
"Erh!" Aruna merasa sesak. Dia tidak bisa bernapas.
Cengkeraman tangan sosok kuntilanak itu perlahan melonggar. Bacaan ayat kursi yang dilantunkan Aruna di dalam hati, membuat tubuh sosok itu terasa terbakar, dan anggota tubuhnya berjatuhan. Kepala makhluk itu menggelinding di sekitar kaki Aruna.
Kesempatan ini digunakan Aruna untuk segera bangkit. Dia lalu memutar tubuhnya, dan hendak berlari keluar. Persetan dengan kepala yang bergerak liar dekat kakinya itu, yang penting dia bisa kabur.
"Jangan harap kamu bisa pergi, Aruna."
Tak sampai sepuluh detik, makhluk itu kembali berdiri tegak. Sosok berwajah hancur itu menghadang Aruna tepat di depan pintu. Kakinya yang pucat tanpa alas dan penuh luka, melangkah semakin mendekati Aruna. Tangan kanannya terulur ke depan, memegang pundak perempuan itu.
"Bawa aku pulang, Aruna. Bawa aku pulang, sesuai janjimu dulu." Suara bernada sangat rendah itu menggema ke seluruh ruangan, disertai seringai lebar di wajah sosok itu.
"Ma-maafkan aku, K-kinan. A-aku hanya menerima pe-rintah mereka untuk m-membawamu ke danau. I-ini juga mereka yang menyuruhku melakukannya," kata Aruna terbata-bata.
"Bawa aku pulang, Aruna. Hihihihi..."
Sosok itu kembali mengulangi kalimatnya, seakan tak mendengarkan ucapan Aruna barusan.
"A-aku tidak membunuh-mu. Bahkan aku t-tidak tahu, di mana mereka mem-buang jasadmu," balas Aruna di tengah isak tangisnya.
"Bohong! Kau ada di sana saat orang-orang desa mencariku!" Suara Kinanti yang semula sangat rendah. Kini terdengar sangat melengking. Kemudian sosok itu terkikik dengan wajah penuh amarah.
Tubuh Aruna semakin lemas, melihat kepala Kinanti yang mendadak copot dan terguling di lantai. Kakinya terangkat dari lantai, lalu melayang di atas kepala Aruna.
Aruna membatu. Hatinya ingin berteriak, namun suaranya tak bisa keluar. Hanya air mata penyesalan yang mengalir di pipinya.
"Bawa aku pulang Aruna... Aruna... Huhuhu..." Potongan kepala itu berputar di dekat kaki Aruna, seraya menangis pilu dengan tetesan darah segar.
"Maafkan aku, Kinan. Hanya Aksa dan teman-temannya yang tahu di mana tubuhmu berada," bisik Aruna di dalam hati. Suaranya tak bisa keluar.
Sosok Kinanti mendadak berubah. Kepalanya kembali menyatu dengan tubuhnya. Wajahnya tak lagi pucat pasi. Hanya kain putih lusuh di tubuhnya yang masih dipenuhi bercak darah.
__ADS_1
"Bawa Aksa padaku. Bawa dia dan suruh dia menjemputku pulang."
Kinanti berpindah dari pintu dapur. Dia membiarkan Aruna keluar dari rumah.
"Tapi jangan harap hidupmu bahagia, sampai kau menebus kesalahanmu. Hihihihi..."
Aruna berlari dengan sisa-sisa kekuatannya. Dia menerobos pintu dapur rumahnya tanpa mengucap salam, lalu menyusup ke dalam kamar. Aruna menyelimuti seluruh tubuhnya yang bersimbah peluh.
...***...
"Gimana, Pak?" tanya Bu Kesha pada Pak Darya yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Pak Darya menghembuskan napasnya dengan kening berkerut. Tanpa perlu dijelaskan lagi, mereka semua sudah mengerti maksudnya. Bulu kuduk mereka meremang, sejak kabar Aruna mengurung diri di kamar sambil berteriak histeris tersebar.
"Aruna sekarat. Lehernya sudah membiru karena jeratan tali. Untunglah Farras segera mendobrak pintu kamar ibunya. Semoga nyawanya bisa selamat," jelas Pak Darya lagi.
"Astaghfirullah!" seru mereka semua bersamaan. Tari sampai memegang tangan ibunya, untuk mengurangi rasa takut.
"Memangnya Aruna ada masalah apa? Kok tiba-tiba jadi begini?" tanya Bu Kesha sambil meringis ketakutan.
