
"Dek, apa di kepalamu ada pakunya? Tak bisakah selamanya kamu memasang paku itu, dan kembali menjadi Kinanti yang kami kenal dulu?" tanya Satya tiba-tiba.
"Hah?" Laksmi merenggangkan pelukan Satya. "Mana ada yang kayak gitu. Jangan percaya sama film. Yang sudah mati ya mati," protes Laksmi.
Satya tertawa mendengarnya, "Ah, ku pikir aku bisa melakukan hal itu, biar perempuan cantikku nggak pergi ke mana-mana lagi," ucap Satya.
Bukannya senang, wajah Laksmi semakin mendung mendengarnya, "Kamu pasti akan mendapatkan perempuan yang baik nantinya. Karena kamu juga orang baik, Mas," kata Laksmi dengan lantang.
"Gimana dengan Laksmi yang asli? Hmm, maksudnya Laksmi Kinasih. Bukan Kinanti Laksmi Nayaka," kata Aksa. "Apa dia sudah menikah?" imbuhnya.
"Ah, soal itu aku nggak mau membicarakannya. Biar Pak Dukun sendiri yang cerita sama Mas," kata Laksmi lagi.
"Kenapa? Karena sebenarnya Pak Dukun menggunakan cara gaib untuk menyembuhkan Laksmi? Apa itu berkaitan dengan para lelaki yang menikah secara gaib denganmu?"
Pertanyaan Satya, sukses membuat Laksmi ternganga, "Dari mana Mas dengar cerita itu?"
"Aku mencari tahunya sendiri," jawab Satya.
"Kalau begitu, Mas salah paham. Aku tidak ada kaitannya dengan ritual kesehatan putri Pak Dukun. Dulu aku mengikutinya, dengan harapan Pak Dukun bisa mengantarku pulang," kata Laksmi.
"Terus tumbal-tumbal itu?"
"Mereka sendiri yang datang padaku. Meminta kekayaan duniawi dengan cara instan. Syaratnya, ya harus menikah secara gaib denganku," ucap Laksmi.
"Ah... Jadi gitu." Satya mengusap tengkuknya yang mendadak dingin. "Kalau aku?"
"Mas adalah satu-satunya orang yang kupilih secara langsung untuk dinikahi," jawab Laksmi.
"Kenapa?"
"Ku pikir dulu Mas adalah salah satu diantara pelaku itu. Tapi aku salah. Mas adalah orang yang gak bisa kusentuh sama sekali. Entah apa amalan baik dalam dirimu, tapi selalu membuat jiwaku terluka," jelas Laksmi.
"Jadi karena itu, kamu selalu menolak malam pertama?" tanya Satya.
Laksmi mengangguk, "Dan sekarang aku punya alasan lain. Aku tak mau mengambil kesucian lelaki sebaik ini."
Mata Satya mendadak berair. Dia tahu, dirinya sudah seperti orang gila karena sejak tadi berbicara dengan hantu. Apalagi hatinya merasa sakit, saat tahu bahwa perempuan yang terlanjur dia sayangi, tak akan bisa dia lihat lagi nanti.
__ADS_1
"Jangan sedih. Seperti yang aku bilang tadi, orang baik pasti akan mendapatkan perempuan yang baik pula," ucap Laksmi.
Wujudnya sudah kembali berubah. Wajahnya memucat dengan pandangan kosong dan lingkar mata yang hitam. Energinya terkuras karena berlama-lama berada di samping Satya. Tubuhnya perlahan melayang ke udara. Dengan kain putih lusuh yang berkibar terkena kipas angin. Seperti tidak ada isi apa pun di dalam kain itu.
"Seandainya kamu mau pergi nanti, tolong beritahu aku. Jangan pergi tanpa pamit denganku," ucap Satya dengan suara tertahan di tenggorokan.
Laksmi hanya tersenyum tipis dengan barisan giginya yang berdarah.
...***...
Wira mengganti siaran TV-nya dari channel berita, ke acara talkshow komedi. Lelaki itu sama sekali tidak tertawa, meski pembawa acara berseloroh dan membuat adegan-adeagan lucu. Pikirannya sedang tidak ada di sini, melainkan berada di rumah Aruna. Mengingat kejadian tadi siang.
"Ah, apa yang harus aku lakukan kalau dia beneran sampai muncul? Aruna sudah diganggunya beberapa kali. Aku pun sudah melihatnya di danau itu."
Wira menyandarkan punggungnya ke sofa yang telah bolong-bolong karena cakaran kucing. Kepalanya terasa berat. Tak bisa lagi menikmati siaran TV yang biasa menjadi hiburannya.
Pet!
Wira mematikan TV. Pria itu terkejut, saat layar hitam TV itu memperlihatkan bayangan seorang wanita berambut panjang, berdiri di belakangnya. Jemarinya buru-buru menyalakan kembali TV itu.
