
"Tolong!" jerit Aruna.
"Ya Allah, Aruna! Kamu kenapa? Bicara sama siapa?"
"Ibu... Tolong aku. Huhuhu..." Aruna menangis sekencang-kencangnya, ketika sang ibu datang menemuinya.
"Iya, Nduk. Ibu di sini. Kamu tadi kenapa, to?"
Bu Tuti yang baru saja mendengar teriakan putrinya, segera berlari dari kamar. Pendengaran wanita itu memang sudah mulai melemah, sehingga terlambat menyadari jika putrinya butuh bantuan. Kini dia memeluk wanita itu erat-erat untuk menenangkannya.
"Udah tenang?" bisik Bu Tuti setelah beberapa saat. Aruna menganggak pelan.
"Sekarang ceritain, kamu tadi kenapa?"
"Dia datang lagi, Bu," jawab Aruna.
"Dia siapa?" tanya Bu Tuti tak mengerti. Dia tidak melihat siapa pun di depan pintu.
"Kinanti. Arwahnya kembali menggangguku," balas Aruna.
"Arwah? Memangnya dia udah mati? Sampai sekarang jasadnya kan nggak ketemu. Kamu yakin itu dia?" ucap Bu Tuti.
Aruna hanya mengangguk lemah. Dadanya masih bergerak naik turun mengatur napasnya.
"Lagian ini masih siang. Matahari bersinar terang. Mana ada hantu. Mungkin kamu berhalusinasi," ucap Bu Tuti.
"Dia beneran datang, Bu. Aku juga gak tahu kenapa?"
Kedua pupil mata Aruna membesar, saat melihat garis batas garam yang dibuatnya sejak kemarin telah terputus. Rahangnya mengepal keras sambil menggeram.
"Siapa yang merusak garis batas itu?" ucap Aruna dengan kesal. Namun sedetik kemudian dia tak bisa protes, ketika ayam-ayam peliharannya mengacak-acak garam tersebut dengan cakarnya.
...***...
"Di foto ini ada tujuh anak termasuk aku. Tapi aku nggak mengingat mereka. Hanya Aksa dan Aruna yang baru ku kenalin."
__ADS_1
Laksmi alias Kinanti berjalan-jalan di dalam kamarnya yang masih sangat tertata rapi. Bahkan debu halus pun tak menempel di setiap benda di sana.
Bayangan tubuhnya yang penuh luka dan lumpur, terpantul di cermin lemari di sudut ruangan. Rambut panjangnya yang kusut, terurai panjang hingga ke lantai.
Sejak dia mengetahui bahwa Pak Ardiman dan Bu Nastiti adalah kedua orang tuanya, diam-diam sosok itu sering mengunjungi mereka, untuk memastikan keduanya hidup dengan baik.
"Lalu perempuan di rumah Aksa itu siapa, ya? Apa dia temanku? Atau musuhku seperti Aksa dan Aruna?" Kinanti mengusap potret wajah Rani dengan jemarinya yang tinggal tulang.
"Ah, padahal mereka sudah ada di depan mata. Tapi aku malah nggak mengingatnya. Menyebalkan!"
Kinanti mulai berani membuka-buka lemari, untuk mencari bukti-bukti lainnya. Namun dia lupa, kalau itu juga berarti membuat keributan di dalam kamarnya.
"Loh, Bu. Ibu mulai meletakkan bunga lagi di kamar Kinanti?" tanya Pak Diman pada istrinya. Dia heran melihat pintu kamar putrinya sedikit terbuka dan mengeluarkan bau harum.
"Loh, nggak ada kok, Pak," jawab Bu Nastiti. Dia sudah tak melakukan rutinitas itu belasan tahun yang lalu, untuk mengurangi luka di hatinya.
Bu Nastiti bergegas menyusul suaminya. Dia terpaku melihat susunan buku dan pigura di meja belajar Kinanti telah berubah. Aroma samar dari bunga melati, parfum favorit Kinanti pun menguar ke seluruh ruangan.
"Ah, apa Kinanti sedang pulang ya, Pak?" ucap Bu Nastiti dengan mata berkaca-kaca.
"Ah, payah. Kenapa aku harus sembunyi, sih? Mereka kan nggak bisa melibatku?"
