Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 63. Negosiasi dengan Dukun


__ADS_3

"Kenapa hidupku jadi hancur berantakan, sih? Padahal sejak dulu aku susah payah menyingkirkan semua wanita dari sisi Aksa, termasuk si Kinanti yang miskin itu. Tapi kenapa masih ada saja perempuan lain yang mengisi hatinya?"


"Apa?" Jemari lentik yang halus milik Kinanti, berubah menjadi cakar tajam dan kulit pucat. "Rani, bukankah kau sahabatku? Semua surat-surat itu?" ucap Kinanti seakan-akan Rani bisa mendengarnya.


"Huhuhuhu... Kenapa Aksa? Kenapa kau tak pernah mencintaku? Padahal aku sudah memberikanmu banyak hal. Membantumu mengambil kesucian Kinanti, melindungimu dari kejaran polisi yang menuduhmu membunuh Kinanti, dan banyak hal lainnya."


Sosok berseragam SMA di belakang Rani itu menggeretakkan gigi taringnya yang berdarah. Tubuhnya membesar sampai setinggi langit-langit. Matanya yang hitam legam mengarah ke Rani yang sedang menangis pilu.


Namun, sosok itu menahan dirinya untuk menampakkan wujudnya. Dia masih ingin tahu lebih lanjut, tentang semua fakta dari mulut Rani.


Istri pertama Aksa itu masih mengemas semua barang-barangnya. Baju, makeup, dan semua perhiasan dia masukkan ke dalam koper yang berbeda.


Cring! Sebuah gelang emas dengan liontin berbentuk bulan sabit terjatuh dari salah satu laci. Wajah pucat Kinanti tampak semakin sangar. "Itu bukannya gelang hadiah untukku?"


Rani memungut gelang itu sambil menggerutu kesal. "Cih, gelang emas murahan ini masih ada rupanya. Susah payah aku beli gelang ini, supaya kami bisa kembaran dan dia semakin percaya padaku. Tapi tetap saja Aksa hanya melirik perempuan itu."


Perempuan itu mengusap air matanya. Tangan kirinya membuang gelang emas itu ke tong sampah di sudut ruangan.


"Sekarang ini sudah nggak ada gunanya lagi. Gelang milik Kinanti pasti sudah tertimbun di tanah beserta tulang belulangnya. Sekarang yang harus aku singkirkan adalah Dewi."


Blam! Mendadak pintu kamar Rani tertutup rapat. Padahal tidak ada angin atau pun seseorang yang menutupnya. Tubuh Rani mendadak merinding. Dia baru teringat, jika arwah Kinanti belakangan ini mengganggunya.


Rani menatap ke sekeliling kamarnya. Dia tidak melihat apa pun. Semuanya tampak normal.


"Ah, mungkin itu beneran cuma angin." Rani buru-buru membereskan barang-barangnya ke dalam koper.


Tuk! Tuk! Tuk!


Kali ini Rani mendengar suara ketukan dari arah jendela. Rani menoleh dengan cepat. Lagi-lagi dia tak menemukan apa pun di sana.


Mendadak tercium bau anyir serta kemenyan. Rani semakin resah. Dadanya berdegup cepat. Dengan cepat dia beringsut ke depan pintu.


Pada waktu yang bersamaan muncul asap putih halus masuk dari jendela. Mengepulkan sosok wanita berwajah hancur.


"Katakan, Rani! Apa yang telah kau perbuat dulu! Di mana tubuhku kalian buang!"

__ADS_1


Suara parau bernada rendah itu menggaung ke seluruh ruangan. Tetesan darah mengotori lantai keramik yang putih bersih, diikuti dengan sepasang tangan berkulit pucat penuh luka lebam.


"Ki-kinan?"


Bola mata Rani hampir melompar keluar, melihat soaok wanita berwajah hancur di depannya. Rani membeku. Dia tak bisa keluar kamar. Kinanti berdiri tepat di depan pintu.


"Di mana Rani? Katakan padaku? Katakan!"


Matanya menatap kosong. Meneteskan air mata darah. Mulutnya terbuka lebar, mengucurkan darah segar berbau anyir, hingga baju putih yang dikenakannya dipenuhi darah segar yang kental. Kedua tangannya menjulur hingga leher Rani. Dengan rasa penuh kebencian ia mencekik penuh nafsu angkara murka.


"K-Kinan. K-kau salah paham. A-aku hanya..."


Makhluk itu menguatkan cengkeraman tangannya di leher Rani. Kulit putih perempuan itu pun tampak membiru.


Napasnya semakin tercekat, pandangan mata gelap. Dalam sisa-sisa kesadarannya, Rani masih bisa melihat pintu kamarnya terbuka. Najla dan Nada memasuki kamar.


"Jangaaan!" teriak Rani dalam hati. Suaranya tak bisa keluar.


