Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 62. Terbongkarnya Rahasia Rani


__ADS_3

"Aku bukan pelakor, Mbak. Aku juga istri sah Mas Aksa. Aku punya buku menikah resmi," balas Dewi.


"Bisa-bisanya kamu ngomong gitu? Mana ada seseorang bisa berpoligami tanpa izin istri pertama? Jangan macam-macam kamu, ya."


Air mata Rani telah bercucuran. Tangannya mengepal kuat menahan emosi. Dadanya kembang kempis mengatur napas agar tidak sesak.


"Coba bilang, kapan kamu menikah dengan Mas Aksa? Kapan? Kenapa aku nggak tahu? Aku bisa tuntut kalian berdua!"


Dewi tersentak mendengar suara Rani yang semakin tinggi. Sesekali ekor matanya melirik ke arah sang suami yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Mbak, kita bicaranya nanti aja, ya. Kita bicara di luar," ucap Dewi tak menjawab pertanyaan Rani.


"JAWAB PERTANYAANKU SEKARANG!" pekik Rani dengan tubuh bergetar. Matanya telah memerah menumpahkan banyak air mata.


Dewi terlonjak kaget. Kedua netranya terbuka lebar, dengan tangan kanan mengusap dada.


"Astaghfirullah, Rani. Ini di rumah sakit. Jangan teriak-teriak, lah. Kamu mau membunuh suamimu?"


Seorang wanita berbaju cokelat memasuki ruangan dengan wajah masam. Dia meletakkan sebuah bungkusan plastik di atas meja lalu berkata, "Dewi, ini makan siangmu. Istirahatlah dulu."


Rani tersentak kaget mendengarnya. Rasa tak percaya, tetapi ibu mertuanya berbicara dengan Dewi layaknya sudah sangat akrab.


"Jadi Ibu juga tahu tentang hal ini? Kenapa cuma aku sendiri yang dibohongi? Kenapa?" Rani terduduk lemas di lantai rumah sakit. Pipinya keram karena sejak tadi terlalu banyak menangis.


"Rani, berdirilah. Kita bicara di luar," ajak ibunda Aksa tersebut.


"Bu, aku jauh-jauh datang ke sini dengan perasaan campur aduk, setelah mendengar Mas Aksa kecelakaan. Aku tinggalkan anakku yang sekarang lagi di IGD. Tapi apa? Ini yang aku dapatkan?" kata Rani dengan suara bergetar.


Dia sudah pasrah duduk di lantai, karena kakinya tak kuat lagi menopang tubuhnya untuk berdiri


"Bisa-bisanya aku meninggalkan Nada di rumah sakit, demi lelaki yang hanya luka ringan di tangan dan kaki. Ditambah lagi ada istri simpanannya yang menemani."


Rani meratap sedih. Sesak di dadanya bertambah besar. Manik matanya menatap Aksa yang tengah terbaring dengan nanar. Sungguh, luka fraktur atau patah tulang tidak bisa dibilang luka ringan. Tetapi hati Rani sudah terlanjur sakit.

__ADS_1


"Iya, Rani. Maafkan kami karena tak bicara denganmu sejak awal. Tetapi kita tak bisa bicara di sini. Bisa mengganggu suamimu dan juga pasien lain," kata ibunda Aksa dengan lembut.


Rani membuang napas kasar. Entah apa lagi yang akan diucapkannya sekarang. Hatinya perih tersayat-sayat. Rasa khawatirnya pada sang suami telah berubah menjadi rasa benci.


Tetapi demi menpertahankan rumah tangganya, Rani pun akhirnya setuju untuk pindah tempat dan membicarakan masalah ini lebih serius.


...***...


"Jadi sudah sejak kapan?" Rani langsung mencerca Dewi dan ibu mertuanya, setelah mereka berpindah ke belakang rumah sakit yanh cukup sepi.


"Aku sudah lima tahun menikah dengan Mas Aksa, sebelum beliau jadi kepala desa," jawab Dewi dengan suara rendah.


"Lima tahun? Sudah selama itu kalian semua membohongiku?" Pundak Rani bergerak naik turun, seiring dengusan napasnya yang terdengar kasar. "Kalian anggap apa aku ini?"


"Kamu menantu Ibu. Dewi juga menantu Ibu. Tak ada bedanya," jawab ibunda Aksa itu dengan tegas.


"Tega Ibu bikin aku kayak gini. Mana ada perempuan mau dipoligami, Bu. Pernikahan ini nggak sah. Aku bisa menuntut kalian semua," kata Rani dengan ketus.


"Apanya yang baik-baik kalau merebut suami orang?" balas Rani dengan nada tinggi.


