Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 37. Aku Ikut Kamu, Ya. Hihihi...


__ADS_3

"Cantik banget istri Satya tadi. Lebih molek ketimbang Si Minul."


Genta senyum-senyum sendiri membayangkan manisnya senyum Laksmi tadi. Dia juga masih sangat ingat aroma kembang yang menguar dari perempuan itu. Ah, seketika napas Genta menjadi tak beraturan karena terbayang-bayang wajah Laksmi.


"Sayang banget aku udah kawin. Kenapa dulu aku mau jadi polisi, ya? Padahal lebih enak jadi juragan. Bisa kawin empat kali kayak Pak Broto," pikir Genta dengan nakal.


Sebelum ke kantor, pria itu menepikan kendaraannya di depan warung soto langganannya untuk mengisi perut. Sepiring biskuit di rumah Pak Darya tadi nggak mempan untuk menangkal lapar.


"Seperti biasa, Le?" tanya sang pedagang. -Panggilan untuk anak laki-laki.-


"Nggeh, Mbok. Tapi ndak usah pakai teh," balas Genta. -Iya-


"Lah itu istrimu gak dibeliin juga? Bawa turun aja. Kasihan, masa nunggu di mobil," ujar Mbok Srimpi.


"Istriku? Lho, aku kan sendirian, Mbok. Mau ke kantor," jawab Genta dengan kening berkerut.


"Ya terus itu siapa di dalam mobilmu? Selingkuhanmu? Pantesan ndak turun," cibir Mbok Srimpi.


"Hah? Mana sih, Mbok? Kan udah kubilang aku sendirian," jawab Genta ngotot. Meski doyan perempuan, tetapi dia tak suka disebut memiliki selingkuhan.


Mulut Genta langsung terkatup rapat, ketika dia melihat seorang wanita duduk di mobil. Tepat di samping kemudinya. Wajah wanita itu nggak terlihat, karena tertutup rambutnya yang terurai panjang.


"Siapa itu? Kapan dia masuk? Berani-beraninya dia duduk di mobilku tanpa izin." Genta mengumpat kesal lalu bergegas ke mobilnya, untuk menghalau penumpang tak diundang itu.


"Siapa kamu?" bentak Genta seraya membuka pintu mobil.


Jantung polisi itu hampir saja berhenti berdetak saat melihat tempat duduk di bagian depan itu. Kosong, tidak ada orang seperti yang dilihatnya tadi. Matanya pun langsung menelisik setiap sudut mobilnya, barangkali ada seseorang yang bersembunyi di dalam sana. Tetapi hasilnya nihil.


"Padahal tadi aku beneran lihat," gumamnya bingung.


Kendati kaca mobilnya cukup gelap, namun di siang hari begini Genta masih bisa melihat ke dalam mobilnya cukup jelas. Dan tadi dia melihat seorang wanita yang duduk di sana sambil menundukkan kepala. Seperti seseorang yang sibuk dengan HP.


"Masa aku salah lihat, sih? Apa itu bayangan dari mobil lain?"


Tak menemukan wanita yang dia cari, Genta pun kembali ke dalam warung. Sambil mengunyah sarapannya, netra polisi muda itu masih berkeliaran memandangi mobilnya. Namun, dia tak melihat bayangan perempuan seperti tadi.


"Ini ya, Mbok. Suwun. Kembaliannya ambil aja," ucap Genta setelah makan, seraya memberikan uang dua puluh ribuan. -Terima kasih.-


"Sama-sama, Le."


...***...

__ADS_1


"Mas, saya nanti turun di depan sana aja, ya."


"Hah?"


Genta sontak menoleh ke samping. Jantungnya berloncatan karena terkejut.


"Dari mana datangnya perempuan ini? Dari tadi kan sebelahku kosong?" Selama sepuluh menit mengemudi, Genta tak melihat siapa pun duduk di samping atau di kursi belakang.


"Loh, dari tadi aku di sini, Mas," ucap wanita itu, seakan dia mengerti isi kepala Genta.


Cekiiit! Genta menekan rem mendadak. Dia semakin terkejut, karena menyadari sesuatu.


"Ka-kamu istri si Satya, kan? Kapan kamu naik ke mobilku?" Genta masih sangat ingat dengan wajah cantik dan tubuh molek, menantu Pak Darya itu.


Lelaki itu buru-buru mengambil HP-nya dan mengambil video penumpang gelap itu. Dia hendak mengirimkannya pada Pak Darya sebagai bukti, bahwa menantunya sedikit nakal.


"Ka-kamu..."


Manik matanya berulang kali menatap wanita di hadapannya itu, untuk meyakinkan apa yang baru saja dilihatnya. Bulu kuduknya meremang. Sementara kedua kakinya gemetaran.


Kamera Genta menangkap seorang wanita berambut panjang, yang menyeringai lebar dengan bibirnya yang sobek. Mata perempuan itu kosong. Sebagian kulit wajahnya terkelupas, menampakkan sebagian tengkoraknya. Tak ada lagi sosok perempuan cantik seperti yang dilihatnya tanpa kamera.


