Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 46. Bukan Kinanti


__ADS_3

"Mas, cepat datang ke sini sekarang juga. Aku takut."


"Kenapa sih, Dek? Ini tengah malam, lho. Evano juga lagi tidur," kata Aksa.


"Evano tinggal aja dulu sama ibu. Besok pagi-pagi banget kita susulin dia ke sana. Aku takut di rumah ini, Mas," desak Dewi dari seberang sana.


Tak seperti biasanya, Dewi merengek-rengek menyuruh Aksa datang malam itu juga. Padahal biasanya dia tak pernah menuntut lelaki itu untuk selalu bersamanya, meski Aksa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Rani.


Namun, malam ini dia terus memaksa sang suami untuk segera datang.


Listrik memang sudah menyala. Sosok yang tadi nengganggu mereka juga sudah tak ada lagi. Tetapi Dewi masih merasa trauma. Matanya mengantuk, tetapi tak berani terpejam. Dia benar-benar butuh Aksa saat ini.


"Sebenarnya ada apa sih, Dek? Ayo ngomong dulu," bujuk Aksa. Dia sendiri juga merasa takut bepergian tengah malam, sejak kemunculan arwah Kinanti.


"Tadi kami diganggu Nyai Kunti, Mas. Dia menunjukkan dirinya dengan jelas. Pasti sosok yang aku lihat di mobil siang tadi itu nggak salah," ungkap Dewi yang hampir menangis.


"Astaga! Jadi kamu juga diganggunya?" seru Aksa.


"Apa maksudnya, Mas? Jadi Mas sudah tahu hal ini akan terjadi?"


"Bukan. Bukan gitu maksudnya. Aku datang ke sana sekarang ya. Nanti kita bicara," ucap Aksa.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."


Aksa menutup telepon, lalu membangunkan Bapak dan Ibunya untuk pamit pergi. Dia juga menitipkan Evano pada Ibunya.


"Mau ke mana to? Ini masih tengah malam, lho," ujar ibu mertua Aksa yang merasa berat hati melepas menantunya.


"Dewi lagi butuh aku, Bu. Kasihan dia," kata Aksa singkat. Dia sibuk memasang jaket dan mencari-cari kunci mobil.


"Kamu dianter sama Parjo aja. Biar ada temannya juga. Ini musim begal sama rampok, lho. Bahaya," ujar Bapak pula.


Parjo adalah sepupu jauh Dewi, yang kini bekerja sebagai pegawai di toko kelontong kedua orang tua Dewi.


"Boleh, deh. Kalau gitu aku bangunkan Parjo dulu."


Aksa dengan cepat menyetujui saran dari ayahnya. Menurutnya itu jauh lebih baik, dibandingkan sendirian di tengah kegelapan. Aksa sudah trauma dengan gangguan kuntilanak yang tiada henti-hentinya.


...***...

__ADS_1


"Duh, Mas ke mana, sih? Ini sudah lewat dua jam dari dia berangkat tadi. Harusnya perjalanan ke sini cuma butuh waktu satu setengah jam."


Dewi mondar mandir di dalam kamarnya dengan gelisah. Tangannya memegang HP yang sedang melakukan panggilan pada suaminya. Tapi sudah kesekian kalinya, teleponnya tetap tidak tersambung.


"Aku jadi menyesal karena memaksanya ke sini. Semoga mereka nggak kenapa-kenapa," ucap Dewi menenangkan dirinya sendiri.


Sementara itu di tempat yang berbeda, entah mengapa perjalanan menjadi lebih lama dari biasanya. Sepanjang perjalanan selalu saja mengalami masalah. Seperti saat ini, ban yang tiba-tiba bocor.


Waktu sudah memasuki dini hari, sementara kanan kiri adalah kawasan perkebunan yang sepi. Bunyi binatang malam bersahut-sahutan.


Parjo bergidik ngeri. Sesekali dia mengusap tengkuk lehernya, karena merasa tidak nyaman. Hati Parjo semakin ketar-ketir, terlebih saat tak sengaja melihat ke arah perkebunan yang begitu gelap.


"Apa itu putih-putih?"


Dia merasa seperti ada sosok berbaju putih menghadang mereka tepat di ujung jalanan yang gelap. Semakin merasa ada yang tak beres, dia lalu beringsut mundur. Mendekati Aksa yang sedang membantunya mengganti ban.


"Baca doa, Jo. Jangan mikirin yang aneh-aneh. Nanti ya kamu semakin merasa lihat yang nggak-nggak," ucap Aksa tanpa sambil fokus memegang senter, untuk menerangi ban mobil yang sedang ditukar Parjo.


