Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 80. Jodoh untuk Lelaki Baik


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


"Papa, ayo cepat. Aku udah berdandan cantik. Buket bunganya juga udah selesai."


Seorang bocah berusia sembilan tahun dengan dress merah muda menarik tangan seorang pria yang duduk di kursi roda. Wajahnya sangat sumringah, dengan polesan bedak tabur di wajahnya yang manis.


"Iya, sayang. Tunggu sebentar. Bunda lagi siap-siap," jawab lelaki itu.


"Aku udah siap kok, Mas. Ayo kita pergi," ujar perempuan berhijab yang dipanggil bunda itu. "Loh, Najla. Itu kue ulang tahun untuk siapa?" ujar Dewi.


"Ini untuk Mama. Setelah kita menjenguk Nada, kita juga menjenguk Mama. Boleh kan, Pa?"


"Boleh dong, sayang. Nanti sekalian kita beli buah kesukaan Mama, ya," balas Aksa sambil mengusap puncak kepala putrinya.


"Asyikk. Aku nanti mau beli buah salak juga. Ayo Evano, kita pergi."


Nada menarik lengan adik laki-lakinya yang kini beranjak usia lima tahun. Usia yang sama ketika Nada meninggal dulu.


Sejak insiden Rani memukul kepala Aksa dua tahun silam, pria itu mengalami koma selama berbulan-bulan. Jabatannya sebagai kepala desa pun dicopot, karena telah terbukti melakukan pembunuhan. Sementara Rani mengalami depresi hingga menjalani perawatan di bawah pengawasan dokter.


Untunglah Aksa memiliki Dewi Kamaratih, perempuan yang luar biasa. Dia menyayangi Najla, seperti anaknya sendiri. Dalam masa-masa sulitnya, perempuan itu merawat dua orang anak yang masih kecil-kecil, mengurus Aksa dan Rani di rumah sakit, hingga mengurus butiknya sebagai sumber mata pencaharian utama.


Setelah dia bangun dari koma, Aksa pun harus menjalani terapi untuk melatih otot-otot tubuhnya yang telah mati rasa. Namun, kakinya tetap tak mampu lagi berjalan. Beberapa urat syarafnya mengalami kerusakan, akibat pukulan keras di kepalanya. Kendati demikian, Aksa masih sangat bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup dan bertaubat.


"Nada, selamat ulang tahun yang ke-tujuh, ya. Ini kakak bawakan bunga-bunga kesukaanmu."


Najla berbicara di samping batu nisan sang adik sambil mengusap air matanya. Dadanya kian sesak, karena merindukan adik kecilnya yang telah lama pergi.


"Kamu jangan sedih lagi ya, di sana. Jangan nangis lagi. Kami semua mendoakanmu di sini," kata Najla di sela-sela isak tangisnya.


Aksa mengusap pelupuk matanya dengan tisu untuk kesekian kalinya. Mulutnya tak mampu berkata-kata. Ada sejuta penyesalan dan kerinduan yang tersimpan di dalam hatinya.


Setelah berdoa bersama, mereka lalu bergerak ke tempat Rani. Butuh waktu perjalanan dua jam untuk mengunjunginya. Namun Ujang setia mengantar keluarga kecil itu untuk mengunjungi Rani.


"Bu Rani, ada yang datang tuh. Katanya kangen." Salah seorang perawat berbincang pada Rani yang duduk di tepi jendela.


"Aksa? Akhirnya kamu datang. Hahahaha... Aku yang menang. Kinanti kalah. Aksa tetap datang memilihku." Perempuan itu berjoged-joged tak jelas, sambil tertawa lepas.


"Iya, sayang. Ini aku datang sama Najla."


Aksa tersenyum pilu, melihat sang istri yang hingga kini masih belum lepas dari rasa depresinya. Bahkan perempuan itu kini dinyatakan sebagai ODGJ yang cukup berbahaya di rumah sakit jiwa itu.


"Siapa? Kinanti? Kau masih bersama wanita j*l*ng itu?" Rani mendadak menjerit-jerit sambil menendang pintu besi di depannya.


"Bukan, Mama. Ini aku, Najla." Bocah cilik itu menangis, melihat sikap sang ibu padanya.


"Pergi kau, pel*c*r! Kau penghancur kehidupanku!" Rani menghardik Najla yang ingin mendekatinya.


"Pak, maaf. Sepertinya untuk hari ini cukup dulu. Kondisi Bu Rani lagi nggak baik," kata perawat pada Aksa.


