
"Errghhh... Errghhhhh..."
Perempuan yang terbaring di tanah itu terus memberontak. Mulutnya yang tersumpal dasi, membuatnya tak bisa berteriak untuk meminta pertolongan. Kakinya menendang-nendang sekelompok pria yang memaksanya berbuat hal keji.
"Woi, Ta. Cepet cariin tali. Cewek kurang ajar ini perlu kita kasih pelajaran," perintah Aksa sambil menekan tubuh perempuan itu dengan brutal.
"Tali dari mana, c**k! Ini di hutan!" balas Genta kebingungan.
"Yo pake akal lah. Pokoke yang bisa ngiket kaki bocah iki," bentak Aksa. Sementara dua temannya lagi bertugas memegang kedua tangan perempuan malang itu, agat tak memberontak.
Tak menemukan tali yang diminta Aksa, Genta pun membawa tumbuhan benalu untuk mengikat kaki gadis SMA itu. Kaki putih jenjang yang polos tanpa sepatu itu pun semakin lecet, karena benalu yang melingkari betis dan pergelangan kakinya.
Tak sabar melepaskan satu per satu, Aksa pun mencabik seragam SMA gadis itu dengan kedua tangannya. Genta dan dua temannya pun sibuk meloloskan kain di bawah sana.
"Hik! Hik!"
Kinanti tak mampu menahan air matanya, saat para bocah berseragam SMA itu bergantian merisaknya. Tubuh dan hatinya benar-benar terkoyak. Air matanya tak mampu lagi menetes, meski batinnya terus menangis. Luka lebam dan lecet di tubuhnya, masih belum apa-apa jika dibandingkan luka yang dibuat oleh para lelaki di bawah umur itu.
Srak! Srak!
"Heh? Suara apa itu?"
Para cowok laknat itu menghentikan aktivitasnya sesaat, kala mendengar bunyi langkah kaki di atas rerumputan. Mereka mengambil kain abu-abu milik masing-masing yang tergeletak di tanah, dan bersiap untuk kabur dari sana.
"Janc**k! Itu cuma babon monyet," seru Genta saat melihat seekor monyet berekor panjang, berlari di antara rerumputan sambil menggendong anak-anaknya.
"Lah, brengs*k. Ayoklah lanjutin. Aku belum kebagian," umpat salah seorang di antara mereka.
Kinanti menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Tubuhnya menggeliat. Dia meminta agar para cowok itu berhenti merisaknya.
"Heh! Jangan banyak protes! Ikutin aja. Banyak cewek-cewek SMA yang mau diposisi kamu! Tapi kami cuma memilihmu!" cibir Aksa sambil menjambak rambut wanita itu.
"Errmm!"
Kinanti kembali menggeram kesal. Bahunya bergerak naik turun menahan sesak di dada. Hatinya perih teriris, melihat senyuman jahat yang terukir di wajah teman sekolahnya itu. Bahkan saingannya untuk mendapat gelar juara umum sekolah.
"Woi! Uwes opo urung? Wis arep magrib iki!" tanya Aksa pada temannya yang masih sibuk di bawah sana. -Udah apa belum? Udah mau magrib ini.-
"Ehm, sabar to. Mentang-mentang kowe wis disik-an," jawab pemuda itu mempercepat pekerjaannya. -Mentang-mentang kamu udah duluan.
Semakin lama pertahanan Kinanti pun semakin menurun. Tubuhnya kian melemah. Dia tak mampu lagi memberontak. Hanya hati dan pikirannya saja yang menjerit kesakitan. Matanya pun memejam rapat.
"Hik! Hik! Hik!" Tangisan Kinanti tak kunjung berhenti, meski perlakuan keji mereka telah usai.
"Ck! Jangan berisik, brengs*k!" bentak Aksa yang semakin tersulut emosi.
"Hik! Hik! Hihihihihi..."
__ADS_1
Wajah gadis ayu itu berubah. Matanya yang indah semakin hitam. Tak ada lagi bibir merah merona, telah digantikan dengan bibir hitam penuh lumuran darah.
"Hihihihihi..."
Wanita yang sejak tadi menangis itu, kini terus tertawa. Jemarinya menelusuri setiap inchi wajah tampan Aksa. Perlahan jari-jari lentik itu turun ke leher. Dan...
"Aaawwww! Sakit!" Aksa menjerit ketakutan, karena cengkeraman kuku panjang gadis itu dilehernya.
"Sayang! Kamu kenapa?"
Aksa membuka matanya sambil gelagapan. Ritme napasnya masih tidak teratur. Namun perasaannya cukup lega. Tempat itu bukan lagi sebuah hutan lebat, melainkan kamarnya yang empuk.
"Kamu mimpi buruk?" Rani menyodorkan segelas air putih pada suaminya.
"Ah, iya. Sialan! Padahal udah mati aja masih nyusahin," umpat Aksa sambil membuang napas dengan kasar. Dia lalu meneguk air yang diberikan oleh sang istri.
"Mati? Siapa yang udah mati?" Rani mengernyitkan keningnya dengan bingung.
"Ah, bukan apa-apa. Ini cuma mimpi buruk," ucap Aksa sambil menepis tangan Rani di wajahnya. Lelaki itu kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan tertatih menuju ke kamar mandi.
"Ck, dia kenapa sih? Aku kan cuma mau ngasih perhatian?" batin Rani kesal.
