Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 24. Penumpang Berdarah


__ADS_3

Suwun, Nduk. Ini lagi ada acara apa, to?"


Beberapa warga yang menerima nasi megono dan nasi pecel dari Kinanti tampak semringah. Mereka juga menyambut Laksmi dengan sangat ramah. Terkecuali satu ibu muda, yang sibuk menenangkan bayinya yang menangis.


"Ndak ada acara apa-apa, Bu. Saya cuma ingin berbagi sambil kenalan. Semenjak menikah saya 'kan jarang keluar rumah," balas Kinanti dengan seulas senyum di wajah ayunya.


"Oalah... Matur suwun, nggih. Padahal ndak usah repot-repot gini kalau mau kenalan. Tinggal duduk bareng di sini, loh," balas para emak-emak berdaster tersebut. -Terima kasih, ya.-


"Duh, ya ndak enak saya, Bu. Waktu nikahan kemarin kan nggak semuanya di undang," kata Laksmi.


"Lah, iyo. Si Satya nikahnya dadakan. Ku pikir ada sesuatu," celetuk salah seorang ibu berdaster ungu.


"Ck! Ngomong opo kowe?" tegur ibu berdaster kuning. "Kami dengar Bapak Ibumu sakit. Sakit opo to, Nduk?" -Ngomong apa kamu?"-


"Iya, Bu. Pada kena diare. Salah makan kayaknya. Tapi sudah sembuh. Sekarang tinggal Ndaru yang dirawat," ujar Laksmi dengan lembut.


"Syukurlah. Semoga cepat sembuh, ya."


"Terima kasih, Bu. Kalau gitu saya permisi dulu, mau mengantar ke rumah lain," balas Laksmi.


Laksmi menatap bayi mungil dalam gendongan ibu muda itu dengan tatapan manis dan senyuman kecil, sebelum dia pergi. Bayi kecil itu menangis semakin keras. Sang ibu merasa sungkan dan sedikit menjauh, untuk menenangkan hatinya.


"Sri, anakmu kenapa, to? Itu Laksmi kayaknya risih dengarnya," tegur ibu berdaster ungu sambil mendelik kesal. Sepertinya dia sendiri yang gak nyaman mendengar tangisan bocah mungil tersebut.


Sang ibu yang ditegur itu hanya menghela napas panjang, sambil mengusap dada putra kecilnya yang masih menangis.


"Ternyata mantu-nya Buk Kesha ayu tenan. Ku pikir dia itu sombong, karena jarang keluar rumah," ucap ibu berdaster kuning. -Cantik banget.-


"Kata Satya dia itu ada sakit langka, Mbok. Gak bisa kena sinar matahari gitu, lah. Makanya jarang keluar," balas ibu lainnya.


"Tapi aku kok merasa aneh, yo? Badannya bau melati dan kapur barus kayak orang mati," celetuk salah seorang wanita yang rambutnya telah memutih.


"Nah, iyo. Aku juga cium aroma kembang melati," balas ibu berdaster ungu.


"Mungkin itu bau obat-obatan yang dia minum," bela ibu berdaster kuning.


"Ndak. Kalau menurutku bukan karena obat-obatan," sanggah Sri, ibu muda yang nenggendong bayinya.


"La terus?"

__ADS_1


"Dia bukan manusia," ucapnya lirih.


"Opo? Ojo guyon koyok ngono lah, Sri. Wis kelewatan kui," tegur para ibu-ibu. -Apa? Jangan bercanda gitu lah, Sri. Udah kelewatan itu.-


"Tapi aku ndak bohong. Sikile ora napak tanah," tegas ibu muda itu dengan wajah serius. -Kakinya nggak menapak ke tanah.-


Semua mata pun melirik ke arah Laksmi yang kian menjauh. Namun semak ilalang di tepi jalan menutupi tubuh bagian bawah Laksmi. Tak bisa dibuktikan apakah kakinya benar-benar tidak menapak tanah, atau hanya bualan Sri semata.


"Halah Sri, anakmu sing nangis kok wong liyo kowe salahno. Delok iku, anakmu ngompol. Pantesan nangis wae ket mau," cibir ibu berdaster ungu. -Anakmu yang nangis kok orang lain yang kamu salahkan. Lihat itu, pantesan nangis aja dari tadi.-


Sri mengusap bawah gendongannya. Ternyata benar putranya mengompol. Tapi sepertinya masih baru, karena cairan yang merembes itu terasa hangat. Dia juga sangat yakin, melihat Laksmi yang berdiri tanpa menjejak ke tanah.


...***...


Laksmi terus berjalan di bawah pepohonan sengon yang tumbuh berjajar di tepi jalan. Tubuhnya mulai merasa kesakitan, akibat sinar mentari pagi yang mengintip di celah-celah dedaunan. Dia juga gak bisa melayang, takut berpapasan dengan warga desa lainnya.


Ketika di pertengahan jalan, mendadak Laksmi menghentikan gerakannya. Dia mencium bau busuk yang memuakkan. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil berhenti di sisi Laksmi.


