
Ada yang berbeda di malam itu. Entah mengapa napas Genta terasa sesak. Rasanya seperti orang yang tengah ketindihan, tak bisa bergerak. Ia mencoba bangun dan berteriak. Tangannya menggapai tubuh sang istri yang ada di sampingnya. Namun, rasanya sungguh sulit.
Genta merasakan rasa sakit yang kian merajam. Begitu tersiksa karena ia terpaksa menikmati semua itu dalam diam, dalam keputusan asaan.
"Ah, apa aku akan mati malam ini? Seperti Nada putra Aksa?" batin lelaki itu dengan mata terpejam.
Sejak awal Genta merasa, kejadian yang merenggut nyawa Nada sangat aneh. Kendati Aksa dan Rani masih belum bisa diajak bicara, tetapi lelaki itu yakin bahwa semuanya ulah Kinanti. Sama persis dengan yang menimpa Aruna saat ini.
Di tengah rasa sakit yang mendera, Genta merasa sangat menyesal. Pikirannya melayang ke masa dua puluh tahun lalu. Malam yang sangat mencekam, saat semua orang memanggil nama Kinanti.
"Rani, para polisi membawa anjing pelacak. Gimana kalau mereka menemukan jasad perempuan itu?" tanya Genta di tengah derunya hujan.
"Sudahlah, nggak usah khawatir. Papaku sudah membayar mereka, supaya nggak mendekati TKP," bisik Rani sambil tersenyum puas.
Tak ada raut penyesalan di wajah perempuan itu. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah mendapatkan pria pujaan hatinya.
"Baguslah kalau begitu. Anggap saja hari ini aku dapat jackpot, bisa menikmati tubuh moleknya," batin Genta tersenyum tipis. Setelah itu pun dia berpura-pura ikut mencari Kinanti.
Grep! Genta akhirnya terbangun. Rasa sakit yang dia rasakan ternyata hanya mimpi. Sayup-sayup dia mendengar suara orang berbincang. Genta langsung mengedarkan pandangannya ke samping. Riana sudah tak ada di sampingnya.
Genta bergegas turun dari kasur dan mencari keberadaan istrinya. Suara obrolan itu semakin jelas terdengar. Namun saat membuka pintu kamar, Genta tidak menemukan siapa pun. Suara gaduh itu pun lenyap.
"Apa aku salah dengar? Tapi Riana ke mana?" batinnya heran. Jam dinding masih menunjukkan pukul tiga pagi saat itu.
Langkah kaki membawanya ke kamar sang anak, Zivanna Aurelia. Ketika pintu terbuka, Genta merasa lega. Dia menemukan sang istri sedang ada di sana.
"Riana, ngapain di sini, sayang? Ini masih malam."
Genta mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. "Dingin banget," celetuknya dalam hati.
"Maaasass." Perempuan itu menoleh. Wajah hancur yang dipenuhi ratusan belatung itu tersenyum menyeringai. Senyumnya semakin lama semakin melebar hingga nenyentuh telinga. Tangan pucatnya mengusap tangan bocah kecil yang sedang tertidur pulas.
"Maaasass."
"Kinanti! Jangan ganggu anakku, brengsek!"
__ADS_1
"Itu bukan aku. Aku di sini."
Genta mendadak mendengar suara perempuan lainnya di belakang. Hatinya tak ingin menoleh, tetapi tubuhnya berkata lain. Dia melihat seorang perempuan duduk di atas lemarinya. Wajahnya sama persis dengan perempuan tadi. Hanya saja, perempuan di atas lemari itu mengenakan baju putih kusam.
"Kalian siapa? Jangan ganggu anakku!"
"Hihihihihihi..." Kedua sosok itu terkikik. Salah satu punggung mereka mengeluarkan banyak belatung.
"Pulangkan aku, Genta. Kau buang di mana tubuhku?"
Sosok yang duduk di atas lemari menangis pilu, membuat suasana mencekam. Satu saja sudah membuat takut, apalagi ada dua makhluk seperti itu.
Tapi di mana Riana? Kenapa dari tadi Genta tak melihatnya? Betapa terkejutnya Genta, saat melihat sang istri tergeletak pingsan di sudut kamar.
...***...
Sudah pukul enam pagi, Aksa masih sujud di atas sajadahnya. Seumur hidup, inilah pertama kalinya dia benar-benar melaksanakan sholat, dan melafazkan nama-nama Allah melalui bibirnya. Air matanya terus menetes, memohonkan ampunan pada Yang Maha Kuasa.
Aksa sadar, sudah banyak sekali dosa yang dia perbuat. Bahkan hingga mengambil nyawa anaknya sendiri. Sekarang hanya tinggal Najla Sakuntala dan Evano Sakuntala yang menjadi harapannya.
Srak!
Wajah perempuan itu sangat cantik. Kulit wajah yang cerah dan bersih. Mata cokelat dengan bulu mata yang lentik. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Tapi tetap saja, dia bukanlah manusia.
