
Satya terbangun ketika aroma nasi goreng sudah menyebar ke seantero rumah. Lelaki itu tidak menemukan Laksmi di sampingnya.
"Ah, dia pasti sudah ke dapur," gumamnya.
Sesaat kemudian jantungnya berdebar. Satya kembali teringat dengan isi pembicaraan mereka tadi malam. Tubuhnya kembali merinding mengingat sosok mengerikan yang dilihatnya tadi malam.
"Apa semua yang terjadi tadi malam nyata?" Satya buru-buru ke dapur, untuk mengeceknya.
"Loh, kamu baru bangun?"
Bu Kesha melempar pertanyaan pada putra sulungnya, sambil membuat telur dadar. Sementara nasi goreng dengan taburan ikan teri sudah terhidang di atas meja.
"Iya. Ibu udah sehat? Kok malah di dapur?"
Satya mengedarkan pandangannya ke seluruh dapur. Laksmi tampak sedang mencuci piring, dibantu Tari yang menyusin piring bersih ke atas rak.
Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati, sekaligus terasa pahit bagi Satya. Terutama setelah dia mendengar fakta mencengangkan tentang istrinya. Tapi dia tidak melihat keanehan dari Laksmi. Dia terlihat sama seperti manusia biasa.
"Ibu kan ndak sakit. Cuma kecapekan aja," kilah Bu Kesha. "Terus kamu ngapain ke dapur? Laper? Emangnya udah sholat subuh?"
"Astaghfirullah." Satya baru teringat, dia belum menunaikan tugas wajibnya.
"Ayo cepetan sholat. Nanti keburu matahari terbit," perintah Bu Kesha dengan mata mendelik. Satya pun langsung melipir ke kamar mandi untuk wudhu.
Memang, di rumah ini sangat ketat soal ibadah. Karena kata Bapak, sholat adalah tiangnya agama. Itu pula yang membuat Laksmi selalu kehabisan energi di rumah ini. Entah sudah berapa banyak dia memakan hewan ternak dan burung liar, serta menyerap energi orang-orang berhati busuk untuk memperkuat jiwanya.
"Astaghfirullah."
Satya terlonjak kaget, saat melihat seorang perempuan berdiri di depan lemari. Baju tidurnya yang putih, membuat Satya kembali teringat sosok kuntilanak tadi malam. Bedanya, kali ini tidak ada bercak darah.
"Laksmi, kamu tidur di mana malam tadi? Kok semaleman aku nggak lihat kamu?" Satya melihat Laksmi sedang mempersiapkan seragam kantor yang akan dipakainya hari ini. Itu sudah menjadi kebiasaan Laksmi setiap hari kerja.
__ADS_1
"Aku tidur di rumahku, Mas. Aku rindu kamarku. Lagian, aku khawatir Mas Satya takut denganku." Suara Laksmi sangat dingin dan datar.
Satya mundur perlahan mendengar kalimat Laksmi barusan. Ucapannya seakan menegaskan, kalau pengakuannya tadi malam adalah sebuah kejujuran. Namun lelaki itu kemudian menghentikan gerakannya, saat melihat raut kesedihan di wajah perempuan itu.
"Ah, maaf Laksmi. Emm... maksudku Kinanti. Aku masih belum terbiasa," ucap Satya sambil mengusap tengkuknya dengan canggung.
"Nggak apa-apa. Aku mengerti. Tapi selama kamu masih menganggapku istri, aku akan tetap menghormatimu, Mas," jawab Laksmi dengan senyum kaku di wajahnya.
...***...
"Satya, kamu di mana? Kok tiba-tiba ngajuin izin?" Hadyan yang telah bersiap pergi tugas lapangan bersama Satya merasa heran. Dia lalu menelepon rekan kerjanya itu.
"Duh maaf, Dyan. Aku ada urusan mendesak di Dusun Wingit. Tadi aku udah bilang sama Pak Kepala, supaya aku digantiin sama orang lain dulu," kata Satya.
"Oh... Kamu pergi sendiri atau sama Laksmi?" tanya Hadyan. Dia langsung paham, urusan yang dimaksud oleh Satya.
"Aku pergi sendirian, Dyan. Laksmi mengurus ibuku yang masih sakit," jawab Satya.
"Yo wes. Good luck ya. Kalau butuh bantuan, cepat kabari aku," kata Hadyan, lalu menutup teleponnya.
Satya duduk tepat di depan rumah Pak Dukum, ayah mertuanya. Pintu itu tertutup rapat. Tak ada orang di dalam. Lalu telepon Pak Dukun juga tidak nyambung sejak tadi.