"Bukannya Mbak sendiri yang dulu meminta talak sama Mas Aksa lalu menyuruhnya menikah lagi, hanya karena masalah sepele? Apa Mbak tahu yang dia alami, setelah kalian pisah ranjang dulu?" balas Dewi semakin jumawa.


Rani terdiam seketika. Dulu dia memang pernah bertengkar dengan Aksa, karena dilarang pergi liburan ke luar negeri bersama teman-teman arisannya. Padahal saat itu kondisi keuangan mereka sedang pas-pasan, dan anak pertama mereka masih sangat kecil.


Rani pun menuding Aksa sebagai pria tak becus sebagai suami. Itu bukan pertama kalinya Rani marah karena hal sepele. Perempuan itu pun bilang, dia membiarkan Aksa mencari perempuan yang jauh lebih baik dari dirinya jika memang bisa. Namun Aksa tetap mempertahankan rumah tangganya.


Berminggu-minggu mereka terus bertengkar dan Rani meminta cerai. Aksa yang terlalu lelah dengan sifat kekanakan, akhirnya menjatuhkan talak dua pada Rani Juwita.


Selang beberapa waktu, Rani akhirnya meminta rujuk. Aksa pun menurutinya. Tapi siapa sangka, dalam selang waktu enam bulan itu hati Aksa begitu cepat berpaling pada wanita lain.


"Sebulan setelah Aksa menikahi Dewi, kamu meminta rujuk. Dewi pun mengizinkannya. Dia juga rela jika waktu Aksa lebih banyak diberikan padamu. Beberapa kali kalian mau dipertemukan, tetapi kamu selalu menolak ajakan Aksa untuk kumpul keluarga," kata ibu mertua Rani.


"Tapi tetap saja alasan itu nggak bisa dibiarkan. Aku istri pertama Aksa. Aku lebih berhak atas dirinya dibanding perempuan ini!" Rani menunjuk wajah Dewi dengan kasar.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, Rani. Dia wanita baik-baik yang dinikahi dengan cara baik-baik. Dia bahkan rela melahirkan tanpa didampingi suami, karena Aksa menemanimu liburan di Bali." Ibunda Aksa kembali membela Dewi.


"Ya begitulah istri simpanan. Dia mau melakukan apa saja, asal suami orang tetap berada di pihaknya," sindir Rani. "Sudahlah, aku lelah."


Perempuan itu lalu meninggalkan mereka, tanpa sepatah kata pun. Dia pun tidak menjenguk suaminya lagi di kamar rawat.


...***...


Brak! Rani membuka pintu rumahnya dengan kasar, membuat kedua putrinya terlonjak kaget. Terlebih Nada yang belum pulih benar dari demamnya.


"Kalian berdua masuk ke kamar, ya. Mama sibuk," ucap Rani dengan ketus.


Tanpa membantah, Najla pun menarik lengan sang adik dan mengajaknya ke kamar. Gadis cilik itu tahu, kalau sang ibu sedang tidak baik-baik saja.


Setelah menutup pintu depan, Rani pun memasuki kamarnya. Air matanya masih merembes. Tubuhnya oleng masih berusaha untuk berdiri, dan membuka lemari bajunya.


Seuntai rambut panjang pun turun dari langit-langit, disusul dengan baju putih kusam yang berdarah. Sosok berwajah pucat dan mata kosong itu menatap Rani dengan heran.


"Kenapa dia menangis? Apa lelaki itu sudah mencapai ajalnya?" Sosok menyeramkan itu melayang turun dan berubah menjadi gadis SMA yang cantik jelita. Dia tak tega melihat sahabatnya menangis.


"Dasar pria laknat! Bisa-bisanya dia berselingkuh dariku," rutuk Rani.


Dengan perasaan tak menentu, Rani membereskan barang-barang dalam koper. Besok pagi walaupun dengan kesedihan, dia tetap ingin mengosongkan rumahnya bersama Aksa di desa ini. Hatinya terlalu marah pada Aksa.


"Ah, jadi dia sudah tahu kalau Aksa memiliki istri lain?" Kinanti mengusap rambut Rani dengan lembut untuk menenangkannya. Meskipun perempuan malang itu tak bisa merasakannya.


"Kenapa hidupku jadi hancur berantakan, sih?" Rani melemparkan kain-kain milik Aksa ke sembarang arah.


"Padahal sejak dulu aku susah payah menyingkirkan semua wanita dari sisi Aksa, termasuk si Kinanti yang miskin itu. Tapi kenapa masih ada saja perempuan lain yang mengisi hatinya?"


"Apa?" Jemari lentik yang halus milik Kinanti, berubah menjadi cakar tajam dan kulit pucat.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2