"Kinanti, tolong maafkan aku," bisik Aksa dengan suara serak karena habis menangis.
Kinanti hanya diam saja. Dia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Matanya yang indah menatap Aksa tanpa berkedip.
"Sekarang aku tahu, gimana rasanya kehilangan anak. Aku ingin dia kembali lagi," ucap Aksa sambil menyesap hidungnya yang penuh lendir. "Tapi pasti lebih menyedihkan lagi rasa sakit yang ditanggung kedua orang tuamu," imbuhnya.
Perempuan itu tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangannya pada Aksa, memberikan sehelai kain untuk mengusap wajah lelaki itu. Aksa pun menerimanya tanpa curiga, lalu mengusap wajahnya dengan kain putih itu.
"Ah, tunggu di situ. Aku akan tunjukkan sesuatu padamu," ucap lelaki itu sembari beranjak dari atas sajadah.
Aksa membuka lemari dan mengambil buku novel yang disimpannya di sana, "Kinan, lihatlah ini. Dulu setelah kamu menolakku, aku mencari formulir beasiswa di universitas. Aku ingin kita kuliah bersama-sama."
__ADS_1
Seperti orang gila, Aksa terus mengajak ngobrol makhluk yang berbeda dunia dengannya itu. Kinanti membaca lembaran yang sudah menguning itu. Air matanya meleleh, seakan dia memahami isi kertas tersebut.
"Aku sudah berniat melakukan ini dan menikahimu, Kinan. Tapi karena kebodohanku sendiri, kamu malah pergi selamanya."
Air mata Aksa kembali meleleh. Penyesalan yang teramat dalam di hatinya tak ada gunanya lagi. Cinta pertamanya telah pergi karena arogansinya. Kini, putri kecilnya juga telah pergi.
"Apa kamu tahu? Isi kamarku saat ini masih sama seperti dulu. Sampai sekarang orang tuaku masih menungguku pulang," bisik Kinan. "Aku tak bersedih karena semua cita-citaku lenyap. Tapi aku bersedih karena kedua orang tuaku menua drngan menahan rindunya padaku."
"Kinanti, aku mengaku salah. Apa pun yang aku alami sekarang, pasti masih nggak sebanding dengan yang kau alami," ucap Aksa dengan lirih. "Apa masih pantas aku meminta permohonan maaf padamu?"
"Tentu saja..." Kinanti mengulurkan tangannya dan mengusap wajah Aksa. "Tidak akan ku maafkan. Hihihihihi..."
Tangan mungil itu mendadak berubah menjadi pucat dan dipenuhi tanah, seakan baru bangkit dari dalam kubur. Kuku tajamnya mencekik leher pria itu hingga susah bernapas. Bibirnya yang tersenyum mengeluarkan taring yang tajam dan panjang.
"Kh... khhhkkkk!" Dada Aksa semakin sesak. Tak ada asupan oksigen ke dalam tubuhnya.
"Kamu ingin bertemu dengan putri kecilmu, kan? Aku akan mengantarmu. Hihihihi..."
Wajah Kinanti semakin terlihat pucat dan penuh luka yang menganga lebar. Aksa tak sanggup lagi melihatnya. Lelaki itu hanya mampu mengucapkan doa-doa di dalam hati.
Bruk! Tubuh Aksa terhempas ke belakang, menabrak dinding yang sangat keras. Tubuhnya terasa remuk. Kuntilanak itu kini terbang melayang di atasnya. Menunjukkan kakinya yang membiru dan meneteskan banyak darah.
Aksa tak henti mengucapkan doa. Netranya tanpa sengaja melihat helaian kain yang diberikan Kinanti tadi. Bentuknya sudah berubah menjadi kain kusam penuh bercak lumpur. Bentuknya sangat mirip dengan kain kafan.
"Itu bajuku. Kenapa kamu pakai untuk mengelap air matamu yang hina itu?" Sesosok makhluk berwajah gelap dan mata bolong mendadak muncul di samping Aksa.
"Po-pocong!" Aksa merangkak hingga ke tepi tempat tidur. Pocong itu mengejarnya. Dadanya berdegup kencang. Dia berharap pingsan saja, daripada harus melihat dua makhluk itu.
Ceklek! Mendadak pintu kamar terbuka. Saat itu juga, makhluk-makhluk tadi lenyap dari pandangan mata.
"Rani..." gumam Aksa yang masih terduduk di lantai. Lehernya berputar untuk menoleh ke belakang.
Bruak! Rani mengayunkan tongkat besi ke tubuh Aksa. Lelaki itu pun terjatuh ke lantai dan menggelepar. Kepalanya mengucurkan banyak darah.
"Ra... ni...?" gumam Aksa lirih.
__ADS_1
"Itu balasanmu, Aksa! Karena kau menyukai Kinanti, dan sekarang anak kita! Dari dulu kau membuat hidupku menderita, Aksa!" Teriak Rani di depan Aksa yang terkulai lemas.
(Bersambung)