
Laksmi semakin ciut, saat perempuan sepuh dengan rambut memutih itu semakin mendekatinya. Kakinya melangkah mundur dengan teratur. Tatapan wanita berambut putih itu sangat tajam, seperti hendak mengoyak dan menguliti Laksmi.
Mulut wanita itu dipenuhi warna merah pekat. Bibirnya terus bergerak mengunyah sirih dan kapur, tetapi matanya bergerak naik turun menatap Laksmi dari ujung kepala hingga ke bawah.
"Lebih baik kamu pulang, Nduk. Ini bukan duniamu. Kasihan dia." Wanita sepuh itu akhirnya angkat bicara. Suaranya terdengar parau sebelum dia terbatuk-batuk.
"Pulang? Kamu menyuruhku pulang? Dia milikku?" bisik Laksmi dengan tatapan yang tak kalah tajam. Dia sengaja merendahkan suaranya, karena takut Satya mendengar ucapannya.
"Nggak boleh. Kamu harus tetap pergi. Dia laki-laki baik, dan ini bukan tempatmu," ucap sang nenek lagi.
"Maksudnya apa, Nek?" tanya Satya yang baru saja datang dan menghampiri mereka. Sepertinya dia juga mendengar kalimat terakhir nenek tadi.
Perempuan dengan baju daster lengan panjang itu hanya menggelengkan kepalanya dan melangkah mundur, seolah ketakutan dengan tatapan Laksmi.
"Nek? Maaf kalau nenek tersinggung. Apa istriku ada membuat kesalahan?" Satya meralat kalimatnya. Tapi tetap saja gagal membuat perempuan berambut putih itu bicara.
"Ya ampun, Mbah. Kenapa ada di luar? Udaranya dingin, lho." Seorang wanita muda berlari-lari keluar, sambil membawa sebuah jarik untuk menghangatkan tubuh sang nenek.
"Mas, Mbak, maafkan nenek saya ya, kalau ada bicara macam-macam. Maklum, nenek saya udah mulai pikun," ucap wanita muda itu.
"Mbah ndak pikun, dia harus segera pergi dari sini," gumam wanita tua itu dengan suara parau.
"Iya, Mbah. Iya ... Mbah masuk dulu, ya. Nanti masuk angin." Cucu wanita itu sangat sabar meladeni sang nenek. Dia lalu meminta maaf pada Satya dan Laksmi, lalu masuk ke pintu di samping toko.
"Dia bilang apa tadi, Dek. Kok kayaknya marah?" tanya Satya bingung.
"Nenek itu tiba-tiba datang, terus nyuruh kita pergi cepat-cepat dari sini. Nggak tahu apa maksudnya," jelas Laksmi.
"Ooh, maklumi aja. Mungkin memang benar nenek itu sudah pikun. Kita beli oleh-oleh dulu yuk, sebelum pergi dari sini," kata Satya tanpa merasa tersinggung sama sekali.
Namun jauh di dalam hatinya bertanya-tanya, mungkinkah nenek itu tahu rahasia di dalam diri Laksmi?
...***...
__ADS_1
"Gus, ini kuncinya. Minyak mobilnya wes tak isi full. Suwun, yo."
"Iya, simpen situ aja kuncinya," pinta Agus sambil menunjuk ke arah meja kecil di dekat pintu.
"Sampeyan ki ngopo to, Gus? Ndelok aku koyo ndelok demit," ujar Satya dengan kening berkerut. -Kamu ini kenapa sih, Gus? Lihat aku kok kayak lihat hantu.-
Temannya satu itu memang sering bertingkah aneh di luar nalar. Tetapi yang kali ini sepertinya lebih aneh lagi. Pemuda kaya raya itu tak mau menoleh sedikit pun ke arah Satya. Dia menghindari pandangannya dari pria itu. Seperti perempuan kalau lagi ngambek.
"Bukan kamu masalahnya, Sat. Tapi bojomu sing koyo demit," batin Agus dalam hati. -Tapi istrimu yang kayak hantu.-
"Mas Agus, ini oleh-oleh buat Mas dan Bapak Ibu."
Suara lembut dari seorang wanita itu, sukses membuat Agus mengangkat kepalanya dan memandang ke depan. Dia mendapati seorang wanita manis dengan dress panjang berwarna hijau, memberikan sebungkus dodol jambu dan sebungkus kue ledre khas Ngawi pada Agus.
