
"Bapak, hari ini aku pakai baju batik. Bukan baju pramuka," protes seorang bocah perempuan di depan kamarnya.
"Ya ampun. Maaf, Nak. Bapak lupa. Sebentar, ya. Bapak ambilkan dulu," jawab pria bertubuh tinggi tegap dan berkulit cokelat.
"Bapak, ini telornya udah masak. Ayo sarapan," teriak seorang bocah lelaki berseragam batik yang muncul dari arah dapur.
"Sebentar ya, Igar. Kamu makan duluan saja. Bapak mau mencari baju batik adikmu dulu," balas lelaki itu lagi.
"Ah, kenapa hidupnya menyedihkan banget, sih? Aku kan jadi gak semangat mau balas dendam," gumam Laksmi yang berdiri di depan rumah papan reot itu.
"Loh, Dek Laksmi? Sejak kapan di sana? Kenapa nggak manggil." Wira baru menyadari bahwa dia kedatangan tamu.
"Aku baru sampai kok, Mas. Ini, ada titipan dari ibu. Katanya untuk anak-anak." Laksmi memberikan sebuah kantong plastik berisi sayur dan buah-buahan pada Wira.
"Terima kasih, ya. Apa bapak sama ibu baru panen?" balas Wira dengan ramah.
"Iya, Mas. Kemarin abis panen buah pisang sama rambutan," balas Laksmi.
"Bapaaak, jangan lama-lama ngobrolnya. Bajuku mana?" bocah perempuan berambut panjang itu hampir menangis, saat melihat teman-temannya sudah berangkat ke sekolah.
"Astaghfirullah. Iya sebentar," ucap Wira mengusap puncak kepala bocah mungil itu. "Maaf ya, Laksmi. Anak-anak lagi rewel."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku pergi dulu, ya," ujar Laksmi berpamitan.
"Kenapa wajahmu sedih gitu, Dek? Apa sakitmu kambuh lagi kena sinar matahari pagi?" tanya Satya, yang menunggu istrinya di atas sepeda motor. Dia melihat ujung jemari Laksmi sedikit melepuh.
"Nggak kok, Mas. Ayo, pulang. Kamu mau ke kantor, kan?" ajak Laksmi. "Tapi memang ada yang sedikit aneh sejak kemarin. Kenapa kulitku merasa sakit, waktu nggak sengaja bersentuhan dengannya, ya? Sama seperti aku menyentuh Satya."
"Mas."
"Hmm?"
"Mas Wira itu single parent, ya?" tanya Laksmi tiba-tiba.
"Iya, Dek. Istrinya meninggal enam tahun lalu," jawab Satya.
"Ohh, kasihan anak-anaknya," gumam Laksmi. "Tapi kenapa dia nggak menikah lagi? Kayaknya Mas Wira itu masih muda dan cakep juga."
"Ehm." Satya hanya berdehem tanpa membalas ucapan istrinya.
"Kenapa, Mas? Kok nggak dijawab? Apa pertanyaanku terlalu sensitif?" tanya Laksmi.
"Jadi cakepan dia atau aku?"
"Hah? Hahahaha... Mas Satya cemburu, toh," Laksmi yang dibonceng di belakang suaminya tertawa terbahak-bahak.
"Ya iyalah. Dari tadi kamu memandangnya sampe nggak kedip," kata Satya.
"Iiih, dari mana Mas tahu aku nggak kedip? Mas aja nungguin di belakang aku," protes Laksmi.
"Ya pokoknya cara kamu melihatnya itu berbeda," kata Satya.
__ADS_1
Yah, Satya sebagai lelaki pun mengakui kalau Wira itu memiliki penampilan cukup menarik. Memiliki kulit agak gelap, dan garis wajahnya yang tegas membuatnya terlihat tampan. Tubunya yang kekar dan tinggi, membuatnya tampak gagah seperti raja-raja Jawa.
"Aku sudah menikah, dan Mas adalah pilihanku. Jadi ya di mataku Mas yang paling cakep," jawab Laksmi. "Tapi wajar, kan? Kalau aku menilai seseorang secara objektif?" sambungnya.
Satya hanya tersenyum tipis. Entah kenapa dia senang mendengar jawaban dari istrinya.
"Mas Wira nggak mau menikah, karena dia sangat mencintai mendiang istri dan anak-anaknya. Jadi dia lebih memilih untuk menduda, daripada memberikan ibu yang jahat sama anaknya," ucap Satya kemudian.
"Hmm, rupanya laki-laki itu orang baik. Apa dia Wira yang ku kenal dulu? Tapi kemarin dia mengenali wajahku, kan?" gumam Laksmi.
"Oh, kamu juga punya teman yang namanya Wira?" rupanya Satya mendengar ucapan istrinya.
"Ah, iya Mas. Dulu waktu SMA aku pernah punya teman, namanya Wirasena. Tapi sudah agak lupa wajahnya," balas Laksmi yang sudah kepalang basah.
"Tapi kayaknya Mas Wira itu bukan teman sekolahmu, Dek. Dia kan seangkatan sama Mas Aksa, kepala desa kita," jawab Satya.
Laksmi tercengang mendengarnya, "Jadi itu beneran dia?"
"Ibuuu... Om itu bonceng setaaan."
