
"Kin, kamu mau pulang?"
"Eh, Aruna. Iya, aku mau pulang. Ada apa?" tanya Kinanti yang baru saja keluar dari kelas.
Dia sedikit heran. Aruna yang tak selalu mengabaikannya, siang ini justru menyapanya duluan.
"Sebelum pulang temani aku ke kebun wetan, ya," ajak Aruna dengan wajah memelas.
"Hee? Kebun wetan? Mau ngapain? Pulang aja dulu, ganti baju terus pamit sama ibu," balas Kinanti dengan kening berkerut.
"Uhh, kemarin aku meminjam HP Nokea punya Rani. Tapi aku malah meninggalkannya di dekat kebun wetan waktu gembala kambing," ungkap Aruna.
"Hah! Ya ampun! Itu kan barang mahal!" pekik Kinanti.
Pada saat itu masih sangat jarang yang memiliki HP. Harganya juga dirasa sangat mahal untuk kantong seorang remaja desa. Hanya para anak para juragan dan pejabat yang mampu memilikinya.
"Makanya itu, aku takut kalau kita pulang dulu, HP-nya keburu hilang. Terus kalau aku pulang telat sendirian, kena marah ibukku," jelas Aruna dengan wajah memelas.
"Duh, gimana ya? Tapi gak bagus juga kalau kita pergi tanpa izin orang tua," gumam Kinanti ragu.
"Aku janji kita langsung pulang kalau HP-nya udah ketemu," bujuk Aruna.
"Ya udah, deh. Ayo."
Kedua remaja tersebut lalu berjalan kaki dari sekolah menuju ke kebun wetan, lahan pertanian yang sedang sepi karena usai panen. Rumput ilalang tumbuh dengan subur. Tampak beberapa ternak sapi dan kambing yang di lepas di sana.
"Di mana HP-nya, Aruna? Kita udah cari ke semua tempat dan hampir mendekati situ camani," ucap Kinanti yang mulai terasa lemas. Gadis remaja itu memang belum makan siang.
"Duh, di mana, ya? Kayaknya kemarin di bawah pohon sengon itu, deh. Tapi kok nggak ada lagi? Jangan-jangan udah diambil orang?"
Aruna mengajak Kinanti mendekati situ camani. Danau kecil yang menjadi batas desa mereka, dengan hutan rajaswala di lereng Gunung Lawu ini. Namun Kinanti sangat menjaga langkah kakinya, tak mendekati danau yang memiliki dasar cukup dalam itu. Dia hanya menunggu di bawah pohon ketapang yang rindang.
"Aruna, mending kita balik ke tempat tadi, deh. Ini udah kejauhan," ajak Kinanti.
Bruk! Tiba-tiba punggung Kinanti terdorong ke depan cukup kuat, hingga tubuhnya terperosok jatuh ke dalam danau yang cukup dalam.
"Maaf, aku nggak sengaja. Tadi aku hampir jatuh," seru Aruna.
"Tolong, aku nggak bisa berenang. Tolong!" jerit Kinanti dengan tangan melambai-lambai ke atas.
Namun bukannya menolong, Aruna justru berlari dan menjauhi Kinanti.
__ADS_1
"Tolong," teriak Kinanti sekuat tenaga. Kali ini Aruna telah menghilang di balik pepohonan.
...***...
Angin mendesau kencang, terdengar mengerikan dari luar rumah. Sesekali terdengar ranting dan dahan jatuh ke atap rumah ini. Burung-burung hantu mulai terjaga dari tidurnya bertengger di pepohonan sekitar rumah sambil memekik bersahut-sahutan.
Brak! Brak!
Tiba-tiba pintu dapur terbuka karena hempasan angin. Ini aneh, karena seingat Aruna dia telah mengunci rapat pintu dapur.
Angin dingin dari luar menyeruak masuk, tepat dari pohon jengkol yang tumbuh rimbun. Aruna tiba-tiba melihat sekelebat bayangan hitam yang terbang dengan cepat.
"Burung gagak? Malam-malam begini?"
Aruna bergidik dan mengusap tengkuknya, saat melihat burung khas pertanda kematian Itu. Gagak adalah jenis hewan diurnal yang keluar di siang hari. Berbeda dengan burung hantu yang memang keluar di malam hari.
Aruna termenung sejenak. Telinganya menangkap sayup-sayup suara wanita menangis. Suaranya halus tapi Nyata. Terkadang sedikit tersamarkan oleh desau angin, dan kicauan burung hantu yang bersahut-sahutan.
"Aruna... Aruna..."
