
Krieeet!
Engsel tua itu berdecit nyaring, kala pintu kamar di buka. Semerbak aroma bunga pun menyeruak syaraf penciuman Tari. Baunya lebih pekat, dibandingkan aroma bunga yang biasa menguar dari tubuh kakak iparnya tersebut.
Sesaat Tari ragu untuk melangkah masuk. Tetapi mengingat pekerjaannya yang belum selesai, dia pun memasuki ruangan gelap gulita itu sambil membawa sebuah sapu.
"Duh, kok jendela kamarnya nggak dibuka, sih? Kan jadinya pengap."
Tari berjalan ke sisi tempat tidur, lalu menyibakkan gorden jendela. Sinar sang surya yang keemasan menjalar masuk ke dalam kamar. Tangan mungil itu lalu membuka daun jendela. Wajahnya yang ayu langsung diterpa udara pagi yang sejuk dan segar.
Entah sudah berapa lama dia nggak masuk ke sini. Mungkin sekitar lima hari, sejak pernikahan saudara tertuanya itu. Sejak saat itu, tugas bersih-bersih kamar pun berpindah kepada Laksmi. Terkecuali hari ini tentunya, karena dia seorang diri di rumah.
Kamar berukuran sedang ini tak banyak berubah. Lantai kamarnya sangat bersih dan mengkilap. Letak barang-barangnya juga sangat rapi. Sepertinya tenaga Tari nggak dibutuhkan di sini.
"Nggak usah di sapu, deh. Udah bersih gini."
Tari membalikkan tubuhnya hendak keluar dari kamar. Namun dia urung melangkah pergi dari ruangan sederhana itu. Matanya menangkap benda-benda aneh di atas kasur.
"Kenapa ada banyak bunga kantil dan bunga melati?" pikir Tari heran. Dia memutari tempat tidur itu lalu menyibakkan bedcover. "Astaga!" jeritnya.
Ternyata bukan hanya ada bunga kantil dan bunga melati di sana. Tari menemukan belasan paku berukuran setengah inchi, jarum pentul, serta beberapa buah pisau silet.
"I-ini apa? Kenapa ada banyak begini?" Tari pun berbalik badan, hendak pergi dari kamar itu. "Kyaaa!!" jeritnya tiba-tiba.
"Kenapa, Dek?"
Suara lembut dari Laksmi justru membuat seluruh tubuh Laksmi lemas. Ekspresinya yang datar dengan mata melotot, membuat wanita cantik itu terlihat mengerikan.
"Sejak kapan Mbak Laksmi di belakangku, ya? Kok tadi aku nggak dengar suara pintu dan langkah kakinya?" pikir Tari bingung.
"Dek? Ngapain di sini?" tanya Laksmi sekali lagi.
"Sepurane, Mbak. A-aku cuma mau nyapu," ujar Tari terbata-bata. Matanya tak berani melirik ke arah kasur yang penuh benda-benda aneh itu. -Maaf-
"Oh, mau nyapu. Udah selesai?" tanya Laksmi masih dengan wajah datarnya. Tak terdengar nada marah dari kalimatnya.
"Nggak jadi ku sapu, Mbak. Kamarnya udah bersih. Mbak rajin banget, ya," kata Tari sambil tersenyum masam. "A-anu, aku permisi dulu, Mbak," kata Tari beranjak pergi.
"Tunggu!" Laksmi mendadak menggenggam pergelangan tangan Tari, untuk menahannya pergi. Bola matanya yang gelap, menatap Tari dengan tajam.
__ADS_1
"A-ada apa, M-mbak?" Tari memutar pandangannya ke arah sang kakak ipar.
"Bantuin Mbak beresin ini dulu. Tadi belum sempat," ucap Laksmi sambil menunjuk ke arah kasurnya tanpa ekspresi.
"Nggeh, Mbak."
Kendati dia merasa takut, tetapi Tari tetap mematuhi perintah kakaknya. Kepalanya dipenuhi pertanyaan, untuk apa kiranya benda-benda ini. Namun bibirnya bungkam, tak berani melontarkan pertanyaan kepada Laksmi.
Ekor mata Tari melirik ke arah kakak iparnya. "Untung aku tadi sempat mengambil foto dan mengirimkannya pada Mas Satya. Ah, apa jangan-jangan Mbak Laksmi tahu aku sempat mengambil foto?"
"Kenapa, Dek? Ada yang mau kamu tanyain?" ujar Laksmi tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk memunguti paku yang berserakan di atas kasur.
"Eh? Nggak, kok," balas Tari dengan suara bergetar.
"Kamu takut sama Mbak?" Suara Laksmi semakin rendah.
Tari membeku. Pertanyaan Laksmi tepat sasaran, tetapi dia nggak berani untuk berkata jujur.
