Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 16. Tamu Tak Kasat Mata


__ADS_3

Satya menepikan mobilnya mendekati sebuah tenda di pinggir jalan. Aroma harum yang menggugah selera, mengaktifkan indra penciumannya. Dia lalu menggandeng lengan sang istri untuk memasuki tenda tersebut.


"Mas, pecel lele dua, ya. Nasi uduk," ucap Satya pada pemilik warung.


Lelaki mengenakan kaos bola berwarna kuning tersebut terlonjak kaget melihat sosok di sebelah Satya. Rupanya dia tidak sendirian. Para pengunjung lain juga tersentak kaget melihatnya. Beberapa dari mereka bahkan tampak ketakutan dan buru-buru menghabiskan makanannya.


"M-mas, temannya beneran ikut makan?" tanya pedagang pecel lele itu memastikan. Bisa saja Satya tak melihatnya, kan?


"Oh, maksudnya istri saya? Iya, dong. Jangan salah ya, Mas. Pecel lele dua pakai nasi uduk." Satya mengulangi pesanannya.


"Hah! Jadi makhluk itu istrinya? Dia gila apa bego, sih?" bisik para pengunjung lain.


Sang pemilik warung tak enak hati untuk mengusir Satya dari sana. Dia pun takut makhluk tak berkaki yang berada di samping Satya tersebut mengamuk. "O-oke, Mas. Si-silakan duduk," ucapnya kemudian.


Satya mengernyitkan keningnya, melihat reaksi pemilik warung yang tampak ketakutan itu. Bahkan dia terlihat beberapa kali mengalihkan pandangannya.


"Apa tampangku kayak preman?" gumam Satya terlalu overthinking.


"Mas, duduk yuk," ajak Laksmi yang sedari tadi diam aja.


Mereka lalu duduk di bagian paling ujung yang masih kosong. Beberapa pengunjung lain buru-buru menyudahi makannya dan pergi dari sana.


"Duh, bisa-bisa warungku bangkrut malam ini," keluh sang pemilik warung dalam hati.


Srsrrrr!! Tiba-tiba angin bertiup cukup kencang. Lampu mendadak padam. Suasana menjadi mencekam.


"Mas ... Hihihi ..."


Sosok berwajah pucat dengan mata hitam legam, dan tubuh setinggi tiang tenda itu berdiri tepat di depan sang pemilik warung. Tangannya melambai-lambai hendak menyentuh pria yang tadinya sedang sibuk mengulek sambal tersebut.


Ini aneh. Padahal semua gelap gulita. Bahkan api kompor pun padam terkena hembusan angin. Tetapi pria dengan baju bola itu bisa melihat sosok di depannya dengan jelas. Sayangnya tubuhnya membeku, tak bisa berlari apalagi berbicara.


"Mas ..." ucap sosok itu lagi. Tangannya memanjang dan menjulur ke depan. Ternyata dia memberikan segumpal rambut pada pria itu.


"Ambillah, ini penglaris. Jangan takuti suamiku. Hihihi..."


Tentu saja lelaki itu tak berani mengambilnya. Tetapi sosok tanpa kaki itu melayang semakin mendekat, dan memaksanya menerima benda itu.

__ADS_1


Trang! Semua kembali terang benderang saat lampu menyala. Sosok itu menghilang. Semua keadaan kembali normal, seperti tak pernah ada masalah. Gumpalan rambut tadi telah diletakkan oleh sang pemilik warung di tempat tersembunyi.


"Mas, ini pesenannya," ucap sang pemilik warung, meletakkan dua piring pecel lele dan dua gelas teh hangat. Dia terkejut saat seorang wanita berparas rupawan di samping Satya tersenyum manis padanya. Tidak ada lagi sosok menyeramkan di sana.


"Kami nggak pesan teh, Mas," ujar Satya mengoreksi pesanannya.


"Ini bonus, Mas. Gratis, karena udara dingin banget," jelas lelaki itu.


"Oh, beneran? Terima kasih, Mas," balas Satya.


Sepertinya penglaris yang diberikan kuntilanak tadi benar-benar bekerja. Beberapa saat setelah Satya menikmati makananya, para pembeli datang berbondong-bondong. Mereka bahkan sampai kewalahan melayani semua pesanan.


...***...


Hari beranjak semakin malam, tak terlihat bintang berkelip di langit. Sementara kanan dan kiri adalah kawasan perkebunan yang sepi. Bunyi binatang malam mulai bersahutan.


Satya mulai bergidik. Sesekali mengusap tengkuk lehernya, karena merasa tidak nyaman. Hatinya semakin ketar-kerir, saat tak sengaja melihat ke arah perkebunan yang begitu gelap. Dia merasa seperti banyak pasang mata yang mengawasinya.


"Kok rasanya mencekam banget, ya? Jalanan juga sepi dari tadi. Padahal ini baru jam setengah sembilan malam. Apa karena abis hujan, orang malas keluar?" Satya berperang dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa, Mas? Kok keningnya berkerut gitu? Kamu takut?" Laksmi meletakkan tangannya di atas paha sang suami.


