
Akhir semester dua, tahun 2003.
"Kinan. A-aku suka sama kamu dari kita kelas satu. M-mau nggak pacaran sama aku?"
"Hah? Aksa menembak Kinan?"
Seorang wanita berdiri di balik rerimbunan bunga asoka dan bougenville. Dia menguping pembicaraan dua muda-mudi itu. Hatinya bergemuruh saat mengetahui, bahwa cowok yang dia sukai justru menembak temannya untuk dijadikan pacar.
"Keparat! Padahal aku sudah susah payah berdandan cantik setiap hari demi menggaet Aksa. Aku juga sudah berakting jadi wanita kaya baik hati. Tapi kenapa Aksa tetap memilih gadis miskin itu?"
Rani Juwita, anak dari Kepala Desa Citraloka, orang terkaya di desa itu menggeram kesal. Hidupnya serba mudah sejak kecil. Apa pun yang dia inginkan pasti selalu dapat.
Namun sekarang, cowok yang disukainya tak pernah sekali pun meliriknya. Maka segala cara dia lakukan, untuk mendapatkan lelaki incarannya. Aksa Sakuntala, si cowok tampan dan pintar. Termasuk berpura-pura menjadi Kinanti selama satu tahun lebih.
"Aksa, kayaknya aku nggak bisa pacaran denganmu," ujar Kinanti lirih.
"Hah?"
Mulut Rani menganga mendengar Kinanti menolak Aksa. Tapi sesaat kemudian, timbul seulas senyum di wajahnya.
"Baguslah. Tolak saja. Jadi aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan Aksa," gumam Rani menyeringai lebar.
"Ah, jadi begitu? Kalau aku tunggu kamu sampai kelulusan SMA, boleh kan?"
Rani kembali mendengar obrolan antara Satya dan Kinanti, "Kenapa dia masih mengharapkan cewek kampungan itu, sih? Memangnya apa yang kurang dariku ini?" umpatnya.
Manik mata perempuan itu semakin membesar, melihat adegan sepasang muda mudi bagaikan dalam sinetron.
"Cih, gak akan aku biarkan. Pokoknya aku yang akan mendapatkanmu, Aksa," ucapnya. "Tapi, buku apa yang dikasih Aksa ke cewek itu? Aku nggak bisa lihat dengan jelas."
Beberapa hari kemudian, tersebar kabar Aksa ditolak oleh Kinanti tersebar di sekolah. Sudah bisa ditebak siapa pelakunya. Karena hanya ada satu orang yang menguping pembicaraan mereka kala itu.
"Aksa!" seru Rani ketika latihan paskibraka.
Kebetulan mereka berada dalam ekstrakulikuler yang sama. Sementara Kinanti berada di ekskul PMR.
"Haaah, bocah ini mau ngapain lagi, sih?" pikir Aksa malas membalas teguran Rani. Dia jengah diikuti terus oleh Rani.
__ADS_1
Menurutnya, Rani itu cewek sombong yang suka merendah untuk meroket. Semua yang dilakukannya hanya pura-pura, supaya image-nya bagus di mata orang lain.
"Dih, sombong banget, sih. Ini, ada minum untukmu," kata Rani menyodorkan sebotol air mineral dingin.
"Aku juga bawa minum, kok." Aksa mengeluarkan sebuah botol plastik berisi bekal minumnya yang dibawa dari rumah.
"Haah, ya udah, deh. Tapi aku boleh duduk di sampingmu, kan?" Dia mencari tempat teduh di bawah pohon, lalu duduk di sana.
"Rani, kau menyukaiku?" tanya Aksa mendadak.
Pipi Rani bersemu merah, saat mendengar pertanyaan dari lelaki yang mengisi ruang hatinya sejak kelas satu itu, "Dih kepedan. Kok mikir gitu, sih?" ucap Rani menyangkal perasaannya sendiri.
"Ya habisnya kamu selalu mengejarku. Cari perhatian denganku," kata Aksa sambil tersenyum tipis. "Tapi maaf, hatiku masih tertutup untuk siapa pun selain Kinanti," sambungnya.
Hati Rani terbakar mendengarnya. Raut wajahnya hampir saja berubah menjadi muram, namun untung dia cepat menguasai dirinya.
"Aksa, jangan salah paham dulu, deh. Aku memang selalu mengejarmu. Tapi bukan karena menyukaimu, tapi katena kamu pintar," ucap Rani sambil menahan tangis. "Tapi sekarang aku punya tujuan lain mendekatimu," samhungnya.
"Tujuan lain?" Aksa mengerutkan keningnya. Dia menatap wajah Rani cukup lama, menanti sebuah jawaban.