"M-mbak nggak memelet Mas Satya, kan?" Tari memberanikan diri untuk buka suara, setelah beberapa saat hening.
"Mungkin aja iya. Karena dengan kondisi yang seperti ini, siapa yang mau mendekati Mbak? " balas Laksmi sambil menyeringai tipis.
"Tapi Mbak nggak akan menyakiti Mas-mu, asalkan dia bukan kelompok dari orang-orang jahat itu. Hihihhi..." bisik Laksmi. Kuku panjangnya mengusap leher Tari yang masih pingsan.
...***...
"Loh, ini mobil Pak Kades, kan? Kok bisa nyungsep di sini?"
Dua orang warga desa yang tengah berjalan kaki menuju kebun itu mengernyit heran. Mereka menemukan mobil paling mewah di desa itu, salah satu bannya terperosok ke dalam parit. Mesin mobil masih dalam keadaan hidup. Kedua lelaki itu mengintip ke dalam mobil dan melihat seseorang terkulai di dalamnya.
"Pak Kades? Pak, Kenapa?" Salah seorang di antara mereka membuka pintu mobil yang tidak terkunci, dan mengguncang tubuh pria tiga puluh tujuh tahun tersebut.
"Nak Aksa. Ayo, bangun. Kamu kenapa? Sakit?" Lelaki yang rambutnya sudah memutih itu memegang pergelangan tangan Aksa untuk memeriksa urat nadinya.
"Emhh, ugh!" Aksa membuka kelopak matanya dan menarik napas perlahan. Dia melihat dua orang pria sedang menatapnya dengan khawatir.
"Eh, Pak Atmo, Pak Diman," ujar Aksa dengan lemah.
"Kamu kecelakaan? Opo sakit?" Pak Diman mengulangi pertanyaannya
__ADS_1
"Ndak, Pak. Tadi diganggu arwah Kin..."
"Hm?"
Pak Atmo dan Pak Diman menunggu kelanjutan kalimat Aksa yang belum usai. Namun tampaknya kepala desa Citraloka itu enggan menyambung kalimatnya.
"A-anu, saya tadi cuma lagi mikirin pekerjaan, sampe gak sadar mobilnya nyungsep," ucap Aksa mengganti kalimatnya.
"Beneran? Itu lukanya ndak sakit?" tanya Pak Diman masih khawatir.
"Hah? Luka? Gak ada yang sakit, kok," tegas Aksa dengan perasaan bingung.
"Syukurlah kalau ndak kenapa-kenapa," ujar Pak Atmo. "Kalau begitu kami permisi dulu, Pak Kades," imbuhnya.
"Monggo, Pak. Saya juga mau ngantor. Ini udah telat," balas Aksa dengan senyum hambar.
"Duh, hampir aja aku keceplosan menyebut nama Kinanti di depan Pak Diman," pikir Aksa gusar. "Tapi tadi itu mimpi apa gimana, sih? Kenapa setiap jumpa sama wanita itu selalu ada kejadian aneh, sih?"
Percuma dia bertanya, karena tak menemukan jawaban dari pertanyaannya. Layar HP-nya menyala, penuh dengan notifikasi dari para pegawai. Tandanya dia harus segera pergi dari sana.
Sebelum menginjak pedal gas, Aksa menatap spion tengah untuk mengecek penampilannya. Napasnya sedikit tertahan karena terbayang sosok remaja SMA berlumuran darah tadi. Namun untung saja, kali ini tidak ada bayangan mengerikan di sana.
"Kayaknya itu cuma khayalanku aja," pikir Aksa menenangkan dirinya.
Akan tetapi baru saja dia mengatakan hal itu, Aksa menemukan luka merah seperti bekas cakaran di sekeliling lehernya. Kemeja putihnya juga memiliki noda merah seperti darah.
"Jadi karena ini Pak Diman mengira aku terluka?"
Matanya pun sontak menatap seisi mobil. Ternyata noda merah itu tak hanya ada di bajunya, tetapi juga di kursi dan lantai mobil.
Bulu kuduknya kembali meremang. "Jadi tadi itu mimpi atau nyata, sih? Kenapa setelah sekian lama, arwah Kinanti baru muncul sekarang? Apa hubungannya dengan perempuan itu?" pikir Aksa bingung.
Jemarinya bergerak membuka dassboard mobil, untuk mengambil bedak tabur yang biasa disimpan sang istri. Rencananya bedak itu digunakan untuk menutupi luka cakaran di sekitar lehernya.
Akan tetapi, gerakan tangannya berhenti sesaat setelah membuka dassboard. Tangannya gemetar. Bukan bedak tabur yang dia temukan di sana, melainkan segumpal rambut yang dipenuhi darah segar.
"Argh! Gila! Apa yang sebenarnya terjadi, sih?" Teriak Aksa dengan kesal bercampur takut.
(Bersambung)
__ADS_1