"Tapi ini bukan perasaanku, Sa. Ini beneran. Putih-putih itu semakin mendekat," bisik Parjo sambil merunduk. Dia bersembunyi di balik badan Satya.


"Putih-putih? Si Kinan datang?" pikir Aksa tak mau ambil pusing.


"I-itu bukan Kinan!" pekik Aksa tanpa sadar.


Seluruh tubuhnya meremang melihat sosok berbaju putih dengan bagian perutnya bolong itu. Daster putihnya melayang bebas, seakan tak ada isi apa-apa di dalam sana. Hanya kepala, dengan rambut kusut panjang dan gigi runcing penuh darah.


"Ki-kinan iku sopo?" tanya Parjo tak paham.


"Kinan itu... Ah, itu ora penting. Sekarang kita harus kabur," ujar Aksa dengan suara gemetaran.


"Lah, ayo. Ngapain kowe ngadek neng kono?" Aksa menarik tangan Aksa yang sedingin es. - Ngapain kamu malah berdiri di sana?-


"A-aku gak bisa gerak, Jo," kata Aksa dengan wajah kaku dan datar. Tubuhnya merasa geli, seperti disentuh oleh sesuatu yang sangat halus.


"Astaghfirullahaladzim. Pergilah setan. Jangan ganggu kami. Kami cuma selera melihat wanita tulen. Bukan demit gak tinggal tulang kayak kalian," ujar Parjo sambil memejamkan matanya.


"Hah?" Aksa terkejut mendengar ucapan ngelantur Parjo barusan.


Tapi rupanya hal itu cukup ampuh. Keberanian Aksa perlahan kembali dan mereka buru-buru memasuki mobil. Aksa pun menghidupkan tape, dan memutar rekaman ayat Alquran untuk mengusir makhluk mengerikan itu.

__ADS_1


Untunglah, mereka bisa pergi tanpa ada gangguan lagi.


... ***...


Dewi terbangun karena mendengar suara deru mobil di depan rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam. Mas nggak kenapa-kenapa, kan? Maaf aku maksa Mas datang tengah malam begini." Dewi menyalami dan memeluk erat suaminya dengan perasaan lega.


"Aku nggak apa-apa. Cuma tadi ban bocor aja waktu di tengah perkebunan. Jadi nggak ada sinyal buat ngabarin kamu," balas Aksa.


"Ehem! Aku di sini, lho. Kedinginan, digigtin nyamuk. Sekarang malah jadi obat nyamuk juga," celetuk Parjo yang berdiri di samping mobil.


"Astaga! Aku hampir lupa. Ayo masuk, Mas. Aku bikinkan teh anget, ya," kata Dewi mengajak sepupunya untuk masuk.


"Nggak usah, Wi. Aku ngantuk. Mau langsung tidur saja," ucap Parjo langsung ngeloyor ke ruang tengah, dan berbaring di atas kasur yang telah disediakan Dewi. Memang dia sudah terbiasa dengan rumah ini, layaknya rumah sendiri.


"Kita masuk juga, yuk. Aku capek banget," ajak Aksa. Dewi mengangguk.


"Jadi sebenarnya ada apa, Mas? Kok bisa kita dihantui begini?" tanya Dewi sambil memijit bahu Aksa.


"Ini semua kesalahanku, Dek. Kesalahanku saat masih SMA dulu. Aku... Pernah membunuh seseorang." Aksa mengakui kejahatan yang pernah dilakukannya dulu.


"Astaga! Mas bercanda? Zaman SMA membunuh seseorang? Karena apa?" Dewi tak percaya jika suaminya pernah menghilangkan nyawa seseorang.


"Rumit sekali kalau diceritakan. Intinya aku dan teman-temanku sudah menyebabkan siswa paling pintar di sekolah kami kehilangan nyawa," kata Aksa dengan lemah.


"Kenapa Mas baru cerita sekarang? Memangnya Mas nggak capek dihantui dia terus?" Alih-alih merasa marah atau jijik, Dewi malah merangkul suaminya.


"Dia baru muncul sekarang. Entah apa yang memicunya. Kata orang pintar yang kutemui bersama Genta tadi, kami harus menemukan sisa-sisa jasadnya, agar dia berhenti mengganggu," jelas Aksa.


"Kalau begitu lakukan saja. Mas Genta kan seorang polisi," kata Dewi.


"Nggak semudah itu, Dek. Kejadiannya sudah dua puluh tahun yang lalu. Dan alam sudah banyak berubah. Kami nggak tahu lagi di mana jasadnya membusuk dan hancur," jawab Aksa. "Entah kami bisa menemukannya lagi atau tidak," imbuhnya.


"Jadi kita bakalan dihantui terus?" tanya Dewi resah.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2