Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 29. Tingkah Aneh Tari


__ADS_3

"Tari!"


Deg! Jantung remaja perempuan itu hampir melompat keluar, saat Laksmi mendadak berbalik badan.


"Kenapa kamu membungkuk gitu? Apa sakit perut lagi?" tegur Laksmi yang membawa piring kotor menuju dapur. Keningnya mengernyit, melihat tingkah aneh adiknya.


"Hah? Nggak, kok." Wajah Tari memerah. Tangannya pura-pura memungut tisu, yang sebenarnya baru saja dia jatuhkan.


"Hmm, wujud Mbak Laksmi masih sama. Gak berubah jadi kuntilanak. Jangan-jangan cara di gugel itu cuma hoax." Tari merasa malu dan tertipu dengan mesin pencari di internet tersebut.


"Astaga!" Baru saja merasa lega, Tari kembali melihat keanehan dari kakak iparnya. Kedua tangan perempuan itu berlumuran darah.


"Ada apa, Tari?" Laksmi berbalik badan. Tangan kanannya memegang buah naga, sementara tangan kirinya memegang pisau.


"Oh, nggak ada. Aku salah lihat." Tari kembali merasa malu.


"Fyuh, untung dia nggak melihat dengan jelas." Diam-diam Laksmi menyembunyikan potongan kepala bayi di balik tubuhnya.


Sembari mencuci piring, Tari masih terus memutar otak untuk mengungkap keanehan istri dari abang tertuanya tersebut.


"Oh iya, kenapa aku nggak kepikiran cara itu? Pasti dengan membaca surat-surat Al-quran, sosok aslinya bakalan muncul," pikir Tari sambil bersenandung riang.


"Tari, kamu di rumah aja ya, sama Laksmi," ujar Bu Kesha mendadak muncul dari pintu dapur.


"Loh, Bapak sama Ibu mau ke mana?"


Tari mengerutkan keningnya, melihat kedua orang tuanya telah berpakaian rapi. Ibunya juga mengenakan kerudung segiempat lebar, yang menutupi dadanya.


"Mau melayat orang meninggal," jawab Bapak sembari memakai peci.


"Siapa yang meninggal?" Tari menggigil ketakutan. Dia nggak mau ditinggal berdua lagi bersama kakak iparnya, terutama di malam hari.


"Pak Kusno di gang lima meninggal, karena jembatan roboh sore tadi," balas Bapak. "Sudah, ya. Bapak sama Ibu pergi dulu. Kalian hati-hati di rumah."


"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Aku ikut, Bu," pinta Tari. Rasanya lebih baik dia pergi melayat saja, daripada harus berdua dengan sang kakak di rumah. Apalagi setelah melihat kepala terbang tadi.


"Ndak usah. Kamu kan tahu, anak gadis nggak boleh keluar setelah magrib di desa ini, kecuali sangat mendesak," tolak Bu Kesha.


"Tapi aku kan perginya sama Bapak Ibu, nggak sendirian," ucap Tari dengan bibir mengerucut.


"Kamu ikut juga mau ngapain? Lebih baik di rumah, temenin Mbak-mu," ujar Bapak.


Tari menarik napas panjang. "Nggeh, Pak," jawab Tari mengalah.


"Mampus aku," batin Tari setelah kedua orang tuanya pergi.

__ADS_1


Dia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan meninggalkan dapur yang temaram. Sementara Laksmi sudah lebih dulu meninggalkan ruangan itu.


"Hahaha..."


Ketika hendak ke kamar, Tari melihat sang kakak ipar duduk di ruang tengah sembari menonton TV. Sesekali dia tertawa, karena adegan lucu di sinetron komedi yang ditontonnya. Suara tawa normal, seperti perempuan biasa.


"Masa hantu bisa nonton TV juga?"


Tari mulanya ingin ke kamar saja, tetapi hatinya mendadak ingin melakukan sesuatu. Dia lalu duduk di belakang Laksmi dan menonton acara TV bersama-sama. Diam-diam dia membaca ayat kursi dan surat An-Nas untuk melihat reaksi perempuan itu.


"Dek, kamu kenal sama istri Pak Kades, nggak?"


Alih-alih merasa kesakitan, Laksmi malah bersikap biasa dan melontarkan pertanyaan pada sang adik. Pandangannya berputar ke belakang sejauh seratus delapan puluh derajat. Matanya yang bolong, mengeluarkan banyak serangga kecil.


"Hah? Maksudnya Mbak Rani?" Fokus Tari terpecah, dan menjawab pertanyaan Laksmi. Dia tidak merasa takut, karena sosok Laksmi yang dia lihat itu cantik jelita.


Wanita dua puluh lima tahun itu menyeringai lebar. "Untunglah dia mau diajak ngobrol, jiwaku rasanya sudah hampir terbakar karena ayat suci yang dia baca," gumam Laksmi.


"Hah? Apa Mbak?" Tari nggak mendengar jelas apa yang dikatakan kakak iparnya tersebut, karena suara dari TV cukup besar.


"Namanya Rani, toh. Kayak keturunan Tionghoa, cantik banget," ujar Laksmi mengubah kalimatnya.


