Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 61. Tragedi Malam Hari


__ADS_3

"Mas... Nada, Mas..." ucap Rani di seberang sana sambil menangis.


"Nada kenapa? Kalau bicara yang jelas?" ucap Aksa panik.


"Dia panas tinggi." Terdengar suara isak tangis di telepon. Sepertinya Rani sangat panik.


"Nada sakit? Sudah di bawa ke klinik?" tanya Aksa.


"Belum. Aku bingung banget, Mas. Najla udah tidur. Gak ada yang jagain di rumah. Rasanya tanganku nggak kuat untuk nyetir mobil. Cepetan ke sini, Mas," curhat Rani di tengah tangisannya. Dia mengira, Aksa sedang berada di rumah mereka di desa.


Aksa menghela napas panjang, lalu membuangnya dengan kasar. Badannya masih sakit semua karena kejadian sore tadi. Mobilnya juga lagi dibengkel untuk servis rutin serta dicat ulang. Tapi dia juga nggak bisa membiarkan putrinya begitu saja.


"Dek, ini udah malam. Mobil kita kan dari pagi tadi lagi di bengkel. Kalau nunggu Mas, jam berapa Nada dibawa ke klinik? Itu malah lebih berbahaya," ucapnya.


"Terus Mas tega biarin aku sendirian mengurus Nada?" omel Rani di seberang sana.


"Duh, apa sih? Dulu juga si Dewi melahirkan sendirian tanpa didampingi aku. Cuma gara-gara kamu pengen liburan ke Bali," gerutu Aksa dalam hati.


"Aku teleponkan Pakde Warjo, ya. Biar dia sama istrinya temani kamu pergi ke klinik. Nanti aku menyusul ke sana setelah dapat kendaraan," kata Aksa berusaha sabar.


"Nggak mau, Mas. Aku maunya kamu yang nganter aku dan Nada ke klinik," ujar Rani ngotot.


"Ya udahlah, Mas. Pergi aja. Bawa mobil aku. Kasihan Nada," bisik Dewi dengan wajah iba.


"Haaah, ya udah. Aku bentar lagi pergi ke sana. Kamu siap-siap, ya," ucap Aksa pada Rani.


"Papa mau ke mana?" tanya Evano dengan bibir melengkung ke bawah. Belum lepas rasa rindunya pada sang ayah, dia sudah mau ditinggal lagi.


"Papa pergi mengantar Kak Nada ke rumah sakit dulu, ya. Kak Nada lagi sakit," ucap Aksa sambil mengusap rambut putranya.


"Terus nanti Papa tidur sini?" tanya Evano dengan polos.


Aksa menggelengkan kepala dengan sedih. Besok Papa ke sini lagi kalau Kak Nada sudah sembuh," ucap Aksa sambil menahan air matanya.


"Doakan Kak Nada cepat sembuh, ya. Biar Papa bisa cepat pulang ke sini," ucap Dewi pada putranya.

__ADS_1


"Iya. Semoga Kakak cepat sembuh. Papa hati-hati di jalan, ya," ucap bocah empat tahun itu dengan senyuman tulus. Aksa mengecup kening putra kecilnya itu.


"Hati-hati, Mas, jangan ngebut-ngebut. Keadaan Mas belum pulih," ucap Dewi mengingatkan.


"Iya, sayang," kata Aksa sambil mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut.


...***...


Aksa memacu kendaraannya membelah kegelapan malam, menuju rumah Rani di kota sebelah menggunakan mobil Dewi. Jalanan belum terlalu sepi, karena saat itu baru pukul setengah sepuluh malam. Namun karena udara pegunungan sangat dingin, embun pun mulai turun dan menghalangi pandangan.


Tiba-tiba dari belakang, Aksa melihat sebuah mobil yang hendak mendahuluinya. Mobil itu juga beberapa kali menyalakan klakson. Aksa pun sedikit minggir, untuk memberikan jalan pada mobil itu.


Setelah mereka berjalan bersisian, pengendara mobil itu tetap menglaksonnya, tanpa mendahuluinya. Jendela kacanya juga diturunkan ke bawah.


"Apa sih maunya dia? Mau ngerampok?" Aksa mulai merasa curiga. Dia hampir menambah kecepatan mobilnya, sebelum akhirnya mobil di sebelahnya menghalangi jalannya.


