
"Sebenarnya aku nggak percaya reinkarnasi. Tapi melihat istri Satya yang kadang mirip sekali dengan Kinanti, aku jadi berpikiran ke sana."
Aksa membuka pembicaraan, saat bertemu dengan Genta sesuai janji mereka. Keduanya sengaja mengambil posisi di sudut ruangan, agar tak terganggu dengan hiruk pikuk warung makan yang cukup ramai ini.
"Heh! Mana ada itu," bantah Genta sedikit ngegas. "Aku malah curiga istri si Satya itu memanfaatkan kita untuk mencari keuntungan," ucapnya.
"Mencari keuntungan gimana?" tanya Aksa bingung.
"Ya mungkin dia pakai susuk atau guna-guna, dan kita ini calon tumbalnya. Atau dia tahu masa lalu kita, dan mau mengambil keuntungan dengan memegang kartu as kita," jelas Genta dengan pemikiran logis.
"Kayaknya alasan yang kedua nggak masuk akal, deh. Dia itu bukan berasal dari desa kita. Aku tahu waktu melihat surat pindah yang diurus suaminya," komentar Aksa.
Lelaki itu menjeda kalimatnya untuk menyeka keringat di keningnya. Tangannya membuka kancing-kancing baju dinasnya, dan menyisakan kaos putih di dalamnya.
Beberapa pasang mata perempuan terarah padanya, sambil berbisik-bisik. Ya, di usianya yang memasuki tiga puluh tujuh tahun, Aksa memang terkihat sangat tampan dan atletis.
"Lagian, waktu itu kan nggak ada saksi mata. Kalau pun ada, sekarang kita udah pasti berada di penjara," sambung Aksa setelah suhu badannya mulai stabil.
"Hmm, jadi menurutmu lebih masuk akal yang pertama?" ujar Genta.
Aksa mengangguk, "Menurutku kita butuh orang pintar untuk menerawang perempuan itu. Sekalian minta dikasih penangkal, biar kuntilanak itu nggak bisa ganggu kita lagi. Tapi kenapa dia harus menyerupai Kinanti, ya?" kata Aksa.
Genta tak membalas ucapan rekannya. Matanya menatap ke belakang Aksa sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir, meminta temannya berhenti membicarakan tentang Laksmi.
Aksa mengerti. Dia langsung mengalihkan pembicaraan mereka pada hal lain.
"Mas Aksa, Mas Genta, makan di sini juga?" Satya pun menyapa mereka berdua.
"Loh, Satya? Jauh banget makan siang di sini?" ujar Aksa basa basi.
"Iya nih, Mas. Lagi ada urusan di dekat sini tadi. Mari makan, Mas," balas Satya lagi.
...***...
"Mas, ini udah hampir adzan, loh. Mas nggak siap-siap ke masjid?"
Laksmi mengusap rambut panjangnya yang basah dengan handuk. Tercium harum sampo dari kepalanya. Mata Satya tak henti-hentinya menatap perempuan molek itu dengan seksama.
"Mas? Kok malah diam? Nggak siap-siap ke masjid?" Laksmi mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku capek, Dek. Hari ini sholat magrib di rumah ajalah. Sekalian kita jamaah. Kalau dipikir-pikir, sejak menikah kita belum pernah jamaah, kan? Habis itu kita ngaji bareng," kata Satya sambil mengusap rambut hitam perempuan itu.
Laksmi ternganga mendengar ajakan Satya, "Satya sudah semakin mencurigaiku. Padahal aku harus tetap menjadi istrinya, sampai semua dendamku terbalaskan," pikirnya.
"Ya udah kalau Mas mau sholat di rumah. Tapi aku nggak lancar baca Alquran," kata Laksmi sambil membalikkan badan. Wajahnya yang putih pucat, menyunggingkan seulas senyuman manis.
Kali ini justru Satya yang terperanjat mendengar jawaban sang istri. Padahal dia sudah berpikir, kalau Laksmi bakalan mencari-cari alasan untuk menolaknya.
"Kalau ya udah siap-siap. Ambil wudhu-nya," balas Satya dengan canggung.
"Fyuh! Kalau cuma sholat aku sudah hapal gerakannya. Kan aku gak perlu ikut-ikutan baca. Aku juga sering mendengar Satya mengaji. Setelah itu aku harus cepat-cepat mencari mangsa untuk mengisi energi," ujarnya pada diri sendiri.
Seperti rencana semula, mereka pun sholat magrib berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan mengaji. Meski Laksmi hanya membaca buku Iqro'. Tubuhnya terasa terbakar setiap satu huruf yang dia ucapkan. Laksmi tak tahu, jika Satya diam-diam memasang kamera tersembunyi, untuk merekam aktivitas mereka.
"Makan, yuk," ajak Aksa setelah selesai mengaji.
