderuwo berusia ratusan tahun itu menoleh bersamaan.
__ADS_1
"Masih kurang. Mana perawan desa untuk aku?" ujar Pak De Mit.
"Ah, kalau perawan desa rasanya terlalu sulit. Tapi kau boleh mengambil salah satu dari mereka untuk dijadikan budakmu nanti," kata sang kuntilanak.
"Aku juga mau suamimu," seru Yu' Sundari sambil mengunyah hati bayi malang yang digendongnya tersebut.
"Nggak! Dia terlalu baik untukmu! Lebih baik kau ambil salah satu anak mereka saja."
"Hei, terus mana bagianku? Aku minta tumbal seorang bocah juga, dong?"
Aroma kenanga yang pekat, menandai munculnya makhluk yang sering menyerupai seorang ibu itu. Bagian dadanya yang penuh dan padat, hanya tertutup kain jarik setengahnya.
"Ah, Bu De Wiwi! Aku jadi punya ide baru. Kau bisa pilih nanti, siapa yang akan kamu ambil. Mereka punya dua anak perempuan yang lucu-lucu. Hihihi ..." ujar kuntilanak itu membuat kesepakatan dengan si wewe gombel.
...***...
Kening Farras berkerut, melihat ibunya menabur garam di depan pintu dapur, sambil berkomat-kamit seakan baca mantra. Sebuah piring anyaman bambu berisi beragam jenis bunga yang ditata rapi, segelas kopi hitam pekat dan sebutir telur juga diletakkan di sana.
"Bu, ngapain nebar garam di depan pintu?" ucap Farras ketika melihat sang ibu melakukan hal yang sama di pintu depan rumah mereka.
Farras menghela napas panjang, lalu membuangnya secara perlahan. Kedua alisnya bertaut sambil memasang raut wajah sedih. Dia ingin sekali memberi tahu sang ibu, kalau perbuatannya itu syirik dalam agama mereka. Namun nyali Farras terlalu kecil untuk menegurnya.
"Bu, ada hubungan apa Ibu dengan kedatangan Kinanti? Kenapa Ibu segitu takutnya, sampai membuat penangkal begini?"
Farras memberanikan diri melontarkan pertanyaan yang sejak kemarin di pendamnya. Ternyata itu cukup berhasil membuat sang ibu menghentikan aktivitasnya dan berbalik badan.
"Apa maksudmu? Jadi kamu juga didatangi arwahnya? Jadi bukan Ibu sendiri yang melihatnya, kan?" kata Aruna dengan mata mendelik.
"Aku nggak melihatnya, Bu."
"Terus kamu tahu dari mana?" desak Aruna.
"Aku mendengar obrolan Ibu dengan Mbah malam itu. Terus Ibu juga selalu mengigau, menyebut nama Kinanti," ungkap Farras. Kedua mata Aruna membulat, mendengar jawaban putranya.
__ADS_1
"Ibu nggak terlibat sama kasusnya, kan? Bukankah dia teman sekolah Ibu? Ah, apa harusnya aku memanggilnya Bibi Kinanti, ya?" sambung remaja itu lagi.
Lutut Aruna bergetar mendengar pertanyaan itu, "Sejauh apa kamu tahu tentang dia?" Aruna semakin gelagapan dan terlihat ketakutan. Dia bahkan tak nenjawab pertanyaan putranya.
"Cerita tentang Kinanti 'kan sudah melegenda di desa kita, Bu. Siapa yang gak tahu tentang dia di sini? ujar Farras.
"Hhhhh!" Aruna membuang napas kesal. Dia nggak bisa menyangkal kalimat terakhir dari Farras. "Itulah anehnya. Ibu nggak tahu, kenapa arwahnya mendatangi rumah ini kemarin," gumamnya lirih.
"Bu, malam itu nggak ada siapa-siapa selain Mbak Laksmi. Ibu hanya berhalusinasi mungkin," balas Farras.
"Tapi Ibu benar-benar melihat arwahnya melayang di depan pintu, Farras!" Kali ini suara Aruna sedikit tinggi dan membentak putranya.
Farras tersentak mendengarnya. Baru kali ini sang ibu berbicara dengan nada tinggi padanya. Tak terlihat lagi kesan lemah lembut dari wanita itu.
"Maaf. Mungkin aku yang nggak lihat," ucap Farras mengalah. "Tapi Ibu beneran nggak tahu apa yang terjadi dengan Kinanti? Bukankah kita bertetangga dengannya?"
"Ibu nggak tahu menahu tentang kasusnya, Farras! Ibu juga nggak pernah berteman sama dia, meskipun kami bertetangga."
"Terus kenapa Ibu ketakutan gini?"
"Siapa yang nggak bakal takut, kalau didatangi sama arwahnya yang menyeramkan gitu. Untung saja Ibu nggak akrab dengannya. Kalau nggak, mungkin Ibu juga udah mati!"
Farras terkejut mendengarnya. "Darimana Ibu tahu dia sudah mati? Kinanti kan sampai sekarang masih nggak ditemukan. Mungkin saja dia masih hidup di tempat lain," balas Farras. "Lalu soal hantu, bisa aja itu hanya jin yang menyerupainya."
Aruna ternganga mendengarnya. Manik matanya semakin terbelalak. Kedua tangannya mengepal, saat dia menyadari bahwa dia baru saja keceplosan.
"Terus apa alasannya dia nggak pulang sampai sekarang, kalau memang masih hidup? Diculik? Korban perdagangan manusia? Atau dia yang sengaja kabur sama cowoknya?" Aruna terus mencari alasan untuk meyakinkan Farras.
Farras memandang wajah ibunya dengan alis bertaut. Meski sudah mulai termakan usia, wanita berkepala tiga itu masih terlihat cantik. Sosoknya di mata Farras adalah seorang ibu yang lemah lembut dan pekerja keras. Sungguh jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya hari ini.
"Mungkin ucapan Ibu ada benarnya," ujar Farras kemudian. "Tetapi kalau dia memang udah meninggal, bukankah sebaiknya kita mengirimkannya doa? Mungkin aja dia datang karena ingin meminta dia, bukan dengan sesajen begini," imbuh bocah kelas satu SMA itu.
"Udah Ibu bilang, kamu jangan ikut campur! Kamu baru lima belas tahun, belum tahu apa-apa!" bentak Aruna sambil melengos pergi.
__ADS_1
"Tapi aku tahu semuanya. Hihihihi." Sekelebat bayangan tanpa kaki, mengikuti langkah Aruna yang memasuki kamar.
(Bersambung)