"Mas, itu tangan dan kaki temannya nyangkut di pintu mobil. Kasihan udah berdarah-darah," teriak pengendara itu sambil menunjuk ke kursi di sebelah Satya. Setelah itu dia pun segera tancap gas. "Atau Mas pembunuh, ya? Bisa kami laporin polisi," serunya lagi.


"Hah? Teman? Aku kan sendirian? Malah dituduh sebagai pembunuh pula."


Ya, seorang perempuan cantik berwajah pucat dengan senyuman manis. Rambutnya di gelung ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Pakaiannya yang memiliki potongan dada agak rendah, memperlihatkan sedikit bagian sensitifnya.


Aksa lalu tancap gas mengejar mobil tadi dan berteriak, "Heh! Aku bukan pembunuh. Jangan laporkan polisi. I-ini temanku lagi sakit!"


"Kamu mengakui aku? Hihihi..." Senyuman lebar mengembang di wajah pucat itu, hingga memperlihatkan tulang pipinya.


"Ka- kapan kamu n-naiknya? Silakan turun. Aku mau mengantar anakku ke rumah sakit," ucap lelaki itu dengan napas berat.


"Aksa, tolong antarkan aku ke Danau Cemani. Aku mau mencari tubuhku."


Seluruh tubuh Aksa bergetar. Sudah jelas dia tidak bisa melawan makhluk ini dengan mudah. Tangannya bergerak membuka pintu mobil. Namun, mimpi buruknya kembali terulang. Pintu mobilnya tak bisa dibuka.


"Aksa... Kamu tak usah pulang ke rumah. Ayo kencan denganku malam ini. Hihihihi..."


Wajah cantik itu berubah dalam hitungan detik. Seluruh kulitnya penuh luka lebam. Kepala belakangnya pecah dan mengucurkan darah. Jemarinya yang memiliki kuku panjang, bergerak perlahan di paha Aksa.

__ADS_1


"Kamu suka ini, kan? Ayo, kita kencan lalu mencari tubuhku yang hilang."


Suara tawa sosok itu sangat melengking, memekakkan telinga. Aksa tak bisa berbuat apa-apa selain mengucapkan doa di dalam hatinya. Usahanya sedikit berhasil, sosok itu tak lagi menyentuhnya.


Aksa menggunakan kesempatan itu untuk berusaha kabur. Dia pun kembali mencoba membuka pintu mobilnya.


Naas, siku kirinya malah menyenggol tuas gigi mobil. Sementara dia lupa memasang rem tangan. Ketika kakinya tanpa sengaja menginjak pedal gas, mobilnya malah terjun ke jurang di sisi kiri jalan.


...***...


"Mas Aksa!" ucap Rani di depan kamar nomor 507, tempat Aksa dirawat.


Langkah kaki wanita itu mendadak berhenti. Keningnya berkerut ketika melihat wanita cantik yang duduk di hadapan Aksa. Hatinya yang semula khawatir, mendadak dipenuhi oleh rasa emosi.


"Kamu siapa?" bentak Rani.


"Aku Dewi Kamaratih, Mbak," jawab perempuan itu.


"Aku nggak tanya namamu. Kamu siapanya Aksa? Berani-beraninya memegang tangan suamiku," ucap Rani dengan nada tinggi.


"Kita bicara di luar, ya. Mas lagi istirahat," kata Dewi mengajak Rani keluar.


"Nggak usah! Kita bicara di sini aja," tolak Rani dengan sebuah bentakan.


Dewi menarik napas panjang sebelum membuka mulutnya. "Aku istrinya Mas Aksa, Mbak," ucapnya sedetik kemudian.


"Istri?" Pekik Rani tak percaya. "Heh! Kamu tahu, nggak? Aku ini istri sah-nya Aksa. Aku dinikahi dengan cara baik-baik. Dilamar, dipestakan dan punya buku nikah. Lah kamu? Apa buktinya. Jangan ngaku-ngaku!"


Rani mengomel dengan suara tinggi. Dia lupa kalau saat ini berada di rumah sakit, dan Aksa terbaring lemah di sana.


"Mbak, tenang dulu. Nanti kita bicarakan baik-baik setelah Mas Aksa sadar, ya. Sekarang kasihan Mas Aksa. Dia pasti bisa mendengar semuanya," ucap Rani masih dengan suara lembutnya.


"Sabar! Sabar! Ya kamu pelakor bisa sabarlah. Kalau aku ndak bisa," kata Rani dengan dada kembang kempis.


"Aku bukan pelakor, Mbak. Aku juga istri sah Mas Aksa. Aku punya buku menikah resmi," balas Dewi.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2