...***...
"Air bidara lagi?"
Laksmi menggeram kesal, saat mengetahui seember air di dalam kamar mandi itu bukan air biasa. Tubuhnya melayang mundur menjauhi ember hitam berisi air jernih tersebut. Setumpuk cuciannya masih dia biarkan di dalam keranjang rotan.
"Dek, ngomong sama siapa, sih? Dari tadi kok ngedumel mulu?" ucap Satya mengetuk pintu kamar mandi.
Laksmi buru-buru mengubah kembali wujudnya menjadi manusia, lalu membukakan pintu. "Mas, bisa buangin air itu, nggak?" pintanya dengan nada manja.
"Loh, kenapa? Airnya kan bersih," ucap Satya bingung.
"Tadi airnya kena pipis kucing. Aku geli."
"Hah! Ya ampun. Ya udah, minggir sana. Ada-ada aja kucing pipis di sini."
Aksa bergerak dengan cepat, menumpahkan air bidara yang sudah susah payah di buat oleh adik bungsunya itu. Laksmi tersenyum tipis. Sekali lagi dia menang melawan orang-orang di rumah ini.
"Mumpung gini mau mandi bareng?" goda Satya sambil melingkarkan tangan di pinggang langsing wanita itu.
"Hah? Apaan sih, Mas? Ini di kamar mandi belakang, loh. Bukan di kamar mandi dalam kamar kita," protes Laksmi sambil bergerak mundur.
"Oh, jadi kalau di sana kamu mau?" Satya menaikkan sebelah alisnya dengan sabar.
"Hah? Yo Ndak lah."
__ADS_1
"Kenapa nggak? Kamu udah selesai halangan, kan?"
Kedua tangan Satya kembali menarik tubuh wanita itu untuk merapat padanya. Aroma melati yang harum pun kembali semerbak mengaktifkan seluruh indra penciuman. Namun, samar Satya tetap mencium aroma bangkai dari tubuh wanita itu.
"Ini masih pagi, Mas. Terus Mas harus pergi kerja, kan?" ujar Laksmi mencari-cari alasan.
Tok! Tok! Tok!
"Mas, ngapain sih? Masih lama? Cepet gantian, aku mau mandi," seru Tari dari luar.
"Tuh, dengar. Tari mau pakai kamar mandi ini juga." Laksmi memanfaatkan celah ini untuk kabur dari suaminya.
"Hah, ya udah. Kita tunda dulu. Tapi jangan harap kamu lari," bisik Satya di telinga Laksmi. Wanita itu pun menggeliat kegelian, karena hembusan napas suaminya di dekat tengkuknya.
Brak!
"Ndang, mlebu. Mas tadi cuma mau bantuin Mbak-mu nyuci, ojo mikir aneh-aneh," ujar Satya saat keluar dari kamar mandi merasa salah tingkah. -Cepat masuk.-
"Lah, siapa yang juga mikir aneh-aneh?" Tari mengerutkan keningnya. Bola matanya lalu bergerak melirik kakak iparnya yang sudaha lebih dulu keluar. "Mbak harus makasih sama aku nanti," ucapnya tanpa suara. Dia tahu, Laksmi tak bisa disentuh Satya.
Laksmi hanya menangguk sambil tersenyum kecil, "Dia sebenarnya ada di pihakku, atau di pihak Aksa, sih?" Laksmi masih tidak bisa menebak isi pikiran adiknya itu.
"Kok dia nggak bereaksi apa-apa, ya?"
Satya memperlambat langkah kakinya untuk melihat perubahan sikap istrinya, setelah mengusapkan minyak khusus dari orang pintar. Rupanya tadi dia nggak benar-benar ingin menggoda istrinya.
"Jangan-jangan aku ditipu orang pintar itu? Atau Laksmi beneran nggak pakai ilmu, ya?"
"Kenapa, Mas? Kok bengong? Mas nggak marah gara-gara aku nolak tadi, kan?" Laksmi berbalik badan, dan melihat sang suami menatapnya dengan tajam.
Satya tersentak kaget. Sesaat, dia melihat sosok menyeramkan di hadapannya.
"Enggak, kok. Kamu benar. Waktunya emang gak pas," kata Satya seraya melukis senyum di wajahnya. Tak ada lagi wajah pucat dan mulut robek di hadapannya.
"Ah! Jadi orang-orang di rumah ini sudah mencurigaikaku?" bisik Laksmi.
"Nduk, tolong buatkan teh untuk tamu kita, ya," pinta Pak Darya sambil melongok ke dapur.
"Nggeh, Pak. Tamunya berapa orang?" bisik Laksmi dari balik dinding dapur.
"Satu orang, Nduk," balas lelaki itu.
"Siapa tamunya, Pak?" tanya Satya sambil mengikuti langkah ayahnya ke ruang tamu. Sementara Laksmi pun segera membuat beberapa gelas teh.
"Permisi, Pak. Ini teh-nya."
Beberapa saat kemudian, Laksmi pun datang membawa teh hangat dan sepiring biskuit untuk cemilan. Tanpa sengaja, dia pun bertatap mata dengan tamu ayah mertuanya.
__ADS_1
"Loh, dia kan salah satu orang dalam foto SMA-ku? Berarti dia berteman dengan Aksa, Aruna dan Rani juga?" sorot mata Laksmi yang indah, berubah menjadi hitam legam.
(Bersambung)