Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 15. Misteri Kamar Laksmi


__ADS_3

"Jangan penasaran sama kamarku. Dan jangan pernah memasuki sembarang ruangan di sini."


Perintah larangan dengan nada suara yang teramat rendah itu membuat Satya bergeming. Satya semakin mencium bau-bau keanehan dari rumah ini. Namun dia mengurungkan niatnya untuk menggali lebih jauh lagi.


Lamat-lamat kelopak matanya pun kian tertutup. Kantuknya tak tertahankan lagi. Satya pun terlelap di kursi rotan tersebut.


Gubrak!


Suara keras seperti benturan itu membuat Satya terjaga. Sambil mengumpulkan kesadarannya, dia melirik jam digital di layar ponselnya. Ternyata sudah tigapuluh menit berlalu sejak dia tertidur. Kedua cangkir teh masih berisi penuh. Namun dia tak mendapati Laksmi di sana.


Pemuda berambut ikal itu lantas beranjak dari tempatnya dan berjalan ke sisi jendela. Hujan lebat masih mengguyur Dusun Wingit. Sepertinya belum ada tanda-tanda akan reda.


Satya kemudian berjalan menyusuri bangunan itu, untuk mencari keberadaan Laksmi. Suasana begitu senyap dan mencekam. Rumah itu tampak gelap, karena lampu tidak menyala, serta tidak ada sinar matahari.


Satya kini berada di lorong tengah-tengah rumah itu. Dia baru menyadari, ternyata rumah milik ayah mertuanya itu hanya memiliki dua kamar. Jika yang di sebelah kanan adalah milik ayahnya, tentu yang di sebelah kiri itu milik Laksmi.


Ah! Satya baru ingat kata-kata Laksmi, agar jangan pernah sembarangan memasuki ruangan di rumah ini. Namun sepertinya Laksmi lupa, bahwa larangan adalah perintah. Pria itu tetap melangkahkan kakinya ke ruangan yang tertutup rapat tersebut.


"Bau apa ini? Kok kayak bau bangkai?"


Satya spontan menutup hidungnya tatkala berdiri di depan kamar yang diduga milik sang istri. Memang ini bukan pertama kalinya Satya mencium aroma tak sedap itu. Saat mereka baru datang tadi, Satya juga mencium aroma yang sama secara samar. Namun tadi dia mengabaikannya.


Ceklek! Tangan Satya dengan lancang membuka kenop pintu.


"Jangan dibuka!"


Pak Dukun cepat-cepat berteriak dan menepis tangan menantunya. Tentu saja hal itu membuat Satya terlonjak kaget dan menoleh ke belakang. Selama ini dia mengenal ayah mertuanya sebagai orang yang bertutur kata lembut.


Apa benar bahwa setelah menikah semua sifat tersembunyi akan terbuka?


"Maaf, aku nggak membukanya, Pak. Aku cuma ingin tahu, apa Laksmi ada di dalam?" ucap Satya dengan lembut.


"Jangan! Lebih baik kamu nggak usah penasaran!" hardik Pak Dukun sembari meminta Satya pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Pak Dukun menatap mata Satya dengan tajam, seolah hendak menusuk rongga dada. Dari tatapannya terlihat jelas ketidaksukaannya atas sikap sang menantu. Satya pun semakin penasaran. Tadi Laksmi yang melarangnya, kini sang ayah.


"Jangan dekati kamar itu! Apalagi membukanya!" larang Pak Dukun dengan tegas.


Satya pun bingung. "Ada apa? Aku kan hanya mencari keberadaan Laksmi? Apa itu terlalu kurang ajar? Memangnya ada apa di dalam kamar ini?" batinnya.


Satya pun menahan dirinya untuk penasaran lebih jauh lagi, dan menunggu waktu yang tepat untuk membukanya. Dia lalu beringsut mundur dari depan pintu misterius itu lalu kembali ke ruang tamu. Pak Dukun mengawasinya hingga sang menantu benar-benar duduk di sana.


"Cih, untung belum sempat dia buka. Seharusnya tadi aku langsung mengunci pintunya rapat-rapat, setelah memberinya makan," batin Pak Dukun yang hampir kecolongan itu.


