
"Pak Dukun, apa Bapak dengar juga tadi malam?"
"Dengar apa?" Pak Dukun yang baru saja datang ke warung kopi. Dia lalu memesan segelas kopi susu dan sepiring nasi pecel untuk sarapan.
"Makhluk itu meneror desa kita lagi. Sepanjang malam seluruh warga mendengar suara tawanya yang melengking.
" O-oh, iya. Aku juga dengar."
Pak Dukun memutar bola matanya. Dia enggan bercerita, kalau tadi malam dia mengompol gara-gara kuntilanak yang ngebet minta kawin.
Pagi ini Pak Dukun lebih mirip dengan kuntilanak itu dibandingkan dengan manusia. Sekeliling matanya tampak menghitam. Wajahnya pucat pasi. Pria itu tidak tidur sampai pagi, karena diteror makhluk halus tersebut.
"Jadi apa yang harus kita lakukan, Pak? Warga sudah resah, tak ada yang berani beraktivitas di malam hari. Bahkan untuk sholat isya di masjid," lapor mereka.
"Pak? Pak Dukun? Pak RW?"
"Y-ya, maaf. Saya lagi nggak fokus," balas Pak Dukun. "Kenapa harus takut? Dia pasti akan takut sama kita yang hendak beribadah," sambung Pak Dukun meyakinkan warga. Padahal dirinya sendiri merasa tak yakin dengan ucapannya.
"Tapi dia sudah berani menampakkan diri. Sudah beberapa malam ini dia berkeliaran di pos ronda dan gerbang desa. Apa kita harus menggelar doa bersama seperti dulu lagi?" usul para warga.
"Betul, Pak Dukun. Sekarang saya cuma berani buka warung di siang hari. Siap ashar saya harus tutup karena takut diganggu," ujar Mbok Lastri si pemilik warung ikut menimpali.
"Benar-benar makhluk itu! Apa kali ini aku juga harus mengikuti keinginannya? Doa bersama nggak mempan untuk mengusirnya. Dia bahkan tetap mengawasi kami dari atas pohon, saat doa bersama digelar waktu itu. Para warga desa gak tahu hal itu," pikir Pak Dukun.
Kepala pria itu terasa berdenyut. Bebannya semakin bertambah. Bukan hanya keluhan dari para warga, tetapi dia sendiri pun sudah beberapa kali diteror oleh sosok wanita cantik itu, hingga tak dapat tidur.
"Apa kalian mencariku? Aku di sini. Hihihihi ..."
Suara tawa melengking yang tak terlihat wujudnya itu, sukses membuat semua orang di warung kopi lari tunggang langgang.
"Paaak! Aku yo ojo ditinggal, to," seru Mbok Lastri. Wanita bertubuh gempal itu tak bisa berlari karena sedang menggoreng bakwan. -Aku ya jangan ditinggal, dong.-
__ADS_1
"Mbok, minta hati ayam mentahnya satu. Hihihihi..." Sesosok perempuan cantik berwajah pucat penuh luka muncul di balik punggung Mbok Lastri. Giginya mengunyah hati ayam mentah, yang dia temukan di dalam baskom.
...***...
"Perkenalkan, nama saya Pak Dukun. Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini."
"Pak Dukun?"
Pak Darya sedikit terkejut mendengarnya. Netranya bergerilya ke seluruh ruangan, tak ada yang aneh dari rumah mungil ini. Semua tampak normal, nggak seperti rumah para dukun yang biasa dia lihat di televisi.
"Ah, itu. Nama saya sebenarnya Pandu Kuncoro. Tapi kalau warga dusun sini biasa manggil saya disingkat, jadi Pak Dukun," jelas pria asli Dusun Wingit itu sambil terkekeh. Dia takut calon besannya salah paham.
"Ahahah, gitu ya. Saya Sudarya dan ini istri saya, Keshwari. Lalu itu ketiga anak saya, Satya, Endaru, dan Tari." Pak Darya memperkenalkan keluarganya. "Sepertinya maksud kedatangan kami di sini sudah sampai ke telinga Bapak, ya?"
"Ya, saya sudah dengar dari putri saya," jawab Pak Dukun. "Nah, ini anak gadis saya."
