Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 73. Bertemu Laksmi yang Asli


__ADS_3

"Mas, Mbak Aruna meninggal." Pagi ini Tari memberikan kabar duka, bahkan sebelum masjid mengumumkannya.


"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Meninggal karena apa, Dek? Jam berapa?" tanya Endaru dan Satya.


"Sekitar jam enam tadi, Mas. Katanya Mbak Aruna meninggal karena terjatuh di kamar mandi. Apa ini karena sumpah pocong yang di lakukan kemarin sore, ya?" cerita Tari.


"Astaghfirullahaladzim," ucap semua orang di rumah itu.


"Ternyata Aruna nekat melakukan sumpah pocong?" kata Bu Kesha.


"Iya, Bu. Tapi Mbak Aruna nggak mengaku, kalau dia telah membunuh Kinanti," ujar Endaru yang kebetulan kemarin melihat prosesinya.


"Kita nggak tahu yang sebenarnya terjadi, bisa aja Aruna memang tidak membunuh, tapi salah satu saksi. Jadi ikut terseret. Wallahualam," ujar Pak Darya menimpali.


"Ya mungkin aja begitu," gumam Bu Kesha pula.


Satya termenung, "Apa benar Mbak Aruna hanya saksi mata? Tapi kenapa Kinanti semarah itu padanya?" gumam Satya curiga.


"Tapi sejak kemarin Mbak Aruna mengigau terus. Dia bilang Kinanti minta dijemput, karena Mbak Aruna yang membawanya ke tepi danau," ungkap Tari.


"Astaghfirullahaladzim. Sebenarnya apa yang terjadi kok sampai seperti itu?" gumam Bu Kesha merasa ngeri.


"Sekarang ini yang terguncang bukan cuma Bu Tuti, tapi Pak Diman dan Bu Nastiti juga. Karena nama putrinya kembali disebut-sebut," ujar Pak Darya.


Sayup-sayup terdengar kabar dari masjid, yang mengumumkan bahwa Aruna telah meninggal. Suasana semakin mencekam. Kinanti juga tak ada muncul lagi sejak tadi malam.


Tling! Sebuah notifikasi masuk ke dalam HP Pak Darya. "Astaghfirullah," seru pria itu saat membaca isi pesannya.


"Ada apa lagi, Pak?" tanya Bu Nastiti semakin merinding.


"Aksa dilarikan ke rumah sakit, dalam keadaan kritis. Katanya Rani yang memukulnya dengan besi."


"Ya Allah, ternyata Kinanti juga sudah membalaskan dendam pada mereka," gumam Satya.


"Loh, mereka juga terlibat dalam kasus Kinanti?" Semua orang di sana terkejut dengan fakta itu.


Satya pun mengangguk, "Pak, Bu, setelah takziah nanti aku izin pergi ke Dusun Wingit, ya. Endaru ikut bareng aku," kata Satya.


"Loh, ada apa? Kenapa mendadak?" tanya Bu Kesha.


"Pembalasan dendam Kinanti ini nggak boleh berlanjut terus. Kita harus cari solusinya, sebelum pelaku lainnya menjadi korban. Barangkali ayah mertuaku bisa membantu cari jalan keluarnya," jawab Satya.

__ADS_1


"Ah, benar juga. Yang pertama kali bertemu Mbak Laksmi, ah maksudku Kinanti 'kan Pak Dukun, ya. Lagian aku juga penasaran sama Mbak Laksmi yang asli," kata Endaru bersemangat.


"Ya udah kalau gitu. Kalian pinjam mobil Agus aja, nanti Bapak yang bayar sewa dan bbm-nya. Jangan pakai motor," ujar Pak Darya memberi dukungan.


...***...


Kluk!


"Berhasil."


Satya tersenyum senang, saat pintu rumah itu berhasil dibuka, menggunakan beberapa peralatan. Maklum, dia tak punya kunci rumah Pak Dukun. Sang pemilik rumah juga tak pernah ada di tempat, ketika Satya datang ke rumahnya.


Tapi kali ini Satya nggak datang sendirian. Dia bersama Endaru dan Hadyan, serta Pak Damar sebagai perwakilan warga setempat.


"Assalamualaikum, Pak," ucap Satya, meski dia tahu tidak ada orang di dalam. Kata bapak-bapak di sana, belakangan ini Pak Dukun sering keluar rumah selama seharian. Dia juga jarang pergi ke kebun.


"Mas yakin mau masuk?" Ndaru menahan tubuh Satya, yang hendak melangkahkan kaki ke dalam rumah.


Satya mengangguk dengan yakin, "Secara hukum, ini kan rumah mertua Mas. Lagian cuma mau memeriksa kamar Laksmi, kok. Mana tahu di sana ada petunjuk," kata Satya.


"Yaudah, kalau gitu kami tunggu di sini aja," kata Ndaru sambil menunjuk ke teras rumah.


"Oke."


Satya menekan knop pintu dan mendorongnya sepelan mungkin. Bisa kacau juga kalau Laksmi berada di dalam, dan terkejut dengan kedatangan orang asing.


Baru berdiri didepan pintu, Satya sudah merasakan hawa yang mencekam dalam kamar ini. Bagaimana tidak. Keadaannya sangat gelap, tidak satupun jendela yang terbuka. Padahal ini siang hari.


