
"Tari?"
Tiba-tiba pundak Tari ditepuk dari belakang oleh jemari penuh luka dan darah. Kukunya terlihat membiru, bagaikan kuku mayat.
"Eh! Astaghfirullahaladzim!" Tari melonjak kaget, sambil memutar badannya.
"Ini ada kue untuk di perjalanan." Laksmi menyerahkan sebungkus kue pada Tari, sembari tersenyum manis.
"Loh, Mbak Laksmi yang menepuk pundakku? Kok tangannya tadi berdarah?" Tari memutar manik matanya, melihat jemari Laksmi yang sedang memegang bungkusan kue.
"Dek? Kenapa?" tanya Laksmi bingung.
"Tari! Kenapa, sih?" Karena Tari bengong, akhirnya Ndaru yang menerima bingkisan itu. "Suwun, Mbak," ucapnya. -Terima kasih.-
Tari yang baru tersadar dari lamunannya hanya meringis malu, sambil mengucapkan terima kasih.
"Tangannya nggak berdarah. Terus yang aku lihat tadi apa? Terus, Mbak Laksmi nggak dengar omonganku dengan Mas Ndaru tadi, kan?" pikir Tari gelisah.
Ekor matanya terus memandang calon kakak iparnya yang berjalan memunggunginya. Tak terlihat keanehan dari dara dua puluh tujuh tahun tersebut, selain kulit pucatnya bagaikan vampir. Tapi entah kenapa, Tari selalu merinding berada di dekatnya. Terlebih aroma melati itu masih tercium olehnya.
"Ada yang mau ditanyain, Tari?" Laksmi mendadak menoleh ke belakang dan melontarkan pertanyaan pada adik bungsu Satya tersebut.
"Nggak ada kok, Mbak. Makasih kuenya," jawab Tari asal. Jantungnya hampir saja copot, karena pertanyaan yang sangat tiba-tiba itu.
"Kok Mbak Laksmi tahu aku sedang memperhatikannya? Padahal jarak kami udah cukup jauh. Gak ada kaca dan cermin juga yang bisa memantulkan bayangan," pikir Tari semakin curiga. Kaki gadis SMA itu bahkan sampai menggigil lemas.
Untunglah, setelah itu mereka pun bertolak meninggalkan Dusun Wingit yang penuh misteri.
Sementara itu di dalam rumah, Pak Dukun terduduk di lantai. Punggungnya tersandar di dinding batu bata rumahnya yang tanpa plester itu. Kepala dan tangannya terkulai, bagaikan orang pingsan.
Bugh! Sesuatu berwarna hitam legam, keluar dari tubuh pria enam puluh tahun itu. Beberapa saat kemudian, kelopak mata Pak Dukun kembali terbuka. Dia mengerutkan keningnya seraya menatap sekeliling, mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Dasar kuntilanak sialan! Berani-beraninya kamu!" seru Pak Dukun marah.
"Hihihihihihi ..." Sesosok makhluk dengan baju hijau toska terkikik dan melayang di depan Pak Dukun. "Anakmu .. Ingat rahasia anakmu, Pak Dukun. Ikuti saja keinginanku. Hihihihi ...
Jantung Pak Dukun hampir melompat keluar, melihat sosok wajah penuh darah dan belatung di hadapannya itu. Tapi dia berusaha kuat, untuk menyelesaikan masalah ini.
"Aku memang tak ingat apapun, Kunti. Tapi aku tak akan membiarkanmu menikahi pria tak bersalah itu," teriak Pak Dukun.
"Kamu tak bisa menghalangi rencanaku, Pak. Aku akan mendapatkan lelaki itu, lalu membalaskan dendamku."
Sosok itu mendekatkan wajahnya pada Pak Dukun. Aroma bangkai yang menyengat pun menyeruak ke rongga hidung Pak Dukun, membuat perut lelaki itu mendadak mual.
"Lagipula aku tak sendirian. Ada mereka yang membantuku. Hihihihi..."
__ADS_1
Kali ini tubuh Pak Dukun mengejang hebat, tatkala makhluk hitam berbulu setinggi rumahnya berdiri tegak memamerkan sepasang taringnya. Di belakang makhluk itu, terdapat buntalan kain kafan lusuh yang penuh belatung. Ia melompat-lompat ke depan, mendekati pria itu.
"Pak Dukun, aku mau jantungmu. Kikikikikk." Sesosok makhluk berbaju putih mirip kuntilanak, melayang turun di samping Pak Dukun. Punggungnya yang bolong, mengucurkan darah segar ke lantai.
"A-ada berapa banyak makhluk di sini?" gumam Pak Dukun.
Bruk! Pak Dukun akhirnya pingsan. Tak sanggup melihat pemandangan mengerikan itu.
...***...
Beberapa minggu kemudian.
"Jadi kamu mau menikah dengan anak Pak Dukun?"
"Iya benar, Pak," jawab Satya yang tengah membagikan undangan pada warga yang berkumpul di warung kopi.
"Apa kamu sudah tahu kondisi anaknya? Jangan kaget pas nanti udah menikah," tanya Pak Waluyo, petugas ronda yang kala itu pernah bertemu Satya dan rekannya.
"Maksudnya Laksmi yang mengidap penyakit langka? Insyaallah saya menerima dia apa adanya," jawab Satya sambil tersenyum manis.
