
"Hah? Kinanti? Maksudmu perempuan itu?" sang ibunda langsung mengernyitkan keningnya, saat mendengar nama itu. Aruna hanya mengangguk pelan.
Tentu saja Bu Tuti langsung tahu siapa yang dimaksud putrinya. Hanya ada satu nama Kinanti di desa itu. Dan sejak kejadian mengerikan dulu, tak ada lagi orang tua yang memberi nama Kinanti pada anaknya.
"Kamu beneran lihat dia? Kok tiba-tiba? Mungkin itu cuma pikiran kamu," kata Bu Tuti masih meragukan omongan putri tunggalnya itu.
"Aku nggak bohong, Bu. Aku beneran lihat dia berdiri di depan pintu dapur, setelah burung gagak terbang dari pohon jengkol," ucap Aruna meyakinkan sang ibu. Dia juga meminta sang ibu untuk merendahkan suaranya, agar obrolan mereka tidak terdengar oleh Farras.
Bu Tuti langsung menghentikan langkah kakinya. Dia lalu menoleh ke arah Aruna dengan tatapan tajam.
"Burung gagak itu pertanda nggak baik. Kenapa dia tiba-tiba muncul setelah sekian lama?" ucap wanita sepuh itu sambil menggeram pelan. "Kamu nggak terlibat dalam kasus hilangnya dia, kan?" imbuhnya.
"Duh! Ya nggak lah, Bu. Waktu kejadian kan aku udah pulang," bantah Aruna dengan cepat.
"Baguslah. Kalau gitu gak ada yang perlu kamu khawatirkan. Mungkin arwahnya hanya berkeliaran, karena ini bulan kematiannya," kata Bu Tuti lalu kembali ke kamarnya.
Entah kenapa dia yakin, jika Kinanti sudah meninggal, meski statusnya sampai sekarang masih dianggap sebagai orang hilang.
"Ibu sama Mbah lagi ngomongin siapa? Kinanti yang diceritakan orang-orang tua di sini? Apa hubungannya dengan ibu?"
Ternyata Farras mendengar obrolan mereka. Dia kini mengerti, kenapa ibunya menjerit ketakutan sejak tadi. Lalu apa hubungannya dengan Laksmi yang datang memesan makanan? Bukankah hanya dia yang muncul di depan pintu saat itu?
"Hihihi... tunggu saja bocah. Sebentar lagi kamu akan tahu, siapa ibumu sebenarnya. Hihihihihi ..."
Kuntilanak yang masih berada di dapur rumah Aruna itu hanya terkikik, ketika melihat Aruna ketakutan akan kehadirannya. Bau busuk dari jiwa Aruna menjelaskan betapa jahat hatinya. Sang kuntilanak pun menyerap energi jahat tersebut dan membuatnya semakin kuat.
"Uh, aku kok tiba-tiba merinding, ya?" gumam Farras mengusap tengkuknya yang meremang. "Sholat isya dulu, deh. Baru lanjut ngerjain ini," ucapnya pada diri sendiri.
"Tapi sepertinya bocah remaja ini sangat baik. Berbeda dengan sifat busuk ibunya."
Makhluk berambut panjang yang menjuntai ke lantai itu mengusap kepala Farras dengan lembut, sambil terkikik pelan.
"Su-suara ketawa? Tapi suara siapa?" Farras buru-buru pergi mengambil air wudhu.
...***...
"Dek, ayo bangun. Udah subuh, Mas mau ke masjid."
Satya mengusap pipi sang istri untuk membangunkannya. Namun tangan Laksmi yang melingkar di perut Satya belum juga berpindah. Tentu saja dia cuma pura-pura tidur.
"Dek..."
Kali ini Satya mengecup kening wanita berambut panjang itu. Aroma melati yang pekat disertai hawa dingin langsung menyeruak ke seluruh saraf pria itu. Namun ada aroma janggal yang juga tercium oleh Satya.
"K-kok baunya mirip kapur barus di orang meninggal, ya?" batin Satya dengan dada berdegup kencang.
__ADS_1
Laksmi menggeliat sambil membuka kelopak matanya. Udara sejuk pagi ini membuat punggungnya enggan berpisah dengan kasur empuknya. Ditambah pelukan hangat dari sang suami.
"Sesekali sholat di rumah aja lah, Mas. Pasti di luar dingin banget," ucap Laksmi membujuk sang suami untuk kembali berbaring.
Satya tersenyum begitu manis. Sampai-sampai Laksmi yang sudah tidak memiliki jantung lagi, merasa berdebar dan tersipu malu. Pria itu benar-benar tampan.
"Aku tahu kamu masih mau kelonan. Tapi ini udah waktunya sholat. Waktunya kita bersyukur sama Allah, hari ini masih diberi nikmat hidup," ucap Satya dengan sangat lembut.
"Huh, tapi aku kan udah mati, Mas," gumam Laksmi sangat lirih.
"Nanti kelonannya disambung lagi setelah pulang dari masjid. Mas mau siap-siap dulu, ya," ujar pria itu sembari memindahkan tangan sang istri dari pinggangnya.
"Haaah, hantu macam apa aku ini? Selalu gagal membawa manusia satu ini ke jalan yang sesat. Bahkan kekuatanku juga gak mempan melawan air wudhunya," gumam Laksmi, menatap punggung Satya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Laksmi mematut dirinya di depan cermin. Bayangan hitam yang terpantul di sana tak sepenuhnya mengerikan seperti biasanya. Hanya pandangan mata yang kosong, serta kuku-kuku yang panjang.
