
"Loh, memangnya Laksmi ndak cerita? Setiap bulan, terutama malam jumat kliwon, Pak Dukun kan selalu pergi ke suatu tempat," ujar Pak Teguh pula.
"Hah? Bapak pergi setiap malam jumat kliwon? Mau ngapain? Aku baru dengar soal ini," kata Satya.
Pak Teguh dan Damar saling berpandangan. Mereka kompak menutup mulut dengan tangannya, seakan baru saja keceplosan.
"Ada apa, sih?" Satya semakin penasaran.
"Iya, itu kebiasaan Pak Dukun, setelah Mbak Laksmi mati suri. Hanya sesekali Pak Dukun tidak pergi ketika malam jumat kliwon. Salah satunya waktu kamu tersesat ke pos ronda waktu itu," celoteh Damar lagi.
"Mati suri?" hampir saja jantung Satya melompat keluar, mendengar kabar itu.
Damar menepuk mulutnya sendiri. Sepertinya dia baru sadar, kalau tadi keceplosan ngomong. Sedangkan wajah Pak Teguh tampak tegang.
"Mas Damar, Pak Teguh, ceritain sama aku. Apa yang terjadi sama Laksmi sebenarnya?" pinta Satya.
Kelopak mata Satya yang terbuka kian lebar, membuat Pak Teguh dan Damar tak tega menyembunyikan rahasia ini lagi. Mbok Lastri yang sejak tadi turut menyimak, juga menganggukkan kepalanya.
"Laksmi itu sama seperti ibunya. Mengidap penyakit langka, jadi jarang banget keluar rumah. Setelah berobat ke sana sini, akhirnya istri Pak Dukun meninggal. Dia terpukul banget kehilangan istrinya. Padahal waktu itu Laksmi lagi sakit juga."
Pak Teguh memulai ceritanya. Sesekali matanya melirik kebkanan dan ke kiri untuk memperhatikan keadaan. Untunglah pengunjung warung Mbok Lastri saat ini hanya mereka.
"Terus, kapan Laksmi mati suri?" Satya masih penasaran soal itu.
"Kalau nggak salah, enam bulan setelah kepergian istrinya," ungkap Pak Damar.
Lelaki itu mengusap tengkuknya yang meremang. Dia masih sangat ingat, bagaimana suasana mencekam pada malam itu, dua puluh tahun yang lalu. Langit gelap tanpa bintang. Angin bertiup cukup kencang, disertai lolongan anjing liar yang bersahut-sahutan. Tiba-tiba mereka mendengar kabar duka dari sebuah mushola.
"Jadi waktu malam itu, kalau nggak salah tahun dua ribu tigaan, ada yang mengabarkan kalau Laksmi meninggal. Waktu itu Pak Dukun sedang tak di rumah. Dia mencari ayam cemani untuk obat," ungkap Pak Teguh.
"Jadi itu sebabnya, foto perpisahan yang dipajang di ruang tamu bertuliskan tahun 2000-an. Artinya, Laksmi seumuran dengan Kinanti," ucap Satya dalam hati.
"Tapi, rupanya kabar itu salah. Laksmi masih hidup. Orang-orang pun menyimpulkan, kalau Laksmi hanya mati suri. Sejak itu pula Pak Dukun selalu pergi ke suatu tempat, saat malam jumat kliwon." Pak Teguh kembali melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Memangnya Bapak pergi ke mana?" selidik Satya.
Kedua lelaki Dusun Wingit itu kompak mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepala.
"Nggak ada yang tahu. Katanya dia membawa Mbak Laksmi berobat di Jakarta. Padahal waktu itu kurang dua minggu dari ujian kenaikan kelas. Sejak saat itu kami jarang banget lihat Mbak Laksmi." Kali ini Damar yang bercerita.
"Ah, sayang banget, ya. Pantas Laksmi nggak memiliki teman," komentar Satya. Dia tahu, jika Laksmi memang putus sekolah karena sakit.
"Ya, begitulah. Anehnya, mulai saat itu dusun kami sering diteror sama kuntilanak. Orang-orang pun mengira, kalau Pak Dukun bersekutu dengan jin untuk menyembuhkan Laksmi," bisik Pak Teguh.
"Dan parahnya setiap kuntilanak itu muncul, dia selalu mencari seorang pemuda, untuk dinikahinya secara gaib. Lalu pemuda itu mati tanpa sebab," sambung Pak Teguh disertai anggukan kepala Damar.
"Astaghfirullah!" seru Aksa sampai ternganga.
"Tapi cerita itu sampai sekarang gak terbukti kebenarannya. Karena sampai sekarang Laksmi jarang pulang dari Jakarta," kata Pak Teguh.
