
"Hahaha... Jadi hari ini mobilmu nyungsep dua kali karena melihat hantu? Sa... Sa.. Kamu ini udah tua bangkotan. Masa siang-siang takut sama hantu."
Lelaki berseragam polisi itu tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita teman karibnya itu. Pelupuk matanya bahkan sampai basah, saking tertawa terlalu lama.
Aksa menyeruput kopi susunya dengan kasar. Hatinya menyesal karena telah menceritakan kejadian yang dia alami hari ini pada Genta. Namun dia nggak mengatakan, siapa sosok hantu yang menemuinya tadi.
"Tapi aku beneran lihat, Ta. Lihat ini leherku merah abis dicekik kuku panjangnya," ujar Aksa membela diri.
"Halah! Paling itu ulah cewek-cewek nakal, yang godain Pak Kades ini," cibir Genta dengan wajah mengejek.
"Heh, aku bukan cowok kayak gitu," bantah Aksa tak terima dengan tuduhan rekannya.
"Ya kalau gitu kamu cuma ngelindur. Mana ada hantu keluar siang-siang," balas Genta lagi. Lelaki bertubuh tegap itu lalu menghabiskan minumannya di dalam gelas.
"Aku nggak mimpi, apalagi ngelindur, Ta. Aku lihat dengan jelas dia duduk di kursi belakang mobilku berdarah-darah," tegas Aksa.
"Tapi mana buktinya? Nggak ada noda darah kayak yang kamu bilang tadi. Rekaman mobilmu juga nggak nunjukin apa-apa, kecuali si Cimoy," ujar Genta acuh. "Dan gumpalan rambut itu bisa aja punya istrimu. Kecuali kamu pernah membawa wanita lain di mobil itu."
"Sembarangan!" Aksa membuang napas dengan kasar.
"Nanti kalau dia datang lagi jangan lupa direkam pakai HP, terus viralin di medsos. Kali aja dia laku jadi bintang horor," ujar Genta sambil menahan tawa. "Udah, ya. Aku pergi duluan. Di kantor banyak pekerjaan," imbuhnya.
"Tunggu dulu. Kamu nggak mau tahu hantu siapa yang datang tadi?" Aksa menahan Genta pergi, dengan merebut kunci mobilnya.
"Siapa?" Genta mengernyitkan keningnya.
"Kinanti. Ini nggak adil. Kita melakukannya sama-sama, masa cuma aku yang digangguin," kata Aksa kemudian.
Mendengar nama itu, manik mata Genta pun membesar. "Hah? Kamu bercanda? Ngapain dia datang setelah sekian lama?" bisik Genta.
"Nah, itu juga yang aku heran," balas Aksa dengan wajah serius.
"Hahaha, kamu pikir aku percaya? Kamu cuma mau menakut-nakuti aku, kan? Sini kunci mobilku." Genta tertawa mengejek, kemudian berlalu pergi.
"Ck, aku ndak bohong. Ku harap hantu itu juga menggentayangimu," gumam Aksa sambil menatap mobil Genta yang semakin menjauh.
...***...
Senyum manis Rani menghiasi ambang pintu. Wanita berkulit putih itu sudah menunggu suaminya dengan daster biru model kekinian dan rambut tergerai. Sekilas, dia terlihat seperti bintang sinetron.
"Kamu udah nyampe? Kok nggak bilang-bilang?" Aksa menyambut tangan sang istri yang salim padanya.
"Tadinya mau bikin kejutan. Tapi Mas lama banget pulangnya," ujar Rani dengan nada manja.
"Tadi aku ketemuan sama Genta, ada urusan," jelas Aksa.
__ADS_1
Pria itu sedikit lega, karena sekarang hari Jumat. Itu artinya istri dan anaknya menginap di rumah selama dua hari, dan dia tidak sendirian di rumah.
Dulu awal menikah mereka memang sempat tinggal di kota. Namun setelah Aksa dipercaya menjadi kepala desa, Rani Juwita tak mau ikut tinggal di desa. Akhirnya, dia dan anak-anak hanya pulang ke desa saat akhir pekan.
"Loh, itu siapa di depan, Mas? Kenapa dari tadi dia lihat ke sini?"
Rani menunjuk ke seseorang yang berdiri di luar pagar rumahnya. Perempuan itu mengenakan baju gamis hitam tanpa kerudung. Di tangannya ada sebuah tas yang terlihat lecek. Dia kelihatan ragu-ragu untuk memasuki halaman rumah Aksa yang cukup luas.
"Oh, kayaknya itu warga yang lagi ada perlu," ujar Aksa. Dia lalu berjalan mendekati pagar, untuk menemui perempuan itu. Sementara Rani buru-buru masuk ke dalam rumah.
"Permisi, Ibu cari siapa?" Aksa menegur perempuan yang mematung di depan pagar rumahnya itu.
Perempuan itu bergeming. Tak menyahut pertanyaan Aksa. Beberapa detik kemudian dia mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis.
"Saya mau minta tolong, Pak," ujarnya.
"Ya? Mau minta tolong apa? Ayo masuk dulu," ajak Aksa dengan ramah.
