Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 32. Doppelganger


__ADS_3

Bam! Jantung Rani hampir jatuh, ketika mendengar suara pintu dibanting keras diiringi langkah kaki kasar. Dia langsung menyusul suaminya yang masuk ke kamar.


"Loh, tumben udah pulang, Mas?" ucap Rani.


Dia terheran-heran melihat Aksa masih mengenakan sepatu di dalam rumah. Padahal pria yang dikenalnya sejak SMA ini terkenal rapi dan bersih. Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, Aksa malah membuang napas dengan kasar lalu masuk ke dalam kamar mandi, masih dengan sepatu di kakinya.


"Aneh banget? Apa dia lagi kebelet?" Rani bergumam pelan, sambil berjalan kembali ke dapur.


Belum sempat melanjutan aktivitasnya, perhatian Rani kembali terusik oleh dering HP-nya. Matanya terbelalak saat melihat nama yang muncul di sana.


"Halo, Mas. Ngapain kamu nelpon aku?" Rani berjalan kembali ke kamar.


"Dek, tolong buka lemari dokumen di ruang kerjaku, ya. Carikan map hitam tebal," ucap Aksa di seberang sana.


"Hah? Dokumen? Ya tinggal ambil sendiri aja. Aku lagi masak," protes Rani.


"Aku masih rapat di kecamatan, Dek. Tolong ambilkan dokumennya, terus fotoin ke aku," pinta Aksa.


"I-ini beneran kamu, Mas?" Rani nenghentikan langkah kakinya, tepat di depan pintu kamar. Suara air dari dalam kamar mandi, terdengar nyaring hingga keluar.


"Ya iyalah. Memangnya kamu pikir siapa? Ayo cepetan cari. Ini berkasnya lagi dibutuhkan. Aku ..."


"Tunggu dulu, Mas. Jangan bercanda. Kalau ini kamu, terus yang masuk kamar mandi tadi siapa?"


"Hah? Kamar mandi? Aku lagi di kantor camat ini. Mana sempat pulang, makanya tolong cariin berkas itu."


"Mas, aku serius. Kamu nggak lagi nge-prank aku, kan? Barusan kamu pulang. Terus masuk kamar mandi. Ku kira kamu lagi sakit perut terus kebelet."


"Astaga! Itu bukan aku."


"Te-terus, ini gimana?" Lutut Rani merasa lemas tak berdaya. Pikirannya berkecamuk, siapa yang barusan pulang san menyerupai suaminya?


"Kamu tenang, ya. Kamu bawa anak-anak, lalu keluar pelan-pelan. Terus kunci pintu dari luar. Teleponnya jangan ditutup." Aksa yang meminta Rani tak panik, dia sendiri justru lebih panik.


"I-iya, Mas."


Rani lalu berlari menuju kamar anak-anaknya, dan menyeret mereka keluar rumah.


"Mama, film kartunku belum selesai," jerit Nada. Bocah lima tahun itu menolak untuk keluar dari kamarnya.


"Diam, Nak. Kita harus keluar sekarang." Tak peduli Nada yang berteriak menangis, Rani terus memaksa kedua anaknya untuk keluar rumah.


Najla yang sudah berumur tujuh tahun tak banyak protes, dan mengikuti perintah sang mama. Dia seperti memahami wajah panik mamanya, meski tidak tahu apa yang terjadi. Namun, baru saja sampai di ruang tamu, terdengar pintu kamar mandi terbuka.

__ADS_1


"Ya ampun, Mas. Dia keluar." Bisik Rani.


Entah Aksa mendengar suaranya atau tidak, karena HP-nya dia masukkan ke dalam saku celana. Kedua kakinya sudah lemas.


Pria yang menyerupai Aksa itu melangkah keluar kamar, dan mendapati Rani yang masih berada di ruang tamu. Najla meremas ujung daster Rani dan berlindung di balik tubuh ibunya.


"Papa..." Seru Nada hendak berlari ke hadapan pria tampan itu.


"Nada! Dia bukan papamu!" Tanpa sadar Rani kembali membentak putri bungsunya.


"Apa kamu bilang?" Lelaki bersuara berat itu menoleh ke arah Rani.


Langkah kaki Rani mendadak terseok-seok. Hatinya mengumpat kesal, di saat begini dia justru semakin lemah.


"Aaaa....!" Rani menjerit sekuat-kuatnya, saat melihat sosok berbaju batik itu.


"Mama, jangan mati." Si bungsu berteriak sambil menangis.


"Ayo, Nada." Najla menarik lengan sang adik, dan berlari ke rumah tetangga untuk mencari bantuan.


