
"Dasar makhluk sialan! Udah mati pun masih menyusahkan. Enyahlah kau! Nggak akan ada yang boleh merusak hidupku!"
Arga mencekik leher perempuan itu. Dingin, itu yang dia rasakan saat pertama kali menyentuhnya.
"Ukh! Ukh!"
Kedua bola mata makhluk itu tampak membesar. Kedua tangannya yang berkulit putih memegang lengan Arga, dan meminta agar dilepaskan. Kuku-kukunya bahkan melukai kulit Arga.
"Hah! Ternyata kau nggak bisa melawanku, kan? Hahaha... Dasar makhluk lemah!"
Arga mempererat cekikannya di leher perempuan berambut panjang itu sambil tertawa penuh kemenangan. Tubuh sosok itu roboh ke lantai. Arga memanfaatkan kesempatan ini untuk menghabisinya.
Lelaki itu menendang tubuh makhluk mengerukan itu. Perutnya yang rata, dia pijak-pijak. Cengkeraman tangannya di leher juga semakin kuat.
"Hahaha... Pergilah kau setan! Kau bukan lawan sepadan bagiku."
"Siapa yang bilang aku nggak bisa melawanmu, Arga?"
Sekelebat kain putih melintas di atas kepala Arga. Rambut panjangnya yang kusut, menyapu wajah pria itu. Hanya dalam hitungan detik, sosok itu telah berdiri di belakang perempuan yang dicekik Arga.
"Hah? Siapa dia? Ada berapa kuntilanak di sini?" pikir Arga merasa merinding.
"Tega sekali kau mencekik leher perempuan seperti itu? Apa kau akan membuatnya sebagai Kinanti kedua? Hihihi..."
"Apa maksud...nya?"
Arga tercekat, saat mengetahui siapa yang sedang dicekiknya. Vera sudah hampir kehabisan napas karena dia cekik. Kepalanya mengeluarkan banyak darah, karena terbentur keras di lantai.
"Arga... Ke-kenapa kau membunuhku?" bisik Vera dengan sisa-sisa napasnya.
"Maafkan aku, Vera. A-aku tak bermaksud begini."
Arga panik. Cairan merah kental berbau anyir itu tak hanya keluar dari kepala kekasihnya itu, tetapi juga dari sela kedua kakinya. Itu pasti karena Arga menendangnya dan memijakkan kakinya di perut perempuan itu.
"Arga... Kau telah membunuh calon anak kita."
"Anak? Kau hamil?" Gerakan Arga sontak terhenti. "Sejak kapan kau hamil?"
__ADS_1
Vera tak menjawab lagi. Napasnya semakin sesak. Bola matanya yang coklat semakin mengarah ke atas, digantikan bagian yang berwarna putih.
"Gila! Aku nggak bisa di sini terus."
Arga mengumpulkan semua barang-barang miliknya agar tak meninggalkan bukti. Setelah itu dia pun meninggalkan Vera dalam keadaan sekarat.
...***...
"Mbah, ini apa maksudnya? Aku menemukan ini di kamar ibu."
Farras yang sedang bersih-bersih di kamar mendiang Aruna, menemukan beberapa berkas penting milik sang ibunda. Salah satunya adalah hasil tes DNA antara Farras dan seorang pria bernama Eka Argani.
Tentu saja Farras bingung. Selama ini yang dia tahu, ayahnya adalah seorang pria blasteran bernama Erick. Dan pria itu tak pernah melihatnya sejak dia dilahirkan.
Bu Tuti terkejut melihat dokumen yang dibawa Farras. Dia berkali-kali membaca hasilnya tes yang dilakukan di salah satu rumah sakit besar tersebut. Hasilnya, DNA Farras 99,99 persen identik dengan DNA Eka Argani.
"Ya Allah. Jadi kamu anak dari Arga? Bukan Erick?" Bu Tuti menangis pilu. "Pantas saja lelaki itu tak pernah mau mengakui kamu sebagai anaknya. Apa hasil tes ini valid?"
"Siapa Arga itu, Mbah?" tanya Farras dengan getir. Banyak sekali cobaan yang dia hadapi, di umur lima belas tahun ini.
"Arga itu teman sekolah ibumu. Dulu waktu ibumu hamil, dia yang sangat membela ibumu. Bahkan dia juga yang menyeret Erick ke sini, dan memaksanya menikahi ibumu," cerita Bu Tuti.
Setelah dipaksa, akhirnya Aruna mengaku bahwa dia melakukannya bersama pacarnya. Setahu Bu Tuti, satu-satunya laki-laki yang dekat dengan Aruna adalah Arga. Lelaki yang saat itu juga kuliah di tempat yang sama dengan Aruna.
