
Perhatian! Jangan baca eposode ini sambil makan.
Hari ini Endaru menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Dia hanya mengantar perabotan pesanan Pak Sigit, yang kemarin ternyata salah alamat. Setelah itu dia pun langsung menyusul ke kebun untuk membantu panen kopi dan beberapa sayur mayur.
Grrroowwll. Perutnya keroncongan. Dia sengaja tidak makan siang di rumah, karena ingin menikmati suasana makan siang di kebun bersama angin sepoi-sepoi.
"Bapak sama Ibu sudah makan?" tanya Ndaru ketika bertemu kedua orang tuanya yang sedang beristirahat.
"Belum. Kamu makan duluan aja. Bapak sama ibu mau sholat dzuhur dulu," kata Pak Darya sambil mengusap peluh di keningnya. Cuaca hari ini memang lebih terik dibandingkan biasanya.
"Ya udah, kalau gitu kita makan sama-sama saja. Aku siapkan makan siangnya," ucap pemuda itu.
Mereka bertiga lalu berjalan ke arah yang berbeda. Ndaru menuju ke gubuk, sementara Pak Darya dan Bu Kesha menuju mata air kecil di sudut kebun mereka.
Sesampainya di gubuk, Ndaru melihat tungku yang berasap. Di dandang tempat nasi, masih mengepul nasi yang sedang dikukus. Api dari kayu kopi masih dinyalakan. Di sebelahnya ada panci kecil tertutup, hanya teronggok tanpa dipanasi. Tungkunya tidak dinyalakan api.
Di gubuk kayu ini ada dua tungku api yang terbuat dari tanah liat dicampuri sedikit semen. Di bagian atasnya dibuat tempat pengasapan jika ada ikan atau ayam. Biasanya Pak Darya dan Bu Kesha memasak dan makan siang di sana saat berkebun.
"Apakah ibu masak air, tetapi lupa menghidupkan api?"
Tangan Endaru refleks membuka tutup panci. Matanya langsung membesar serta terkejut, hingga dia terjerembab dalam keadaan terduduk. Rasa hangat dari api samping yang berasal dari tungku kukusan nasi pun cepat menjalar. Dia terjatuh terlalu dekat tungku.
"Belatung! Ada belatung!"
Endaru berteriak karena tidak biasa melihat belatung-belatung putih menggeliat dalam panci. Semuanya masih dalam keadaan hidup. Seperti ulat bulu tetapi tak punya bulu, kepalanya hitam dengan tubuh gendut bagian perut.
Kaki-kakinya kecil serta banyak, mereka saling menginjak tubuh satu sama lain. Beberapa ulat terjungkir balik karena saking banyaknya. Semua tubuhnya bergoyang, membuat sesuatu yang seperti cairan di punggungnya bergerak-gerak.
"Hueeek!"
Endaru memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan. Perutnya mulas melihat benda tak biasa yang ada di salam panci tersebut.
"Kok bisa ada banyak belatung gini di dalam panci? Apa ibu menyimpannya untuk makanan ayam di rumah?"
__ADS_1
"Ada apa, Ndaru? Teriakanmu kencang banget, sampai terdengar ke bawah sana," tanya Pak Darya yang berlari-lari menuju ke gubuk, diikuti Bu Kesha yang terengah-engah.
"Ada belatung di dalam panci ini. Apa Ibu sengaja menyimpannya untuk dibawa pulang?" tanya Ndaru seraya menunjuk ke arah panci.
"Belatung? Untuk apa Ibu nyimpen belatung? Panci itu kan isinya ikan gulai untuk makan siang kita," kata Bu Kesha dengan bingung.
Tangan wanita itu lantas membuka tutup panci. Dia terkejut melihat pemandangan menjijikkan yang dilihat putranya tadi.
"Kok bisa ada sebanyak ini? Apa tadi Ibu nggak menutup panci dengan rapat, jadi ada lalat yang bertelur?" kata Pak Darya turut bingung.
"Nggak, Pak. Ibu yakin sudah menutup rapat pancinya."
Bu Kesha bergidik ngeri. Dia sungguh paling benci hewan melata. Tangannya gemetaran, hingga menyenggol panci itu dan isinya berhamburan tumpah. Hewan-hewan itu tampak senang karena merasa bebas, tidak sesempit saat di dalam panci.
"Kalau pun ada lalat yang bertelur, belatungnya gak akan sebanyak ini. Dan pasti menyisakan kuah dan tulang ikannya, kan?" ujar Ndaru menimpali.
"Lalu ini kenapa? Apa ada orang yang mengerjai kita?" gumam Pak Darya.