Sementara Pak Dukun kembali ke dalam kamar, Satya duduk di ruang tamu dengan perasaan gundah. Laksmi belum juga kelihatan batang hidungnya. Sementara dia gak bisa bergerak bebas di rumah ini.


Pria itu lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mengusir rasa bosan. Matanya tertuju pada sebuah foto buram yang mengabadikan seorang remaja berpakaian SMP.


Rasa penasaran Satya semakin mencuat. Dia lalu beranjak dari kursi, dan mendekati foto yang tergantung di dinding. "Ada yang aneh dari foto ini," gumamnya.


"Udah bangun, Mas?"


Suara sapaan itu hampir saja membuat jantung Satya melompat keluar. Ekor matanya melirik ke arah kiri, ternyata Laksmi sudah berdiri di sebelahnya.


"Aku tadi ke dapur, Mas. Masak untuk makan malam Bapak," jawab Laksmi.


"Dapur? Ah, benar juga. Aku tadi belum mengecek ke dapur. Tapi kalau dia beneran masak, kenapa aku nggak mencium aroma masakan dari dapur?" Satya berucap dalam hati.


"Kenapa Mas lihatin aku kayak gitu? Mas nggak percaya?" tanya Laksmi sambil tertawa kecil.


"Memangnya kamu masak apa? Kok nggak tercium baunya?" tanya Satya.


"Aku masak sarden sama kacang panjang, Mas. Ayo ke dapur kalau mau cicip."


Entah kenapa Satya menurut saja dibawa Laksmi ke dapur. Ternyata benar. Meja makan dari kayu sungkai itu berisi semangkok rawon sisa tadi, sepiring sarden dan semangkok tumis kacang panjang.


Aromanya sangat menggugah selera. Satya tidak mencium lagi bau tak sedap dari bilik kamar yang terlarang itu.

__ADS_1


"Ternyata Laksmi benar-benar cekatan, ya. Dalam waktu setengah jam dia bisa masak sebanyak ini," batin Satya.


...***...


Hari sudah beranjak malam, ketika Satya dan Laksmi memutuskan untuk pulang. Hujan telah berhenti. Namun jejaknya masih tersisa di sepanjang matan memandang. Becek dan menggenang.


"Mas, aku minta maaf, ya." Laksmi tiba-tiba memecah keheningan.


"Hhmm? Minta maaf soal apa?" tanya Satya tak mengerti. Rasanya Laksmi tak ada berbuat salah padanya.


"Aku minta maaf, karena bulan madu kita tertunda seminggu," jelasnya.


"Oh, maksudnya karena kamu datang bulan?" ujar Satya tanpa menoleh. Jalanan tanah yang becek dan menurun, memaksanya untuk tetap fokus.


"Iya," sahut Laksmi singkat.


"Ya gak apa-apa toh, Dek. Itu tandanya kamu normal, sehat," balas Satya.


"Huh! Sebenarnya aku yang kenapa-kenapa. Seharusnya aku sudah menghabisi cecunguk ini di malam pertamanya. Tapi entah kenapa aku nggak bisa menyentuhnya sama sekali. Aura kuat yang dimilikinya justru menjadi tameng baginya."


Satya tak sadar, jika sosok di sebelahnya telah berubah wujud. Tidak ada lagi wanita cantik dengan rambut digelung ke atas, dan baju terusan warna hijau.


Yang ada saat ini sosok berambut panjang yang melebihi badannya. Wajah hancur tak berbentuk, serta baju putih kusam yang berlumuran darah.


Netranya yang bolong tanpa bola mata di dalamnya, tampak menghitam dan seakan memandang Satya dengan tajam. Jemarinya menumbuhkan kuku panjang bagai macan. Mulutnya yang terbuka membisikkan sebuah kata-kata bagai mantra.


"Huh? Kamu bilang apa, Dek? Gak kedengeran," kata Satya. Dia melayangkan pandangan ke kiri.


"Aku lapar," ucap wanita manis di sebelahnya.


"Ah, benar juga. Kita belum makan malam. Kamu mau makan pecel lele atau bakso?" tanya Satya.


Perempuan berwajah ayu di mata Satya itu menyeringai lebar, dengan tatapannya yang kosong dan mematikan. "Tunggu aja, bocah. Aku pasti akan menemukan keburukanmu di masa lalu, dan menghabisimu tanpa sisa."

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2