"Iki sopo, Sat?" tanya Agus dengan spontan. -Ini siapa, Sat?-
"La iki bojoku, Gus. Siang tadi kan udah aku kenalin," kata Satya sambil geleng-geleng kepala. -Ya ini istriku.-
"Hmm, karo cah wedok langsung luluh," cibir Satya sambil tertawa geli. -Sama perempuan langsung luluh, ya.-
"Hehehe yo ora ngono. Tadi pas ketemu bojomu ora ndue sikil. Yo aku ngeri," ujar Agus ceplas ceplos. -Bukan gitu. Tadi waktu ketemu istrimu nggak punya kaki. Aku ya takut.-
"Hah? Piye?" Satya kembali mengerutkan keningnya. Sebodoh-bodohnya Agus, baru kali ini ucapannya sangat nyeleneh.-Hah, gimana?-
"Eh, gak. Gak gitu. Cuma guyon, kok. Ojo tersinggung," kata Agus buru-buru meralat kalimatnya, ketika menyadari dirinya keceplosan.
"Huuu, ora jelas sampeyan. Yo wislah, aku arep muleh. Matursuwun, yo," kata Satya mengkahiri pembicaraan mereka. -Gak jelas, kamu. Ya udah, aku mau pulang. Makasih, ya.-
...***...
"Bojomu ora ndue sikil."
"Lebih baik kamu pulang, Nduk. Ini bukan duniamu."
__ADS_1
Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Satya. Bukan satu orang yang mengatakan bahwa Laksmi sedikit berbeda, tetapi empat orang. Yakni sang nenek, Agus, Tari dan Hadyan. Ah, masih ada beberapa, yaitu orang-orang di warung pecel lele tadi.
"Tetapi mengapa aku dan ayah ibu nggak merasa ada yang berbeda? Apa benar ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Laksmi?"
Bukan cuma itu, kejadian di rumah ayah mertuanya tadi juga sangat membuatnya heran. "Apa rahasia yang akan dikatakan oleh ayahnya itu? Lalu kenapa dia dilarang memasuki kamar milik Laksmi? Memangnya ada yang mereka sembunyikan di dalam sana?"
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya tersimpan di kepala. Dia tak punya nyali untuk bertanya langsung pada sang istri. Bisa-bisa wanita itu tersinggung.
Satya memutar tubuhnya ke kiri. Lengan kanannya melingkar di atas tubuh Laksmi. Seperti biasa, suhu tubuhnya sangat dingin bagai orang mati.
"Dek, kamu belum tidur?" gumam Satya melihat kelopak mata Laksmi yang berkedip di bawah temaram lampu kamar.
"Belum. Mas sendiri tumben belum tidur?" ujar Laksmi balik bertanya.
"Ini udah mau tidur, kok. Udah ngantuk." Satya berpura-pura tidur untuk mengetahui aktivitas istrinya, yang selalu menghilang di malam hari.
Benar saja. Sekitar sepuluh menit setelah Satya berpura-pura tidur, Laksmi pun turun dari tempat tidur. Dengan wujud manusianya, dia berjinjit mendekati meja kerja sang suami.
Satu per satu laci meja kabinet itu dibongkarnya, seperti mencari sesuatu. Semua barang dia keluarkan, lalu disusun kembali. Tak menemukan yang dia cari, Laksmi pun beranjak menuju lemari pakaian. Sasaran pertamanya adalah rak bagian atas yang dipenuhi dokumen.
"Album foto? Kenapa dia mencari album fotoku?" pikir Satya tak mengerti.
Di balik remang lampu tidur, Satya bisa melihat Laksmi duduk di tepi tempat tidur dan membuka lembaran album foto tersebut satu per satu.
Saat memperhatikan gerak-gerik sang istri, Satya kembali teringat sebuah foto yang tergantung di ruang tamu rumah mertuanya. Foto itu sekilas tidak ada yang aneh. Hanya potret seorang gadis cilik dengan seragam SMP, berlatar belakang dekorasi perpisahan. Ya, perpisahan sekolah di tahun 2001.
Aneh bukan? Jelas-jelas itu foto masa kecil Laksmi, karena namanya tertera dengan jelas di seragamnya. Namun kenapa tahunnya menunjukkan angka 2001? Dan jika dilihat dari dekorasinya serta warna potretnya, memang cocok dengan tahun 2001.
Kendati saat itu perhatiannya langsung teralih oleh kedatangan Laksmi, tetapi dia sempat menelisik detail foto itu. Tentu saja, Satya memiliki mata elang dan ingatan yang tajam. Itu kelebihannya.
Tak! Tiba-tiba Laksmi menutup album foto, lalu menoleh ke belakang dengan cepat. Sepertinya dia baru saja menyadari sesuatu. Satya reflek menutup matanya, berpura-pura tidur senatural mungkin, hingga ia pun benar-benar terlelap sampai pagi.
(Bersambung)
__ADS_1