Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 38. Gadis Cantik di Tengah Hutan


__ADS_3

"Genta, kamu pergi ke Desa Citra Tirta bareng Beno. Usut kasus tawuran anak sekolah di sana. Ini surat jalannya." Seorang polisi berpangkat lebih tinggi daripada Genta, meletakkan sebuah map pada lelaki itu.


"Yah... Ini kan udah jam setengah enam sore, Pak. Lagian tawuran aja. Besok paling mereka ulangi lagi," protes Genta yang sudah bersiap untuk pulang.


"Kamu tadi datang terlambat. Nggak usah banyak protes. Itu si Beno udah siap-siap," kata atasan Genta itu dengan tegas. "Terus jangan anggap remeh setiap laporan warga yang masuk. Karena tugas kita ini melindungi dan mengayomi masyarakat."


"Huuuh..."


Genta menarik napas panjang sambil berdecak kesal. Andai mereka semua tahu, Genta terlambat karena apa. Lagian sebenarnya dia juga nggak mau datang terlambat dan kena sanksi pemotongan gaji.


"Tapi mereka pasti ngetawain aku lagi, kalau aku ngomong jujur," umpat Genta dalam hati. Kenangan buruk saat dia ditertawakan dan dicemooh oleh para pengendara tadi pagi, masih sangat melekat di pikirannya.


"Genta, ngapain bengong? Ayo, pergi."


Seorang polisi yang mengenakan baju dinas berwarna cokelat dan pistol di pinggangnya, melambaikan tangan dari arah pintu. Dia memanggil Genta untuk segera pergi.


"Argh, iya iya." Dengan berat, Genta pun melangkahkan kakinya untuk melaksanakan tugas.


Meski Genta dan Beno memiliki pangkat yang sama, namun sifat keduanya sangat bertolak belakang. Beno adalah polisi yang sangat patuh pada tugasnya. Dia juga orang yang jujur, dan sering membantu masyarakat tanpa diminta.


Itulah sebabnya Genta malas bekerja bersama Beno. Sebelum tugas mereka selesai, Beno tak akan mau pulang. Beno juga taat beribadah, membuatnya selalu singgah ke masjid atau mushola jika sudah memasuki waktu sholat. Menurut Genta itu sangat merepotkan.


"Desa Citra Tirta itu dekat desamu, kan?" ucap Beno membuka pembicaraan.


"Hu'um," balas Genta dengan malas. Lagipula dia sudah tak tinggal di Desa Citraloka lagi sejak menikah.


Melihat Genta menutup diri, Beno pun tak melanjutkan ceritanya. Dia hanya fokus mengemudi.


...***...


Matahari sudah terbenam dengan sempurna, saat Genta dan Beno sampai di lokasi. Tawuran siswa SMA itu masih berlangsung. Bahkan beberapa di antara mereka sudah ada yang membawa senjata tajam.


Melihat mobil polisi datang, para bocah itu pun berlarian ke segala arah. Mereka menyelamatkan diri masing-masing. Memasuki kebun-kebun di sekitar rumah warga. Hanya ada beberapa siswa yang berhasil ditangkap, dengan bantuan para warga.


"Nah, kan. Udah kuduga. Ujung-ujungnya mereka kabur, dan masalah nggak selesai," pikir Genta merasa buang-buang waktu.


Siswa yang ditangkap sudah diamankan ke balai desa. Sementara Beno masih mengejar beberapa orang lainnya yang hilang di tengah belukar. Genta terpaksa mengikuti langkah kaki Beno, agar tidak menjadi sindiran warga.


Tes! Tes! Kepala Genta merasa terkena tetesan cairan dari atas.

__ADS_1


"Gerimis, No. Ayo cepat balik ke kantor desa," ajak Genta pada rekan kerjanya.


"Hah? Mana? Ora udan, kok," sahut Beno. -Gak hujan-


Tes! Tes! Punggung Genta kembali terkena tetesan dari atas. Merasa penasaran, Genta pun melihat ke arah langit. Menunggu, siapa tahu ada air yang menetes lagi.


Dugaannya benar. Selang satu detik kemudian, tetesan air kembali jatuh tepat di kepalanya. Namun polisi itu masih heran, karena memang tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Langit malam terlihat sangat cerah dan bertabur bintang.


Masih merasa penasaran, Genta melihat ke atas pohon di belakangnya. Khawatir jika kejatuhan kotoran hewan.


"K... K..."


Kedua bola matanya hampir saja melompat ke luar, melihat sesuatu tak lazim di atas sana. Sesosok makhluk berbaju putih bertengger di pohon matoa dalam posisi terbalik. Rambut panjangnya yang tergerai berantakan, menjuntai hingga ke tanah. Seringainya begitu lebar, sambil mengunyah sesuatu yang berdarah.


"Hah? Apa sih, Ta? Ayo cepetan kerja. Masyarakat berharap sama kita," ujar Beno.