"Apa boleh saya masuk ke dalam rumah dengan kaki begini?" tanya perempuan itu.
Aksa pun melihat ke bawah sambil berkata, "Kalau kotor kakinya bisa dicuci di..." Matanya melotot, tatkala mengetahui perempuan itu tak memiliki kaki, alias melayang.
"Astaghfirullahaladzim!" Aksa mundur beberapa langkah.
Tubuh Aksa tak bisa bergerak lagi. Kakinya terpatri di sini, bersama makhluk aneh yang datang bertamu. Ingin rasanya dia berlari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat, tetapi percuma. Kakinya berat bagai dipasung.
"Pak, jangan pergi dulu. Tolong saya. Tolong anterin saya pulang," sosok itu menggumam pelan.
Aksa baru sadar, bahwa wajah perempuan itu sangat pucat dan tatapan matanya kosong. Kepala Desa Citraloka itu hanya bisa membaca doa dalam hati.
"Paaak Kadeeesss... Hihihi..."
Perlahan tubuhnya kembali bisa digerakkan. Aksa terus menjauh dari tamu mistisnya itu. Setelah sampai di teras, dia buru-buru masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
"Loh, tamunya mana, Mas? Ini udah aku buatkan teh." Rani yang telah berganti pakaian dengan lebih sopan, tampak celingukan mencari tamu yang datang tadi.
"Udah pulang," jawab Aksa dengan cepat. Napasnya masih tersengal, membuat Rani menatap dengan heran.
"Oh, terus ini teh-nya gimana? Untuk kamu aja ya, Mas," ujar Rani. Aksa hanya mengangguk pelan.
"Apa itu tadi? Kenapa hari ini aku selalu didatangi tamu yang bukan manusia? Apa ada yang mengirim santet padaku?"
Aksa yang masih ketakutan dan kebingungan hanya bisa duduk termenung di tepi tempat tidurnya. Jantungnya masih berdegup tak beraturan. Sementara peluh sebesar jagung membasahi seluruh tubuhnya.
"Mas, kamu kenapa, sih? Sejak tadi kok kelihatan aneh?"
__ADS_1
Rani mendekati sang suami lalu melingkarkan kedua tangannya di tubuh pria itu. Namun tak sampai satu detik, dia kembali melonggarkan pelukannya.
"Mas, kok kamu bau anyir?" protes Rani sembari menjauh.
"Duh, ini pasti aroma darah yang menetes di bajuku tadi," pikir Aksa. Dia kini percaya, bahwa cairan merah kental yang berceceran di mobilnya tadi benar-benar darah, bukan kutek.
"Mas? Ditanyain kok malah ngelamun? Ada apa, sih?" Rani mengguncang tubuh suaminya.
"Nggak ada apa-apa, kok." Aksa mencoba membuat senyuman di wajahnya. Tapi tetap saja terlihat kaku dan aneh. "Anak-anak di mana?" tanya Aksa kemudian.
"Anak-anak di kamar sebelah, lagi menonton TV," sahut Rani.
"Oh, syukurlah," ucap Aksa lega. "Aku mau mandi dulu, ya," tambahnya.
Baru saja Aksa hendak mengambil handuk, sebuah telepon masuk ke HP-nya. Ternyata itu dari salah satu pegawainya. Dia berbincang cukup lama di telepon.
"Dek, aku pergi dulu, ya. Ada masalah mendesak," ujar Aksa sembari memasang jaketnya. Dia bahkan nggak sempat menukar bajunya yang berbau anyir.
"Iya, Mas. Hati-hati, ya," ucap Rani.
"Kamu juga hati-hati di rumah. Jangan lupa kunci semua pintunya. Kalau ada yang ketok-ketok pintu jangan dibukain. Nanti kalau Mas pulang bakalan nelpon kamu minta bukain pintu." Aksa mendadak memberi wejangan panjang lebar pada sang istri.
Rani terlihat mengernyit. "Memangnya kenapa, Mas?"
"Udah, nurut aja. Aku pergi dulu, ya."
Aksa menjangkau kunci mobil di atas nakas, lalu pergi. Dia mengabaikan rasa was-was akan bertemu lagi dengan makhluk di depan pagar, demi menjalankan tugasnya sebagai kepala desa.
"Mas kenapa, ya? Apa ini ada hubungannya sama tamu tadi?" Rani lalu mengunci semua pintu sesuai perintah suaminya.
"Najla, Nada, ayo mandi. Udah mau mahrib."
Rani pergi ke kamar anak-anaknya untuk menyuruh mereka mandi. Namun betapa terkejutnya Rani, karena tak mendapati kedua putrinya di dalam kamar. TV masih menyala tanpa ada yang menonton.
"Najla ... Nada ... Kalian di mana, Nak?" Rani semakin gusar. Dia mendapati pintu depan hanya tertutup, namun tidak terkunci. Bukankah dia tadi sudah menguncinya?
"Maaa..." Terdengar suara teriakan bocah perempuan dari arah luar pagar.
"Najla, mana Nada?" tanya Rani dengan wajah tegang.
"Na-nada ..."
"Nada kenapa?"
(Bersambung)
__ADS_1