Pintu lemari sedikit bergoyang, saat Kinanti keluar dari sana. Aroma harum pun semakin tercium pekat. Sosok itu berusaha memeluk sang ibu yang sudah beda alam dengannya, namun sayang dia tak bisa menyentuhnya dengan wujud seperti itu.
"Errrgh! Sialan! Sepertinya ada yang berbuat jahil lagi denganku."
Senyuman manis di wajah makhluk itu sirna seketika, berganti dengan seringai marah. Dia pun melesat pergi, sebelum kedua orang tuanya mencium bau bangkai dari tubuhnya.
...***...
"Uhuk!"
Pak Dukun memuntahkan darah dari mulutnya. Tubuhnya tertekuk ke lantai. Kedua tangannya menekan diafragmanya yang terasa keram.
"Uhuk!" Pria itu kembali menumpahkan darah, lebih banyak dari tadi.
__ADS_1
"Itu belum seberapa, Pak Dukun. Kalau kau coba-coba mencari pemuka agama untuk membuka kedokku, maka kau akan satu alam denganku.
Luka sayatan di leher Pak Dukun semakin lebar, akibat cengkeraman kuku sang kuntilanak. Pandangannya mulai kabur, seiring dengan aliran darahnya yang terhambat. Napasnya terasa sesak.
Pak Dukun beringsut ke dapur. Dia berkumur dengan air dari teko. Rupanya sosok berbaju putih kusam itu mengikutinya ke dapur.
"Kamu keterlaluan Kunti! Hanya karena nama kalian sama, kau menyerupai wujud anakku, mengambil kehidupannya demi kesenanganmu sendiri," ujar Pak Dukun dengan terengah-engah.
"Apa? Kesenanganku? Aku sakit. Walau sudah beda dunia, tapi rasa sakit hatiku masih sangat besar. Apa kau mau rahasia putrimu aku bongkar, Pak Dukun?"
Suara parau itu menggelegar ke seluruh ruangan. Diikuti dengan tangisan pilu yang menyayat hati.
"Tapi dia bukan targetmu, Kunti. Lepaskan dia! Kau menikahi orang yang salah! Tahun kelahiran kalian sangat berbeda."
Pak Dukun tak kuasa melihat sosok tulang kerangka penuh bercak darah itu. Matanya yang hitam dan bolong juga membuat bulu kuduk Pak Dukun semakin meremang.
"Hei, tua bangka! Kau juga merasakan hal yang sama denganku, kan? Makanya kau berbuat seperti itu pada anakmu, kan?"
Sosok tanpa kaki itu melayang turun. Rambutnya yang teramat panjang, menyapu seluruh lantai dapur. Pak Dukun mengumpat kesal, karena tubuhnya membatu. Padahal hatinya ingin sekali pergi dari sana.
"Jangan bawa-bawa anakku, kunti! Kau biadab! Mempermainkan hati manusia yang tak salah sama sekali."
"Ya karena aku sudah tak punya hati, Pak Tua. Hihihihi..."
Wajah mereka kini saling berhadapan, dengan jarak kurang dari satu jengkal. Pak Dukun hanya bisa menutup matanya. Namun hingga hitungan kelima, tak terjadi apa pun. Pak Dukun memberanikan diri membuka matanya sambil komat kamit membaca doa. Ternyata dia melihat sosok itu melayang menuju ke kamar putri tunggalnya.
"Apa yang kau lakukan?" Kekuatan Pak Dukun yang belum terkumpul semua, membuatnya harus berjalan terseok-seok mengejar si Kuntilanak.
"Kau ingin apa yang sudah kau lakukan pada putrimu dua puluh tahun lalu itu tetap menjadi rahasia, kan? Kalau begitu ikuti semua perintahku. Sampai semua dendamku terbalaskan. Hihihihi..."
"Gila! Aku pasti sudah semakin gila, karena setiap hari selalu berbcara dengan makhluk ini," umpat Pak Dukun dalam hati. Namun mau tak mau dia tetap mengikuti keinginan makhluk halus itu, demi putri satu-satunya.
Setelah sosok itu pergi, Pak Dukun pun membuka pintu kamar putrinya yang selalu tertutup rapat, untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. "Ah, kenapa kau nggak menghabiskan sarapanmu, Nak? Mau Bapak belikan ayam taliwang untuk makan siang?"
(Bersambung)
__ADS_1