Namun dugaan itu salah. Aruna bilang, pacarnya bernama Erick. Laki-laki yang saat ini keberadaannya menghilang bagai ditelan bumi.
Perut Aruna semakin membesar tanpa ada Bapak dari calon bayinya, membuat Bu Tuti semakin resah. Hingga akhirnya Arga membawa pria bernama Erick tersebut. Pria yang mengaku tak pernah menyentuh Kinanti sama sekali.
Pernikahan dengan Erick tetap dilakukan, agar anak yang dilahirkan nanti bisa memiliki akte kelahiran. Namun, pria itu menceraikan Aruna, sesaat setelah Farras lahir dan tak pernah muncul kembali.
"Kita harus memastikan, apakah dokumen ini asli? Kalau iya, berarti pria itu adalah ayah kandungmu, Nak," bisik Bu Tuti dengan pilu.
"Tapi aku juga menemukan ini di kamar ibu."
Farras membawa beberapa benda ke hadapan neneknya. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah sebuah surat dengan cap jari Aruna di atasnya. Ternyata itu adalah surat perjanjian, agar Aruna tidak menuntut Arga sebagai ayah kandung Farras dan tidak nenuntut biaya asuh padanya. Sebagai gantinya, Arga memberikan uang belasan juta, sebagai modal usaha.
Farras meneteskan air mata. Tak disangka dia diperjual belikan oleh orang tua kandungnya sendiri. Hatinya begitu pilu, mengetahui kenyataan pahit ini.
__ADS_1
"Ini apa, Farras?" Bu Tuti mengambil beberapa kertas putih yang terselip di antara lembaran buku.
"Nggak tahu, Mbah. Aku belum lihat," jawab Farras sambil mengusap air matanya.
"Astaghfirullah! Ini kan foto Aruna dan teman-temannya."
Bu Tuti memperhatikan lembaran foto, yang serupa dengan milik Kinanti. Namun pada foto milik Aruna, wajah Kinanti disilang dengan spidol merah dan di atasnya di tulis 'MATI'. Sedangkan pada wajah Arga dibuat simbol love.
"Ya Allah, apa jadi memang benar Aruna turut membunuh Kinanti? Apa semua kekacauan di rumah ini adalah hukuman dari Allah?" Bu Tuti tak sanggup lagi menahan air matanya. Farras mengusap punggung Mbah-nya, untuk menenangkan wanita itu.
Tapi ada satu hal yang menarik perhatian Bu Tuti, yakni gelang yang melingkar di tangan Kinanti. "Loh, itu kan gelang yang dipegang Aruna kemarin?" pikirnya.
...***...
"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya untuk Aruna. Meskipun aku nggak tahu apa yang terjadi, tetapi Aruna telah membuat kesalahan besar."
Bu Tuti bersujud di depan Bu Nastiti dan Pak Diman. Air matanya tak henti-hentinya menetes. Farras turut menemani neneknya tersebut.
"Jangan begini, Bu." Bu Nastiti berusah mengangkat bahu Bu Tuti, agar tak bersujud lagi padanya.
"Hatiku perih, sakit, waktu Aruna mengungkap Kinanti mati dibunuh," ujar Pak Diman dengan suara serak. Dia mengatur ritme napasnya yang berantakan.
"Tapi aku mau bilang apalagi? Putri kami sudah hilang. Tak bisa pulang lagi. Bahkan jasadnya pun kami nggak tahu ada di mana. Percuma juga kami mau marah sama Aruna," sambung Pak Diman lagi.
Bu Tuti dan Farras menundukkan kepalanya. Hati mereka sangat pilu membayangkan penderitaan yang dialami oleh tetangganya.
"Sekarang ini yang dibutuhkan Kinanti hanyalah doa. Ku harap dia tenang di alam sana," ucap Pak Diman sambil terisak. Bu Nastiti pun tak mampu lagi membendung air matanya. Tangannya meremas gelang yang dikembalikan oleh Bu Tuti tadi.
"Aruna sudah banyak mendapatkan hukuman, Pak," bisik Bu Tuti penuh penyesalan.
"Maksudnya?" tanya Pak Diman dan Bu Nastiti. Bu Tuti pun menceritakan semuanya.
"Astaghfirullah! Beneran, Bu?" seru Pak Diman dan Bu Nastiti tak percaya.
Semua orang tahu, sejak Arga bekerja di pertambangan, dia menjadi semakin arogan. Tapi bukan itu masalah utamanya saat ini.
"Bu, barusan kami dapat kabar. Arga sedang kritis karena babak belur di hajar massa. Dia terbukti telah membunuh pacarnya yang sedang hamil," ujar Pak Diman.
__ADS_1
(Bersambung)