Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 60. Ratusan Mayat Hidup


__ADS_3

"Apa benar ini tempatnya? Di mana pohon beringin raksasa itu?"


Setelah mengamati sekitar, Aksa pun bersandar pada pohon besar yang daun-daunnya banyak gugur di sekitar. Demikian juga dengan Genta dan Arga yang sibuk mengatur napas mereka


Di sebelahnya ada batang asam tua yang tumbuh miring hingga menjuntai. Batang asam itu tumbuh di luar area bekas sawah, tetapi karena batangnya miring jadi ia masuk ke dekat bangunan gubuk tua. Beberapa tupai tampak berlarian dari dahan ke dahannya yang subur.


"Seharusnya ada di sekitar ini. Apa kalian ingat tanda-tanda lainnya, selain pohon beringin raksasa itu? Sepertinya pohon itu sudah tumbang dan lapuk," ujar Pak Sigit yang mengawal ketiga lelaki itu.


"Mana kami ingat, Pak. Setelah dia mati, kami buru-buru menutupnya dengan jerami kering dan ranting-ranting pohon, lalu kabur. Mana ingat lagi kami memperhatikan sekeliling," kata Arga.


"Haaah. Auranya terlalu lemah, karena roh-nya sudah tidak berada di sini lagi."


Pak Sigit sibuk membakar kemenyan sambil sesekali mengucapkan mantera. Lelaki itu berjalan mondar mandir di tempat yang menurutnya tempat jasad Kinanti dibuang.


"Pak, kita pakai cara lain saja. Ini terlalu sulit," usul Genta sembari mengusap kepala anjing pelacak, yang diam-diam dia bawa dari kantor.


"Terus kalian mau mengalami kejadian seperti Aruna?" tanya Pak Sigit. Kompak ketiga lelaki itu menggelengkan kepalanya.


"Hhhhrrrrrr..." Terdengar raungan aneh dari kejauhan. Suaranya tidak seperti suara hewan. Keempat pria itu sontak memasang indra penglihatan, dan indra pendengarannya baik-baik.


"Hhhhhrrrr... Kikikikikikkk..."


"Ga, aku nggak salah dengar, kan? Itu suara K-"


"Ssssttt! Jangan disebut!" ucap Pak Sigit seraya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.


"Pak... Pak Sigit..." Aksa yang berdiri memunggungi sang dukun berbicara dengan suara bergetar.


"Ssssttt! Diam! Baca doa saja dalam hati," bisik Pak Sigit. Mulutnya kembali berkomat kamit. Entah melafazkan doa, atau mengucapkan mantera.


"Paaak, lihat itu..." Aksa tak menghiraukan larangan Pak Sigit. Dia kembali berbicara, sambil menunjuk ke suatu arah.


"Astaga!"


Tak hanya Pak Sigit yang kaget. Tetapi juga Genta dan Arga. Mereka semua ketakutan, melihat sekelompok orang berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


Ah, sepertinya bukan berjalan. Tetapi melayang. Karena rimbunnya semak belukar tak bergoyang, ketika mereka lewat.


Jantung mereka berdetak semakin kencang, kala mendengar suara lantang anjing hutan bersahut-sahutan dari atas gunung. Hewan itu berbunyi serempak sehingga memenuhi isi hutan ini.


Seketika semua berubah. Orang-orang tadi yang hanya berwajah pucat, kini berlumuran darah. Suasana sore hari dengan langit lembayung itu pun berubah menjadi mencekam.


Satya membalik badan dan berusaha kabur dari sekumpulan orang-orang aneh itu. Langkah kakinya kemudian diikuti oleh ketiga pria lainnya.


Tak perduli, mereka terus mencari jalan walaupun harus berkali-kali menabrak rumput ilalang di depannya. Kulit mereka pun mulai luka dan berdarah, terkena sayatan duri, ranting, dan tepi daun yang tajam.


Bau amis menguar dari tubuh-tubuh di belakang mereka. Orang-orang ini memiliki luka yang terus mengalirkan darah. Mereka meraung-raung sambil terus mengejar ketiga pria itu.


"Sebenarnya siapa mereka? Apa teman-teman makhluk itu?" pikir Aksa di tengah rasa paniknya.


Mereka perlahan semakin mendekat. Gerakannya seperti ingin mencekik leher Aksa, yang berlari paling belakang. Tangan-tangan pucat itu berlomba untuk meraih tubuh Aksa.