Tiba-tiba seorang anak yang berpapasan dengan mereka, berteriak kencang sambil menunjuk ke arah Laksmi. Dia lalu menangis ketakutan.
"Hah? Apa maksudnya?" gumam Satya bingung.
Wanita paruh baya yang membonceng anak tadi memutar balik sepeda motornya lalu meminta maaf pada Satya dan Laksmi. Sementara anaknya masih menjerit-jerit ketakutan.
...***...
Arga mendengar suara tangisan menyayat hati di luar sana. Lelaki itu tak memperdulikannya. Dia tahu, itu bukan suara manusia. Terlebih setelah mendengar cerita dari kedua temannya.
Drap!
Arga merasa sesuatu memijak kasurnya. Tidur Arga pun terganggu. Dia lantas membuka matanya perlahan sembari komat-kamit membaca doa.
"Loh, Vera?" Arga bernapas lega, saat melihat seorang wanita berpakaian minim itu tidur menghadap dirinya.
Vera tidak menjawab. Perempuan itu hanya tersenyum tipis, sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arga. Lelaki itu pun kembali memejamkan matanya dengan nyaman.
Deg!
Hanya berselang beberapa detik, Arga kembali membuka kelopak matanya. Keringat dingin sebesar bulir jagung mengucur di seluruh tubuhnya.
"Vera tadi kan sudah pulang ke rumahnya. Dia juga nggak bawa kunci. Lalu Siapa yang ada di belakangku?"
Arga baru menyadari, jika kekasihnya sudah pulang dari asrama atau mess-nya sebelum pukul sebelas malam tadi.
Meski rasa takut menguasai tubuhnya, Arga tetap memaksakan kepalanya menoleh kebelakang. Hal pertama yang dilihatnya adalah rambut hitam kusut berbau apek. Semakin turun ke bawah, sepasang mata hitam legam memandangnya dengan tajam, diiringi senyuman yang teramat lebar. Sangat lebar hingga ke pipi.
"Arrrghhh!"
Arga berteriak dalam hati. Namun seluruh anggota tubuhnya berkata lain. Arga tak mampu menggerakkan sendi-sendi nya sedikit pun.
__ADS_1
"Kenapa kamu takut? Bukankah dulu kamu menginginkanku? Hihihi..."
Jantung Arga berdetak dua kali lebih cepat, saat wanita itu bangkit dari tidurnya. Tangannya menarik selimut yang menutupi tubuh Arga.
Lelaki itu menggigil ketakutan. Bukan kedinginan karena dia hanya mengenakan celana pendek. Tetapi menggigil ketakutan karena sosok itu semakin melayang mendekatinya.
"Kenapa? Kenapa dulu kalian membunuhku? Hiks... Hikss... Hiksss..."
Rambut panjang sosok itu menyapu tubuh harga yang kaku bagai Kanebo kering, "Brengsek!" umpat Arga dalam hati.
"Apa? Brengsek? Kau bilang? Aku mati di tangan kalian. Siapa yang lebih brengsek di sini." Suara bernada alto itu menggema ke seluruh ruangan.
Pet! Lampu padam. Arga baru teringat, bahwa malam ini giliran mess mereka pemadaman listrik.
Entah harus merasa lega atau semakin ketakutan, yang jelas Arga tak bisa lagi melihat makhluk itu. Dia pun mengumpulkan kekuatan, dan beranjak dari kasur. Meraba-raba dinding kamar mencari jalan keluar.
Pet! Lampu kembali menyala.
"Arrrghhh!"
Arga berteriak sekuat tenaga. Tepat di depan matanya sepasang kaki menjuntai kaku, penuh tetesan darah.
Dok! Dok! Dok!
"Arga! Lo kenapa, Bro?"
Pintu kamar Arga digedor dengan kasar. Ternyata teman mess Arga mendengar teriakan pria itu dan terbangun. Namun lelaki itu tak berani bergerak. Suaranya juga tak bisa keluar.
"Arga... Arga... Hikss... Kembalikan tubuhku Arga..."
Sosok itu memanggil-manggil nama Arga, dengan suara paraunya yang menyayat hati. Pria itu tak berani menatap ke atas. Hanya melihat kakinya saja sudah membuat jantung hampir berhenti berdetak.
"Woi! Arga! Lo gak apa-apa, kan?" Terdengar lagi teriakan dari luar.
Ingin rasanya Arga berteriak dan mengatakan bahwa dia tidak baik-baik saja. Ini adalah kesempatannya untuk kabur dari sosok itu. Tapi tubuhnya benar-benar membatu. Doa-doa yang dia ucapkan seakan tidak mempengaruhi makhluk itu.
"Arga... Di mana tubuhku, Arga...? Antar aku pulang... Arga..."
Perlahan-lahan kaki itu turun. Memperlihatkan seragam SMA yang telah berubah warna menjadi merah darah.
"Arga... Hihihihi..."
Bruk! Arga pun pingsan, ketika wajahnya berhadapan langsung dengan sosok berwarjah hancur itu.
Gubrak!
"Arga! Lo kenapa? Woy, siapkan mobil. Arga kita bawa ke klinik."
Rupanya teman-teman Arga berinisiatif membuka kamar Arga dengan kunci cadangan. Mereka pun menemukan lelaki itu terkapar di lantai dengan kulit pucat bagai mayat.
(Bersambung)
__ADS_1