Bu Kesha mendongakkan kepalanya. Dia teringat, tadi pagi ketika sampai di gubuk, dia tanpa sengaja melangkahi panci itu karena hampir terjatuh. Katanya, makanan yang mengandung jampi-jampi bisa dibuktikan dengan cara itu.
Merasa penasaran, Bu Kesha mengambil dandang nasi dan meletakkannya di lantai. Uap panas pun mengepul di atas nasi yang berbau harum, ketika Bu Kesha membuka tutupnya.
"Astaghfirullah! Ngapain, Bu?" teriak Pak Darya dan Ndaru, saat Bu Kesha melangkahi dandang itu.
Tanpa menjawab, tangan kanan Bu Kesha pun membuka tutup dandang. Semuanya melonjak kaget. Nasi hangat yang mengepul panas sudah tidak ada lagi. Isi di dalam dandang itu sama persis seperti isi panci tadi.
Seluruh tubuh Bu Kesha lemas. Mau tak percaya, dia sudah melihatnya sendiri. Perutnya semakin mual, membayangkan benda apa yang selama ini mereka makan.
"Apa yang terjadi, Bu? Apa benar seseorang mengerjai kita?" tanya Ndaru merasa was-was.
Bu Kesha menggelengkan kepalanya dengan lemah. Dia tak sanggup mengatakan, jika semua itu adalah masakan menantunya.
...***...
__ADS_1
"Dek, mana teh-nya? Kok malah bengong?" Satya menegur istrinya, yang menatap Ndaru tanpa berkedip.
"Oh, iya. Aku bikinkan, ya. Teh melati dua, teh camomile tawar satu, kan?" ucap Laksmi seraya bangkit dari tempat duduk.
Satya hanya mengangguk, sambil menatap Laksmi dengan heran. "Dia kenapa lagi, sih? Apa aku menyinggungnya, karena memaksanya menjenguk ayah mertua di Dusun Wingit?" batinnya.
Siang tadi dia memang berkata pada sang istri, tentang rencana mereka untuk pulang ke Dusun Wingit. Sudah satu minggu lebih mereka tidak mendengar kabar dari Pak Dukun, ayah mertuanya.
Tetapi sudah bisa ditebak. Laksmi menolaknya dengan cepat, dengan alasan bahwa keadaan ayahnya pasti baik-baik saja.
Sementara itu di dapur, Laksmi membuat teh sesuai permintaan Satya. Tangannya dengan lincah mengaduk teh dan gula dengan air panas. Tanpa disadari, air mata menetes dari matanya yang kosong.
"Jadi mereka sudah tahu siapa aku sebenarnya? Atau hanya ibu yang merasakan keanehan?"
Sejak pulang dari kebun tadi, kedua mertua beserta adik iparnya terlihat aneh. Sang ibunda yang tampak lemah dan pucat, langsung berbaring di kamarnya tanpa makan siang. Sementara Pak Darya dan Ndaru lebih banyak termenung.
"Loh, Dek? Kok ngelamun lagi? Ada apa, sih?"
Satya nenyusul ke dapur, karena Laksmi membuat teh terlalu lama. Ah, sebenarnya teh itu sudah selesai. Tetapi Laksmi tidak membawanya ke ruang tamu.
"Dek, kamu sakit? Atau marah sama Mas? Mas minta maaf, ya." tanya Satya sambil mengusap rambut panjang wanita itu. Lelaki itu sudah terbiasa dengan aroma melati dan kemenyan yang menguar dari tubuh istrinya.
"Nggak kok, Mas. Aku nggak sakit. Mas juga gak salah mengajakku menjenguk Bapak. Tetapi rasanya tubuhku nggak sanggup melakukan perjalanan sejauh itu," kata Laksmi dengan lembut. Raut wajahnya terlihat semakin murung.
"Ya sudah kalau begitu. Tadi Mas juga sudah telepon Bapak, kok. Katanya keadaan Bapak baik-baik aja," sahut Satya. "Oh iya, hari ini kamu ndak masak, ya?"
Laksmi menggeleng. Dia enggan memasak lagi, setelah ibu mertua memergoki masakannya yang aneh. Tetapi jika Satya memaksa, ya apa boleh buat. Laksmi akan berusaha memasak sesuai standar manusia.
"Gimana kalau sore ini kita beli bakso saja? Kamu mau, kan? Ibu juga kelihatannya nggak enak badan. Pasti seger kalau diajak makan bakso," usul Satya.
Laksmi mengangguk setuju. Ya, itu lebih baik daripada harus memasak. Tapi, sampai kapan dia harus menyembunyikan identitasnya?
(Bersambung)
__ADS_1