Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 21. Misteri Gadis Dalam Foto


__ADS_3

"Maaf, maksudku jadi Mas Satya baru berumur tujuh tahun saat itu? Berarti udah lama banget, ya?"


"Iya, dulu Mas baru kelas satu SD. Kejadiannya sangat mengerikan. Padahal dia itu dikenal anak baik dan gak pernah keluyuran. Tapi waktu dia hilang, banyak gosip kalau dia pergi sama laki-laki."


Satya menjeda kalimatnya. Dia masih bisa mengingat gimana kekacauan yang terjadi saat itu. Semua warga desa berkeliling memanggil nama remaja wanita itu. Para polisi dan juga tim SAR juga turun tangan, bahkan di tengah hujan badai yang menerjang desa itu. Namun hingga seminggu kemudian, sosoknya masih menghilang tanpa jejak.


"Mas, kok malah diam? Jadi gimana kelanjutannya?" tanya Laksmi. Dia penasaran bagaimana ceritanya dari sudut pandang orang lain.


"Semua anak SMA di desa ini sampai diinterogasi, tetapi nggak ada bukti sama sekali, selain sepatu dan tas-nya yang ditemukan di semak-semak. Dia benar-benar hilang. Jadinya banyak yg bilang dia dibawa makhluk halus."


"Uh, itu nggak benar. Dia mati diperk*s* dan dibun*h."


"Hmm? Kamu bilang apa?"


"Bukan apa-apa, kok. Siapa aja orang-orang yang diinterogasi? Memangnya polisi gak pakai anjing pelacak? Bisa aja dia tersesat di sekitar sana, kan?"


Satya semakin curiga pada sang istri. Ini pertama kalinya Laksmi banyak bertanya padanya, seakan-akan topik ini sangat menarik perhatiannya. Bola mata Laksmi membulat besar, masih menantikan jawaban dari Satya.


"Aku nggak ingat siapa aja yang diinterogasi. Kalau nggak salah sih Mbak Aruna dan kawan-kawannya."


"Aruna? Dia perempuan yang mengantar pecel kemarin, kan?"


Bola mata Laksmi mendadak berwarna hitam kelam. Jarinya mengeluarkan kuku-kuku panjang. Kulitnya mulai pucat dan membiru. Tetapi Laksmi berusaha menahan dirinya untuk tidak berubah wujud di depan Aksa.


"Kasihan banget ya orang tuanya. Gimana mereka sekarang?" bisik Laksmi sambil mempertahankan wujud manusianya.


"Kamu tadi lihat foto yang tergantung di rumah Pak RT, kan? Itu adalah Mbak Kinanti, anak SMA yang hilang itu," ujar Satya dengan suara lirih.


"A-Apa Jadi itu fotoku? Mereka berdua adalah orang tuaku? pantas saja aku merasa sangat mengenalnya."


Tanpa disadari, air mata Laksmi meluncur di pipinya yang halus. Tubuhnya gemetar kuat menahan tubuhnya agar tak goyah dan jatuh ke tanah. Batinnya terkoyak, mengingat kejadian mengerikan yang merenggut kesucian dan juga nyawanya.


"Loh, Laksmi? Kamu kenapa?" Satya semakin bingung, melihat istrinya tiba-tiba menangis sesenggukan.


"Duh, aku cengeng banget, ya. Padahal cuma dengar ceritanya, tapi aku udah mewek gini. Kasihan banget Pak Darya dan Bu Nastiti. Mereka pasti terpukul banget kehilangan putri tunggal mereka," ujar Laksmi.

__ADS_1


"Iya, mereka dulu sempat terpuruk saat anaknya menghilang. Untunglah warga desa sini kekeluargaannya tinggi, jadi mereka perlahan-lahan bisa melewatinya dengan baik," kata Satya.


"Eh, tunggu. Tapi dari mana kamu tahu nama mereka dan Mbak Kinanti itu anak tunggal? Dari mana juga kamu tahu nama mereka?" tanya Satya bingung.


"Oh, tadi Bu RT sempat cerita sedikit," kilah Laksmi.


"Oh ya? Kok tadi aku nggak dengar, ya?" sahut Satya.


Namun Laksmi tak lagi menjawab. Dia telah lebih dulu memasuki rumah dan menyalakan lampu. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara adzan magrib.


"Pak, lihat itu! Ada kunti di pintu rumah Pak Darya." Beberapa pria yang berjalan menuju ke mushola, saling berbisik dan menunjuk ke arah Laksmi.


"Apa kalian bilang?"


Hanya dalam satu kedipan mata, sosok berbaju putih dan berwajah pucat itu telah berdiri di hadapan para pria tersebut. Mulutnya yang terbuka meneteskan darah segar.


...***...


Aaauuuuuu ...