"K..." Genta kembali berusaha berbicara, sambil menunjuk-nunjuk ke atas.


"Opo? Kucing? Kalong? Kuntilanak?"


Genta meneleng kuat. Beno ikut-ikutan melihat ke atas. Keningnya berkerut, karena tak menemukan apa pun di atas sana.


"K... Kinanti..." jerit Genta, saat sosok di atas pohon itu melayang turun mendekatinya.


Beno terpaku di tempatnya. Menatap heran pada Genta, yang berlari kalang kabut setelah menyebut nama Kinanti.


"Astaghfirullah, Mbak. Kenapa berdiri di situ? Hampir ketabrak, kan?"


"Hihihihihi..." Suara tawa yang melengking itu memekakkan telinga Genta.


"Iyo, aku tahu Mbak ini udah cantik. Tapi bedaknya ketebelan itu, sampe putih banget. Terus berdirinya jangan di tempat gelap. Orang-orang jadi takut. Hehehe."


Beno menahan rasa takutnya, melihat sosok berbaju putih itu. Karena mau lari pun, dia kesulitan.


"Hihihihi..."


Beno mempercepat langkahnya mengikuti Genta. Kendati ekspresi wajahnya terlihat datar, namun jantung pria itu melompat-lompat karena makhluk berambut kusut panjang yang mengikutinya di belakang. Tak bisa berjalan cepat di tengah rimbunnya pepohonan, Beno pun hanya bisa berdoa dalam hati.


Tak mendengar suara terkikik lagi di belakangnya, rasa penasaran Beno pun mulai muncul. Dia takut tiba-tiba perempuan itu menempel dan mengikutinya. Dengan pelan dan sedikit menutup matanya, Beno pun menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Hah!" Dia kembali terkejut.


"Pak Beno cari anak-anak SMA tadi, kan? Mereka bersembunyi di belakang gudang kopi sebelah sana."


"Eh? Beneran, Mbak?" ujar Beno kebingunan. "Dari mana munculnya perempuan cantik ini?" pikirnya.


"Iya, Pak. Tapi Bapak harus melangkah pelan-pelan, supaya mereka nggak kabur lagi," ujar perempuan itu sambil tersenyum manis.


"Baiklah, terima kasih, Mbak."


"Sama-sama, Pak Beno."


Polisi itu lalu berjalan menuju ke arah yang ditunjuk perempuan berbaju putih tadi, dibantu dengan penerangan dari HP-nya, "Semoga dia nggak bohong," ucapnya pada diri sendiri.


Tep! Langkah kaki Beno mendadak berhenti saat menyadari sesuatu, "Dari mana dia tahu namaku? Dan dia muncul dari mana?"


Bulu kuduknya mendadak berdiri, kala teringat perempuan berwajah pucat dan rambut kusut yang dilihatnya tadi. Terpacu dengan rasa penasaran, Beno pun menoleh ke belakang.


"Fyuh, syukurlah. Ternyata dia manusia beneran," ucap Beno lega, saat melihat perempuan itu berjalan menjauhinya, dengan tubuh yang lengkap dan normal.


Bersamaan dengan itu, Genta pun sampai di balai desa. Napasnya tersengal, karena dia berlari cukup kencang membelah kebun-kebun warga. Segala tanaman berduri yang menempel di celananya dia abaikan.


"Minum dulu, Pak Polisi. Pasti anak-anak itu sudah kabur entah ke mana," ujar para warga. Mereka mengira bahwa Genta kelelahan karena mengejar siswa yang ikut tawuran tersebut.


"I-iya, makasih Pak," balas Genta, lalu meneguk isi gelas tersebut hingga habis.


"Anak-anak sekarang semakin bar-bar, ya. Apa tadi mereka ada yang pakai senjata tajam? Itu Pak Polisi sampai berdarah-darah gitu," ujar salah seorang warga, sembari menunjuk ke punggung Genta.


Ah! Lelaki itu baru sadar, jika yang menetes tadi adalah darah. Namun Genta tentu saja gengsi untuk berkata jujur. Dia lantas membiarkan para warga berpikir itu akibat ulah para siswa.


"Genta! Bantu aku!"


Terdengar suara Beno memanggil rekan kerjanya itu. Ternyata polisi teladan itu menyeret dua bocah SMA yang meringis ketakutan.


"Ketemu di mana?" tanya Genta heran. Dia pun bergegas mengambil alih salah satu siswa tersebut, dibantu beberapa warga.


"Di gudang sana. Untung ada Mbak itu, jadi aku bisa menemukan mereka."


Genta pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Beno. Wajahnya mendadak pucat, ketika melihat helaian kain putih kusam mengambang di pohon asam. Rambut hitamnya yang panjang menjulur hingga ke tanah. Demikian pula dengan tangannya yang memanjang, dan menjulur ke arah Genta.

__ADS_1


"Be-beno bisa lihat makhluk astral?" bisik Genta sebelum pingsan.


(Bersambung)


__ADS_2