Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 71. Pengakuan Satya


__ADS_3

Hujan gerimis disertai pelangi menjadi saksi pemakaman seorang gadis cantik sore ini. Burung-burung kecil berlompat-lompatan di sekitar tanah merah yang masih basah. Bunga-bunga ditaburkan diatas gundukan tanah.


Rani masih duduk termenung dengan mata sembab, setelah proses pemakaman Nada Sakuntala usai. Tangannya meremas tanah merah yang basah itu, sambil meratap sedih. Air matanya sudah tak mau lagi keluar. Hatinya terlalu perih kehilangan putri kecilnya yang sangat dia sayangi.


Lelaki dengan luka perban di tangan dan kakinya itu hanya bisa pasrah. Putri kecilnya yang lucu telah tiada. Semua karena cinta pertamanya yang telah berbeda dunia dengan mereka.


Hari sudah gelap. Semua orang telah kembali ke rumah masing-masing. Hujan pun turun kian deras dan berangin. Sementar Rani masih duduk meratapi nisan buah hatinya.


"Dek, ayo pulang. Hari sudah gelap. Besok kita ke sini lagi," kata Aksa membujuk istrinya untuk pulang.


"Besok? Terus kita membiarkan Nada tidur di sini sendirian?" ucap Rani dengan kedua alis bertaut. Garis bibirnya melengkung ke bawah.


Aksa termenung. Memang susah untuk membujuk orang yang sedang berduka. Tapi kalau tetap di sini, juga membahayakan diri Rani.


"Rani, kamu tahu, kan? Nada itu anak yang pintar dan mandiri. Dia sudah besar. Jadi sudah saatnya dia tidur sendiri," kata Aksa lagi. "Lalu, Najla juga menunggu kita di rumah," imbuhnya.


"Tapi ini hujan, Mas. Nada pasti kedinginan di sini sendirian. Kamu nggak sayang lagi sama dia?" ujar Rani mendelik tajam ke arah sang suami.


Ya, medengarannya aneh dan sedikit gila. Tetapi Aksa memakluminya, jiwa Rani saat ini sedang terguncang hebat. Aksa pun merasakan hal yang sama saat ini.


"Kalau begitu kita pulang dulu. Ambil payung dan selimut untuk Nada. Lalu biarkan dia tidur sendiri malam ini, supaya dia mandiri," kata Aksa lagi. Air matanya kembali merembes, membayangkan putri kecilnya yang lucu kini harus tidur sendirian di dalam tanah.


Rani mengangkat kepalanya. "Aku nggak percaya. Ini semua gara-gara kamu, Mas! Gara-gara kamu lebih mencintai Kinanti dari pada aku saat itu. Gara-gara kamu anak kita mati!"


Perempuan itu kembali menangis histeris, bersamaan dengan petir yang menyambar-nyambar. Tak bisa ditoleransi lagi, Aksa terpaksa menyeret tubuh Rani ke dalam sebuah mobil yang terparkir di bawah pohon. Tak peduli walau wanita itu meronta-ronta. Ujang telah menunggunya di sana.


...***...


Satya memasuki kamarnya yang pengap dan gelap gulita. Entah mengapa suasana hatinya kelabu, sejak melayat ke rumah Aksa.


Tak! Satya menyalakan lampu kamar.


"Laksmi?"


Satya terkejut melihat seorang wanita duduk di tepi tempat tidur. Rambutnya yang sangat panjang, menutupi wajah dan dan punggungnya. Baju putihnya penuh dengan bercak lumpur dan darah. Pria itu merasa ngeri melihatnya.


"Mas, kamu sudah pulang?" ucap perempuan itu mengangkat kepalanya. Wajahnya masih tak terlihat. Tapi Satya mampu merasakan aura dingin dan kejam dari sosok itu.

__ADS_1


"Ya, Mas baru pulang. Nada sudah dimakamkan," kata Satya seraya melangkah ke arah tempat tidur. Bau bangkai dan kemenyan semakin menyeruak ke rongga hidung."Dek, apa kejadian ini juga karena kamu?"


"Kamu harus tahu, Mas. Mereka bukan hanya ingin membunuhku. Tapi juga kedua orang tuaku!" ucap sosok itu dengan nada rendah.


"Untuk apa mereka mau membunuh orang tuamu? Bapak dan Ibu kan nggak tahu apa-apa tentang dirimu?" tanya Satya.


Pria itu terkejut saat Laksmi menyibakkan rambutnya dalam satu detik. Matanya yang bolong dan mulutnya yang melebar hingga ke pipi, terlihat dengan jelas. Satya sampai terlonjak ke belakang. Sepertinya dia marah dengan pertanyaan Satya.


"Aku nggak marah, Dek. Mana tahu kalau kamu cerita, aku bisa ikut melindungi kedua orang tuamu," kata Satya buru-buru.