"Oh, Mbak Rani emang cantik banget. Dia dulu katanya kembang desa. Apa mungkin karena dia anak orang kaya, ya? Menikahnya juga sama pemuda tampan, paling populer di desa ini."


"Yah, Aksa memang cakep sih dari dulu. Tapi ..." Seringai di wajah Laksmi sirna, kala mengingat tingkah bejat lelaki itu. Dia menggeram kesal sambil memutar lehernya satu putaran penuh.


Laksmi langsung membungkam mulutnya, saat menyadari dia baru saja keceplosan. "Ya, dulu waktu zaman Mbak SMA pernah kenal, sih. Tapi kayaknya dia nggak ingat lagi, karena udah lama banget."


"Hoo, gitu rupanya."


Tanpa disadari, Tari terus asyik mengobrol dengan saudara iparnya tersebut. Rasa takutnya pun lenyap. Dia tidak sadar, jika sejak tadi dia duduk dikerubungi belatung dan serangga lainnya, yang keluar dari tubuh Laksmi.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Padahal baru sebentar kedua orang tua mereka pergi. Masa sudah pulang lagi? Lalu siapa yang datang malam-malam begini?


Tari mulai bergidik ngeri. Aroma kemenyan yang dibakar pun tercium. Pikiran bocah SMA itu pun dipenuhi hal-hal mistis.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini Laksmi beranjak dari tempat duduknya, dan membukakan pintu.


"Assalamualaikum."


Mendengar suara abang tertuanya, Tari pun melonjak girang. "Mas Satya, Mas Ndaru, pada pulang lewat mana? Bukannya jembatan desa roboh?" tanya Tari sembari menyalami kedua abangnya.

__ADS_1


"Kami lewat jalan memutar dekat kuburan keramat itu. Makanya nyampenya malam banget," jawab Ndaru sembari memasuki rumah.


"Kalian pada ke mana? Kok dipanggil-panggil dari tadi nggak ada yang menyahut? Telepon juga nggak diangkat? Udah pada tidur?" tanya Satya


"Hah? Telepon?"


Tari buru-buru mengecek HP-nya. Ternyata benar, ada enam panggilan tak terjawab dan beberapa pesan singkat dari kedua abangnya. Bukan cuma itu, sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam. Itu artinya sudah hampir dua setengah jam, sejak kedua orang tuanya pergi melayat.


"Kok aku bisa nggak sadar? Perasaan baru sebentar doang ngobrol sama Mbak Laksmi," batin Tari merasa janggal.


Selalu saja ada kejadian aneh, saat Tari hanya berdua di rumah dengan kakak iparnya. Memangnya anggota keluarga lain nggak ada yang menyadarinya?


Benar saja, tak lama setelah Satya dan Ndaru pulang, kedua orang tua mereka juga pulang dari takziah.


...***...


Setelah sholat isya, Satya tetap duduk di atas sajadahnya. Masih lengkap mengenakan sarung dan peci, kedua manik matanya menatap sang istri yang duduk di tepi tempat tidur menunggunya.


"Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu, Mas?" Laksmi merasa agak canggung, dilihat oleh suaminya seperti itu. Terlebih setelah beberapa kali dia ketahuan bersikap mencurigakan.


Satya hanya melengos pelan tanpa menjawab pertanyaan Laksmi. Dia lalu berpindah tempat, duduk di samping sang istri.


"Apa nggak ada yang mau kamu bilang padaku?" ucap Satya dengan pandangan serius.


"Maksud Mas benda-benda untuk ilmu pelet itu?"


Kedua mata Satya terbelalak. Dia tidak menyangka bahwa Laksmi akan langsung berkata jujur. "Jadi ini yang mau dibilang oleh Pak Dukun tempo hari?" pikirnya.


"Maaf karena aku memanfaatmu, Mas. Tapi semua benda-benda itu sudah aku buang. Sekarang aku pasrah, kalau perasaanmu padaku berubah, dan kamu ingin meninggalkanku," kata Laksmi lirih.


Satya masih tetap bungkam. Kedua tangannya terentang, lalu melingkari tubuh mungil wanita itu dengan erat.


"Loh, kok malah dipeluk? Apa dia mau cari paku di kepalaku, seperti film Tante Suzanna?" pikir Laksmi bingung.


"Aku menikahimu bukan hanya di atas kertas. Tapi juga dengan harapan bisa membuatmu bahagia, dan membentuk keluarga yang baik," bisik Satya dengan suara parau.


Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu saat ini. Tetapi yang jelas, dia sedang menahan agar air matanya tak jatuh ke pipi.


Kedua tangan Laksmi balas memeluk erat pria muda itu. Wajahnya mendadak berubah. Bukan wujud mengerikan yang selalu ditunjukkannya selama ini, melainkan sosok seorang Kinanti remaja yang tengah berwajah sendu.


"Aku minta maaf, Mas," bisik wanita itu.


"Aku mengerti. Doakan aku supaya bisa menjadi suami yang baik, ya. Suami yang bertanggung jawab untuk keluarga kita nanti," balas Satya.


"Jangan ngomong gitu, karena kamu nanti juga akan hancur karena aku. Hihihihi..." bisik Laksmi sangat lirih.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2