
Pak Dukun menyibak gorden dan membuka daun jendela lebar-lebar, agar udara segar dapat masuk. Sapuan angin kencang menerpa wajah keriputnya. Pemandangan hijau dari hutan jati di belakang rumahnya sangat memanjakan mata.
"Nuwun sewu, Pak." -Permisi-
Pak Dukun terlonjak kaget, memutar pandangan ke luar jendela saat mendengar bisikan yang menyapu telinganya. Tidak ada siapa pun.
"Ah, paling itu cuma suara tetangga aja," ucap Pak Dukun acuh.
Lelaki itu kemudian menyalakan kompor gas, dan memasak air. Sementara menunggu air mendidih, dia menyiapkan racikan teh dan gula di dalam gelas untuk sarapannya. Tak lupa beberapa keping biskuit asin untuk pelengkapnya.
Kriet ... Kriet ... Kriet ...
Daun jendela kembali berderit, saat angin berembus. Matahari pagi yang bersinar terang, perlahan menghilang ditelan oleh gumpalan awan kelabu raksasa. Sepertinya hujan akan turun lagi.
"Paak ..."
Sekelebat terlihat seseorang melintas di balik jendela. Pak Dukun semakin penasaran. Dia lalu merapatkan wajahnya ke dekat jendela, untuk melihat lebih jelas. Namun, lagi-lagi tidak terlihat siapa pun di sana.
"Uh!"
Pak Dukun menggumam pelan. Sesuatu terasa menyentuh tengkuknya. Sontak pria itu menoleh ke belakang.
"Bapak cari siapa? Aku di sini. Hihihihi ..."
Tiba-tiba terdengar suara tawa melengking, tepat di belakangnya. Wajah Pak Dukun berhadapan langsung dengan wajah pucat tanpa mata.
Bibirnya menyeringai lebar. Kepalanya teleng ke kanan dan ke kiri secara kaku. Tubuhnya yang tak lengkap mengambang bebas di udara. Rambut terurai panjang hingga ke lantai.
Dada Pak Dukun kembang kempis melihat sosok yang tiba-tiba muncul itu. Kedua kakinya kaku. Dia mematung ketakutan.
"I-ini masih pagi. Tapi kenapa makhluk ini sudah muncul dan menggangguku?" pikir Pak Dukun dalam hati.
"Kenapa kamu menghalangiku, mengikuti pemuda itu? Kenapa?" Suara tawa sosok itu, berubah menjadi rintihan dan tangisan yang menyayat hati.
"A-apa maksudnya?" balas Pak Dukun sembari beringsut mundur. Tangan kanannya bergerak cepat mematikan kompor.
"Nggak usah pura-pura nggak tahu. Gara-gara mantramu, aku nggak bisa mengikuti pemuda itu."
Pak Dukun menarik napas perlahan. Tubuhnya sudah mepet ke dinding, tak bisa bergerak lagi. Makhluk itu terus merapat padanya. Dingin, itu yang terasa.
"Berhentilah mengganggu manusia. Kembali ke alammu. Sudah terlalu banyak korbannya," ucap Pak Dukun dengan suara terbata. Dalam hatinya dia membaca ayat kursi dan beberapa doa untuk mengusir makhluk itu.
"Lalu aku bukan korban?"
__ADS_1
Wajah pucat sosok itu tampak mengucurkan darah segar. Matanya yang bolong perlahan berubah menjadi berwarna merah. Pak Dukun hanya bisa membaca doa untuk melindungi dirinya.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum, Pak Dukun. Bapak di rumah?"
Sosok itu menghilang dengan cepat. Pak Dukun bernapas lega. Dia bergerak cepat menuju ke ruang tamu.
"Loh, Pak Damar? Pak Waluyo? Mari masuk." Pak Dukun mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam. "Tadi malam pada ke mana? Kok saya balik ke pos ronda udah sepi? Kambing Pak Rahmat tadi malam hilang, lho," imbuhnya.
"Nah, karena itu kami datang ke sini, Pak. Dia datang lagi," kata Pak Waluyo, pria berkumis tebal yang tadi malam ngeronda.
"Dia siapa?" tanya Pak Dukun bingung.
"Duh! Itu, lho. Nyai Kunti," bisik Pak Waluyo. "Kambing Pak Rahmat mati mengenaskan di kebun jeruknya," imbuhnya.
"Hah?"
Sebenarnya Pak Dukun nggak kaget lagi. Dia 'kan barusan ketemu dengan makhluk gentayangan itu. Dia justru terkejut dengan nasib kambing yang sempat hilang itu.
"Kabarnya udah nyebar ke seluruh dusun, Pak. Warga mulai ketakutan. Bapak harus lakukan sesuatu," pinta Pak Damar.
"Lah? Kok saya?"
"Haaah, bukan saya yang bawa. Tapi dia yang ngikut. Saya juga nggak tahu kenapa dia bisa ikut," ucap Pak Dukun sambil menghembuskan napas panjang.
