Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 79. Orang-orang Misterius


__ADS_3

Sinar mentari yang sangat terik, mengawasi langkah kaki puluhan orang yang bergerak ke Hutan Rajaswala, sebelah utara Danau Cemani. Padahal saat ini masih pukul delapan pagi, tapi sinarnya seakan sangat menusuk ke kulit. Angin sepoi-sepoi pun seakan enggan berembus.


Tapi semua itu tak menyurutkan antusias warga Desa Citraloka. Kasus Kinanti akhirnya dibuka lagi setelah dua puluh tahun berlalu. Padahal secara hukum, seharusnya kasus ini resmi ditutup satu minggu yang lalu, tepat di tanggal yang sama dengan hilangnya kinanti dua dekade silam secara hukum negara.


Namun atas permohonan warga desa, polisi pun bersedia membuka kembali kasus ini. Para warga, terutama pria dewasa berbondong-bondong mencari sisa keberadaan jasad Kinanti. Polisi pun turun tangan membawa anjing pelacak. Berbekal ingatan dari Wira, mereka pun menelisik setiap sudut rerimbunan hutan lindung ini.


Waktu terus bergulir. Matahari sudah beranjak ke pusat zenith. Tepat di atas kepala. Kulit mereka semakin terasa terbakar, karena teriknya sang mentari.


"Wira, beneran kalian membuangnya di sekitar sini?" tanya salah seorang polisi yang turut membantu pencarian itu.


"Aku juga nggak terlalu ingat karena udah terlalu lama. Alam sekitar sini juga sudah banyak berubah. Nggak ada lagi pohon beringin yang dulu tumbuh besar di sini," jawab Wira dengan wajah sedih.


"Sudahlah, Nak. Jangan bersedih. Kita sudah berusaha. Kalau memang Kinanti ingin ditemukan, dia pasti akan memunculkan dirinya sendiri," ujar Pak Diman sambil mengusap matanya yang basah. Tidak ada yang lebih pilu hatinya di sana, selain dirinya.


"Iya, Pak," jawab Wira lirih.


"Ayo kita siap-siap sholat dulu. Sebentar lagi dzuhur. Setelah sholat dan makan siang kita lanjutkan," usul Pak Diman. Dia tak ingin memberatkan orang-orang yang menolongnya.


Mengingat energi mereka sudah terkuras dan perut keroncongan, mereka semua pun akhirnya setuju untuk beristirahat sejenak. Mereka lalu beranjak menuju ke surau terdekat, dan melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Ayat-ayat suci Alquran pun dilantunkan dengan sangat indah, oleh Satya yang menjadi imam.


Perlahan suasana meredup. Awan gelap berkumpul di langit, menahan teriknya sinar mentari yang menuju ke bumi. Udara sejuk pun mulai berembus, melalui kisi-kisi dinding papan surau itu.


"Sirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn..."


"Aamiin..."


Satya merinding mendengarnya. Ucapan Aamiin pada rakaat ketiga ini terdengar sangat ramai. Suaranya yang menggelegar, terpantul ke seluruh sudut surau itu. Seakan-akan jamaahnya mencapai ribuan orang. Padahal jumlah mereka saat ini hanya sekitar enam puluh atau tujuh puluh orang saja. Lagipula, Surau kecil ini pun tak mampu untuk menampung jamaah lebih dari itu.


Ternyata semua jamaah lain juga merasakan hal yang sama. Mereka bergidik ngeri, ketika mendengarnya. Namun tak ada satu pun yang bergerak dari tempatnya. Satya tetap memimpin sholat dengan baik, hingga rakaat terakhir.


Setelah selesai sholat, Satya lanjut memimpin doa. Beberapa jamaah di barisan terakhir menoleh ke belakang. Mereka melihat sekelompok orang berpakaian serba putih, keluar dari surau.

__ADS_1


Tinggi mereka sama. Wajahnya tak ada satu pun yang mereka kenali. Semuanya terlihat asing. Demikian juga jamaah perempuan yang memakai mukenah putih polos. Mereka bergerak cepat tak terlihat langkah kakinya, seakan sedang melayang. Postur tubuh mereka juga sama semua, tinggi dan kurus. Hanya dalam waktu sekejab, mereka pun keluar dari surau kecil itu dan menghilang di persimpangan jalan.


Mereka siapa?


Pertanyaan itu menjadi topik utama saat makan siang berlangsung. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang tahu jawabannya.


...***...


"Coba cari di sekitar rerimbunan belukar di sana. Barangkali sudah tertimbun tanah dan tertutup tanaman," perintah seorang polisi, mengarahkan para relawan yang membantu pencarian.


Setelah selesai makan siang tadi, pekerjaan mereka masih terus berlanjut. Kini mereka bergerak ke sisi hilir danau yang lebih rendah, barangkali jasadnya hanyut terbawa hujan dan tertimbun di sana.


Memang tidak mudah, menemukan tulang belulang yang sudah hilang dua puluh tahun lalu. Apalagi lokasi pastinya tak diketahui. Pak Diman juga mengikhlaskan, jika sekiranya sisa jasad Kinanti tak ditemukan lagi.