"Ya udah nggak apa-apa. Kami titip ini, ya," ujar Aksa sembari memberikan kue sederhana buatan Najla dan buah-buahan untuk Rani.


"Baik, Pak," jawab si perawat.

__ADS_1


...***...


"Hei, Sat. Mau ku kenalin sama cewek cantik, nggak? Aku punya kenalan cewek dari Sumatera sama Kalimantan, pegawai baru di gedung sebelah."


Hadyan yang baru saja datang, langsung menyusup ke meja Satya dan mengajaknya mengobrol. Wajah pria tampan itu tampak semringah, dengan mata berbinar.


Satya menarik napas panjang. Bukan sekali dua kali Hadyan bersikap seperti ini. Lelaki itu terus menerus berusaha mengenalkan perempuan pada Satya, supaya rekannya itu tak sendirian lagi.


"Jomblo abadi kayak sampeyan tuh nggak pantes ngomong gitu. Dari dulu ngakunya udah punya gandengan. Tapi sampai sekarang nggak pernah dikenalin, tuh," sindir Satya sambil terkekeh. -kamu-


"Dih, mendingan aku. Dari pada sampeyan? Duda tapi perjaka. Yang dinikahi kunti pula." Hadyan tertawa lepas, setelah mengejek temannya itu. "Apa kita perlu jalan-jalan di hutan sampai malem lagi, biar kamu dapat jodoh?" imbuhnya sambil memegangi perutnya yang keram.


"Hoo.. Syetan, kowe!" Satya menimpuk bahu Hadyan dengan buku. Pemuda itu malah ngeloyor pergi sambil terbahak-bahak.


Sebenarnya Satya sudah lama move on dari istri pertamanya yang gaib itu. Namun memang sampai sekarang dia belum menemukan wanita yang tepat, untuk mengisi kekosongan hatinya itu.


Sore harinya.


Satya berjalan terseok-seok di antara bunga kenanga dan pohon kamboja yang menguarkan aroma semerbak. Matahari sore yang berwarna jingga menemani langkah kakinya yang tegas.


Kepalanya masih mengingat dengan jelas, mimpinya saat itu. sekitar satu minggu setelah Kinanti dimakamkan, pemuda itu bermimpi didatangi oleh dua gadis cantik berbaju putih.


Siapa lagi kalau bukan Kinanti Laksmi Nayaka dan juga Laksmi Kinasih. Mereka tak banyak bicara, selain mengucapkan terima kasih dan kata perpisahan pada Satya, lalu melangkah pergi. Senyuman manis mengembang di wajah keduanya.


"Loh, mas Aksa?" Satya terkejut melihat seorang pria telah duduk di samping batu nisan Kinanti. Kepalanya tampak tertunduk, membacakan doa untuk arwah perempuan itu.


"Kamu ziarah juga?" Aksa yang telah selesai berdoa, mengangkat kepalanya dan menyapa pemuda itu.


"Iya, tadi diantar Ujang tapi dia buru-buru pulang, karena mau menjemput Najla latihan pramuka," jawab Aksa.


"Ooh, nanti pulang bareng aku aja, Mas. Tapi singgah sebentar di rumah Bu Nastiti nggak apa-apa, ya," ujar Satya menawarkan tumpangan. Kali ini dia membawa mobil yang telah dibelinya sendiri setahun lalu.


"Boleh deh. Mas juga rencananya mau singgah ke rumah Bu Nastiti dan Bu Tuti dulu," jawab Aksa.


Setelah Satya selesai berdoa, keduanya lalu beranjak menuju ke rumah Bu Nastiti dan Bu Tuti. Satya membawakan sekarung beras untuk pasangan renta itu, sementara Aksa memberikan lauk masakan Dewi.


"Terima kasih ya, Nak. Sebenarnya kalian nggak perlu repot-repot begini," ucap Bu Nastiti dan Pak Diman merasa terharu.


"Nggak apa-apa. Kami nggak keberatan melakukannya, kok," kata Aksa dan Satya kompak.


Memang sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya, untuk selalu mengunjungi pasangan renta itu. Jika Aksa masih merasa bersalah atas kematian Kinanti, Satya justru merasa berkewajiban untuk memperhatikan dan menghibur pasangan itu.


"Aku langsung pamit ya, Bu. Mau mampir ke rumah Bu Tuti sebentar mengantar titipan ibu," ujar Satya setelah berbincang-bincang sebentar.


Keduanya lalu beranjak ke rumah Bu Tuti, yang letaknya berada tepat di samping rumah Bu Nastiti.


