Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 18. Tangisan Kuntilanak


__ADS_3

"Kamu sudah sadar?"


Terdengar suara seorang pria dewasa, tepat di samping Satya. Aroma ruangan yang cukup menusuk, tertangkap oleh indra penciuman pria itu. Langit-langit ruangan yang berwarna putih bersih juga menandakan, kalau itu bukanlah kamarnya.


"Hah? Aku di mana? Bukannya aku tadi tertidur di kamar?" batin Satya panik.


Lelaki itu memutar bola matanya ke kiri, ke arah sumber suara tadi. Terlihat seorang pria berambut putih menatapnya dengan khawatir. Wajahnya terlihat kuyu seperti orang kurang tidur.


"Pak RT? I-ini di mana, ya?" Satya bingung, karena tetua di perumahannya ada di sana. Suaranya begitu lemah. Kepalanya pusing dan perutnya sangat mual.


"Kamu lagi dirawat di rumah sakit, Nak," jelas Pak RT.


"Rumah sakit?" ulang Satya.


Memang benar, visual tempat itu sudah menjelaskan dengan lengkap kalau saat ini Satya berada di rumah sakit. Tapi kenapa? Bukankah dia tadi baik-baik saja di rumah?


"Keluargamu keracunan makanan, Nak. Kata dokter kalian keracunan karena makan ikan dan daging yang udah busuk. Hanya Tari dan istrimu yang nggak kenapa-kenapa," jelas Pak RT, seakan mengerti isi kepala Satya.


"Hah? Gimana bisa?Terus di mana bapak dan ibuku?" Kepala Satya semakin sulit mencerna musibah yang baru saja menimpanya.


"Mereka dirawat di ruang terpisah, terutama Endaru yang cukup parah. Penyebabnya masih diselidiki," ujar Pak RT.


"Astaghfirullah," gumam Satya.


"Tetapi menurut pengakuan ibu dan bapakmu, mereka nggak mengkonsumsi makanan, selain yang di masak di rumah. Sementara Endaru belum bisa ditanyai, karena belum sadar," ungkap pria sepuh itu.


"Ikan dan daging busuk? Aneh banget. Ibu kan selalu membeli dan mengolah bahan-bahan segar, Pak. Masa sih kami keracunan gara-gara itu?" gumam Satya lirih.


"Sudahlah, Nak. Jangan dipikirkan, istirahat saja supaya cepat pulih," kata Pak RT.


"Terima kasih sudah menjaga saya, Pak," ucap Satya. Lelaki berambut putih itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Aneh. Kenapa Laksmi tidak ikut keracunan? Dia kan juga banyak makan ikan bersama kami kemarin. Kalau Tari sih dia lebih sering makan telur masakannya sendiri."


"Ah, tunggu! Benar juga. Selama beberapa hari ini kan Laksmi yang memasak. Apa dia salah memilih bahan, dan mengambil yang sudah busuk?"


Satya sibuk menerka-nerka. Namun tak satu pun jawaban yang tepat.


"Nak, selagi kita berdua di sini, ada yang ingin Bapak sampaikan padamu," ucap Pak RT.


"Soal apa itu, Pak?"

__ADS_1


"Belakangan ini banyak warga yang bilang, setiap malam rumahmu kelihatan suram dan gelap. Lalu samar-samar tercium bau busuk dan kemenyan." Pak RT menjeda kalimatnya. "Maaf, Bapak bukan menuduh keluargamu. Tapi sebenarnya apa yang terjadi, Satya?"


"Apa itu benar, Pak? Padahal rumah kami setiap malam selalu terang benderang. Kami juga nggak pernah bakar kemenyan," ucap Satya dengan kening berkerut.


"Iya, Nak. Bapak juga pernah lewat depan rumah kalian sekitar pukul sembilan malam. Suasananya suram dan seperti rumah tak terawat," kata Pak RT.


Satya termenung. Dia sendiri pun heran, kenapa terlalu banyak keanehan belakangan ini. Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka?


...***...


"Kenapa nggak ada? Padahal aku udah membongkar setiap sudut rumah ini. Tapi kenapa masih nggak ada juga bukti-bukti tentang bajingan itu yang sudah merusakku dulu? Padahal aku yakin, dia pelaku utamanya."


Seisi rumah Satya dan orang tuanya itu berserakan. Laksmi mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai bukti kejahatan Satya di masa lalu. Namun, semua benda yang ada di rumah itu, tak satupun yang membangkitkan memori buruk masa lalunya.


"Apa bajingan itu sengaja membuang jejak masa lalunya agar tidak ketahuan? Bahkan foto-fotonya pun tak ada yang mengingatkanku pada masa lalu."


Kuntilanak itu menangis pilu di siang hari. Suaranya begitu melengking hingga terdengar ke rumah-rumah tetangga. Jika saja saat itu malam hari, seluruh penduduk yang mendengarnya pasti akan merinding ketakutan.