"Sekarang aku harus apa? Waktuku tinggal dua hari lagi, sampai masa menstruasi bohonganku selesai. Setelah itu, Satya pasti meminta jatahnya. Sementara aku tak bisa menyentuh dia seutuhnya."
"Dek, ngapain ngelamun depan cermin? Kamu udah cantik, kok," ucap Satya yang tiba-tiba nongol dari kamar mandi.
"Gawat! Dia gak dengar ucapanku tadi, kan?" Laksmi merasa panik.
...***...
"Kabarnya udah membaik, tapi dia belum dibolehkan pulang sama dokter. Nanti Mas ke sana bawain baju sama gantian jaga," jelas Satya.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga dia lekas pulang. Sepi rasanya di rumah kalau cuma ada kita bertiga," tutur Laksmi. Tangannya dengan cekatan membuat teh manis untuk sang suami.
"Dek, maafin Mas, ya. Harusnya kita bulan madu, tapi malah ditinggal-tinggal terus," ucap Satya.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku senang kok tinggal di sini."
Satya hanya tersenyum mendengar kalimat istrinya. Dia senang, karena Laksmi mulai betah tinggal bersama keluarganya.
"Lagian Mas Satya sih, honeymoon bukannya ke luar kota malah ngendog ae neng omah. Untung aja Mbak Laksmi bukan cewek yang banyak menuntut. Kalau aku pasti protes, Mas," celetuk Tari yang membuka bungkusan nasi pecel dan memindahkannya ke piring.-Bertelur aja di rumah (berdiam diri di rumah)-
Laksmi terkikik mendengar ucapan adik iparnya. Ucapannya memang sangat ceplas ceplos, tetapi dia merasa dibela oleh remaja cantik itu.
"Hhhh, iya iya... Besok kalau Mas dapat THR dan cuti panjang kita pergi honeymoon, ya. Kamu mau ke mana?" tanya Satya.
"Hmm, ke mana ya? Kayaknya ke wilayah pantai enak juga," sahut Laksmi.
Sejak dulu Laksmi ingin sekali pergi berlibur ke pantai bersama orang tuanya. Namun malang, umurnya berhenti di usia tujuh belas tahun, sebelum dia melihat langsung seperti apa pantai itu.
...***...
__ADS_1
"Dek, menurutmu Farras itu gimana orangnya? Mbak dengar kamu sekelas sama Farras?" tanya Laksmi sambil menghitung nasi pecel dan megono yang hendak dibagikan.
"Ha?" Tari mengerutkan keningnya. Dia terheran karena tiba-tiba sang kakak ipar menanyakan hal random. Tentang laki-laki pula. "Maksud Mbak, Farras-nya Mbak Aruna?"
"Hu'um."
"Kenapa Mbak tiba-tiba tanya soal Farras?" Gantian Tari yang bertanya.
"Kayaknya kalian dekat, sering pulang pergi sekolah bareng," timpal Laksmi. Hati kecilnya merasa khawatir, sesuatu terjadi seperti dia dulu.
"Hmm, ya lumayan deket. Dia baik, sih. Cakep juga," balas Tari dengan malu-malu.
Laksmi tersenyum kecil mendengar jawaban sang adik. Jawaban standar seorang remaja perempuan, ketika ditanyai tentang laki-laki.
"Hmm, kok wajahmu merona? Kamu naksir dia?" pancing Laksmi lagi.
"Nggak, kok. Mmm, gak tahu maksudnya," ujar Tari lirih, sembari memutar bola matanya ke arah lain.
"Lah, kenapa gitu?" Laksmi terus mencecar adik perempuannya itu.
"Karena dia nggak pernah peduli sama apapun, selain nilai sekolah dan jualannya. Dia selalu sibuk dengan dua hal itu kalau di sekolah," jawab Tari.
"Loh, memangnya boleh jualan di sekolah?" tanya Laksmi.
"Ya sebenarnya nggak boleh, Mbak. Takut ganggu tugasnya sebagai pelajar. Tapi dia minta izin titip dagangan di kantin sekolah," ungkap Tari.
"Wah, ternyata dia rajin juga, ya. Jarang-jarang cowok mau gitu, gak gengsi bantu orang tua," puji Laksmi.
"Ya dia terpaksa kayak gitu demi membantu ekonomi ibunya. Bisa dibilang dia itu tulang punggung keluarga. Mungkin itu juga yang bikin dia semakin menarik," jelas Tari dengan pipi semakin merona.
Laksmi tersenyum melihat tingkah lucu adiknya, "Loh, kenapa dia yang jadi tulang punggung keluarga? memang ayahnya ke mana? Apa sudah meninggal?" celetuk Laksmi.
"Eng, itu ..." Tari memutar bola mata dan menggigit bibir bawahnya, seakan dia ragu untuk menceritakan yang sebenarnya.
"Duh, Mbak salah ngomong, ya?" ucap Laksmi gak enak hati.
"Sebenarnya Farras gak tahu siapa Bapaknya. Kata orang-orang, ibunya dulu hamil duluan waktu masih kuliah terus nikah dadakan. Tapi suaminya gak pernah muncul lagi di desa ini setelah menikah. Setelah Farras lahir, orang tuanya resmi bercerai," ungkap Tari.
"Astaga! Jadi begitu?"
Seulas senyum tersungging di sudut bibir Laksmi, tatkala mendengar cerita haru itu. Hatinya merasa senang, karena hidup Aruna tak semulus yang dia bayangkan.
"Kenapa Mbak Laksmi malah senyum sinis gitu?" pikir Tari bingung sekaligus ngeri.
(Bersambung)
__ADS_1