Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 34. Antarkan Aku Pulang


__ADS_3

Sudah pukul 06.45, tapi Tari masih berkutat di kamar mandi. Rupanya dia menyiapkan air rebusan daun bidara, dan menuangkan ke dalam ember paling besar.


"Hm, beres. Kata ustadz yang di yutub itu, air bidara bisa mengusir jin dan sebangsanya, kan?" ucap Tari dengan puas.


Olala, rupanya Tari masih belum berhenti untuk berusaha membongkar kedok kakak iparnya. Kemarin dia rela blusukan di kebun temannya, hanya untuk mengambil daun dari pohon berduri tersebut. Bahkan jemarinya yang tertusuk duri pun dia abaikan.


Pagi ini waktu yang tepat untuk memulai rencananya. Ayah dan Ibunya setelah subuh tadi sudah pergi bekerja di kebun. Demikian juga dengan Endaru yang sudah sembuh. Sementara cuti Satya juga berakhir hari ini. Jadi, tak akan ada yang bisa mengganggu rencananya.


"Ini bukan karena aku jahat. Aku hanya mau Mbak Laksmi jujur sama Mas Satya," pikir Tari.


Dia sudah hapal kebiasaan Laksmi, yang akan mencuci kain menggunakan ember besar tersebut. Setelah semua rencananya beres, Tari pun bergegas bersiap ke sekolah.


"Tumben cantik banget pake kebaya?" puji Laksmi, ketika Tari keluar dari kamarnya.


"Iya nih, Mbak. Ada acara perpisahan di sekolah. Aku ikut paduan suara," balas Tari dengan bangga.


"Wah, kamu pinter nyanyi?" puji Laksmi. "Tapi kok jilbabnya gitu aja. Gak dimodel? Apa mau dirias di sekolah?" imbuhnya.


"Nggak, kok. Dandannya masing-masing di rumah. Tapi aku nggak bisa bikin jilbab model-model gitu, Mbak."


"Mau Mbak bantuin?" tawar Laksmi.


"Mbak bisa?" ucap Tari ragu.


"Bisa, dong. Dulu waktu sekolah, Mbak suka ikut pelajaran ekskul tata rias. Sekalian Mbak makeup-in, deh," balas Laksmi.


"Hmm, bolehlah," jawab Tari.


Mereka lalu kompak memasuki kamar Tari. Kain yang menutupi kepala Tari pun dibuka. Lalu dengan cekatan, Laksmi mengusap wajah Tari dengan kapas untuk menghapus makeup yang telah dipakainya.


Tari menatap wajah cantik sang kakak ipar dari cermin. Jemarinya begitu luwes dan lembut mendandani Tari sesuai dengan umurnya. Seperti biasa, ada aroma melati yang samar-samar keluar dari tubuh wanita itu.


"Apa ini? Aku setiap saat selalu berusaha menghancurkannya. Tapi dia malah membantuku?" bisik Tari dalam hatinya. Dia takjub melihat perubahan wajahnya di tangan sang kakak.


"Mbak gak bakalan ninggalin Mas Satya, kan?"


Laksmi terkejut dengan pertanyaan Tari yang tiba-tiba. "Mbak harus pergi," ucapnya lirih.

__ADS_1


"Kenapa? Mas Satya itu sayang banget lho sama Mbak," ucap Tari dengan nada ketus.


"Tapi Mbak gak bisa selamanya di sini, Tari," balas Laksmi dengan lembut.


"Padahal semua orang di rumah ini udah sayang sama Mbak, loh. Terutama Mas Satya. Kalau dari awal Mbak mau meninggalkannya, kenapa menikah?" ujar Tari dengan suara parau.


"Iya, Mbak tahu. Mas Satya itu orang yang sangat baik." Laksmi menjeda kalimatnya sesaat, untuk menyematkan bros jilbab di bahu Tari. "Mbak minta maaf, ya," ucapnya kemudian.


"Maaf aja gak cukup, Mbak. Mas Satya pasti terluka banget," balas Tari semakin sengit. "Apa Mbak tahu, Mas Satya itu anak pesantren. Dia nggak pernah pacaran. Mbak itu perempuan pertama yang dia dekati, dan langsung dinikahi."


"Tari, kamu indigo, ya?"


Tari menghembuskan napas perlahan. Dia tahu kakak iparnya tidaka mau menjawab pertanyaannya barusan. Tapi dia juga nggak bisa memaksanya.