Udara dingin masuk dari celah-celah lubang udara, membuat Rani menggigil. Kedua putrinya duduk di sampingnya, seakan tidak melihat apa-apa. Samar-samar dia mendengar suara adzan ashar dari masjid dan musola.


"Mama kenapa? Kok tadi teriak-teriak?" tanya Najla memeluk ibunya.


"Jam berapa ini? Aku harus cepat pergi sebelum ada yang datang."


Rani bergegas bangkit dan mengambil HP-nya. Dia pura-pura tak tahu, jika makhluk itu masih ada di sana. Ternyata masih pukul 15.25. Masih ada waktu sebelum magrib datang.


"Najla, ayo bantu Mama beres-beres. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini," perintah Rani. Putri sulung Rani itu mengangguk patuh.


...***...


Waktu terus bergulir. Sang mentari digantikan dengan rembulan dengan sinarnya yang kuning redup. Beberapa bintang juga tampak berkelap kelip, menemani sang bulan di langit yang kelam.


Rani merasa lega karena sudah pergi dari desa itu. Dia tidak kembali ke rumahnya di kota, karena takut Aksa bakal menyusulnya. Dia pun pergi ke suatu tempat yang berjarak sekitar empat jam dari kota tempat tinggalnya.


"Ma, ini di mana? Kenapa kita nggak pergi ke tempat Papa?" tanya Najla dengan bingung.

__ADS_1


"Kita pergi liburan dulu ya, Nak. Malam ini kita tidur di rumah teman Mama dulu," jawab Rani. "Makhluk itu nggak mengikutiku sampai sini, kan?" pikir Rani cemas.


Mereka kini berada di depan sebuah rumah lantai dua di kompleks perumahan kelas menengah. Perumahan tersebut tampak asri, dengan pohon-pohon rindang di seberang jalan rumah mereka.


Najla menelan ludah, tanpa bertanya lagi. Bocah tujuh tahun itu tahu, kalau mereka tidak sedang liburan. Tetapi melihat raut wajah ibundanya yang kusut, dia tak punya nyali untuk bertanya.


Setelah beres semuanya, Rani pun merebahkan diri di samping kedua anaknya. Rasa lelah dan letih membuat mata terasa berat. Namun otaknya yang sedang banyak pikiran, membuatnya sulit untuk tidur.


"Ah, aku harus pergi ke sana besok pagi," gumamnya.


...***...


"Mbah, apa ini? Aku udah bayar mahal, sampai ngasih kebun kelapa sawit di sumatera dan tiket kapal pesiar keliling Indonesia. Tapi Aksa kok tetap memilih wanita lain?"


Ujang, orang kepercayaan Rani sejak lama tak berani menoleh, apalagi melihat wajah majikannya. Setahu Ujang, wanita itu bila sudah emosi, seramnya melebihi gangguan kuntilanak atau sundel bolong.


Mbah Dukun itu kemudian mengusap wajah dan telapak tangan Rani sambil memejamkan mata, "Begini, Nona Cantik. Susuk dan pelet yang kamu pasang itu kan sudah hampir kedaluwarsa. Kita butuh tumbal baru untuk memperkuatnya."


"Tapi aku kan sudah memberikan darah perawan setiap satu tahun sekali?" Protes Rani.


"Ehm!" Mbah Dukun mengibaskan tangannya di depan wajah, seperti sedang mengusir sesuatu. Manik matanya juga beberapa kali dialihkan dari arah Rani. Dia terlihat sedikit ketakutan.


"Mu-mungkin susuk yang dipakai cewek itu jauh lebih kuat," jawab Mbah Dukun dengan asal. Dia lalu meneguk kopi di dalam gelas dengan kasar.


"Ya kalau gitu, bikin susukku juga lebih kuat, dong. Dasar Dukun nggak berguna!" umpat Rani.


Mbah Dukun menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya semua cara telah dilakukan untuk mengikat Aksa sejak dulu. Tapi ya pada dasarnya Aksa memang tak bisa diikat oleh Rani, entah apa sebabnya.


"Begini aja, Non. Saran dari Mbah, pasang susuk dan pakai pelet baru aja. Non harus siapkan dua darah perawan. Kalau nggak mau pakai tumbal, Non langsung aja berhubungan dengan makhluk itu minta pelet yang paling kuat," usul Mbah Dukun.


"Maksudnya aku nego langsung dengan dedemit itu. Dih, ogah," tolak Rani.


Mbah Dukun menggelengkan kepalanya. "Maksudnya uwik-uwik sama Genderuwo yang membantu memperkuat susukmu," bisik Pak Tua itu.


"Hah! Amit-amit! Melihat wujud mereka aja aku nggak mau, apalagi berhubungan dengan mereka!" Rani mengibaskan tangan di depan dada. "Nggak ada cara lain, Mbah?"

__ADS_1


"Ya kalau begitu cari tumbal. Darah perawan dari gadis berusia tujuh belas tahun. Sebelum purnama bulan ini."


(Bersambung)


__ADS_2