Makhluk itu tak menyahut. Wajahnya masih menoleh ke arah Satya, dengan seringai lebar. Bajunya terombang-ambing oleh angin dari ventilasi, seakan tidak ada apa-apa di dalam tenunan benang tersebut. Hanya kepala dan tangan saja.


"Dek, kamu jangan khawatir. Sejak Mas mengetahui siapa kamu sebenarnya, Mas selalu mengirim doa untuk Kinanti. Semoga dia tenang di sana. Dan kamu bisa kembali ke alammu," kata Satya.


Dia berani bicara begitu karena tahu, sosok di depannya bukanlah arwah Kinanti. Melainkan hanya sesosok jin qorin yang menyerupai Kinanti, dan membawa sebagian ingatannya.


Laksmi masih bungkam. Matanya yang bolong mendadak mengeluarkan air mata darah. Perlahan-lahan tubuhnya melayang ke atas, dengan helaian kain yang terus beterbangan karena hembusan angin dari luar.


"Hiks... Hiks... Hikss..." Sosok itu menangis pilu. Sangat menyayat hati. Perlahan dia pun menghilang bagaikan kepulan asap.


"Satya, ayo makan malam. Ajak Laksmi sekalian," panggil Bu Kesha dari luar kamar.


...***...


"Loh, mana Laksmi? Tadi siang dia juga nggak ada keluar?" tanya Bu Kesha, melihat Satya keluar sendirian dari kamar.


"Apa dia sakit?" ujar Pak Darya menambahkan. Kedua adiknya juga telah duduk manis di meja makan.


Satya menarik kursi di depan ayahnya, lalu duduk dengan kaku, "Pak, Bu. Ada yang harus aku bilang soal Laksmi," ucap Satya dengan wajah tegang.


"Kenapa dia?" tanya Bu Kesha merasa khawatir.


"D-dia... Dia itu bukan..." Satya menjeda kalimatnya. "Duh, gimana cara ngomongnya? Memangnya bapak sama ibu bakalan percaya?" pikir lelaki itu.


"Kok malah diem? Kalian berantem?" tanya Bu Kesha semakin khawatir.


"Nggak, kok. Cuma Ibu sama Bapak jangan kaget, ya. Ki- ... Ah, maksudku Laksmi itu... Dia bukan..." Lagi-lagi Satya menghentikan kalimatnya.

__ADS_1


"Maksudnya Mbak Laksmi bukan manusia?" celetuk Tari tiba-tiba.


"Hah? Kok kamu tahu, Dek?" Satya terperanjat dengan ucapan adik bungsunya.


"Hei, tunggu dulu. Apa maksudnya bukan manusia? Kalau ngomong yang jelas," ujar Pak Darya meminta penjelasan.


"Maaf, aku bukan mau membohongi Bapak sama Ibu. Karena aku juga baru tahu. Laksmi itu Kuntilanak." Satya akhirnya memberanikan diri mengucapkan fakta itu.


"Astaghfirullah, Nak. Kalau ngomong hati-hati. Gimana bisa makhluk seperti itu hidup berdampingan dengan kita setiap hari?" kata Bu Kesha. Pak Darya manggut-manggut, setuju dengan kalimat istrinya.


"Iya tapi ini beneran, Bu. Laksmi itu pura-pura jadi manusia," kata Satya.


"Tari, ini beneran? Kamu tahu dari mana kalau istri Mas-mu bukan manusia?" Kali ini Pak Darya melempar pertanyaan pada putri bungsunya.


"Aku pernah lihat wujud asli Mbak Laskmi, waktu semuanya dirawat di rumah sakit," jawab Tari.


"Astaghfirullah!" seru Pak Darya dan Bu Kesha.


"Kamu idigo, Dek?" tanya Endaru.


"Udah selama itu? Kenapa kamu nggak bilang, Dek?" tanya Satya pula.


"Iya, sama kayak Mas Hadyan. Aku nggak berani bilang sama Mas Satya. Tapi waktu aku ceritain sama Mas Ndaru, malah nggak percaya," Tari bersungut kesal.


"Hadyan?" seru Satya. Tari mengangguk.


"Ya memangnya siapa yang bakal langsung percaya?" balas Ndaru pula.


"Sudahlah. Jadi kenapa ini bisa terjadi? Keluarga kita dari nggak pernah bersekutu dengan bangsa jin," kata Pak Darya.


"Sebaiknya kita tanyakan aja langsung sama Mbak Laksmi," ujar Tari sambil menunjuk ke sudut ruangan.


Bu Kesha meringis ketakutan, melihat sesosok perempuan melayang dengan tubuh tak lengkap dan penuh darah.


"Laksmi?" ujar Pak Darya. "Ah, bukan. Kinanti?" ralatnya dengan mata terbuka lebar.


"Jadi Laksmi itu Kinanti?" gumam Bu Kesha dengan darah berdesir.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2