
"Apa? Perempuan di mobil?" Lutut Aksa menjadi lemas seketika.
"Kenapa sih, Mas?" Dewi semakin bingung, melihat sikap suaminya yang tak biasa.
"Nggak ada, aku pikir tadi lihat penampakan. Tapi ini kan masih siang. Pasti itu cuma salah lihat," kata Aksa.
"Haah, ku pikir dia simpenan baru kamu," cibir Dewi tanpa ekspresi marah sedikit pun.
Ekor matanya menatap tajam ke arah mobil. Tak terlihat lagi sosok perempuan di sana. Padahal Dewi yakin, dia tadi benar-benar melihat ada yang duduk di kursi depan.
"Masuk, yuk. Aku lapar, nih. Kamu masak apa?" Aksa kemudian mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.
...***...
Waktu cepat berlalu, matahari sudah tenggelam. Siang berganti malam, sesuai porosnya. Listrik masih padam sejak Isya tadi.
Aksa sudah pergi sejak sore tadi, karena ada pertemuan dadakan dengan Genta. Putra kecilnya dia bawa serta. Rencananya mereka akan menginap di rumah orang tua Dewi, yang letaknya tak jauh dengan rumah Genta. Sementara Dewi sang istri kedua, memilih untuk tidak ikut karena sibuk mengurus butiknya.
Ada hasrat ingin buang air kecil, memaksa Dewi bangkit dari ranjang berjalan perlahan sambil membawa lilin kecil di tangan.
Saat melewati kamar asisten rumah tangganya, pintunya tampak sedikit terbuka. Mungkin pengap. Dewi melihat salah satu ART-nya tertidur pulas. Sementara ART-nya satu lagi, yang lebih muda, tidak ada di kamarnya. Mungkin sedang di belakang. Dewi segera mempercepat langkah kakinya ke kamar mandi.
"Lho, nggak ada siapa-siapa di dapur. Kamar mandi juga kosong. Jadi kemana si Widia?"
Dewi bergumam sendirian mencari salah satu ART-nya. Namun dia tidak melihat pintu dapur terbuka, artinya tidak ada yang keluar dari rumah.
Hajatnya yang mendesak untuk dikeluarkan membuat Dewi bergegas ke kamar mandi. Belum sempat memasuki kamar mandi, langkah kaki Dewi berhenti. Dia mendengar derit pintu belakang. Mungkin itu Widia. Tapi daun pintunya masih terkunci.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara pintu diketuk. Dewi membatu. Bibirnya bungkam.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Pak, Bu." Terdengar suara perempuan, tetapi bukan Ratih.
"Siapa di luar?" gumam Dewi.
"Ini Minah, mau mengantar pesanan kentang, cabai dan bawang punya Widia," jawab perempuan di luar sana.
"Oo, Minah," ujar Dewi lega.
Dewi hampir membuka pintu, namun seketika otak warasnya berpikir. "Kenapa dia bisa mendengar pertanyaanku? Dan mana mungkin ada seorang wanita mengantar barang tengah malam? Mana posisinya mati lampu begini."
"Bu, tolong bukain pintu, Bu. Minah kedinginan," rintih perempuan di luar sana.
Dewi masih mematung di balik pintu. Hatinya ragu-ragu untuk membuka pintu. Ini sudah pukul setengah dua belas malam. Meskipun sudah berlangganan sejak lama, untuk apa Minah mengantar pesanan di tengah malam begini? Apalagi di rumahnya baru saja selesai menggelar tahlilan.
__ADS_1
"Eh? Tahlilan?" Tubuh Dewi semakin menggigil. "Mi-minah kan sudah meninggal kecelakaan siang tadi?" batinnya.
"Meninggal? Siapa yang meninggal?" sahutnya dengan suara serak dan menggema, hingga terdengar berkali-kali.
Dewi terkejut, saat seberkas cahaya muncul dari belakangnya. Dia tak berani menoleh, juga tak berani bergerak.
"Bu, sini Bu. Ini aku, Widia," bisik seorang perempuan di belakang Dewi dengan sangat lirih.
Mendengar suara asistennya, Dewi pun menoleh ke belakang dengan jantung berdentum-dentum. Dia bernapas lega, saat melihat sosok perempuan muda di sebalik meja makan, sambil memegang HP. Ternyata cahaya yang dilihat Dewi tadi adalah lampu flash HP-nya.
"Kamu ngapain di situ?" bisik Dewi kebingungan.
"Widia tadi mau pipis, Bu. Tapi ada suara itu. Widia takut dan gak kuat balik ke kamar," cerita Widia dengan berbisik.
"Ah, jadi memang ada yang aneh di luar sana," pikir Dewi sambil mengusap lehernya yang dingin. "Ya sudah, kita gantian jaga di depan kamar mandi. Abis itu ke kamar," usul Dewi yang udah kebelet.
"Iya, Bu."
