
"Heh, Genta. Ngapain kowe ngirim video kosong karo aku?" ucap Aksa di telepon. -Ngapain kamu kirim video kosong sama aku?-
"Hah? Video kosong opo?" Genta yang masih setengah sadar, masih belum loading apa yang dibicarakan oleh rekan sekolahnya itu.
"Video sing kowe kirim isuk-isuk. Aku baru sempet ndelok," jelas Aksa. -Video yang kamu kirim tadi pagi. Aku baru sempat lihat."
"Ah, video penampakan itu? Ja-jadi aku didatengin sama cewek itu," ucap Genta setengah berbisik. Dia takut membangunkan istrinya yang sedang tidur.
"Tunggu! Opo maksudmu penampakan? Videomu ndak ada apa-apa, kok. Cuma lihatin mobilmu aja, kok."
"Moso, sih? Aku dihantui sama arwah perempuan itu. Tadi pagi dia datang, numpang duduk di sebelahku, trus ku video-in untuk bukti ke kalian," ungkap Genta. Dia berjalan berjingkat-jingkat menuju keluar kamar dan berpindah ke ruang tengah.
Sebenarnya dia sedikit malu menceritakan hal itu pada rekannya. Apalagi dia seorang penegak hukum, yang dituntut untuk berani dalam keadaan apa pun. Tetapi bukankah Aksa duluan yang mengaku dihantui?
"Astaga! Dia beneran datang? Berarti waktu itu aku nggak halu."
Aksa yang kembali mengingat teror Kinanti di mobilnya, beberapa waktu lalu. Di seberang sana, seluruh tubuhnya merinding. Mana dia sudah pulang ke desa, dan sendirian di rumah.
"Aku serius. Gak cuma sekali, tapi sampai malam ini. Waktu aku kerja dia menampakkan diri terus." Genta masih merasa sangat malu, karena pingsan mendadak di tengah-tengah warga desa. Mungkin inilah kejadian paling memalukan, sejak dia menjadi seorang polisi.
"Ck! Bener-bener, deh! Mau ngapain lagi dia datang?" umpat Aksa.
"Aksa, ini aneh. Kenapa baru sekarang dia meneror kita? Apa ini ulah orang iseng? Tapi siapa yang mengetahui perbuatan kita dulu?" ujar Genta menghujani temannya itu dengan pertanyaan.
"Entahlah, aku juga bingung. Aku malah penasaran, apakah nanti semua pelaku akan diteror oleh makhluk itu? Atau cuma kita aja?" balas Aksa.
"Apa kamu masih diteror dia?" tanya Genta penasaran.
"Aku sih nggak. Tetapi istri sama anakku. Bahkan anakku yang bungsu hampir saja dibawa sama dia," cerita Aksa.
"Hah? Beneran? Kita harus cari cara untuk nengusirnya. Jangan sampai dia mengganggu keluarga kita juga."
Aksa terdengar membuang napas dengan kasar, "Gimana caranya buat ngusir dia? Kita aja nggak tahu kenapa dia datang, dan kapan aja dia muncul. Semoga sih dia nggak datang lagi."
"Iya juga, ya," balas Genta. "Ah, tapi ada sesuatu yang aneh. Aku nggak tahu kamu ngalaminnya juga apa nggak," ujar polisi muda itu lagi.
"Apa?" tanya Aksa turut penasaran.
"Aku ngalamin kejadian aneh ini setelah jumpa sama istrinya Satya. Kamu tahu Satya, nggak? Anak sulung Pak Darya."
"Iya, aku tahu. Jadi kamu juga udah ketemu si Laksmi?" balas Aksa.
"Oh, jadi namanya Laksmi? Tadi di mobil, cewek yang ngikutin aku itu ya Laksmi. Tapi lama-lama berubah jadi mirip Kinanti," ujar Genta.
"Ja-jadi, kamu juga sama?"
"Apa maksudmu sama? Kamu gitu juga?" tanya Genta pada si kepala desa itu.
__ADS_1
"Ya, aku juga diteror sama kuntilanak itu setiap habis ketemuan sama Laksmi. Ini bukan cuma sekali kejadiannya," ungkap Aksa.
"Jadi bener, ini semua ada hubungannya sama cewek itu? Ah, aku jadi makin penasaran sama dia," gumam Genta seperti menemukan titik permasalahan mereka.
"Ta, gimana kalau besok kita ketemuan? Kita harus cari tahu, siapa di Laksmi ini dan apa hubungannya sama Kinanti," usul Aksa.
"Aku setuju. Besok aku kabari kita ketemuan di sana," ucap Genta sebelum menutup telepon.
"Haaah, ada-ada aja. Hidup udah enak nyaman gini, ada aja masalah baru."
Genta merebahkan tubuhnya ke sofa di ruang tengah itu. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, tetapi juga pikirannya. Entah bagaimana besok dia masuk kantor. Pasti semua orang bakalan menertawakannya karena dia pingsan tanpa sebab.
"Astaga, Riana! Sejak kapan kamu berdiri di sana?"
Genta terkejut melihat seorang wanita berdiri di depan pintu kamar. Kedua tangannya terlipat di atas perut, membuat bagian dadanya yang dibungkus oleh daster tipis itu tercetak dengan jelas.