"Bukan cuma aku yang indigo, tapi juga Mas Hadyan," ucap Tari dengan lantang.


"Hadyan?" Kedua mata Laksmi membesar mendengar nama itu.


"Iya, teman kerja Mas Satya. Mbak udah pernah jumpa dia, kok. Tapi Mas Hadyan gak sadar kalau dia itu indigo," jelas Tari.


Pluk! Laksmi menjatuhkan botol facemist yang dia pegang. "Pantas saja dia selalu menatapku aneh," lirihnya.


Selepas kepergian Tari, Laksmi mengurung diri di kamar. Dia berkutat di depan cermin, mengenakan daster seksi hadiah dari sang suami. Hingga kini daster itu masih belum dipakainya di hadapan Satya.


"Cantik? Aku cantik?" ucapnya.


Rautnya yang cantik, menatap kosong ke dalam cermin. Wajah cantik itu perlahan terkelupas dan mengeluarkan puluhan belatung.


"Aku nggak cantik, Tari. Kamu salah. Hidupku telah berhenti. Semua karena orang-orang laknat itu. Kyaaaaa! Huhuhuhu..."


...***...


Tok! Tok! Tok!


Aruna berjalan berjingkat-jingkat mendekati pintu, saat mendengar suara ketukan pintu. Namun dia tak mendengar suara salam atau panggilan dari luar.


Tok! Tok! Tok! Pintu rumahnya kembali diketuk.

__ADS_1


"Farras, itu kamu?" Aruna tak berani membuka pintu sembarangan.


"Pulang, antarkan aku pulang." Kali ini terdengar suara wanita merintih di luar sana.


"Pulang? Siapa yang minta antar pulang?" pikir Aruna. Dia semakin takut untuk membuka pintu.


"Antarkan aku pulang, Aruna..."


"Hah? Siapa kamu di depan sana?" seru Aruna tanpa membuka pintunya. Tangan kirinya mengambil payung di belakang pintu, untuk dijadikan senjata.


Brak! Tiba-tiba pintu kayu yang sedang terkunci itu terbuka lebar. Angin dingin dari menyeruak masuk, bersamaan dengan menyebarkan aroma bangkai yang menusuk.


"Hah?


Aruna terduduk lemas di lantai. Payung yang dipegangnya pun terhempas. Seorang wanita berseragam SMA berdiri di depan pintu rumahnya. Wajahnya tak terlihat jelas. Angin yang bertiup semakin kencang, semakin menerbangkan rambut wanita itu, dan menutupi wajahnya.


"Siapa dia? Apa temannya Farras? Tapi tadi dia menyebut namaku," pikir Aruna.


Rok panjang yang dikenakan wanita itu pun tertiup angin. Akan tetapi, tak ada yang menghalangi kain itu terbang mengikuti arah angin. Seolah tubuh itu kosong.


Tiupan angin yang semakin membabi buta, menyibakkan rok abu-abu itu dengan sempurna.


Seluruh tubuh Aruna pun bergetar hebat, hingga tak dapat dikendalikan lagi. Keringat dingin mengucur dari dahi, lalu meluncur bebas ke lehernya.


"D-dia bukan orang. Tapi ini kan masih siang hari?" batin Aruna menolak percaya. Padahal kepalanya sudah berkunang-kunang.


Bagaimana tidak hampir pingsan, karena saat kain itu tersibak semuanya ke atas, yang terlihat hanyalah udara kosong. Sosok itu tak memiliki kaki.


Napas Aruna semakin tercekat. Ingin rasanya segera pergi dari tempat itu dan menutup pintu rapat-rapat. Dia sudah tak tahan lagi melihat keganjilan yang tersaji di depan matanya. Namun tubuhnya kaku. Kekuatannya menguap seluruhnya.


"Antarkan aku pulang. Hihihi..." Angin kencang dari arah berlawanan, menyibakkan rambut sosok tak berkaki itu.


"K-kinanti? Pergi! Kamu itu udah mati. Jangan ganggu aku."


"Kamu yang membawaku pergj, kamu juga yang harus mengantarku pulang, Aruna. Pulang... Kau harus pulang bersamaku. Hihihi..."


Aruna merasa cairan hangat berbau pesing mengalir di kedua kakinya, ketika dia menyadari tangan sosok gaib itu memanjang dan hendak menarik Aruna keluar rumah.

__ADS_1


"Tolong!" jerit Aruna.


(Bersambung)


__ADS_2