"Jadilah bagian dari kami!" rutuk perempuan salah seorang perempuan.


Saat berbicara, mulutnya membuka serta mengeluarkan muntah darah hingga belatung-belatung bermunculan dari rongga rahangnya.


Terlambat. Sosok lainnya telah lebih dulu memegang kerah baju Aksa. Pria itu pun tak bisa berlari lagi.


"Jangan kalah, Aksa. Terus langkahkan kakimu, walau tak bisa berpindah tempat," teriak Pak Sigit yang berada beberapa langkah di depan Aksa.


Lelaki berpakaian serba hitam tersebut kemudian menarik tubuh Aksa sekuat tenaga, hingga terpelanting jauh. Jauh sekali. Hingga terasa tetes-tetes air membasahi wajah, berbau seperti campuran pandan wangi.


"Mas... Bangun, Mas." Terdengar suara Dewi memanggil-manggil.


Kala mata terbuka, tubuh Aksa terbaring di ruang tengah rumah Dewi. Ada Pak Sigit, Arga dan juga Genta yang menatapnya dengan wajah tegang.


"Aku kenapa? Kok bisa ada di sini?" tanya Aksa bingung.


"Mas sudah dua jam lebih pingsan. Tapi tadi dibawa ke dokter, katanya Mas nggak kenapa-kenapa," jelas Dewi dengan suara lembutnya.


"Maaf, itu semua kesalahanku. Sampai kamu hampir dibawa mereka tadi. Untunglah aku bisa menarikmu dengan cepat dan membawamu ke sini," kata Pak Sigit

__ADS_1


"Kesalahan bagaimana?"


Ku pikir aura yang cukup kuat itu berasal dari Kinanti. Tapi aku salah. Itu rupanya sarang dari sekumpulan sosok lain," ucap Pak Sigit penuh penyesalan.


"Lalu mereka siapa, Pak?" tanya Aksa penasaran. Dia masih sangat mengingat betapa mencekamnya suasana tadi.


"Ku rasa mereka adalah para korban perang zaman penjajahan yang dibuang begitu saja. Mantra yang kubaca dan kemenyan yang kunyalakan malah membangkitkan mereka semua." Pak Sigit bercerita sambil bergidik ngeri.


"Untunglah semua selamat. Jangan sampai Mas ke sana lagi," ucap Dewi dengan wajah khawatir.


"Selama beberapa hari menginaplah di sini. Desa itu masih tidak aman bagimu. Dan kalau bisa jangan bepergian sendirian," nasehat Pak Sigit. "Aku akan cari cara lain untuk mengusir makhluk itu," sambungnya.


...***...


"Papa, ayo bikin robot lagi."


Seorang bocah laki-laki yang menggemaskan, duduk bersandar di bahu Aksa. Tangan kanannya memegang krayon berwarna hitam. Warna kesukaannya. Sementara tangan kirinya menyerahkan sebuah buku gambar pada Aksa.


Matanya yang cokelat dengan bulu mata lentik itu, persis seperti Aksa. Kulitnya yang kuning langsat, serta rahangnya yang tinggi dan hidung mancung juga persis sama seperti Aksa. Siapa pun yang melihatnya sudah bisa menebak, siapa ayah dari bocah tampan ini.


"Ini sudah malam, sayang. Sudah waktunya Evano tidur. Menggambarnya besok saja, ya," bujuk Aksa.


Bibir bocah lelaki itu melengkung ke bawah. Dia lalu menundukkan kepalanya dengan raut kecewa.


"Nak, Papa lagi sakit. Mainnya besok aja, ya. Setelah Papa," bujuk Dewi. Bocah kecil itu akhirnya menurut. Dia membereskan semua peralatan menggambarnya di dalam tas berbentuk pesawat.


Rrrr... Rrrr...


Baru saja Aksa ingin beristirahat, Rani pun meneleponnya. Aksa malas mengangkatnya. Dia membiarkan telepon itu berdering hingga mati sendiri. Namun rupanya Rani tak putus asa. Sekali lagi dia menelepon suaminya itu.


"Diangkat aja, Mas. Siapa tahu ada hal penting," ucap Dewi yang sejak tadi duduk di samping suaminya itu.


Kendati merasa enggan, Aksa pun tetap mengikuti saran dari istri mudanya tersebut. "Halo. Ada apa, Rani?" tanya Aksa dengan nada datar.


"Mas... Nada, Mas..." ucap Rani di seberang sana sambil menangis.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2