"Kamu teleponan sama siapa tengah malam begini?" cecar wanita itu, dengan wajah bertekuk kesal.
"Aku menelpon Aksa. Ada urusan kerjaan," balas Genta. Wajahnya begitu tenang, karena dia tidak berbohong.
"Terus kenapa bisik-bisik gitu?" selidik wanita itu lagi.
Genta menarik napas panjang. Meskipun dia seorang polisi, tapi tetap saja tak bisa nengalahkan sifat inteligen dari seorang wanita.
"Aku takut membangunkan kamu. Karena kamu tidurnya nyenyak banget. Kalau nggak percaya cek aja HPku," kata Genta lagi.
"Udah, yuk. Tidur. Aku ngantuk," ajak Genta.
"Ih, jangan. Udah bangun gini mending sekalian aja." Riana mengecup pipi lelaki itu, mengajaknya beribadah suami istri.
"Ya udah ayo ke kamar," balas Genta tanpa menolak ajakan wanita itu.
"Di sini aja. Lebih seru. Lebih menantang," paksa Riana, sembari menurunkan kain penutup atas lelaki itu.
"Di sini? Kalau Zivanna bangun gimana?" tolak Genta.
"Ish, gak bakalan. Sesekali ganti suasana, dong," desak perempuan cantik itu.
Tak menolak untuk kedua kalinya, Genta pun memenuhi permintaan sang istri.
Dua puluh menit berlalu, pertempuran mereka akhirnya selesai. Ini adalah permainan yang sangat lama, sejak mereka menikah. Genta sedikit terkejut dengan sikap istrinya yang agak aneh, tetapi dia juga menyukainya.
"Mau minum, Mas?" tanya Ariana sambil merapikan rambutnya.
"Boleh. Bawakan ke kamar aja," ujar Genta.
Lelaki langsung menuju ke kamar untuk meluruskan pinggang, sementara istrinya ke dapur untuk mengambil minum. Alangkah terkejutnya Genta, saat melihat Ariana masih terbaring di kamar.
__ADS_1
"Lho, apa-apaan ini? Bukannya Ariana tadi ke dapur?"
Genta mengusap kedua tangannya yang merinding. Dia lalu menyalakan lampu, untuk memastikan apa yang berada di atas tempat tidur itu benar-benar istrinya?
"Loh, sayang kamu dari mana? Belum tidur?" Perempuan berwajah manis itu terbangun. Dia mengucek matanya yang tampak memerah.
"Bu-bukanya tadi kamu dari dapur?" tanya Genta dengan suara bergetar.
"Hah? Dapur? Aku kan tidur, sayang," balas wanita itu.
Genta lalu melongokkan kepalanya keluar pintu kamar. Ternyata lampu di dapur memang tak menyala. Ruangan itu gelap gulita. Dia ingin nemastikan bahwa Ariana yang asli sedang berada di dapur.
"Tapi tadi kan kamu ngajak aku gituan?" Genta bersikukuh pada kejadian yang baru saja dia alami.
"Hah? Gituan apanya? Aku kan lagi datang bulan, sayang. Udah hari kedua ini. Masa kamu lupa?"
Jeder!
Jawaban Ariana barusan membuat Genta semakin ketakutan. Dia baru teringat jika kemarin Ariana menolak ajakannya, karena sedang mendapat tamu bulanan. Kalau Ariana tertidur dan sedang datang bulan, lantas siapa yang dari tadi bersamanya?
Sudut mata Genta menangkap kain putih bersimbah darah di sudut lemari. Hatinya yang takut, tak sejalan dengan matanya yang bergerak cepat untuk melihat lebih jelas kain di sudut lemari itu. Kakinya mendadak lemah, saat dia menyadari siapa yang berdiri di sana.
"Aaaarrrgghh!" Pekik Genta tanpa disadarinya. Dia pun terduduk di lantai.
"Sayang, kamu kenapa?" Ariana melihat ke arah pandangan suaminya, namun tak ditemukan apa-apa.
"K-k..." Kali ini tangan Genta menjulur, menunjuk ke arah sosok yang bersembunyi di samping lemari itu. Rambut panjangnya yang kusut, terurai hingga ke lantai.
"Apa? Kecoak?" tanya Ariana seraya mengambil racun serangga.
Genta menggelengkan kepalanya. Dia masih berusaha bicara, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Dadanya berdebar semakin cepat, saat lembaran kain itu bergerak dari sisi lemari. Tubuhnya semakin lama semakin membesar.
"Sayang, kamu kenapa sih? Sejak pulang tadi aneh banget. Ayo, berdiri."
Ariana menjulurkan tangannya untuk membantu sang suami untuk beranjak dari lantai. Namun bersamaan dengan itu, terdengar suara anaknya yang menangis di kamar sebelah.
"Zivanna?" seru Arianna sambil berlari ke kamar sebelah, untuk melihat keadaan anaknya.
"Ja-jangan tinggalin aku, Riana." Genta hanya bisa berucap dalam hati, karena tubuhnya masih membatu.
"Hihihihi..." Sosok itu kini hanya berjarak dua hasta dari Genta. Senyumnya yang teramat lebar, membuat nyali lelaki itu semakin ciut.
"Jangan bilang aku tadi habis berhubungan dengannya? Gak! Gak mungkin, kan?"
"Hihihihi..."
(Bersambung)
__ADS_1