"Sudah lama sekali dia nggak muncul, sejak malam satu suro tahun lalu. Kenapa dia tiba-tiba muncul lagi, ya? Pemuda mana yang kali ini diincarnya?" ucap Pak Damar.
"Kalian tenang saja. Yang diincarnya bukan warga sini, kok," balas Pak Dukun.
"Jadi Bapak udah tahu? Orang mana yang diincarnya?" celetuk Pak Waluyo.
"Sebenarnya saya juga baru tahu, karena dia ada di dekat kita sekarang. Dia marah, karena kita menghalanginya bertemu orang itu," kata Pak Dukun yang sejak tadi menghindari pandangan keluar jendela.
Glek! Pak Damar dan Pak Waluyo langsung merasa lemas di kursinya. Taknada satu pun dari mereka, yang berani memandang ke arah jendela.
...***...
Satya termenung. Dia masih teringat kata-kata Hadyan tadi. Temannya itu mewanti-wanti Satya, untuk membatalkan keinginannya menemui wanita tersebut.
"Apa iya cewek itu tersenyum mengerikan gitu? Kok aku lihatnya biasa aja?" Satya masih nggak percaya dengan omongan temannya.
"Emang iya, sih. Dia kelihatan agak aneh, karena jalan-jalan di hutan dan bisa menyusuli mobil kami. Tapi kalau mengingat dia orang desa, rasanya ya wajar aja, sih. Lagian kami tersesat sebelum bertemu perempuan itu."
__ADS_1
Tampaknya Satya masih punya seribu satu alasan untuk menolak percaya ucapan Hadyan. Segala nasehat yang dilontarkan temannya itu tidak dihiraukan. Apakah ini yang dikatakan cinta itu buta?
Mobil double gardan yang dia kemudikan melambat. Jalanan tanah itu mulai berlubang dan menanjak. Vegetasi di kanan dan kiri jalan mulai berubah. Tidak ada lagi kebun sayur mayur, digantikan pepohonan jati yang tumbuh rapat.
Ekor mata Satya tiba-tiba tertuju pada seorang wanita ditepi jalan. Dia tampak kesusahan mengumpulkan belanjaan yang terjatuh ke tanah. Satya pun menepi, dia menghampiri wanita itu.
"Kenapa, Mbak? Ada yang bisa saya bantu?"
Wanita dengan rambut digelung ke atas itu menoleh ke belakang. Matanya membulat saat melihat Satya. "Loh, Mas?"
"Eh? Mbak yang kemarin?" Satya tak kalah kaget.
"Iya, Mas masih ingat, toh. Kok ada di sini? Tersesat lagi?" tanya wanita itu sembari mengumpulkan kentang yang berserakan di tanah.
"Nggak, kok. Kali ini ada keperluan lain," balas Satya. Tangannya dengan cekatan mengumpulkan bawang dan cabai ke dalam sebuah kantong plastik.
"Ternyata nggak perlu dicari, orangnya udah nongol sendiri," batin Satya riang.
"Kenapa kok senyum-senyum sendiri, to?" tegur wanita itu tertawa geli melihat Satya.
"Hah? Ng-nggak, kok. Mbak-nya mau pulang? Aku antar, ya," kata Satya.
"Nggak usah. Nanti malah ngerepotin. Mas-nya 'kan lagi ada urusan," tolak wanita itu dengan lembut.
"Nggak terlalu sibuk, kok. Aku juga mau ke Dusun Wingit," balas Satya sembari memamerkan senyuman manisnya. "Atau Mbak-nya takut ketahuan sama pacarnya, ya?" goda Satya.
"Sumpah, ganteng banget nih cowok," batin cewek bermata cokelat itu.
"Mas nyindir aku yang masih jomblo, ya?" tawa wanita itu. "Beneran nggak apa-apa, Mas. Aku jalan aja. Nggak enak dilihat warga kampung. Kita 'kan nggak saling kenal," tolaknya lagi.
Satya tersenyum. Gadis ini memang sangat berbeda dengan gadis-gadis kota yang biasa dia temui. Namun hal itu justru semakin membuat perempuan muda di hadapannya semakin menarik.
"Kalau gitu kita kenalan dulu. Namaku Abisatya Darmana, dari pedesaan di lereng Gunung Lawu." Satya menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Aku Laksmi," balasnya.
"Tuh, kan? Benar firasatku. Cewek ini normal. Mana ada hantu keluar siang-siang," batin Satya. Dia lalu mengajak Laksmi untuk naik ke mobilnya, dan mengantarnya pulang.
"Ah, ternyata mantra Pak Dukun nggak berlaku untuk pemuda ini. Auranya terlalu kuat untuk mantra lemah itu. Aku harus mendapatkannya. Hihihihi..."
Tanpa diketahui oleh Satya, perempuan di belakangnya berubah menjadi sosok penuh luka. Kepala belakangnya retak, mengucurkan darah segar.
(Bersambung)
__ADS_1