Dewi pun duluan memasuki kamar mandi. Tak ingin berlama-lama, dia segera menyelesaikan hajatnya, lalu bergantian dengan Widia. Selang beberapa menit, Widia pun keluar dari dalam kamar mandi. Mereka lalu beranjak menuju ke kamar.
"Wid? Kok flash-nya dimatiin? Baterai HP-mu habis?" ucap Dewi yang berjalan di depan.
Hening. Tidak ada jawaban dari Widia. Langkah kaki pun tak terdengar.
"Wid?" panggil Dewi sekali lagi.
Masih tak ada jawaban. Membuat suasana semakin terasa mencekam. Kini penerangan hanya berasal dari lampu emergency, yang menyala redup di tengah ruangan. Dewi pun kembali bisa melihat sekeliling, setelah lampu flash Widia tadi padam.
Dewi tercekat. Suara yang berteriak di luar sana mirip dengan suara Widia.
Tok! Tok! Tok!
"Mbak Gian? Bu Dewi? Tolong bukain pintu. Aku terjebak di luar." Kali ini suaranya lebih jelas.
"Bukannya tadi yang di luar sana itu Minah? Kok sekarang malah suaranya Widia?"
Dengan jantung berdebar cepat, Dewi pun menoleh ke belakang. Dewi tak melihat sepasang kaki di belakangnya, memaksanya untuk membalikkan badan dan melihat dengan seksama.
Deg!
"Kenapa? Bukankah kamu mengajakku masuk? Hihihihi..."
Mata Dewi mendelik keluar melihat perempuan setengah tengkorak di hadapannya. Ratusan belatung keluar masuk kulitnya yang membusuk. Hanya wajahnya yang masih lengkap dan utuh, dengan seringai lebar di bibirnya. Rambutnya terurai bebas, menyapu lantai dapur.
"Kyaaaaa!"
Jeritan Dewi membangunkan Mbak Gian yang tadi tertidur pulas di kamarnya. Dia berlari ke arah dapur untuk melihat majikannya itu.
__ADS_1
"Bu, Ibu kenapa?" ujar Mbak Gian sambil menggenggam tangan Dewi.
"K-kunti..."
"Hah? Kunti?" Mbak Gian langsung tanggap apa yang dimaksuf majikannya. Bulu kuduknya berdiri. Matanya nanar menatap sekeliling. "Nggak ada, Bu. Ibu pasti mimpi," ucapnya kemudian.
Dewi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dada naik turun. Tangannya menunjuk-nunjuk ke balik punggung Mbak Gian.
"Kita ke kamar ya, Bu," ucap Mbak Gian tanpa menoleh ke belakang. Dia takut jika menoleh yang kedua kalinya, sosok yang disebut Dewi itu justru menampakkan diri.
Tok! Tok! Tok!
"Mbak Gian... Bu Dewi... Ini aku. Tolong bukain pintu."
"Widia? Itu kamu?"
Mbak Gian hampir saja bergerak membuka pintu, tapi dengan cepat dicegah oleh Dewi. Perempuan muda itu takut kena jebakan dua kali. Untunglah Mbak Gian langsung paham.
"Iya, ini aku. Tolong bukain pintu. Aku kedinginan di sini," rintih perempuan di luar sana.
"Beneran Widia, kan? Siapa nama mantanmu yang ketiga?" Mbak Gian melontarkan pertanyaan asal pada Widia.
"Hah? Jamal."
"Terus, berapa hutangmu padaku?" tanya Mbak Gian lagi.
"Mbak Gian ki nopo, to?" -Mbak Gian ini kenapa, sih?-
"Jawab aja," ucap Mbak Gian dari balik pintu.
"Dua juta seratus lima puluh ribu. Bulan depan gajian aku bayar, Mbak," balas perempuan itu dari luar.
"Oke, ini beneran Widia. Karena dia selalu janji bayar hutang bulan depan," ucap Mbak Gian dengan yakin. Dia pun lantas membuka pintu dapur itu, dan mendapati Widia menggigil kedinginan di sana.
Dewi meringkuk di balik kursi, ketika Widia menginjakkan kaki ke dapur. Dia takut itu bukanlah Widia yang sebenarnya, seperti tadi.
"Kok kamu bisa kejebak di luar, sih?"
"Tadi ada yang manggil-manggil dari luar. Ku pikir Bu Dewi. Nggak tahunya..." Widia ragu untuk melanjutkan ceritanya.
"Nggak tahunya apa? Kalau cerita jangan setengah-setengah, lah," desak Mbak Gian.
"Nggak tahunya itu aku. Hihihihi..."
Seorang wanita tanpa kaki, melayang di atas kepala mereka. Lehernya teleng ke kiri sembilan puluh derajat, sembari terkikik.
"Kyaaaa..."
__ADS_1
Dewi dan Widia kompak menjerit. Hanya Mbak Gian yang tidak melihatnya. Tapi hal itu pula yang membuat suasana semakin mencekam.
(Bersambung)