"Ka-kamu s-siapa?"


"S-sejak kapan aku berteman dengan kuntilanak?"


Sosok itu menyeringai semakin lebar, sambil memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan kaku. Matanya yang hitam semakin membesar, seakan marah mendengar ucapan Genta barusan.


Glek! Tubuh gempal Genta semakin membeku. Tentu saja dia ingat dengan jelas siapa perempuan di hadapannya itu. Perempuan yang dulu mereka jadikan sebagai bahan untuk bersenang-senang. Tapi kenapa sekarang dia muncul lagi dengan wujud yang berbeda?


"Kenapa, Mas? Maaf kalau aku numpang mobil Mas tanpa izin."


Wajah ayu Laksmi kembali menggoda Genta. Hampir saja pria itu lupa kejadian aneh yang menimpanya, hanya karena belahan baju yang dipakai Laksmi terlalu rendah dan menampakkan sedikit gundukannya.


Tetapi kemudian Genta buru-buru menyadarkan dirinya, dan tak mau tertipu dua kali. Manik matanya pun bergerak, menatap bagian bawah waanita muda itu tanpa kamera HP.


"Sialan! I-ini beneran?"


Jantung Genta kembali berlompatan, seakan ingin keluar dari tubuhnya. Pikirannya semakin carut marut, karena tak melihat kaki perempuan itu. Dia hanya menemukan helaian dress mini, yang mengambang bebas di atas kursi. Perempuan itu nggak memiliki kaki.


"Mau ke mana, Genta? Antarkan aku pulang. Hihihihi..."

__ADS_1


Kewarasan Genta hampir menghilang, saat dia melihat dengan jelas sosok di depan matanya itu. Bukan melalui HP, tapi dengan matanya sendiri. Sosok itu memiliki rambut sangat panjang, sebagian kulit mengelupas dan bercak darah di seluruh bajunya.


Tangan kiri Genta menekan tombol send. Dia urung mengirim video pada Pak Darya. Genta justru mengirim video mengerikan itu pada seseorang yang juga sangat mengenal kuntilanak itu. Sementara tangan kanannya bergerak untuk membuka pintu.


"Tolong!" teriak Genta saat berhasil keluar dari mobil dengan kaki gemetaran.


Orang-orang di sekitar sana melihat Genta dengan bingung. "Ada apa? Kenapa?" Mereka berbondong-bondong mendekati Genta.


"K-kunti. A-ada k-kuntilanak di m-mobilku," ujar Genta dengan terbata-bata.


"Hah? Kunti? Siang-siang gini? Dasar orang aneh." Tak mempercayai ucapan Genta, mereka semua pun kembali meninggalkannya.


Genta hanya bisa menunjuk-nunjuk ke dalam mobilnya. Ternyata wanita dalam mobil itu pun sudah menghilang.


"Sialan! Bikin malu aja!" umpat Genta kesal.


...***...


"Dari mana kamu, Dek?"


"Mas Satya?" Laksmi terlonjak kaget. Dia nggak menyadari jika Satya berada di dalam kamar itu. "Mas nggak ke kantor?" ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Satya. Jam segini harusnya sang suami sedang bekerja.


"Ada yang ketinggalan. Jadi Mas balik lagi. Kamu dari mana?" Satya mengulang pertanyaannya.


"A-aku tadi abis dari ... Belanja di warung Buk Mar." Kalimat Laksmi sempat terhenti di tengah, untuk mencari alasan yang tepat.


"Lain kali kalau mau pergi bilang-bilang dulu, ya. Kan sudah aku belikan HP. Aku khawatir kamu keluar sendirian." Satya mengusap rambut Laksmi yang hitam panjang bak iklan sampo.


"Maaf udah bikin khawatir. Aku tadi buru-buru," ucap Laksmi dengan lirih.


"Iya, sayang. Aku memang khawatir karena kamu 'kan nggak bisa kena sinar matahari. Lihat ini, wajahmu jadi semakin pucat. Lingkar matamu udah mirip panda," kata Satya lagi.


"Ih, masa samain aku sama panda."


"Ya abisnya panda 'kan lucu, gemes. Mirip sama kamu."


Kali ini Satya mengusap punggung istrinya. Dugaan pria itu tepat. Tubuh Laksmi beraroma bangkai dan kemenyan yang pekat. Kulit pucatnya sedikit memerah.


Sebenarnya Satya berbohong saat dia bilang, kantung mata Laksmi menghitam. Wajah perempuan muda itu justru tampak lebih segar, setiap dia baru keluar dari rumah.


Dan yang lebih aneh lagi, di rambutnya selalu ada dedaunan kering yang menempel. Seakan-akan rambutnya menyapu permukaan tanah setiap dia berjalan. Tapi kan panjang rambutnya hanya sebatas pinggang?

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2