Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 30. Teror Desa Sebelah


__ADS_3

"Kinan, kamu udah ngerjain PR fisika?"


Seorang dara manis dengan pita merah di rambutnya, menyerbu Kinanti yang baru memasuki kelas. Dia lalu menggandeng lengan Kinanti dengan akrab.


"Hm, kenapa kamu tanya gitu? Mau nyontek PR-ku lagi, kan?" ucap Kinanti seraya tertawa kecil.


"Iiih, kamu tahu banget, deh. Boleh, ya," rayu dara manis tadi.


"Percuma aja kamu nyontek sama aku, Ran. Bu Asih pasti tahu. Ntar kena hukum lagi, lho," sahut Kinanti seraya meletakkan tas sekolahnya di laci meja.


"Kali ini aku nggak bakalan nyalin sama persis kayak punyamu, kok." Bola mata Rani menatap Kinanti penuh harap.


"Tetap nggak. Nanti kamu sendiri yang sudah waktu ujian, kalau nyontek terus," tolak Kinanti dengan tegas.


"Ayo, dong. Nanti aku traktir soto ceker di kantin, deh," bujuk Rani dengan wajah semakin memelas. Tinggal lima belas menit lagi bel masuk berbunyi.


"Kamu pikir aku bakalan luluh dengan traktiran begitu?" ujar Kinanti sambil tersenyum tipis.


"Nggak, sih. Tapi kamu pasti lebih nggak tega lagi, kalau temanmu yang cantik ini di hukum sikat WC, kan?" balas Rani.


"Haaah, ya udah deh. Tapi janji, pas ujian jangan nyontek lagi, ya," kata Kinan pasrah.


Siswi yang langganan juara satu di kelas itu memang selalu langganan jadi tempat bergantung teman-temannya saat ada PR. Kendati demikian, tetap nggak belum ada yang bisa mengalahkan nilainya di kelas. Hanya ada seorang pria dari kelas sebelah yang mampu mengalahkan nilai Kinanti, yakni Aksa Sakuntala.


"Iya, iya. Aku janji bakal belajar sendiri untuk ujian nanti," ucap Rani tersenyum senang.


"Oh iya, Kin. Namamu kok belum ada di daftar study tour ke Parangtritis? Kamu belum bayar?" celoteh Rani sambil menyalin PR.


"Aku memang gak ikut, Ran," jawab Kinanti.


"Loh, kenapa? Tahun depan kita udah kelas tiga, lho. Sibuk ujian gak bisa jalan-jalan lagi." Rani berhenti menulis, dan menatap wajah Kinanti lekat-lekat.


"Uangku nggak cukup untuk biaya study tour, Ran," jawab Kinanti sambil tersenyum masam. "Untuk bayar uang sekolah aja Bapak sama Ibuku harus mencangkul ladang orang dari subuh sampai magrib," lanjut dara jelita itu.


"Yah, terus nanti di bus aku duduk sama siapa?" ucap Rani dengan wajah manyun. Tetapi melihat wajah Kinanti yang semakin mendung, dia lantas tak tega bercerita rencana perjalanan mereka. "Kamu nanti mau aku bawain oleh-oleh apa dari sana?" bisik Rani.


"Ah, ndak usah. Kata Bapakku, lebaran nanti kami juga bakalan ke pantai, kok. Sambil mengunjungi Pakde dan Budeku di Wonogiri," balas Kinanti berusaha melukis senyum di wajahnya. "Ya walaupun pantainya mungkin nggak seindah parangtritis," imbuhnya sambil terkekeh.


"Hmm... Ya udah, deh. Tapi nanti kalau aku bawain oleh-oleh, kamu nggak nolak, kan?" kata Rani sambil menulis.


Drrrttt! Dering HP di atas meja, membuat lamunan masa lalu Rani buyar. Dia melihat sebuah nama muncul di layar HP-nya. Aksa meneleponnya minta dibukakan pintu. Sontak dia berlari menuju pintu.

__ADS_1


"Gimana, Mas?" tanya Rani setelah Aksa masuk ke dalam rumah.


"Udah aman. Tiang jembatannya emang nggak kokoh lagi, karena tergerus erosi. Maklum, jembatan tua," ujar Aksa.


"Terus Pak Kusno?"


"Ya kebetulan saat itu Pak Kusno sedang lewat sana. Sempat dibawa ke rumah sakit, tapi gak selamat," ungkap pria itu setelah menyesap segelas air putih, yang disiapkan Rani.


"Jadi kita nggak bisa keluar desa dong, sampai jembatannya diperbaiki?" kata Rani dengan wajah murung.


"Ya untuk sementara waktu, kita harus lewat jalan memutar di desa sebelah, atau kuburan keramat itu," jelas Aksa.