...***...


"Di mana bojoku, Mbok?"


"Di dalam, Nak. Masih sama Bu Perawat," sahut Mbok Minah sembari menunjuk ke ruang perawatan di puskesmas desa tersebut.


"Suwun, Mbok." Tanpa membuang waktu, Aksa langsung menemui Rani yang terbaring lemah di atas dipan.


"Mas," gumam Rani lemah, saat melihat suaminya datang.


"Gimana keadaanmu, sayang? Mana anak-anak?" Manik mata pria itu menelisik sudut ruangan berbau karbol itu untuk menemukan kedua buah hatinya.


"Aku nggak apa-apa. Anak-anak ada di ruang bermain, bersama menantu Mbok Minah," ucap Rani dengan lirih.


"Beneran istri saya nggak apa-apa, Bu?" Aksa melempar pertanyaan kepada perawat yang menjaga Rani.


"Iya, Pak Kades. Tadi dia cuma darah rendah dan sudah diberi obat. Mungkin dia kecapekan, cuma butuh istirahat. Bu Rani sudah bisa pulang kok, Pak," jawab perawat tersebut.


"Oh, terima kasih, Bu," balas Aksa.


Tak mau mengganggu momen pasangan itu, sang perawat pun bergegas keluar ruangan dan meninggalkan Aksa serta Rani berduaan.


"Aku nggak mau pulang ke rumah, Mas," ucap Rani dengan cepat.

__ADS_1


"Loh, kenapa? Memangnya apa yang terjadi di rumah tadi?" selidik Aksa penasaran.


"Makhluk itu menyerupaimu, Mas. Dia mirip sekali denganmu. Hanya sikapnya saja yang berbeda," ungkap Rani sembari terisak. Tubuhnya kembali bergetar hebat.


"Makhluk apa?" Aksa memeluk istrinya dengan erat.


"Aku nggak tahu. Wujudnya sangat mirip denganmu. Kecuali lehernya yang bisa berputar tiga ratus enam puluh derajat dan tubuhnya yang penuh bercak darah. Suaranya juga sangat berat," jelas Rani.


"Hah?" Jantung Aksa berdegup kencang, saat mendengar kalimat istrinya.


"Ah, awalnya kulitnya seperti manusia. Tapi lama-lama berbulu lebat seperti... Genderuwo," kata Rani menambahkan.


"Pokoknya aku nggak mau pulang ke rumah itu lagi. Aku mau pulang ke kota aja," desak Rani. Wajahnya terlihat sangat tertekan dan ketakutan.


"Iya, iya. Besok aku antar kamu ke kota," ujar Aksa.


"Nggak, jangan besok. Hari ini juga aku mau pulang, Mas. Rumah itu serem. Angker."


"Tapi kita harus lewat jalan memutar, Dek. Jalannya jelek dan lebih jauh. Kasihan anak-anak kalau dibawa lewat situ sore-sore," ujar Aksa berusaha memberi pengertian pada istrinya.


"Terus kamu mau aku ketakutan sepanjang malam di rumah itu? Nggak, aku nggak mau," ucapnya.


Aksa menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Aku nggak ke mana-mana lagi kok, Dek. Rapat di kecamatan sudah diwakilkan," ucap Aksa dengan sabar. "Besok pagi-pagi aku antar kamu pulang ke kota," bujuknya.


Rani tetap menggeleng. Bibirnya maju beberapa sentimeter ke depan. Matanya berputar ke arah lain sambil mendengus kesal.


"Kalau nggak, kita menginap di rumah orang tuaku saja sampai liburan selesai."


"Di rumah kosong itu? Nggak mau."


"Rumahnya kan selalu dibersihkan Mbok Sarmi, sayang. Nggak seram, kok," bujuk Aksa.


"Pokoknya aku mau pulang. Titik."


"Ya sudah, nanti aku antar kalian ke kota. Tapi kita tetap harus pulang dulu, mengambil barang-barang," ucap Aksa mengalah.


"Mas, coba jujur padaku. Kenapa rumah kita jadi diganggu makhluk halus begini? Apa yang sudah kamu lakukan?"


Aksa hanya menggelengkan kepalanya. Jangankan Rani, dia sendiri pun bertanya-apa, kenapa belakangan ini mereka selalu diteror.


"Siapa perempuan bernama Laksmi itu? Kenapa sejak ketemu dia, hidupku jadi berubah?" gumam Aksa pada dirinya sendiri.


"Ha? Siapa? Perempuan mana?" Rani semakin berang, mendengar Aksa menyebut perempuan lain.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2