"Dek Laksmi, kan? Dari mana jalan kaki sendirian gini? Mau aku anterin sekalian pergi ngantor?" tegur pria berseragam cokelat tua itu.


Wanita itu menoleh, menatap Aksa dingin. Wajahnya teramat pucat, walaupun dia sangat cantik dengan rambut digelung ke atas dan wajah tanpa make up. Samar-samar tercium bau melati dari tubuhnya.


"Saya jalan kaki aja, Pak Kades. Permisi," ucap Laksmi tanpa senyum, sambil berlalu pergi.


"Ya, silahkan," ucap Aksa memandang Laksmi dengan bingung.


"Kok aneh, ya? Padahal waktu di kantor desa dia bersikap genit dan menggodaku duluan?" gumam Aksa. "Lalu mimpi aneh yang bikin aku mandi wajib malam itu?" gumamnya lagi.


Kedua netra Aksa terbelalak, kala tak melihat lagi wanita yang barusan berpapasan dengannya. Padahal baru beberapa detik Aksa memalingkan wajahnya.


Saking penasarannya, Aksa sampai turun dari mobil untuk mengeceknya. Jalanan itu lurus hingga dua ratus meter ke depan dan ke belakang. Kanan dan kirinya adalah kebun milik warga yang dipagari kawat berduri.


"Tak mungkin seorang wanita menerobos pagar itu. Lantas, ke mana dia?" gumam Aksa.


Tak tampak apa pun, benar-benar hilang. Aksa lalu kembali ke mobilnya.


"Kenapa, Pak? Lagi nyariin aku? Hihihihi ..."


Aksa tersentak kaget melihat bayangan samar di spion tengahnya. Sosok wanita berwajah pucat dengan seragam SMA penuh darah.

__ADS_1


"Si-siapa kamu?" Aksa berusaha membuka pintu mobilnya. Namun entah apa yang terjadi, pintunya tak bisa dibuka sama sekali.


Sosok asing itu semakin mendekat. Aroma bangkai busuk pun menyeruak ke seluruh ruangan. Aksa hendak berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan.


"Mana mungkin ada hantu di siang hari. Lalu ini apa?" pikir Aksa dalam hati.


Kuku panjang makhluk itu melingkar di lehernya. "Maaasss, main sama aku, yuk. Hihihihi," bisiknya.


Pupil matanya tiba-tiba membesar, saat mengingat siapa sosok yang mencekiknya itu.


"Ki-kinanti?" Aneh, suaranya yang hilang tiba-tiba kembali.


"Hihihihihi..."


...***...


"Kenapa Laksmi tadi bilang datang bulannya cuma bohongan, ya? Terus apa juga maksudnya dia nggak bisa menyentuhku seutuhnya? Apa karena penyakitnya itu, jadi berbahaya kalau diajak berhubungan?"


Olala. Rupanya Satya mendengar sepenggal ucapan Laksmi di depan cermin subuh tadi. Namun Satya belum memiliki waktu yang tepat, untuk mengajak istrinya bicara empat mata.


Satya melirik ke kanan, memastikan bahwa Ndaru benar-benar sudah tidur. Sementara ayah dan ibunya telah kembali ke rumah. Dia juga menyibak tirai pembatas, untuk memastikan agar tidak ada siapa pun di tempat tidur sebelah.


Setelah keadaan terasa aman, jemarinya bergerak cepat membuka video yang sudah dia rekam sepanjang malam. Pupil mata pria itu bekerja keras, memperhatikan sebuah video yang berada dalam kegelapan itu. Bahkan kecerahan layarnya yang telah maksimal pun, tak membuat video itu terlihat terang.


"Hmm, kayaknya gak ada yang aneh. Sepanjang malam dia cuma tidur pulas. Apa aku yang terlalu curiga sama dia?" ucap Satya pada dirinya sendiri.


Rupanya tadi malam pria itu memasang kamera tersembunyi yang terhubung dengan HP, untuk memantau semua kegiatan Laksmi di malam hari. Lelaki itu masih penasaran, kenapa malam kemarin Laksmi membongkar lemarinya dan mencari album foto. Memangnya siapa yang sedang dia cari?


Seperti biasa, sekitar pukul satu malam, Laksmi pun bangkit dari tempat tidur dan mengenakan cardigan untuk menutupi baju tidur tipisnya. Dia lalu terlihat berjalan keluar kamar.


Tidak ada hal aneh yang terlihat. Dalam waktu beberapa menit, perempuan muda itu kembali lagi ke kamar dan kembali tidur. Baru saja hendak menutup video berdurasi panjang itu, kening Satya tiba-tiba berkerut. Matanya menangkap satu keanehan dari dalam video tersebut.


"Kenapa rambut Laksmi panjang sekali sampai menyapu lantai? Bukankah panjang rambutnya hanya sepinggang?"


Satya tahu betul seberapa panjang rambut hitam milik istrinya tersebut, karena dia sering membantu menyisirnya. Belum hilang rasa terkejutnya, Satya kembali dikejutkan dengan beberapa foto yang dikirim oleh Tari barusan.


"Astaghfirullah! Apa benar ini di dalam kamarku?" pekiknya dalam hati.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2