"Bapak juga nggak tahu, Bu. Tadi waktu kami ada di sana. Dia masih tak sadarkan diri. Tetapi kata Farras, ibunya memang sudah terlihat aneh sebelum munculnya penampakan itu," ungkap Pak Darya lagi.
"Ya Allah. Sebenarnya ada apa, sih? Kemarin muncul penampakan kuntilanak. Dan sekarang masalah baru lagi. Kasihan Bu Tuti dan Farras," kata Bu Kesha sembari mengusap dadanya.
Satya masuk ke dalam kamar. Dia tidak ikut nimbrung lagi dengan keluarganya. Tubuhnya sangat lelah setelah seharian berkendara ke Dusun Wingit. Ditambah lagi dengan cerita para warga dusun yang membuat kepalanya semakin terasa berat.
Satya terlonjak kaget. Dia menemukan sesosok perempuan berpakaian putih lusuh yang mengambang di sudut kamarnya. Seperti biasa, matanya tampak besar dan hitam legam. Rambut panjangnya terurai hingga ke lantai, bersama tetesan darah berwarna merah segar.
Semula Satya merasa sedikit takut. Tapi kemudian dia sadar, bahwa mereka sama-sama makhluk Allah, tak ada yang harus ditakuti. Selain itu, sosok perempuan tersebut pernah mengisi hari-harinya, meski tidak sempurna.
"Dek, Mas nggak akan marahin kamu. Mas cuma mau bertanya, apa yang kamu lakukan pada Mbak Aruna?" Satya melangkah maju, mendekati sosok berbau melati itu.
__ADS_1
"Aku hanya memintanya membawaku pulang. Tapi dia sendiri yang ingin menghilangkan nyawanya sendiri," jawab sang kuntilanak. Suaranya terdengar sangat rendah dan parau.
Satya duduk di tepi tempat tidur. "Kemarilah. Duduk di sebelahku." Lelaki itu menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
"Kamu tak takut denganku?" tanya sosok itu.
"Sedikit. Makanya ubahlah penampilanmu, supaya kita bisa bicara normal," pinta Satya sambil tersenyum manis.
"Ah, pria ini. Padahal dia sudah tahu siapa aku ini. Tapi sikapnya tetap saja manis," gumam Kinanti sambil mengubah wujudnya.
"Laksmi, aku tahu kamu sedang memperjuangkan keadilan. Katakan apa yang bisa kubantu, supaya kamu tak perlu menyakiti banyak orang," kata Satya dengan sangat lembut.
Sosok Laksmi yang menggunakan piyama berwarna putih itu menengadahkan kepalanya. Alisnya tampak bertaut dengan wajah sangat mendung.
"Mas, biar aku lakukan ini sendirian. Aku tak mau Mas ikut terlibat dalam masalah ini. Kamu itu orang baik, Mas. Maaf dulu aku salah menilaimu," ucap Kinanti dalam wujud Laksmi.
Satya menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan, "Aku tahu, rasa sakit hatimu tak bisa dibayar dengan apa pun juga. Tetapi apa kamu nggak kasihan sama keluarganya? Lihatlah Farras, yang semakin besar menanggung beban keluarganya," kata Satya.
"Aku tak melukai mereka, Mas. Jika mereka ingin pergi dari dunia ini dengan cara singkat, itu pilihan mereka sendiri. Bukan karena aku," ucap Laksmi membela diri.
"Kalau aku boleh tahu, siapa saja pelakunya? Apa mereka semua orang desa sini?" tanya Satya.
"Sebaiknya Mas nggak usah tahu. Karena Mas pasti terkejut dan tak menyangka mendengarnya," balas Laksmi lagi.
"Apa salah satu pelakunya adalah Mas Wira?" tebak Satya. Laksmi hanya mengangguk pelan.
Satya memeluk perempuan jadi-jadian itu dengan erat. Laksmi terkejut. Deru napasnya yang lembut, dapat dirasakan oleh Laksmi.
Ternyata lelaki itu mengusapkan minyak khusus yang digunakan untuk memperkuat jin dan sebangsanya, yang didapatkannya dari salah satu orang pintar waktu itu. Dia masih ingin berbicara lebih lama dengan Laksmi.
"Dek, apa di kepalamu ada pakunya? Tak bisakah selamanya kamu memasang paku itu, dan kembali menjadi Kinanti yang kami kenal dulu?" tanya Satya tiba-tiba.
__ADS_1
(Bersambung)