Kamar ini sudah tidak berbau pengap layaknya kamar yang tak digunakan. Namun lebih parah daripada itu. Kamarnya mengeluarkan aroma bau busuk yang sangat pekat.


Semakin Satya melangkah masuk, aroma busuk itu semakin menyeruak tajam. Tapi aroma busuk apa ini?


Duk!


Lutut Satya menabrak sesuatu. Sepertinya itu tempat tidur. Tangannya meraba-raba dinding untuk mencari kontak lampu.


Tak! Lampu menyala. Kamar pun tampak terang benderang.


Begitu berbalik badan, satya terjingkat kaget melihat apa yang ada diatas tempat tidur, "Ini bantal atau Laksmi yang sedang tidur? Kenapa Laksmi menutupi seluruh tubuhnya?"


Satya menarik kain yang menutupi wajah dengan perlahan. Karena kaget dengan kondisi Laksmi, kain itu pun tertarik hingga terjatuh ke bawah ranjang. Tubuh Satya gemetar hebat hingga lutut seolah tak mampu menumpu tubuh.

__ADS_1


Itu Laksmi Kinasih. Tapi keadaannya sangat mengenaskan. Matanya terpejam dan bibirnya terkatup rapat. Dan tubuhnya sudah kurus kering.


Laksmi sudah tewas! Jasadnya Sudah membusuk di bagian tertentu. Tapi sebagian tubuhnya tidak mengalami pembusukan, ini aneh! Apa karena lapisan seperti lilin yang melapisi seluruh permukaan kulitnya? Setidaknya, wajahnya masih bisa dikenali.


Tapi apa motif Pak Dukun melakukan ini pada anaknya?


Satya memberanikan diri untuk mendekat. Mmmpphhh.... Bau busuk pun kian terasa menyengat. Ditambah lagi piring-piring berisi makanan basi yang berserakan di lantai kamar. Semuanya tampak sudah berjamur.


"Heh! Berani-beraninya kalian memasuki rumahku tanpa izin!" Itu suara Pak Dukun. Lelaki itu sudah pulang rupanya. "Ngapain kalian di sini?"


Wajahnya tampak panik ketika melihat pintu kamar Laksmi terbuka. Dia langsung memasuki rumah, dan menuju ke kamar putrinya itu. Semua orang yang tadi hanya menunggu di teras pun ikut-ikutan masuk ke dalam rumah.


"Satya! Siapa yang suruh kamu buka kain penutup tubuhnya?" Lagi-lagi Satya terlonjak kaget mendengar suara itu. Pak Dukun berdiri di belakangnya dengan sorot mata tajam.


"Pak, Laksmi sudah meninggal," kata Satya dengan lantang.


"Astaghfirullah!" Endaru dan Hadyan bergidik melihat perempuan yang terbaring kaku di atas tempat tidur. Sebagian tubuhnya sudah tinggal kerangka.


"Apa? Laksmi meninggal? Innalillahi wa innailaihinrojium. Kapan meninggalnya?" seru Pak Damar yang belum melihat ke dalam kamar.


"Aku nggak tahu. Pak Dukun, kapan Laksmi meninggal? Kenapa Bapak menyimpan jasadnya seperti ini?" tanya Satya.


Pak Dukun tak bisa menampik lagi. Faktanya sudah jelas terlihat di depan mata. Air matanya pun mulai menetes di pipi.


"Kalian semua yang ada di sini, tolong jangan beritahu hal ini pada orang lain," pinta Pak Dukun.


"Nggak bisa, Pak. Laksmi harus dimakamkan dengan layak. Memangnya Bapak nggak sayang sama dia?" kata Satya.


"Justru karena sayang sama dia, makanya nggak mau melepasnya," balas Pak Dukun.


"Tapi Laksmi sudah meninggal, Pak. Tempatnya bukan di sini lagi. Dia juga harus dimandikan, disholatkan lalu dimakamkan, supaya tenang di sana," bujuk Satya dengan lembut.


"Tapi dia keluargaku satu-satunya, Satya. Kalau dia pergi, aku bakal sendirian," kata Pak Dukun dengan air mata bercucuran.


Mereka semua iba melihatnya. Tapi sikap Pak Dukun juga salah.


"Kata siapa Bapak sendirian? Ada aku menantu Bapak. Walaupun pernikahan ini sebenarnya tidak sah, karena mempelai perempuan tidak ada. Tapi Bapak tetap ayah mertuaku. Aku bakalan sering-sering main ke sini untuk menemani Bapak," ujar Satya dengan air mata berlinang.


"Iya, Pak. Anggap saja aku juga anak Bapak," kata Hadyan dan Endaru pula.


"Tunggu dulu. Aku bingung. Pernikahan Satya nggak sah? Terus Laksmi sudah meninggal? Terus siapa yang kami lihat waktu itu. Bahkan dia sempat ke warung Mbok Lastri sebelum menikah."

__ADS_1


Pak Damar yang tidak tahu kronologi masalahnya merasa sangat bingung. Endaru dan Hadyan pun akhirnya membantu menjelaskan duduk perkaranya.


(Bersambung)


__ADS_2