"Om, ini beneran?" Pelupuk mata Farras tampak berkaca-kaca, ketika Aksa memberikan buku kecil padanya.


"Iya. Om udah berjanji pada almarhumah ibumu dulu, untuk memberikan beasiswa pendidikan, sampai kamu tamat kuliah," ucap Aksa.


"Tapi ini banyak sekali, Om. Apa aku boleh menerima semuanya?" Farras masih tak percaya, melihat angka yang tertera pada buku itu.


"Ya boleh, lah. Itu hak kamu. Asalkan kamu benar-benar belajar dengan baik," kata Aksa lagi.

__ADS_1


Dulu dia memang hanya memberikan iming-iming pada Aruna, supaya mau membantunya. Tapi kemudian dia bertekad untuk serius membantu bocah cerdas itu. Apalagi tahun ini dia bakalan tamat SMA.


"Terima kasih banyak, Om. Ibuk sama Bapak pasti senang, punya teman sebaik Om," kata Farras dengan tulus. Aksa dan Satya tak mampu menahan air matanya.


...***...


"Assalamualaikum, Pak. Lihat, aku bawa apa?" Satya berseru di teras rumah mungil itu.


"Mangut lele?" gumam Pak Dukun sambil tersenyum. Dia senang, pemuda itu menepati janjinya untuk selalu mengunjunginya.


"Iya, tapi ini nggak terlalu pedas. Supaya Bapak maag Bapak nggak kambuh lagi," kata Satya.


"Terima kasih, Nak. Ayo masuk." Mata Pak Dukun celingukan ke sana dan kemari, seakan mencari sesuatu. "Ndaru gak ikut?" tanya lelaki itu.


"Nggak, Pak. Ndaru mau nganter mebel ke luar kota bareng Mas Wira," kata Satya.


"Ooh."


"Ah, nanti aku mau ziarah. Bapak mau ikut?" tanya Satya seraya menghidangkan makanan yang dibelinya tadi.


"Nggak, Nak. Bapak udah ziarah jumat lalu. Lagian kamu pasti butuh waktu sendiri, kan?" kata Pak Dukun.


Satya tersenyum tipis. Dia memang merindukan sosok Laksmi yang bahkan tak pernah ditemuinya secara langsung. "Ayo makan, Pak," ujarnya kemudian.


Selesai makan, Satya pun bertolak menuju makam Laksmi. Dia duduk di sana cukup lama, sembari membacakan doa. Setelah merasa cukup puas, dia pun bergegas meninggalkan tempat itu.


"Mas, kunci mobilnya ketinggalan."


Satya menoleh, tatkala mendengar suara perempuan di belakangnya. Dia melihat seorang perempuan dengan gamis putih dan payung hitam berdiri di belakangnya.


Satya tercengang. Gadis ayu itu sekilas mirip dengan sosok Laksmi yang mungil dan memiliki mata indah.


"Mas Satya? Kok malah bengong? Ini kuncinya. Tadi ketinggalan di dekat makam itu," ujar perempuan itu dengan lembut.


"Oh, makasih," jawab Satya.


Lelaki itu lalu membalikkan tubuhnya hendak pergi dari sana. Tapi sesaat kemudian hatinya bertanya-tanya. "Dari mana dia tahu namaku? Terus, dia datang dari mana? Kok tadi aku nggak lihat?" pikirnya. Satya pun kembali memutar badannya dan memperhatikan perempuan itu dari atas hingga bawah.


"Kenapa lagi, Mas?"


"Kamu orang, kan? Tahu namaku dari mana?" selidik Satya.


Perempuan itu malah tertawa mendengarnya. "Aku Kinara, Mas. Tadi habis ziarah di makam ayahku," jelasnya sambil menunjuk makam Pak Rahmat.


"Oh, kamu anaknya Pak Rahmat yang guru SMA itu?" Satya merasa lega. Dulu dia sangat mengenal pria dari Dusun Wingit itu. "Kamu ke sini sama siapa? Mau sekalian aku anter pulang?"


"Aku sendirian, Mas. Tapi jalan kaki aja, deh. Nggak enak dilihatin orang."


Satya tertawa kecil. Dia merasa de javu dengan kejadian ini, "Tapi kalau aku anterin pulang, gak ada yang marah, kan?" goda Satya.


Tak disangka, perempuan itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum malu-malu. Apakah ini jawaban doa-doa Satya yang menginginkan wanita solehah?


...--- TAMAT ---...

__ADS_1


__ADS_2