Seorang gadis manis dengan dandanan sangat sederhana muncul di ruang tamu, sambil membawa sebuah nampan berisi teh dan kue bolu. Wajahnya yang halus dan sedikit pucat, hanya dipoles dengan bedak dan lipstik berwarna coral. Rambutnya dia ikat satu dan diberi jepit, agar terlihat rapi. Tubuhnya yang ramping, dibalut dengan baju terusan berwarna hijau toska.
"Nama saya Laskmi Kinasih, Pak, Bu. Panggil aja Laksmi." Gadis itu memperkenalkan dirinya, lalu menyalami keluarga Pak Darya bergantian.
"Cantik namanya, seperti wajahnya," puji Bu Kesha. "Maaf, kalau Ibu boleh tahu, umur kamu berapa, Nduk?"
"Dua puluh tujuh tahun, Bu," balas Laksmi.
"Hah? Dua puluh tujuh tahun? Nggak, ini nggak bisa dibiarin," batin Tari, adik bungsu Satya. "Aku harus tanya sama Mbak Laksmi rahasia skincare-nya. Udah umur dua puluh tujuh, tapi wajahnya masih kayak abg," batin Laksmi lagi.
"Jadi sekarang kamu cuma tinggal berdua sama ayahmu?"
"Nggeh, Pak. Saya putus sekolah sejak ibu saya meninggal," jelas Laksmi. Dia tampak begitu tenang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kedua orang tua Satya tersebut.
"Dia yang sehari-hari mengurus rumah, sementara saya bekerja," imbuh Pak Dukun.
__ADS_1
Pembicaraan antar keluarga itu terus berlanjut hingga membahas acara pertunangan dan pernikahan. Tak muluk-muluk, Laksmi hanya meminta sebuah cincin emas dan sepasang anting untuk mas kawinnya.
Sedangkan untuk hantaran, dia lebih memilih hewan ternak sepasang kambing dan dua pasang itik. Agak aneh memang, tetapi katanya sudah biasa di dusun situ. Sementara lamaran alias tunangan dilakukan secara sederhana, hanya dihadiri oleh kedua keluarga besar dan kerabat dekat.
"Terus apa benar kamu cuma minta akad nikah, tanpa pesta?" tanya Bu Kesha.
"Iya, Bu. Aku takut merepotkan banyak orang dengan kondisi yang gak boleh sakit dan kecapekan begini," jawab Laksmi dengan santun.
"Baiklah kalau itu keinginanmu," ucap Bu Kesha dan Pak Darya menghargai keputusan calon menantu mereka.
...***...
"Mas, kok kayaknya Mbak Laksmi pucat banget, ya. Agak aneh gak sih?" bisik Tari, saat mereka hendak pulang. Bapak, Ibu serta Satya masih berbincang di depan pintu.
"Sstt! Gak boleh gitu. Tadi kan udah dijelasin, Mbak Laksmi mengidap penyakit langka Xeroderma pigmentosum, jadi gak bisa kena sinar matahari terlalu lama. Terus Mbak Laksmi juga mengalami Leukemia, kan? Jadi dia gak boleh punya pikiran berat," balas Ndaru.
"Tapi tangannya dingin banget lho, Mas. Kayak orang meninggal dinginnya. Aku juga mencium bau bangkai dan bau melati di sekitar tubuh Mbak Laksmi," ucap Tari kukuh pada pendapatnya.
"Ya Mungkin Mbak Laksmi gugup, karena pertama kali bertemu Bapak dan Ibu," balas Ndaru lagi.
"Tapi Mas, lihat foto yang di dinding, gak? Mbak Laksmi pakai baju SMA dan gayanya kayak remaja tahun 90an atau 2000-an. Apa jangan-jangan Mbak Laksmi itu ..."
"Shhh! Udahlah jangan pikir macam-macam. Mungkin memang konsep fotonya begitu. Sekarang kan udah banyak konsep foto vintage sama retro," balas Ndaru dengan wajah datar.
"Ih, Mas ini gak percayaan sama aku." Tari memanyunkan bibirnya, karena firasatnya ditanggapi datar oleh sang kakak.
"Tari?"
Tiba-tiba pundak Tari ditepuk dari belakang, oleh jemari yang penuh luka dan darah.
(Bersambung)
__ADS_1