Srak! Wira mendadak mendengar suara dedaunan bergemerisik. Padahal tidak ada siapa pun di belakangnya. Semua orang telah bergerak ke hilir.


Srak! Srak! Baru saja hendak melangkahkan kaki, Wira kembali mendengar suara langkah kaki itu. Ah, matanya tak sengaja memandang tunggul kayu tua di antara serasah daun itu. Lingkar pohonnya yang mulai lapuk, terlihat sangat besar.


Wushhhh! Mendadak angin bertiup kencang, menyibakkan semak belukar di sekitar tunggul itu. Aaaauuuummmmm... Anjing pelacak yang dibawa para polisi itu melolong panjang.


"Aku menemukannya!" Seru Wira sambil berlari mendekati para relawan itu. "Pak! Aku menemukannya! Jasad Kinanti!" teriaknya lagi. Suaranya menggaung hingga ke seantero hutan.


Tubuh Pak Diman bergetar mendengarnya. Dia mendadak nggak siap untuk bertemu Kinanti, dalam keadaan yang berbeda.


Para polisi segera memeriksa lokasi yang dibilang Wira tadi. Mereka pun menemukan tengkorak manusia terkubur di permukaan tanah dan tertutup oleh tanaman liliana yang merambat.


Dengan hati-hati, tim polisi sekaligus forensik mengangkat tulang belulang yang telah bercampur tanah tersebut. Tengkorak kepala dan hidungnya pecah. Demikian juga dengan bagian panggulnya. Sementara tulang kakinya retak. Setelah itu mereka membawanya ke rumah sakit polisi untuk di visum.


Pak Diman menangis sejadi-jadinya. Dia memang telah menemukan putrinya yang hilang bertahun-tahun, tapi dia tak bisa memeluknya lagi.


Dua hari kemudian, tulang belulang yang ditemukan di hutan resmi di identifikasi sebagai Kinanti. Sisa-sisa kerangka itu kemudian diperlakukan layaknya jenazah, lalu dikebumikan. Dusun Citraloka kembali berduka. Perempuan cantik dan baik hati kebanggaan desa itu telah tiada, akibat ulah muda-mudi tak berakal.

__ADS_1


...***...


Suasana di Desa Citraloka malam ini sangat mencekam. Udara sangat dingin berembus dari arah pegunungan. Kabut tebal menaungi desa di lereng Gunung Lawu itu. Tak terdengar suara jangkrik dan burung-burung hantu dari sekitar rumah, seakan mereka pun turut bersembunyi dari malam mencekam.


Meskipun teror kuntilanak sudah tidak ada lagi, warga desa masih belum berani berkeliaran di malam hari. Setelah selesai tahlilan di rumah Pak Diman, para warga bergegas pulang ke rumah, lalu nengunci pintu rapat-rapat.


Kisah Kinanti yang melegenda selama dua dekade kembali diperbincangkan. Namun kini terdengar berbeda. Kinanti sang kuntilanak, begitu orang-orang menyebutnya. Sebagian warga merasa pilu mendengar kisah Kinanti yang digunakan ramai-ramai, lalu dibuang. Namun ada pula yang merasa ketakutan, takut sosok kuntilanak itu mendatangi rumahnya.


Brak! Mendadak pintu dapur Bu Nastiti pun terbuka lebar. Udara dingin dari pegunungan menyeruak masuk ke dalam rumah, diikuti wangi melati yang pekat.


"Kinanti, kamu kah itu?"


Bu Nastiti memberanikan diri untuk bertanya. Selama ini ketika mencium aroma melati, dia tak mau percaya bahwa Kinanti datang. Karena itu hanya membuat hatinya semakin terluka.


"Bu..." bisik seorang perempuan di belakang Nastiti.


"Nak, tunjukkanlah wujudmu. Ibu ingin melihatmu sekali saja," bisik Bu Nastiti penuh kerinduan.


"Ibu ngomong sama siapa?" Tiba-tiba Pak Diman datang, karena mendengar suara istrinya berbincang. Padahal tidak ada tamu lagi di rumah mereka. Semua sudah pulang.


"Pak... Bu..."


Semilirnya angin dari arah pintu menemani kemunculan sosok perempuan berseragam SMA. Wajahnya sangat cantik, namun tampak pucat. Dia melangkah perlahan ke dalam rumah, lalu memeluk pasangan suami istri itu.


Dingin, hanya itu yang terasa. Namun bau tubuhnya semerbak bunga. Tidak ada lagi aroma kemenyan dan bangkai dari dirinya.


"Izinkan aku pergi, Pak, Bu. Kalian sehat-sehat selalu, ya."


Pak Diman dan Bu Nastiti tak bisa berkata apa-apa, selain menangis sesenggukan. Perlahan sosok itu menghilang, dan menjadi kepulan asap putih yang membumbung ke angkasa.


Sementara itu Satya mengurung dirinya di kamar. Hatinya merasa benar-benar kosong. Permintaan Kinanti telah terpenuhi. Lalu di mana dia sekarang? Apa dia benar-benar pergi tanpa pamit padanya?

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2