Ya, sejak tadi pagi Satya sudah bertekad. Dia akan mencari tahu sosok seperti apa Laksmi itu. Bangsa jin jahat yang memang sengaja menyerupai wujud Kinanti dan mengambil memori terakhirnya untuk berbuat ulah? Atau memang Jin Qorin yang ingin membantu manusia yang mirip dengannya, agar dapat menemukan para pelaku kejahatan itu.
Lantas, teka-teki apa yang terdapat pada Laksmi yang asli? Wallahualam Bishawab. Yang jelas Satya percaya, bahwa manusia yang telah meninggal itu tak mungkin bisa bergentayangan seperti itu. Mereka telah terikat dengan alam barzah sampai hari kebangkitan nanti.
Tak mau rugi waktu begitu saja, Satya pun kembali mengendrai sepeda motornya. Melalui jalanan menanjak yang berliku. Sinar menari yang keemasan, mengintip di sela-sela dedaunan yang rimbun.
"Ini kan tempatnya?"
Satya menepikan kendaraannya di tepi jalan setapak, tempat dia pertama kali bertemu dengan Laksmi. Kepalanya menengadah, menatap pucuk pohon randu yang menjulang tinggi. Di sebelahnya terdapat batang meranti yang juga tumbuh besar.
__ADS_1
Sebagai ahli kehutanan Satya paham betul, pohon-pohon ini telah hidup di Bumi selama puluhan tahun. Tetapi suasananya tak begitu menyeramkan seperti saat dia datang dulu. Mungkin karena sekarang masih siang hari.
Kratak!
"Ah!" Satya sedikit terkejut, saat kakinya tanpa sengaja menginjak sebuah piring bambu berisi sesajen. Lelaki itu buru-buru mengucap maaf, sambil memperbaiki letak sesajen tersebut.
Memang, dia salah satu orang yang tidak pernah mempercayai dan tidak memberikan sajen pada bangsa jin. Tetapi dia tetap menghormati kepercayaan orang lain.
Namun, seketika tubuh Satya merinding saat melihat banyaknya sesajen di balik batang pohon randu tersebut. Dia juga melihat beberapa gumpalan rambut yang sengaja diletakkan di atas piring, disertai bunga-bunga yang telah mengering.
"I-ini pohon apa?" Satya melangkah mundur dengan hati-hati. Dia takut menginjak sesajen lagi. "Apa ini sebuah pohon tempat ritual masyarakat sini? Tapi biasanya dilakukan di bawah pohon beringin, kan?" gumam Satya ragu.
Lelaki itu mematung di bawah pohon raksasa, dengan puluhan sesajen di bawahnya. Dirinya kembali teringat, dulu pernah membuang hajatnya di sini. Dan di tempat ini pula dia pertama kali bertemu sosok Laksmi, yang ternyata sesosok kuntilanak.
"Apa gara-gara itu, Laksmi jadi mengikutiku terus?" Satya mengusap kedua tangannya yang merinding. Tak berani berlama-lama di sana, dia pun segera memacu kendarannya kembali ke Dusun Wingit.
...***...
"Loh, Satya. Ngapain di sini sendirian?"
Seorang lelaki yang berjalan membawa alat pancing, berhenti dan menyapa Satya yang duduk di warung Mbok Lastri. Pria itu nggak sendirian. Di sebelahnya ada lelaki yang umurnya lebih tua. Sama-sama membawa alat pancing.
"Mas Damar dan Pak Teguh, kan?" balas Satya ragu. Dia masih mengenali sosok petugas ronda yang dia temui dulu, tetapi lupa namanya.
"Iya. Aku Damar. Ngapain di sini, Mas? Kok nggak sama Mbak Laksmi?" tanya lelaki itu lagi. Di menurunkan alat pancingnya, lalu duduk di sebelah Satya.
"Mbak Laksmi?" Batin Satya. Telinganya merasa asing mendengarnya. "Bukankah dia lebih tua dariku? Apalagi jika dibandingkan dengan Laksmi, kan?" Satya tertarik untuk mengorek informasi tentang Laksmi dari lelaki itu.
"Tadinya aku ke sini mau mengunjungi Bapak. Tapi nggak tahunya Bapak malah pergi," kata Satya mencoba bicara santai.
"Loh, memangnya Laksmi ndak cerita? Setiap bulan, terutama malam jumat kliwon, Pak Dukun kan selalu pergi ke suatu tempat," ujar Pak Teguh pula.
__ADS_1
"Hah? Bapak pergi setiap malam jumat kliwon? Mau ngapain?"
(Bersambung)