"Apa tadi aku salah lihat, ya?" Wira berusaha mengatur detak jantungnya. Tetapi hatinya masih penasaran. Dia pun kembali mematikan TV untuk bersiap tidur.
"Loh, nggak ada siapa-siapa. Syukurlah, berarti cuma perasaanku aja," gumamnya lega. Dia pun beranjak dari kursi dan...
"Aaargh!"
Wira berteriak, melihat uraian rambut yang menjulur di depan wajahnya. Kepalanya tak berani melihat ke atas, untuk memastikan makhluk apa yang mengganggunya.
Namun sialnya, makhluk itu justru perlahan turun, dengan posisi kepala duluan. Memamerkan matanya yang hitam dan melotot, seperti hampir keluar dari kerangkanya.
Bibir Wira berkomat kamit membaca doa. Matanya terpejam selama beberapa saat. Ketika dia membuka matanya kembali, makhluk itu sudah menghilang. Lenyap, tak ada lagi di ruangan itu.
Wira kembali terduduk lemas di atas sofa. Sejak awal Wira menolak melakukan hal keji itu. Namun, dia diancam tak bisa pergi dalam keadaan hidup, karena takut rahasia akan bocor dari mulutnya.
Belum lagi cemooh dari ketiga kawannya yang mengatakan dia penakut. Wira pun akhirnya terjun ke dalam lumpur hitam itu bersama teman-temannya.
"Astaghfirullah."
__ADS_1
Mata Wira terpejam. Mulai merebak dan membendung air mata, kala teringat masa lalunya yang kelam.
"Mungkin hidupku yang sekarang adalah hukuman dari Allah. Karena aku dulu bersikap zalim pada seseorang," sesal Wira dalam hati.
Setelah kasus Kinanti mereda, Wira terus memendam rasa bersalah pada gadis itu. Tak ingin larut dalam gelimang dosa, Wira pun bertekad untuk taubat nasuha.
Wira menarik diri dari teman-temannya. Tamat SMA, dia bekerja menjadi kuli pasar, hingga menikahi seorang wanita lemah lembut.
Namun nasib baik belum berpihak padanya. Usia pernikahannya hanya bertahan lima tahun. Istrinya meninggal karena pendarahan, saat hamil anak ketiga.
"Ah, aku mikir apa, sih? Pasti hidup Kinanti dan orang tuanya jauh lebih berat dariku. Andai aku bisa berbicara dengan Kinanti, aku pasti akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanku dulu," ucap Wira.
"Pantas aku tak bisa menyentuhmu, Wira. Rupanya kamu telah mengambil jalan lain yang lebih baik," bisik sosok kuntilanak yang duduk di atas lemari.
Krieeet! Pintu kamar mendadak terbuka. Wira terlonjak dari tempat duduknya.
"Bapak, kok belum tidur? Ini sudah jam setengah dua belas." Seorang bocah lelaki berjalan terhuyung-huyung sambil mengucek matanya.
"Kamu juga belum tidur, Nak," balas Wira. Dia bernapas lega, karena yang membuka pintu bukan sosok yang dipikirkanya.
"Tadi aku dengar Bapak berteriak. Rupanya aku cuma mimpi," jawab bocah dua belas tahun itu sambil menyengir. "Sekarang aku haus, mau ambil minum. Bapak mau minum juga?"
"Nggak, Nak. Bapak udah minum tadi," jawab Wira.
"Tapi kok badanku mendadak merinding ya, Pak? Apa udara di luar terlalu dingin," ucap bocah itu tiba-tiba.
"Hah? Merinding? Anak kecil bisa merasakan aura makhluk seperti itu, kan? Jangan-jangan dia masih ada di sini," batin Wira yang mendadak merinding.
Ekor mata Wira kembali menangkap sosok putih pucat yang duduk di atas lemari. Rambutnya yang sangat panjang menjuntai hingga ke lantai dan bergulung-gulung di depan lemari bagai ular raksasa.
"Kan... Aku nggak salah lihat. Dia memang datang," bisik Wira yang mendadak mengompol. Apalagi waktu sosok itu melayang mendekatinya.
"Bapak? Kenapa?" tanya putra dari Wira yang telah lebih dulu masuk kamar.
"Nggak ada apa-apa, kok. Kamu tidurlah duluan. Bapak masih ada kerjaan," ujar Wira yang kini bertatapan langsung dengan Kinanti. Jantungnya melompat-lompat ingin keluar dari tubuhnya. Kakinya lemas bagai tak bertulang.
"Ki-kinan, tolong maafkan aku," bisik Wira setelah putranya menutup pintu kamar. Doa-doa yang dibacanya tak mampu mengusir Kinanti yang kian mendekat.
__ADS_1
"Aku tak akan memaafkan kalian, sampai kalian temukan jasadku. Hihihihi..."
(Bersambung)