Para penduduk asli Dusun Wingit itu saling berpandangan, lalu bergumam dalam hati. "Apa dia nggak tahu, kalau sebenarnya Laksmi itu ..."
"Oh, acaranya di kota, ya?" tanya Mbok Lastri, ibu pemilik warung.
"Iya, Bu. Laksmi katanya jarang keluar rumah, jadi dia pengen acaranya di kota. Cuma halaman gedung biasa kok, Bu. Nggak mewah," jelas Satya.
"Nggak apa-apa, Bu. Yang penting doanya," balas Satya sambil tersenyum.
Mbok Lastri yang semula sibuk mengelap meja sambil mengobrol, langsung menghentikan gerakannya. Dia terpana dengan ketampanan dan ramah tamah pemuda dua puluh sembilan tahun itu.
"Kalau gitu hitung semua minum dan makanan saya, Bu. Sekalian sama punya Bapak-bapak di sini," kata Satya.
"Loh, beneran ditraktir iki? Pesenan kami banyak, lho" seru Pak Rahmat dan bapak-bapak lainnya.
"Iya, Pak. Sesekali ini kok, mumpung saya ada rezeki. Besok setelah menikah kan saya bakal jadi warga sini juga," kata Satya.
"Totalnya empat puluh tujuh ribu," ucap Mbok Lastri setelah menghitung semua pesanan.
"Ini, Bu. Kembaliannya ambil aja." Satya memberikan uang senilai lima puluh ribu pada ibu warung. "Kalau gitu saya permisi dulu, Pak, Bu."
"Nggeh, matur nuwun," balas Mbok Lastri.
"Terima kasih ya, udah ditraktirin," balas Bapak-bapak itu dengan sumringah.
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumussalam."
"Heh, kok nggak ada yang berani ngomong sama dia? Kasihan, kan? Cakep gitu, lho. Baik lagi," tegur Mbok Lastri saat Satya telah pergi.
"Ya sungkan to, Mbok. Mungkin aja Pak Dukun udah ngasih tahu keadaan anaknya, tapi dia tetap mau nerima. Kita kan nggak ada yang tahu," kata Pak Waluyo sembari menyeruput kopi aren gratisnya.
"Ya Mbok tadi juga nggak berani ngomong, to? Sama aja kayak kami," ujar Pak Rahmat menimpali.
"Yo ndak mungkin aku yang ngasih tahu, ntar dibilang keganjenan sama calon suami orang. Aku kan janda," balas Mbok Lastri seraya mengumpulkan gelas-gelas yang sudah kosong.
"Healaah, Mbok. Mana mungkin Satya mikir gitu. Mbok iki wes tuek, mana gelem Satya karo Si Mbok," celetuk Pak Waluyo. -Ibu ini udah tua, mana mau Satya sama Ibu.-
"Heee, ojo sepelein aku, yo. Gini-gini waktu gadis aku iki kembang desa, lho. Almarhum bojoku sampe ra iso turu mikirin aku sebelum kawinan," balas Mbok Lastri sambil berkecak pinggang. -Almarhum suamiku sampai nggak bisa tidur mikirin aku, waktu sebelum nikah.-
"Kembang desa opo kue kembang loyang, Mbok?" ucap Pak Damar sambil tertawa kecil.
"Eh, tapi kalian ngerasa ndak, sih? Teror hantu di dusin kita udah ndak ada lagi," kata Mbok Lastri setengah berbisik.
"Iya, Mbok. Sekarang warga udah pada berani ke masjid dan mushola lagi sholat isya," kata Pak Rahmat.
"Ini aneh gak sih? Kalau dulu kan udah ada korban dulu, baru terornya berhenti," ujar Pak Waluyo menimpali.
"Apa jangan-jangan udah ada korbannya? Tapi kita yang gak tahu. Kata Pak Dukun waktu itu, yang di incer sama makhluk itu orang luar dusun, kan?" tambah Pak Damar pula.
"Astaghfirullah! Apa jangan-jangan si Satya?" tebak Mbok Lastri.
"Mana mungkin, Mbok. Satya kan mau menikahi Laksmi. Bukan Kuntilanak," bantah Pak Waluyo.
"Mbok ... Mbok ..."
"Astaghfirullah!" Mbok Lastri terlonjak kaget, melihat seorang wanita berpakaian serba putih, yang tiba-tiba berdiri di samping pintu warungnya. "Ada apa, Nduk?" ucapnya kemudian.
"Bakwannya masih ada, Bu? Saya mau beli sepuluh," ucap dara manis itu.
"Ada nih, sebentar ya." Mbok Lastri lantas membungkus bakwan yang masih panas. "Delapan ribu, Nduk," ucapnya kemudian.
"Siapa itu, Mbok? Cakep banget. Bukan orang sini, kan?" tanya Pak Damar.
"Ndak tahu saya, baru lihat juga," ucap Mbok Lastri.
Mereka semua menatap dara ayu yang berjalan menjauhi warung. Wajahnya sedikit terlihat dari samping. Kepangan rambutnya sangat khas, baju putihnya pun demikian.
Mbok Lastri dan para Bapak-bapak di sana lalu saling berpandangan, dan memiliki pertanyaan yang sama. "Bukannya itu anak Pak Dukun? Kok dia tumben keluar rumah?"
"Iya ya, Mbok. Rasanya udah belasan tahun dia nggak pernah tegur sapa sama warga sini? Wajahnya juga... Kok nggak tambah tua?"
__ADS_1
(Bersambung)