"Kinanti Laksmi Nayaka, malang sekali hidupmu. Di saat orang lain bertumbuh dan menikmati hidup, kau malah mati membusuk tanpa ada seorang pun yang tahu."


Sesosok makhluk mengenakan seragam SMA berlumuran darah dan anggota tubuh tak lengkap, berdiri menatap potret seorang gadis belia berkebaya putih. Wajahnya begitu ayu, dengan make up minimalis di wajahnya. Rambutnya yang hitam, disanggul dan diberi hiasan melati. Sorot matanya begitu indah, berbeda dengan tatapan kosong makhluk berambut panjang yang berdiri di depan foto itu.


"Pak, Bapak dengar suara itu, ndak? Siapa yang menangis?" bisik Bu Nastiti yang baru saja mematikan lampu kamarnya dan bersiap tidur.


"Iya, Bapak dengar juga. Mungkin itu suara musang, Bu. Buah rambutan di belakang rumah kita kan sudah mulai masak," jelas Pak Darya, alias Pak RT.


"Apa iya? Tapi kok kayaknya beda sama suara musang biasanya?" Darah Bu Nastiti kembali berdesir, saat terdengar lolongan anjing dari kejauhan.


"Sudahlah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan. Baca doa saja, lalu kita tidur," ucap Pak Darya.


Lelaki yang semua rambutnya telah memutih sebenarnya memiliki perasaan yang sama seperti istrinya, bahkan sejak Satya dan istrinya datang ke rumah. Dia mencium aroma melati secara samar, sertai bau kemenyan yang khas.


Krieeet!

__ADS_1


Terdengar decitan engsel pintu yang telah berkarat. Pak Darya semakin menegakkan telinganya dan memastikan asal suara tersebut. Namun dia tak mendengar apa-apa lagi, dari rumah kecilnya itu.


"Jangan-jangan itu maling?"


Lelaki tua itu bergegas turun dari kasurnya, lalu berjingkat-jingkat keluar kamar. Bu Nastiti hanya bersiaga di dalam kamarnya, sembari memegang sebuah tongkat bambu untuk dijadikan senjata dadakan.


Pak Darya terus melangkah dengan sangat hati-hati, mengitari seisi rumahnya. Dia tak menemukan keanehan apa pun, selain aroma melati yang semakin pekat di ruang tamu. Lelaki itu tak tahu, jika sesosok makhluk setinggi plafon rumah sedang mengintainya dari belakang.


"Ada apa, Pak?" tanya Bu Nastiti ketika suaminya kembali ke kamar.


"Ndak ada apa-apa, Bu. Bapak cuma lupa nutup laci lemari di ruang tamu."


Pak Darya sengaja tak mengatakan soal bau melati, agar istrinya tak merasa takut. Dan sekarang aroma melati itu juga merebak hingga ke dalam kamar. Pak Darya hanya bisa komat kamit membaca doa dalam hati.


"Kenapa tadi aku sembunyi, ya? Mereka kan juga gak bisa melihatku."


Sosok berlumuran darah dengan seragam SMA itu kini telah malayang di dalam kamar Pak Darya dan sang istri. Tangannya yang transparan menyentuh pipi wanita dengan keriput di wajahnya itu. Makhluk itu kembali terisak.


"Sejak kapan Bapak dan Ibu jadi keriput seperti ini? Kenapa rambut kalian sudah memutih semua? Padahal aku baru pergi sebentar. Maaf, aku nggak mengenali kalian dari awal."


Air mata berwarna merah darah itu menetes ke lantai semen yang telah pecah-pecah. Wujudnya yang mengerikan, kini tampak seperti gadis SMA yang lugu. Kedua matanya tak lepas-lepas memandang kedua orang tuanya yang sudah terlelap.


"Maafkan aku, Pak, Bu. Aku terlambat untuk pulang. Aku tak pernah mengabari Bapak dan Ibu jika aku pergi untuk selamanya. Aku janji akan menemukan para pelaku itu dan membalaskan dendam kita."


Sosok transparan itu melayang dan menembus dinding. Dia lalu berpindah ke ruangan lain, yang sangat dia kenali. Semuanya masih sangat bersih dan tertata rapi. Sepertinya Bu Nastiti tetap merawat kamar mungil itu, meski pemiliknya sudah tak pernah pulang lagi.


"Loh, ini kan ...?"


Kuntilanak itu kembali terpaku di depan sebuah pigura foto yang terletak di atas meja belajar. Matanya yang hitam legam memperhatikan satu per satu potret bocah remaja berseragam SMA, yang berbaris rapi di depan kelas.


Seketika ingatannya yang memudar perlahan-lahan kembali lagi. Bibirnya menyeringai lebar dengan geraman bagai amukan macan. Dia mengenali dua orang di foto itu sebagai pelakunya.


"Kalian tunggu saja. Aku akan datang," ujarnya sambil menggeram kesal.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2