"Dua-duanya gak ada yang enak. Kuburan keramat itu terkenal angker walaupun siang hari. Sedangkan jalan desa sebelah jelek banget. Bisa-bisa mobil kita nyangkut. Mana jauh banget lagi muternya," ucap Rani dengan lirih.


"Memangnya kamu mau ke mana to, Dek? Kan anak-anak lagi liburan sekolah. Di sini aja dulu, sampai liburannya selesai," pinta Aksa.


"Duh, nggak mau," sanggah Rani dengan cepat.


"Kenapa nggak?"


"Mas yang harus duluan cerita, kenapa aku nggak boleh buka pintu sama sekali?" desak Rani.


"Ya itu biar nggak ada orang jahat yang mengganggu kita, Dek," balas Aksa.


Mata Aksa terbelalak setelah mendengar ucapan Rani barusan. "Apa maksudmu? Kamu udah melihatnya juga? Arwah perempuan itu?"


"Jadi benar dugaanku. Mas juga udah melihatnya. Ia bukan cuma lihat, tetapi anak kita hampir dibawa sama dia," ungkap Rani dengan mata berkaca-kaca.


Tubuhnya bergetar hebat. Dia masih mengingat dengan jelas, perasaan takut dan panik saat melihat putri bungsunya diganggu makhluk halus itu.


"Apa kamu bilang? Dasar perempuan keparat! Udah menghilang dari muka bumi aja masih nyusahin," umpat Aksa.


"Astaga! Jangan bilang gitu, Mas. Itu pasti cuma jin yang menyerupainya," kata Rani menenangkan suaminya.


"Tapi tetap aja aku nggak suka. Kenapa dia datang mengganggu kita? Memangnya apa salah kita?" Aksa mendengus kesal.


Rani hanya termenung sambil menatap mata cokelat suaminya. Kedua tangannya lantas memeluk sang suami untuk meredakan emosinya.


"Mas pasti lagi banyak pikiran. Maaf aku malah menambah masalah. Ini bukan apa-apa, kok," kata Rani setelah hembusan napas suaminya kembali normal.


"Iya, gak apa-apa. Mendengar Anak kita diganggu sosok itu Mas sedikit khawatir. Karena baru saja desa sebelah heboh, katanya ada seorang bayi yang baru lahir, meninggal mengenaskan."

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim." Rani bergidik ngeri.


...***...


"Piye iki?" Seorang mahasiswa dengan tas gunung di punggungnya, celingak celinguk ke sekelilingnya dengan wajah gelisah. -Gimana ini?-


"Dih, dasar anak mama, Lo. Gak usah nangis lah, tapi baca doa," seru teman sebelahnya. Napasnya tersengal, karena sudah berputar di tempat yang sama beberapa kali.


"Ya Allah, lindungilah kami dari segala hal buruk," doa Ipung.


"Aamiin."


"Lindungah kami dari gangguan setan, memedi, dedemit dan kawan-kawan yang suka ngutang."


"Aaa ... Eh? Ngaco, Lo. Doanya yang bener, dong," protes Dzaki si rambut cepak.


"Ya habisnya aku putus asa, Ki. Kita ini mau ke mana coba?" ujar Ipung dengan kaki bergetar hebat.


Srak! Terdengar suara dedaunan seperti diinjak. Dzaki dan Ipung menoleh ke arah asal suara sembari menajamkan telinga.


Srak! Tidak salah lagi, itu suara langkah kaki. Keduanya bernapas lega, saat melihat seseorang berdiri di bawah pohon, mendekati mereka.


Sedetik kemudian senyum Dzaki langsung memudar. Dia merasa aneh dengan orang itu. Tubuhnya begitu kaku dan sangat tegap. Desau dedaunan itu juga hanya terdengar sesekali. Tidak berisik seperti orang berjalan di atasnya.


"Pung, ayo lari," bisik Dzaki sambil mundur perlahan.


"Ayo," balas Ipung pula.


Dalam waktu yang sama, mereka pun berlari meninggalkan tempat itu. Tapi kok ada yang aneh?


"Lah, dasar Ipung begooook. Kenapa dia malah lari mendekat ke sana?"


Dzaki yang nemutar tubuhnya ke belakang, tak mendapati temannya mengikutinya berlari. Ternyata pemuda bertubuh kurus kering itu salah paham atas ucapan temannya tadi.


"Ki ... Dzaki. I-ini bukan bukan orang," ucap Ipung sambil beringsut ke belakang. Celananya tampak basah kuyup.


"Ya emang bukan, makanya gue ngajak Lo lari," seru Dzaki yang berlari semakin jauh.


"Ki... Tu-tungguin. Kakiku berat iki..."


Suara Ipung semakin parau, saat sosok berbalut kain putih di seluruh tubuhnya dan dua bola kapas menyumpal hidungnya itu semakin mendekatinya. Aroma bangkai yang menyengat pun menusuk ke hidung.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2