"Kalau pun pulang, dia hanya di rumah saja. Hanya sesekali terlihat di halaman rumah. Mbak Laksmi juga semakin pendiam," ujar Damar menimpali.
"Jadi sekarang Laksmi ada di Jakarta?" celetuk Satya tiba-tiba.
Satya menyadari kesalahannya barusan. Mereka kan tidak tahu, kalau yang dia nikahi adalah sosok kuntilanak yang mirip dengan Laksmi? Dia bahkan tidak pernah bertemu dengan Laksmi yang asli.
"Ah maksudku, jadi dulu Laksmi lama tinggal di Jakarta untuk berobat?" Satya meralat kalimatnya.
"Iya."
"Kami aja kaget, waktu pemuda tampan kayak kamu mau menikahi Mbak Laksmi yang jauh lebih tua darimu," celetuk Pak Damar.
"Emang ketemuannya di mana? Tapi yang namanya cinta, itu nggak menjadi halangan, to? Terakhir kali kami bertemu dengannya, wajahnya masih seperti ABG," ujar Mbok Lastri menambahkan.
Satya menggaruk lehernya yang mendadak gatal. Nggak mungkin 'kan dia cerita, kalau pertama kali ketemu Laksmi di bawah pohon randu tempat meletakkan sesajen. Lagian itu bukan Laksmi, sih. Tetapi kuntilanak yang menyerupai Laksmi.
Sama seperti orang-orang dusun sini, Satya menduga nama "Dukun" bukanlah sekedar singkatan dari Pandu Kuncoro lagi. Tetapi berkaitan dengan hal mistis. Apalagi dia memiliki kaitan dengan sosok kuntilanak yang kini dinikahinya.
__ADS_1
Tapi bukan itu masalah utamanya. Gimana kalau nanti Laksmi yang asli pulang, dan menuntutnya atas pernikahan palsu? Ah, Satya jadi punya kekhawatiran baru. Masalah ini harus tetap dia bicarakan bersama Pak Dukun.
...***...
Kinanti membersihkan meja dapur di rumah Bu Nastiti. Tangannya dengan cekatan mengelap tempat-tempat bumbu yang berdebu, lalu menyusunnya kembali.
Rambut panjangnya menjuntai ke lantai tanah. Darah kental yang menetes dari baju putihnya, berceceran di lantai. Untunglah darah itu hanya darah gaib yang tidak benar-benar mengotori lantai.
Jika saja ada yang bisa melihat wujud Kinanti saat ini, dia pasti sudah pingsan di tempat. Untunglah saat ini Bu Nastiti sedang bekerja di kebun, bersama Pak Diman.
Krieeet! Mendadak pintu dapur berderit. Seseorang membukanya. Kinanti pun buru-buru bersembunyi di atas plafon.
"Kok Bapak sama Ibu pulangnya cepet banget?" gumam sosok itu keheranan.
Ah, ternyata itu bukan Pak Diman maupun Bu Nastiti. Kinanti terkejut melihat Aruna celingukan di pintu dapur. Tangannya memegang sesuatu yang digulung kain putih.
Kinanti melayang turun. Kini dia berdiri persis di hadapan Aruna. Perempuan tiga puluh tujuh tahun itu kemudian membuka gulungan kain dengan hati-hati.
"Argh! Berani-beraninya dia! Untuk apa dia membawa benda itu ke sini?" Kinanti mencampakkan boneka santet yang berada di tangan Aruna.
Perempuan itu terkejut dan memekik ketakutan. "Kenapa bonekanya tiba-tiba jatuh?"
Aruna mengambil kembali boneka dari kain kafan itu, lalu cepat-cepat meletakkannya di bawah lemari kayu. Dia juga membaca beberapa kalimat mantra, seraya meletakkan selembar foto di dekat boneka itu.
"Tak cukup membunuhku, berani-beraninya kalian mau membunuh kedua orang tuaku!"
Kinanti menampakkan wujudnya di depan Aruna. Tubuhnya yang penuh luka lebam dan tetesan darah, menjulurkan tangannya ke leher perempuan itu. Matanya yang kosong, kini tampak membulat besar dan berwarna merah.
"Kyaaaaa!" Aruna menjerit sekuat tenaga. Kakinya lemas, tak sanggup berlari keluar.
"Mau ke mana kamu? Hihihihi...."
Kedua tangan Aruna menjejak di leher perempuan itu, lalu mencengkeramnya dengan kuat.
__ADS_1
"Erh!" Aruna merasa sesak. Dia tidak bisa bernapas.
(Bersambung)