"Kenapa para pembunuhku bisa hidup bebas? Kenapa dunia ini gak adil?" Tangisan sang kuntilanak semakin menyayat hati.


"Ah, sudahlah. Mungkin dia bisa menyembunyikan barang bukti dari dunia ini. Tetapi aura buruk dari sisa-sisa kejahatannya pasti akan aku temukan."


"Assalamualaikum, Mbak."


"Loh, Mbak. Kenapa ini? Kok berantakan?"


Terlambat. Tari sudah keduluan masuk dan melihat kamarnya kakaknya yang bagaikan tersapu badai.


"Oh, ini. Mbak lagi nyari berkas penting punya Mas Satya. Tapi belum ketemu," ujar Laksmi.


"Apa perlu aku bantu?" usul Tari.


"Nggak usah, Dek. Nanti Mbak tanya sama Mas Satya aja," balas wanita berambut panjang itu lagi.


"Ya sudah. Aku ke kamar dulu ya, Mbak. Mau ganti baju."


Baru saja Tari hendak beranjak dari sana, seseorang pun mengetuk pintu rumah mereka. Tari lalu bergegas membukanya.


"Ini pesenannya, Dek." Seorang wanita memberikan bungkusan berwarna hitam pada Tari.


Huek! Bau apa ini? Siapa dia?"

__ADS_1


Laksmi memperhatikan wanita itu dari balik punggung Tari. Wajahnya biasa saja. Sepertinya umurnya kirasan tiga puluh atau empat puluhan awal. Pakaiannya sederhana, bahkan cenderung sedikit lusuh. Namun bukan itu yang diperhatikan Laksmi, melainkan aura gelap dan pekat yang menaungi wanita itu.


"Kenapa ada wanita yang bisa memiliki aura pekat seperti itu? Ini kedua kalinya aku menemukan orang dengan bau super busuk, setelah Pak Kades," pikir Laksmi.


"Mbak? Kok ngelamun?" Tari mengejutkan Laksmi dengan sentuhan di lengannya. Namun bukan hanya Laksmi yang terkejut, Tari sendiri pun terlonjak kaget karena suhu tubuh kakak iparnya yang seperti mayat.


"Itu siapa tadi, Dek?" selidik Laksmi.


"Oh, itu Mbak Aruna. Aku memesan pecel sama dia. Walaupun orangnya judes, tapi pecel buatannya enak," jawab Tari. "Memangnya kenapa, Mbak?"


"Nggak ada apa-apa. Mbak cuma penasaran aja," balas Laksmi.


"Kalau gitu aku ganti baju dulu ya, Mbak. Setelah itu kita makan siang," ucap gadis itu.


Sesuai janjinya, beberapa saat kemudian mereka pun makan siang bersama. Selain pecel, ada juga goreng ikan dan tahu tempe bacem sebagai lauk mereka.


"Kamu nggak makan ikan, Dek?" tanya Laksmi di sela-sela kunyahannya.


"Nggak, Mbak. Aku alergi beberapa jenis ikan dan daging," jawab Tari. Tangannya bergerak hendak mengambil tempe bacem, tapi kemudian berhenti di tengah-tengah.


"Apa itu yang putih-putih di bawah tempe?" Tari membalikkan potongan tempe itu dengan sendok, dan menemukan larva lalat sedang bergerak lincah di bawah sana.


"Huek! Itu belatung?" Bola mata Tari langsung berputar ke arah Mbak Laksmi. "Mbak, ini kok ...?"


"Hmm?" Laksmi sedang asyik mengunyah ikan goreng dengan larva-larva kecil menggeliat di sana.


"Huek!" Tanpa sempat pindah, Tari pun mengeluarkan seluruh isi perutnya ke lantai.


"Dek, kamu kenapa? Apa kamu keracunan juga?" seru Laksmi.


Dia bangkit dari tempat duduknya, dan membantu Tari yang terkulai lemah. Tetapi kemudian dia menangkap suatu kejanggalan di atas piring.


"Oh, jadi itu penyebabnya?" batin Laksmi sambil tersenyum sinis.


"Uh, memang benar Mbak Laksmi aneh. Masa dia nggak sadar kalau ikan dan tempe bacemnya ..."


Tari membelalakkan matanya, dan meneliti setiap piring di atas meja tersebut dengan seksama, "Lho, kok gak ada lagi belatungnya? Padahal tadi aku beneran lihat, lho," pikir Tari meyakinkan dirinya.


"Kamu kenapa, Dek? Ayo minum air hangat dulu," ujar Laksmi seraya memberikan segelas air putih.


Namun pikiran Tari yang masih skeptis, membuat air putih tersebut kembali mengeluarkan isi perutnya hingga tak bersisa.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2