"Aku dengar kamu abis ditolak Kinan, kan? Aku tahu siapa yang menyebarkan berita itu," kata Rani.
"Ya Kinanti sendiri," jawab Rani.
"Haaah, kalau itu sih aku udah menebaknya dari awal. Tapi Kinanti nggak mengaku. Ck, udahlah. Aku males ngurusin gituan. Dia pasti juga lagi sibuk mau ujian," kata Aksa berusaha mengelak.
"Aksa, aku dengar sendiri kalau Kinanti mengejekmu. Dia sengaja menolakmu, untuk tetap menjadi orang nomor satu di sekolah ini," kata Rani.
"Kenapa kamu ngomong gitu, Rani? Bukannya kalian teman akrab?" balas Aksa tak percaya dengan ucapan Rani.
"Aku pikir juga gitu. Bahkan aku memberinya gelang persahabatan. Tapi, semuanya berubah waktu Kinanti diam-diam mengatakan pada Bu Guru, kalau aku menyontek saat ulangan fisika dan Bahasa Inggris."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Rani menghembuskan napas dalam-dalam. Sudut matanya mengeluarkan air mata.
"Aku terancam nggak naik kelas, Aksa. Padahal aku hanya bertanya kisi-kisi soal sebelum ulangan. Bukan menyontek. Tapi Kinanti hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa peduli orang lain akan terinjak-injak di bawah," sambung Rani.
Aksa tak menyahut. Seluruh anak IPA di kelas dua sudah tahu, jika Rani beberapa kali dihukum karena ketahuan menyontek. Tapi siapa sangka, kalau yang membocorkannya adalah Kinanti.
__ADS_1
"Terus apa hubungannya kasusmu, dengan kasusku? Kenapa kamu mengejar-ngejar aku?" tanya Aksa masih belum bisa menebak isi pikiran Rani.
"Aku mau bantuin kamu, supaya bisa sama-sama balas dendam sama Kinanti. Aku kesal, karena nggak ada yang percaya dengan ucapanku. Dan semua orang menganggap Kinanti benar," kata Rani.
"Balas dendam?"
"Hu'um. Memangnya kamu nggak kesal ditolak Kinanti? Seluruh sekolah sekarang menganggapmu pria gemulai, karena nggak berhasil menaklukan Kinanti. Padahal aku percaya ini semua bukan salahmu," bisik Rani menghasut Aksa.
"Aku kesal," kata Aksa dengan lirih.
Cowok itu kembali teringat saat adik-adik kelas satu mentertawakannya tanpa sebab. Rupanya rumor hangat sedang beredar, jika Aksa bukan pria sejati. Kinanti menolaknya karena tak ingin berpacaran dengan lelaki seperti dirinya. Kendati sudah menepis berita itu, tetap saja rumor miring itu terus beredar.
"Kamu masih menyukai Kinanti, kan?" kata Rani.
"Ya," jawab Aksa.
"Kalau begitu tunjukkan pada Kinanti, kalau kamu adalah pria sejati. Bukan seperti yang dikatakannya. Kamu juga harus buktikan, bahwa lelaki berhak menjadi nomor satu di sskolah ini."
Tak henti-hentinya Rani menghasut Aksa, untuk membalaskan dendam pada Kinanti.
"Sudahlah, jangan bikin masalah lagi. Sebentar lagi kita ujian." Tak disangka, Aksa menolak ajakan Rani mentah-mentah.
"Lalu kamu mau membiarkan Kinanti direnggut orang lain? Banyak sekali cowok yang menyukainya. Bahkan guru Fisika kita yang baru selalu menggodanya," bisik Rani.
"Apa rencanamu?"
Pertanyaan Aksa membuat Rani tersenyum puas. Jebakannya berhasil.
"Aku sudah membeli HP Nokea terbaru. Rencananya aku akan meminta seseorang untuk membawa Kinanti ke tengah hutan, dan memberikan HP itu sebagai imbalannya," ucap Rani membeberkan rencananya.
"Mau ngapain ke hutan?" kata Aksa.
"Ya terserah kamu. Bukankah kamu harus buktikan padanya, kalau kamu cowok sejati."
Rani berbisik sambil melirik ke bagian paha Aksa yang hanya mengenakan celana pendek. Dia mengusapkan minyak tanpa aroma di sana. Minyak yang bisa meningkatkan adrenalin dan kebutuhan pria.
"Heh! Rani! Mau ngapain kamu?" Dengan cepat, Aksa menepis tangan perempuan itu dari tubuhnya. Namun Rani terlanjur berhasil melakukan aksinya.
__ADS_1
(Bersambung)