Suara gumaman panjang yang memanggil namanya itu membuat Aruna bergidik. Rasa takut yang teramat besar mengalahkan rasa penasarannya. Kakinya melangkah ke depan. Sementara tangannya bergerak hendak menutup daun pintu.
"Kyaaaa ..." Aruna memekik kencang saat melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depan pintu dapurnya.
"Kenapa, Bu?" Seorang remaja pria berlari menuju ke dapur, saat mendengar suara teriakan sang ibunda.
"I-itu." Aruna menunjuk ke arah pintu dapur, sambil menutup matanya.
"Oh, Mbak Laksmi. Ada apa kemari malam-malam?"
Mendengar suara putranya berbicara santai, Aruna pun membuka kelopak matanya perlahan. Tak ada lagi sosok berbaju putih bersimbah darah di depan pintunya. Kini yang terlihat hanya sosok wanita ayu berbaju daster panjang, dengan rambut dicempol ke atas.
"Maaf ngagetin. Abisnya tadi dipanggil-panggil dari depan nggak ada yang nyautin," ucap Laksmi. "Mbak mau pesan nasi pecel dan nasi megono untuk besok pagi. Tapi jumlahnya kali ini agak banyak, karena mau dibagi-bagi ke tetangga juga,"sambungnya.
"Loh, ini kan pembeli yang tadi pagi? Kok Farras bisa kenal?" pikir Aruna bingung.
"Dia ini istrinya Mas Satya, Bu. Kakak iparnya temanku," jelas Farras tanpa mendengar pertanyaan sang ibu. "Kenapa nggak pesan lewat telepon aja, Mbak?" sambung Farras.
"Waduh, Mbak nggak kepikiran tadi. Lagian mau sekalian bayar," balas Lkasni
"O-oh begitu. Jadi mau pesan berapa bungkus?" tanya Aruna dengan wajah semringah. Dia senang karena mendapat pesanan cukup banyak. "Tapi kenapa tadi aku melihat hantu cewek sial itu di depan sana? Apa aku terlalu kepikiran, karena ini bulan kematiannya?" pikir Aruna lagi.
__ADS_1
"Menurutmu? Jadi kamu menyadarinya?"
Telinga Aruna menangkap suara halus yang seakan berbicara padanya itu. Matanya tanpa sengaja bertatapan langsung dengan Laksmi.
"Aaah!" Aruna kembali menjerit, saat melihat wanita itu menyeringai lebar padanya.
"Ibu kenapa?" Farras langsung merengkuh bahu sang ibu dan menenangkannya.
"Kenapa, Mbak?" Laksmi ikut mengkhawatirkan Aruna yang kini pucat pasi.
"Nggak apa-apa. Kayaknya aku cuma kecapekan. Mau pesan berapa tadi?" Aruna terpaksa mengulang pertanyaannya.
"Masing-masing dua puluh bungkus. Ini uangnya langsung aku lunasi," ucap Laksmi sambil memberikan beberapa lembar uang pada Aruna.
"I-iya, makasih. Besok jam enam pagi udah bisa dijemput," kata Aruna dengan suara bergetar.
Dia masih tidak mempercayai apa yang dilihatnya barusan. Apakah dia berhalusinasi? Atau memang sosok itu menampakkan diri?
"Ah, aku pasti cuma kepikiran, karena ini adalah bulan terkutuk itu," batin Aruna menenangkan diri.
"Astaga!"
Aruna melempar lembaran uang di tangannya, yang kini berubah menjadi sekumpulan ulat daun berwarna hijau. Wanita itu pun melompat-lompat di lantai dapur yang penuh peralatan masak, untuk menghindari ulat yang menggeliat-geliat tersebut.
"Ada apa lagi to, Bu?" ujar Farras kembali ke dapur. Dia semakin khawatir melihat kondisi ibunya.
"I-itu. Uang yang dikasih Laksmi tadi berubah jadi ulat," kata Aruna dengan suara bergetar.
"Ulat? Nggak ada ulat, Bu. Ini kan uangnya?" kata Farras seraya memungut lembaran uang kertas yang berserakan di lantai.
Aruna hanya melongo melihatnya. "Ke mana perginya ulat-ulat tadi?"
"Ibu istirahat aja kalau ibu capek. Biar nanti aku yang ngerjain," kata Farras memaksa ibunya untuk segera tidur.
"Ada apa, Nduk? Kok dari tadi rame?" tany Bu Tuti yang terjaga dari tidurnya.
"Ndak ada, Bu," ujar Aruna sambil berjalan menuju ke kamar. "Ah, tapi tadi aku sekilas melihat Kinanti di pintu dapur," ucap Aruna.
"Hah? Kinanti? Maksudmu perempuan itu?"
(Bersambung)
__ADS_1