Laksmi meringis kesakitan, saat kulit Satya menyentuhnya ketika mereka bersalaman. Energinya benar-benar terkuras karena terpaksa mengikuti pria itu beribadah.
"Nanti aku menyusul, Mas. Aku mau ke kamar mandi dulu," kata Laksmi menepuk-nepuk perutnya.
"Oh, ya udah. Nanti kita bareng-bareng aja. Kayaknya bapak sama ibu juga masih mengaji," ucapnya.
...***...
"Ada apa itu ribut-ribut di belakang?"
Aruna yang baru selesai sholat magrib buru-buru membuka mukenanya, lalu berlari-lari ke dapur. Dia bergegas membuka pintu dapur dan melihat kandang ayamnya. Perempuan itu tak menemukan apa pun. Tidak ada pencuri, tidak ada ular dan musang juga yang biasa memakan hewan ternaknya. Tapi kenapa ayam-ayamnya masih pada ribut?
"Apa jangan-jangan malingnya sudah kabur duluan?" pikir Aruna curiga.
Dia menyalakan senter dan melihat ke sekeliling kandang ayamnya. Tangan kanannya memegang sebuah belati untuk berjaga-jaga. Kedua matanya terbelalak saat melihat bulu ayam berserakan di salah satu sudut kandang bagian dalam.
"Aneh, seperti habis di makan musang. Tapi gak ada lubang dan pintu yang terbuka?"
Ekor mata Aruna mengikuti tetesan darah, yang turun dari pohon jengkol di sampingnya. Tenggorokannya mendadak tercekat, ketika dia ingin berteriak. Aruna hanya bisa terdiam sambil perlahan mundur.
"Kamu mau?"
Napas Aruna serasa terhenti, ketika sosok berbaju putih yang duduk di atas pohon itu memanjangkan tangannya. Ia memberikan segumpal daging ayam mentah yang masih berlumuran darah. Perutnya mendadak mual.
__ADS_1
Perempuan berwajah pucat itu melayang ke bawah. Dia terus maju mendekati Aruna. Tangannya terlihat begitu ringan terulur ingin memberikan potongan hati ayam ke mulut Aruna.
Jangankan untuk memakannya, mencium aromanya saja isi perut Aruna hampir keluar semua. Bayangan daging mentah itu masuk kerongkongan teramatlah mengerikan. Apalagi yang menawarkannya adalah makhluk berambut panjang, dan memiliki tubuh hampir setinggi atap rumahnya.
"Pergi! Tinggalkan aku!" jerit Aruna ketika suaranya telah keluar. Kakinya tak mampu bergerak satu sentimeter pun menjauhi sosok itu.
"Hihihihi..."
Hanya suara tawa yang melengking sebagai balasan ucapan Aruna tadi. Aroma tubuhnya kian mengeluarkan bau kemenyan berbaur bau bangkai yang pekat. Wujudnya yang tadi samar, kini terlihat semakin jelas.
"Hihihihi... Ini untukmu Aruna..."
Sosok itu kembali terkikik, sambil membawa bangkai ayam di tangan kirinya. Kakinya yang tanpa alas kaki, menginjak ke permukaan tanah. Tetapi Aruna yakin, itu hanyalah ilusi semata.
"Sialan! Kenapa aku gak bisa lari dari sini, sih?" Seluruh tubuhnya yang gemetar hebat, membuat kekuatannya terkuras dengan cepat.
"Aruna... Antarkan aku pulang Aruna... Hihihi..."
"Kyaaaa!"
Aruna akhirnya sempat berteriak, sebelum kakinya tergelincir dan terjatuh di pinggir kandang ayam. Sosok itu memanjangkan tangannya hingga beberapa hasta, dan ingin mencekiknya. Tetapi kemudian ia urungkan, ketika mendengar banyak langkah kaki menuju ke belakang rumah Aruna.
"Ibu... Ibu kenapa?"
Farras berlari mendekati Aruna. Bocah lelaki itu baru saja pulang dari masjid dan mendengar teriakan ibunya dari belakang rumah. Ternyata dia nggak sendirian. Ada beberapa warga lain yang mengikutinya.
"Farras. Syukurlah kamu datang. Ibu takut sekali." Aruna berdiri dibantu oleh puteranya.
"Kamu nggak apa-apa, Aruna?" tanya salah seorang pria yang seumuran Bu Tuti.
"A-aku tadi lihat..."
"Kuntilanak! I-itu kuntilanak, kan?" seorang pemuda menunjuk-nunjuk ke atas, ke arah sesosok makhluk berbaju putih yang terbang ke atas pohon sengon.
"I-iya. Itu kuntilanak yang tadi aku lihat," kata Aruna dengan tubuh lemas.
"Astaghfirullah? Itu beneran? Sejak kapan desa kita diteror kuntilanak?" kata para Bapak-bapak itu.
(Bersambung)
__ADS_1