"Nggak usah khawatir, gak bakalan ada yang gangguin kita," balas Laksmi.


"Hah? Maksudmu?" Satya tak paham dengan kalimat istrinya. "Maksud dia orang jahat atau makhluk halus?" pikiran Satya kembali bercabang.


Keadaan di dalam mobil yang cukup gelap, membuat Satya tak melihat seringai lebar dari wanita di sebelahnya. "Ini waktu yang tepat untuk menghabisinya. Energi negatif di sini sangat besar," bisik wanita itu.


"Kok perasaan gak nyampe-nyampe, ya? Seharusnya dari tadi kan udah keluar dari jalan perkebunan ini?" Satya mulai merasa ada yang aneh. Dia nggak tahu, jika Laksmi sengaja membuat mereka tersesat dan membawa lelaki itu ke alam lain.


Tiba-tiba terdengar lolongan anjing yang bersahut-sahutan di balik pepohonan. Sesaat kemudian terdengar pula suara tangisan wanita yang terdengar samar. Nyali Satya semakin menciut. Wajahnya yang tadi agak santai, kini berubah menjadi gelisah dan takut.


Suasana hening sejenak. Satya merasa sebuah sentuhan yang sangat dingin di bagian tengkuknya, memacu detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


"Dek?" Panggil Satya sembari menoleh ke kiri. Ternyata dia mendapati sang istri tengah terlelap.


"Cepat banget tidurnya? Padahal tadi barusan ngobrol. Terus yang menyentuh pundakku siapa?" Memikirkan hal itu membuat bulu kuduk Satya semakin meremang.

__ADS_1


"Mati ... Matilah kamu ..."


Sayup-sayup terdengar suara bisikan yang disertai tangisan pilu. Satya tak bisa menebak dari mana asalnya. Namun yang pasti jarak mereka saat ini pasti sangat dekat.


"Matilah kamu, cowok laknat penghancur hidup orang!" Suara itu kembali terdengar. Kali ini intonasinya seperti sedang marah.


Glek! Satya menelan ludah dan mengatur napasnya, saat melihat sosok berambut panjang dengan wajah berlumur darah dari spion tengah. Jemari makhluk itu bertengger di kedua bahunya, dengan kuku tajam yang mampu mengoyak kulit


"Maaf, siapa pun kamu, tolong jangan ganggu aku dan istriku. Biarkan kami pulang dengan selamat."


Satya berbicara dengan suara gemetar. Kakinya menekan pedal gas cukup dalam. Sementara hatinya melafazkan doa dan ayat suci Alquran yang dia hafal.


"Kamu harus mati. Hihihihi."


Suara tawa yang melengking itu hampir membuat kewarasan Satya hilang. Namun kemudian dia ingat, ada seseorang yang harus dia lindungi, keberaniannya pun kembali muncul.


"Pergilah ke alammu, jangan ganggu kami. Istriku pasti akan kembali sendirian jika aku mati. Aku akan merasa bersalah selamanya," ucap Satya dengan lemah lembut.


Brak! Satya seperti menabrak sebuah batu besar di depan. Namun anehnya, mobilnya tak mengalami kerusakan. Dia lalu melirik ke arah spion dan tak melihat sosok itu lagi.


Pepohonan yang menjulang tinggi di kanan kiri jalan mulai menipis, dan digantikan dengan rumah-rumah penduduk. Satya bernapas lega. Laksmi telah gagal menyerang Satya malam ini.


"Dek? Kamu udah bangun? Kaget karena tabrakan tadi, ya?" ucap Satya sembari memperlambat laju kendaraannya. Jalanan mulai ramai dengan kendaraan lain.


"Uhm, iya," balas Laksmi singkat.


"Hei, kita berhenti di sana sebentar, yuk. Aku mau mengecek mobil sembari beli oleh-oleh untuk Bapak Ibu."


Satya menunjuk ke sebuah toko oleh-oleh yang masih buka. Laksmi pun mengangguk setuju. Dia harus kembali mengisi energi negatifnya, setelah gagal melukai Satya.


Setelah mereka menepi dan turun dari mobil, Satya langsung mengecek bagian depan kendarannya. Sementara Laksmi berjalan mendekati toko oleh-oleh untuk melihat-lihat.


"Mas, pergi yuk. Di sini aneh," pinta Laksmi saat melihat seorang nenek menatapnya dengan tajam. Bibirnya mengeluarkan cairan merah yang pekat.


Namun Satya tidak mendengarnya. Dia sibuk di depan mobilnya. Meski tidak terlihat kerusakan apa pun, tapi Satya merasa masih harus memeriksa mobilnya lebih teliti.


"Mas, ayo dong." Laksmi semakin ciut, saat perempuan sepuh dengan rambut memutih itu semakin mendekatinya.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2